Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 78

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 78

Jika Nyimas Yuning Purnama, putri keluarga Ki Bagus Sura dari Sumedanglarang, selalu berwajah sayu dan jarang tersenyum, lain halnya dengan Nyimas Banyak Inten yang pandai mengulum senyum. Nyimas Banyak Inten tidak seperti Nyimas Waningyun, tidak persis dengan Nyimas Yuning Purnama yang pendiam, atau bahkan jauh berbeda dengan Nyimas Wulan dari Tanjungpura yang cinta berahinya panas membara dan kini telah dicalonkan sebagai istrinya.

Nyimas Banyak Inten tidak bisa dibandingkan dengan ketiga gadis itu. Memang sama-sama cantik, namun kecantikan Nyimas Banyak Inten adalah gabungan dari segala macam kecantikan. Jika para pohaci (bidadari) hanya memiliki kecantikan sebagai seorang bidadari, maka Nyimas Banyak Inten adalah perpaduan kecantikan makhluk kayangan dan wanita dunia. Nyimas Banyak Inten, entah di mana posisinya, yang jelas telah memiliki kedudukan khusus di hati Purbajaya.

"Kedudukan khusus?" Purbajaya menggetok kepalanya sendiri. Enaknya, baru satu kali bertemu saja sudah mabuk kepayang. Lantas, mau dikemanakan kedudukan Nyimas Wulan, gadis Tanjungpura itu? Purbajaya mengeluh. Untuk kedua kalinya, dia menggetok kepalanya sendiri. Mungkin begitulah lelaki: gombal, brengsek, dan mudah tergoda wajah cantik. Purbajaya menyesal karena mudah digoda cumbu rayu asmara, padahal dia sadar tidak memiliki perasaan cinta terhadap Nyimas Wulan. Namun, dasar lelaki, jika digoda dan dirayu wanita cantik, runtuh pula imannya.

Dasar lelaki! Mengapa semua lelaki disalahkan? Kemarin dulu, lelaki jahat yang mudah mengganggu wanita adalah Raden Yudakara dan Ki Jayasena. Sekarang ditambah dirinya. Jadi, kalau mau memaki lelaki, makilah mereka berdua dan yang ketiga tentu dirinya sendiri. Belum tentu lelaki lain sebrengsek dia dalam memandang dan memperlakukan kaum wanita.

Memikirkan itu, Purbajaya kembali mengeluh. Iman dalam dirinya ternyata masih labil; dia mudah terpesona melihat wajah cantik seorang wanita. Hatinya tidak bisa memungkiri bahwa saat ini semangatnya terbetot bayangan gadis bernama Nyimas Banyak Inten. Dia cantik, manis, dan berwajah anggun. Tidak menantang, namun tidak pula "kikir" dalam memperlihatkan wajah cantiknya. Lelaki berpikiran normal tentu akan tertarik kepada gadis itu.

Mungkin itu pulakah yang menyebabkan Purbajaya mati-matian menolong nyawa Ki Yogascitra dari bahaya racun? Untuk ketiga kalinya, dia menggetok kepalanya lagi. Tadi dia menyalahkan sikap Ki Jongjo yang melakukan kebaikan karena ingin dibalas kebaikan pula. Sekarang, giliran dia sendiri yang melakukan pertolongan dengan dasar pamrih. Sialan!

Tapi mungkin benar, mungkin juga tidak. Purbajaya menolong nyawa Ki Yogascitra mungkin dasarnya karena melihat anak gadisnya yang begitu aduhai. Namun, mungkin juga dia menolong karena tugas kemanusiaan semata. Taruhlah di puri itu tidak ada gadis cantik, apakah Purbajaya akan menolak melakukan pertolongan? Tidak, itu bukan kebiasaannya. Hatinya merasa menang karena dia sendiri yang mengusahakan agar dirinyalah yang menang dalam berpendapat. Dia benar-benar menolong Ki Yogascitra atas dasar kemanusiaan semata. Dengan demikian, sebenarnya dia telah berbohong kepada Ki Jongjo.

Kecantikan gadis itu terus melekat di benaknya. Nyimas Banyak Inten rupanya bukan saja memiliki kecantikan wajah, namun juga telah melengkapi perasaan Purbajaya yang bermain di sana. Namun, alasan politik pun tetap tak dia ingkari. Dia masuk ke puri itu sebagai penyelundup, sesuai keinginan Carbon. Dengan berbuat jasa kepada Ki Yogascitra, dia telah melicinkan usahanya dalam menyusup ke Pakuan. Ya, bagaimanapun, dia adalah mata-mata Carbon, bukan bekerja untuk kepentingan Raden Yudakara. Purbajaya harus berani mengembalikan posisinya ke arah yang benar, yaitu bekerja untuk Carbon.

"Namun, bisakah ini kulakukan dengan baik?" pikirnya dalam hati.

Sekarang malam sudah menjelang. Ki Jongjo sudah terlihat pulas dan terdengar dengkurnya. Maka, Purbajaya kembali menyelinap dari rumah itu untuk kedua kalinya. Kali ini dia ingin menyelidiki kediaman Ki Bagus Seta. Jika Ki Direja datang dari puri Bagus Seta, maka ada kemungkinan penghuni puri itu terlibat rencana pembunuhan terhadap Ki Yogascitra. Mengapa mereka akan membunuh pejabat Pakuan yang jujur itu? Itulah sebabnya Purbajaya tertarik untuk menyelidikinya.

Tadi siang, pegawai puri Yogascitra telah menunjukkan letak puri Bagus Seta. Maka di malam itu, tanpa mengalami kesulitan, dia bisa menemukan kompleks puri tersebut. Yang sulit justru memikirkan usaha untuk memasukinya. Puri itu dijaga dengan amat ketat. Bukan saja gerbang depan dijaga empat orang prajurit, bahkan pada saat-saat tertentu, secara rutin benteng puri dijaga pasukan yang berpatroli mengelilingi benteng dari ujung ke ujung.

Purbajaya harus menunggu sekian waktu agar penjaga lewat. Setiap pasukan patroli lewat, Purbajaya meneliti. Sesudah beberapa kali diperhatikan, Purbajaya menyimpulkan bahwa penjaga patroli akan kembali melewati tempat itu pada setiap hitungan kelimapuluh. Itu berarti untuk mencoba memasuki wilayah benteng puri dalam, Purbajaya hanya memiliki waktu selama limapuluh hitungan.

Penjaga patroli sudah lewat kembali. Sambil menghitung dalam hati, Purbajaya meloncat-loncat mendekati tepi benteng. Pada hitungan keempatpuluh, Purbajaya berhasil mendekati sisi benteng. Hanya sepuluh hitungan lagi, dia harus bisa melompati benteng. Purbajaya segera menghimpun tenaga dalamnya. Sesudah itu, ujung kakinya menotol tanah. "Hup," Purbajaya berhasil meloncat ke atas benteng. Baru saja bernapas, pasukan patroli telah kembali lewat.

Sekarang Purbajaya meneliti suasana di dalam benteng. Terlihat lengang, bahkan beberapa bangunan besar telah memadamkan cahayanya. Namun, ada satu bangunan yang terlihat masih benderang. Purbajaya memutuskan untuk mendekati ruangan itu. Purbajaya meloncat dengan menggunakan ilmu napak-sancang agar langkah kakinya tidak terdengar.

Ketika sudah tiba di tempat yang dituju, Purbajaya kembali meloncat ke bibir benteng di dekat ruangan, lalu meloncat ke atap sirap. Purbajaya secara hati-hati menguakkan ujung atap. Terlihat di ruangan dalam, dua orang tengah bersila saling berhadapan. Cahaya yang masuk hanya remang-remang karena pelita tidak dipasang. Rupanya dua orang itu tidak menyukai cahaya saat melakukan percakapan.

Namun demikian, Purbajaya masih bisa melihat bentuk tubuh mereka. Yang seorang berbadan tegap, seorang lagi berbadan agak gemuk dengan perut sedikit buncit. Melihat postur si buncit, Purbajaya teringat peristiwa penculikan dirinya. Waktu itu, di sebuah ruangan remang-remang, dia ditanyai seorang lelaki berbadan gempal dan berperut buncit. Purbajaya berdebar; dia yakin orang yang memeriksanya waktu itu adalah orang yang kini berada di ruangan tersebut.

Purbajaya segera menyimak percakapan mereka yang isinya amat mendebarkan.

"Maksudmu, Si Yogascitra kau racuni?" tanya lelaki bertubuh gempal berperut buncit.

"Ya, tapi sayang dia lolos dari maut, Soka..."

"Maksudmu, kau akan membunuh Si Yogascitra, Seta?"

Tidak terdengar jawaban.

"Si Yogascitra itu pejabat yang terlalu jujur. Orang jujur akan membahayakan. Aku tak mau akhir-akhirnya dia akan membahayakan gerakan kita," jawab lelaki yang pasti Ki Bagus Seta, pemilik puri ini. "Aku khawatir, lambat laun dia akan dekat dan dipercaya Raja. Kalau sudah demikian, maka kitalah yang terancam," katanya lagi.

"Mustahil dia bisa dekat dengan Sang Prabu. Kau kan tahu, Si Yogascitra berani bersilang pendapat dengan Raja, sementara kita tahu penguasa Pakuan ini kesenangannya disanjung dan dipuji, serta amat tabu menerima kritik. Asalkan kita sanggup menyenangkan hati Raja, aku yakin kitalah kelak yang akan bisa mempengaruhi dan mengendalikan kebijakan Raja," kata lawan bercakapnya yang Purbajaya duga adalah tokoh Pakuan bernama Bangsawan Soka.

"Aku pun punya keyakinan seperti itu. Tapi akan lebih aman bila pejabat sejujur Si Yogascitra kita lenyapkan saja," jawab Ki Bagus Seta.

"Anak tirimu bernama Suji Angkara amat tergila-gila kepada Nyimas Banyak Inten, mengapa tidak kau gunakan saja perangkat ini? Kau akan lebih baik berbesan saja agar kelak Ki Yogascitra menjadi mitra kerjamu," Bangsawan Soka memberi usul.

Hanya dijawab oleh Ki Bagus Seta dengan dengusan. "Ah, hanya urusan anak kecil semata. Asalkan tak ada yang tahu bahwa Si Yogascitra dienyahkan olehku, maka semuanya akan beres. Dengan kematian ayahandanya, maka Banyak Inten dan kakaknya akan dekat dengan kita. Mereka akan memilih kita sebagai pelindungnya. Yang aku pusingkan, tugas yang diemban Ki Direja telah digagalkan oleh seorang anak muda. Anak itu dibawa Ki Jongjo memasuki puri Yogascitra..."

"Hm... anak muda itu utusan Raden Yudakara dari Carbon. Memang rencananya disusupkan ke puri itu," jawab Bangsawan Soka.

"Yang aku risaukan, ternyata Ki Jaya Perbangsa pun sudah tahu perihal kedatangan pemuda itu. Kelompok ini rupanya ingin menguasai anak muda itu."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment