Chapter 80
Sebelum keduanya berdiri tegak, Ki Bagus Seta melakukan gerakan yang tidak biasa. Mula-mula, tubuhnya membungkuk dan doyong hingga hampir menyentuh tanah, persis gerakan kodok yang hendak melompat ke depan. Namun, bukan loncatan yang ia lakukan, melainkan lontaran pukulan jarak jauh. Gerakan angin dari pukulan tersebut menimbulkan suara berciutan, dan dedaunan rontok berguguran ke tanah seperti ditiup badai.
Rupanya, Ki Rangga Guna sadar bahwa ini merupakan serangan yang amat berbahaya. Terbukti, orang tua itu segera melakukan gerakan yang sama dan membalas dengan pukulan jarak jauh pula. Maka, suara angin berciutan berubah menjadi gelegar petir yang menimbulkan bunga api berpijar di angkasa. Dua pohon di sekitar tempat itu tumbang karena batangnya hancur berantakan.
Purbajaya terlambat menutup sepasang lubang telinganya. Ketika ia memeriksa, terasa ada lelehan darah segar mengalir dari sana. Purbajaya terkena pengaruh adu pukulan tersebut; matanya berkunang-kunang dan kepalanya terasa pusing. Untuk beberapa saat, ia hanya bisa memejamkan mata menahan rasa sakit. Namun, tak lama kemudian ia perlahan memandang ke sekeliling. Hampir semua dedaunan di pohon-pohon durian di tempat itu rontok, seolah-olah musim kering tiba-tiba melanda daerah tersebut.
Di tengah tanah lapang, dua orang masih berdiri berjauhan. Kaki Ki Rangga Guna tampak melesak ke tanah hingga sebatas betis, sementara Ki Bagus Seta berdiri limbung dengan seluruh pakaian yang koyak-koyak, seakan mendadak dicabik kuku macan.
"Kau akan mati, Rangga..."
"Ya... Kalau pertarungan ini dilanjutkan, kita berdua akan segera mati," jawab Ki Rangga Guna.
Keduanya saling pandang dalam kebisuan. Sampai pada suatu saat, Ki Bagus Seta meninggalkan tempat itu dengan langkah gontai. Setelah Ki Bagus Seta berlalu, Purbajaya mulai berani muncul dan melompat dengan limbung karena kepalanya yang masih pening. Ia harus menolong Ki Rangga Guna yang diduganya mengalami luka parah. Benar saja, saat diperiksa, dari mulut, hidung, telinga, bahkan sepasang mata Ki Rangga Guna, terlihat darah menetes keluar.
"Ki Rangga, Anda terluka parah..." kata Purbajaya dengan penuh kekhawatiran.
"Rupanya itu pula yang dialami Ki Bagus Seta..." desis Ki Rangga Guna sambil menahan sakit. "Mari kita tinggalkan tempat ini."
"Bagaimana dengan mereka?" tanya Purbajaya sambil menunjuk ke arah tubuh belasan perwira Pakuan yang bergeletakan.
"Mereka hanya pingsan. Sebentar lagi pasti akan siuman kembali," jawab Ki Rangga Guna yakin.
Ki Rangga Guna mencoba melangkah namun tampak limbung, sehingga Purbajaya segera memapahnya. "Bawalah aku ke Pulo Parakan Baranangsiang," kata Ki Rangga Guna seraya menunjukkan arah.
Tempat yang dimaksud adalah gugusan pulau kecil di tengah Sungai Ciliwung yang terletak di sekitar Jawi Khita (benteng luar kota) sebelah timur. Purbajaya harus mencari perahu untuk menyeberangkan Ki Rangga Guna. Ketika sampai, Purbajaya melihat sebuah pasanggrahan indah di sana.
Pulo Parakan Baranangsiang adalah sebuah delta yang terletak di tengah aliran Sungai Ciliwung, yang mungkin terbentuk oleh endapan lumpur dari hulu sungai. Karena terdapat pasanggrahan, mudah diduga bahwa tempat itu merupakan tempat peristirahatan keluarga raja dan kerabatnya. Setiap tahun, di sana diadakan upacara "munday", yaitu kegiatan memanen ikan Sungai Ciliwung yang dilakukan seluruh ambarahayat untuk dimakan bersama raja dan kerabatnya.
Namun, malam itu suasana di Pulo Parakan Baranangsiang amat sepi. Jika siang hari tempat ini cocok untuk bersantai, maka di malam yang gelap dan dingin ini, tempat itu menjadi lokasi persembunyian yang sempurna. Ki Rangga Guna membawa Purbajaya ke sana agar terbebas dari kejaran lawan sekaligus tempat beristirahat karena kondisinya yang cukup parah.
"Saya akan mencoba mengobatimu, Ki Rangga," kata Purbajaya sembari membuka pakaian orang tua itu. Purbajaya tanpa sungkan mengerahkan tenaga dalamnya, menekan punggung Ki Rangga Guna agar aliran darah orang tua itu lancar kembali.
"Aliran tenaga dalammu kurang kuat, siapakah gurumu, anak muda?" tanya Ki Rangga Guna tiba-tiba.
Purbajaya merasa tersinggung, seolah kemampuannya diremehkan. "Kedunguan seorang murid tidak lantas menjadi gambaran kelemahan gurunya, Ki Rangga," jawab Purbajaya ketus, membuat Ki Rangga Guna tersenyum kecil.
"Aku hanya bertanya, siapakah gurumu?"
"Guruku bernama Ki Jayaratu!" tegas Purbajaya.
"Hm, kepandaian Ki Jayaratu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan guruku, anak muda. Mereka dulunya musuh besar yang sering bertempur, namun tidak pernah ada yang saling mengalahkan. Hanya saja, gurumu punya kelemahan, yaitu terlalu memberikan kebebasan kepada muridnya. Sementara Ki Darma, guruku, selalu tegas dalam menentukan pilihan; muridnya harus sepandai gurunya. Namun..."
"Namun apa, Ki Rangga?"
"Ki Darma banyak membagikan ilmunya dengan harapan berguna bagi negeri, namun kenyataannya, murid-muridnya ada yang membelokkan ilmu tersebut untuk kepentingan yang tidak baik," keluh Ki Rangga Guna.
"Saya pun bukan murid yang baik, Ki Rangga," potong Purbajaya. "Saya akui Ki Jayaratu kurang keras dalam mendidik. Saya sendiri kurang menyukai hal-hal keras, sehingga saya malas berlatih ilmu kewiraan."
"Jalan keselamatan di dunia bukan terletak pada ilmu kewiraan, melainkan pada sikap dan perilaku keseharian," jawab Ki Rangga Guna sembari mengatur napas.
"Ucapanmu menyindir kami, anak muda, dan sekaligus menguatkan kata-kataku bahwa ilmu kewiraan tidak menjamin seseorang bisa menjaga nama baik guru. Lihatlah Ki Bagus Seta dan Ki Banaspati; mereka menjadi pejabat negara, namun tujuannya bukan untuk mengabdi, melainkan mencari keuntungan pribadi. Belakangan aku ketahui mereka akan melawan penguasa."
"Apakah itu sebagai pembelaan terhadap guru mereka yang dituding sebagai pengkhianat?" tanya Purbajaya.
"Hati-hati dengan bicaramu. Ki Guru Darma adalah pengabdi bagi negeri, bukan bagi penguasa. Penguasa tidak menyukai Ki Darma karena guruku tidak menyanjung mereka, namun itu bukan berarti guruku ingin mengkhianati negara. Ki Darma benci pemberontakan dan pengkhianatan. Ia sangat menyesali tindakan Ki Bagus Seta dan Ki Banaspati," jawab Ki Rangga Guna sungguh-sungguh.
"Karena mereka menjadi pejabat negara?"
"Bukan. Ki Guru Darma tidak membenci pejabat, namun ia ingin mereka menjadi pejabat yang mengabdi, bukan peminta. Jabatan adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan, bukan untuk disyukuri sebagai peluang mencari keuntungan. Tindakan mereka sudah jauh dari harapan Ki Guru Darma."
Purbajaya terdiam termangu. Suasana di Pakuan begitu rumit; ada tokoh baik dan jahat yang saling terikat kekerabatan. Ia teringat bahwa Ki Banaspati, pejabat penarik pajak di wilayah timur, bekerja sama dengan Ki Sunda Sembawa dalam upaya pemberontakan. Kini, Ki Bagus Seta pun melakukan upaya serupa. Pakuan telah dikepung oleh kelompok-kelompok yang memiliki tujuan sama: menjatuhkan raja dan merebut kekuasaan.
"Ini menyakitkan. Mungkin hanya padamu saja aku katakan, betapa hancur perasaanku melihat murid-murid Ki Darma melakukan kejahatan politik. Untuk itulah aku berjuang melawan saudara seperguruanku diam-diam. Aku tidak ingin orang tahu bahwa murid-murid Ki Darma berkhianat, sebab jika itu terbongkar, tuduhan bahwa Ki Darma adalah pemberontak akan dianggap benar. Gurunya pengkhianat, muridnya pemberontak. Rasanya pas sekali," gumam Ki Rangga Guna dengan suara memelas.
"Tugasmu mulia namun amat berat. Kau harus berhadapan dengan saudara seperguruanmu sendiri," sahut Purbajaya ikut bersedih.
"Benar, amat menyedihkan."