Chapter 79
"Makanya, jauh hari Ki Jongjo sudah menguasai anak muda Carbon itu." Bab 20 (Tamat) "Kau maksudkan, anak muda itu tengah diperebutkan?" "Tanyakan sendiri kepada Ki Banaspati, kakak seperguruanmu, mengapa dia ikut memperebutkan utusan dari Carbon?" Bangsawan Soka balik bertanya.
"Hhhh... aku pusing dengan tindak-tanduk kakak seperguruanku ini," dengus Ki Bagus Seta.
"Aku bahkan sudah lama curiga kalau Ki Banaspati sebenarnya memiliki tujuan-tujuan tertentu pula," gumam Bangsawan Soka.
Mereka berdiam diri beberapa lama sampai pada saatnya, Bangsawan Soka mohon diri dari tempat itu.
Purbajaya pun sedianya akan segera meninggalkan tempat itu ketika secara tiba-tiba terlihat beberapa cahaya berkeredepan dari pisau-pisau terbang yang dilemparkan oleh Ki Bagus Seta dari bawah dan diarahkan menyerang dirinya.
Purbajaya amat terkejut. Adanya serangan ini membuktikan bahwa secara sadar Ki Bagus Seta mengetahui kalau dirinya diintai orang.
Saking cepatnya pisau-pisau ini melesat, Purbajaya tak sempat menghindar ataupun menangkis. Dia pasrah sebab telah menduga tubuhnya akan menjadi santapan empuk serangan pisau-pisau terbang itu.
Namun sungguh aneh, ketika matanya sudah terpejam, serangan pisau tak pernah datang. Ke mana larinya senjata yang tadi beterbangan itu? Purbajaya segera membuka matanya. Ternyata di sampingnya sudah terlihat seorang lelaki yang diketahui sebagai Ki Rangga Guna. Di kedua belah tangannya, pisau-pisau itu telah digenggam orang tua itu.
"Cepat loncat sana!" Ki Rangga Guna mendesis seraya mendorong tubuh Purbajaya.
Sementara itu, di ruangan tempat Ki Bagus Seta melepas serangan, sudah terdengar ribut-ribut. Purbajaya menduga kalau para prajurit serta pengawal Ki Bagus Seta sudah diberitahu perihal hadirnya penyelundup ke wilayahnya.
"Ayo lari!" ajak Ki Rangga Guna.
"Ke mana?"
"Kita menuju wilayah Tajur Agung!"
"Tajur Agung?" tanya Purbajaya sambil melesat mengikuti ke mana Ki Rangga Guna berlari.
Purbajaya ingin mengimbangi larinya orang tua itu. Namun yang diimbangi ternyata memiliki ilmu kepandaian lari yang demikian hebat. Kendati Purbajaya berusaha sekuat tenaga, kecepatan lari Ki Rangga Guna tak bisa diimbangi. Belakangan baru dia bisa menyusul setelah Ki Rangga Guna menurunkan tingkat kepandaian larinya.
"Tajur Agung adalah taman buah-buahan milik keluarga istana. Tidak sembarang orang bisa keluyuran ke tempat itu. Oleh sebab itulah kita sembunyi di sana," kata Ki Rangga Guna menerangkan di tengah jalan.
"Apakah yakin kita tidak akan diketahui mereka?" tanya Purbajaya sedikit terengah-engah.
"Tentu mereka akan tahu. Tapi paling tidak, tidak semua prajurit akan mengejar kita, kecuali orang-orang tertentu yang diberi izin masuk," jawab Ki Rangga Guna sambil tetap berlari dan diikuti oleh Purbajaya dengan susah payah.
Namun demikian, Purbajaya masih berpikir untuk memuji orang ini; betapa di saat yang tepat Ki Rangga Guna bisa menyelamatkan nyawanya. Apakah selama ini Ki Rangga Guna terus mengikutinya?
"Ayo percepat larimu, di belakang mereka tengah menyusul kita," kata Ki Rangga Guna mengingatkan.
Purbajaya berlari cepat. Namun ketika tiba di daerah agak lapang, Ki Rangga Guna malah berhenti dan bertindak seolah-olah sengaja menanti para pengejarnya.
"Kau sembunyi di sana!" Ki Rangga Guna memerintah.
"Sembunyi?"
"Ya, kau harus sembunyi dari pandangan mereka." Purbajaya mulanya kecewa sebab seperti tak dipercaya untuk ikut menghadapi musuh. Tapi kemudian dia mengerti. Ki Rangga Guna berkata benar kalau dirinya jangan diketahui sebagai penyusup ke puri Bagus Seta, sebab kalau tidak begitu, kedudukannya di Pakuan akan terancam oleh kelompok ini.
Ketika para pengejar sudah terlihat gerakannya, Purbajaya segera mencari tempat sembunyi. Kebetulan di sekitar tempat itu ada banyak gundukan tanaman bunga yang daunnya amat rimbun.
Tidak begitu lama kemudian, rombongan pengejar pun segera tiba. Terlihat ada belasan perwira yang langsung mengepung Ki Rangga Guna.
"Hah! Dia Rangga Guna si pemberontak! Tangkap dia!" teriak salah seorang dari mereka.
Maka setelah menerima perintah ini, Ki Rangga Guna dikepung rapat. Sebentar kemudian terjadilah pertempuran sengit, satu orang melawan belasan perwira Pakuan yang dikenal tangguh.
Pertempuran demikian hebat. Mereka bertarung dengan kecepatan tinggi sehingga gerakan mereka susah diikuti pandangan mata. Sabetan pedang dan golok bergulung-gulung menutupi tubuh Ki Rangga Guna dan suaranya bergaung seperti ribuan gasing diputar berbarengan.
Belasan perwira ini rata-rata memiliki kepandaian hebat. Namun penampilan Ki Rangga Guna, kendati hanya melawan seorang diri, tidak kalah hebatnya. Sedikit pun dia tidak terlihat terdesak. Gerakan dan perlawanannya malah terlihat amat gemilang. Walaupun digulung belasan senjata tajam, tubuhnya sedikit pun tidak pernah tersentuh ujung-ujung senjata yang amat runcing itu. Jangankan disentuh, bahkan hanya sekadar mendekati saja sudah tak bisa. Tubuh Ki Rangga Guna sepertinya dibentengi lapisan baja yang kuat sehingga hujan serangan senjata tajam hanya terbatas tiba di benteng baja itu saja.
Ki Rangga Guna sigap dalam menangkis dan sigap pula dalam mengelak. Tubuhnya berloncatan ke sana kemari membuat para pengepungnya sibuk ke sana kemari pula. Pertempuran sengit ini berlangsung cukup lama sebab yang menyerang tak bisa menembus, sebaliknya yang diserang tak bisa balik menyerang.
Atau, Purbajaya dari tempat sembunyinya bisa meneliti, sebetulnya Ki Rangga Guna bukan tak bisa melakukan serangan, melainkan sepertinya dia tidak mau melakukannya. Ki Rangga Guna jelas tidak mau mencelakakan lawan-lawannya.
Sampai tiba pada suatu saat, ke tempat itu hadir pula seorang pengejar lain. Purbajaya berdegup jantungnya sebab yang datang adalah Ki Bagus Seta. Purbajaya gelisah. Melawan belasan perwira saja sudah sedemikian sibuknya, apalagi bila ditambah oleh kehadiran Ki Bagus Seta yang diketahui Purbajaya berilmu tinggi pula. Sebagai bukti, serangan pisau terbang orang itu amat hebat dan susah dihindarkan. Kalau sampai dengan sekarang nasib Purbajaya masih baik, itu karena pertolongan Ki Rangga Guna saja.
Purbajaya mengeluh, Ki Rangga Guna pasti akan mengalami kesulitan karena dia sejauh ini tidak mau mencederai lawan-lawannya. Jadi kalau selama ini dia masih selamat, itu karena secara kebetulan dia bisa mengungguli lawan-lawannya. Kalau sekarang belasan perwira dibantu Ki Bagus Seta, barangkali Ki Rangga Guna akan kalah, kecuali dia mengubah sikap untuk tidak memberi angin kepada belasan perwira.
Namun belakangan Purbajaya jadi malu sendiri telah menganggap bodoh Ki Rangga Guna. Buktinya, setelah melihat kehadiran Ki Bagus Seta, Ki Rangga Guna segera meningkatkan kebolehannya. Orang tua itu segera menghimpun tenaga dan melakukan gerakan-gerakan hebat.
Maka hanya dalam waktu singkat terdengar jerit kesakitan ketika tubuh belasan perwira terlontar ke sana kemari dan jatuh berdebuk tak sadarkan diri.
Tewaskah mereka? Purbajaya tak percaya Ki Rangga Guna berlaku kejam. Dia ingat kembali peristiwa di wilayah Sagaraherang ketika Raden Yudakara dipukul roboh. Tubuh pemuda itu terlontar dan berdebuk jauh ke depan terkena pukulan jarak jauh oleh Ki Rangga Guna. Namun anehnya, tubuh Raden Yudakara sedikit pun tidak mengalami luka. Purbajaya mengira, Ki Rangga Guna kali ini hanya membuat lawan menjadi pingsan saja namun tak mengakibatkan mereka tewas.
Ki Rangga Guna sengaja mempercepat perlawanan terhadap belasan perwira karena ingin menghadapi Ki Bagus Seta secara khusus. Purbajaya melihat keadaan dengan hati tegang. Dia menduga kalau sebentar lagi akan terjadi pertarungan yang lebih hebat dari pertarungan yang tadi.
Dua-duanya terlihat saling berhadapan dari jarak sekitar sepuluh depa dan tangan-tangan mereka meregang tegang.
"Rangga, engkau ini adik seperguruanku. Namun mengapa kerjamu hanya menggangguku saja?" tanya Ki Bagus Seta dengan suara dingin dan amat mengejutkan hati Purbajaya.
Mereka berdua kakak-adik seperguruan?
"Saya hanya ingin agar engkau tetap melangkah di jalan yang diinginkan Ki Guru Darma..." kata Ki Rangga Guna menatap tajam ke arah Ki Bagus Seta.
Ki Bagus Seta melangkah setindak dan Ki Rangga Guna segera mundur satu tindak.
"Hahaha! Engkau selalu tak mempercayaiku, Rangga!"
"Saya hanya ingin mengingatkan engkau saja, Kakak..."
"Sudahlah, engkau pulanglah dan rawat Ki Guru," kata Ki Bagus Seta.
"Tidak. Ki Guru malah menugaskan saya agar menjagamu, Kak..."
"Sombong. Dengarkan dungu, aku ingin menolongmu juga. Selama ini aku jadi pejabat negara, namun selama ini pula kau dikejar-kejar pemerintah. Engkau harus malu itu. Dan jangan pula kau permalukan diriku. Betapa orang-orang akan bilang, yang satu jadi pejabat, satunya jadi pembangkang. Apakah engkau tidak malu, Adik?" tanya Ki Bagus Seta dengan nada mengejek.
"Seseorang menjadi terhormat bukan karena telah menjadi pejabat, demikian pun sebaliknya. Orang yang dituding pembangkang belum tentu menjadi orang terhina," jawab Ki Rangga Guna dengan nada datar.
"Dungu!" desis Ki Bagus Seta gemas. "Jaga sifatmu, jangan kecewakan Ki Guru," lanjutnya.
"Justru ucapan itu yang ingin saya berikan padamu, Kakak," timpal Ki Rangga Guna.
Dan rupanya jawaban Ki Rangga Guna ini telah membuat Ki Bagus Seta merasa marah. Buktinya, tubuh Ki Bagus Seta melesat menghambur ke depan. Ki Rangga Guna tidak tinggal diam. Dia pun segera melesat ke depan dengan kecepatan yang sulit dilihat pandangan mata.
Maka dua tubuh berkelebat saling menghambur. Namun keduanya tidak saling bertemu di tengah jalan, melainkan hanya saling berpapasan saja. Gerakannya amat cepat dan hanya membentuk kelebatan saja. Tahu-tahu keduanya sudah berpindah tempat. Tempat di mana tadi Ki Rangga Guna berdiri telah ditempati Ki Bagus Seta, demikian pun sebaliknya. Keduanya masih saling bertatap muka namun dengan tubuh limbung.