Chapter 81
"Namun, baik Ki Guru Darma maupun aku sendiri sudah memutuskan untuk melawan siapa pun yang berniat menghancurleburkan Pajajaran," kata Ki Rangga Guna pasti.
"Termasuk akan melawan saya, Ki Rangga?" tanya Purbajaya ragu.
"Kalau kau keluar dari pijakan yang telah ditetapkan Sang Susuhunan Jati dalam memperlakukan Pajajaran, maka kau pun akan berhadapan denganku sebagai musuh," jawab Ki Rangga Guna tegas. "Ingat, pengetahuanku hanya menyebutkan bahwa Carbon tidak akan menghancurkan Pajajaran, melainkan akan lebih memperkuat tatanan negara Pajajaran yang sudah besar ini dengan pijakan tatanan kehidupan agama baru. Itu saja dan aku setuju dengan itu."
"Kalau begitu, tolonglah saya, Ki Rangga. Jauhkan saya dari kelompok-kelompok petualang yang akan mengganggu dan memengaruhi saya agar membelokkan tujuan mulia ini," Purbajaya mendesak dengan suara sungguh-sungguh. Dia berpikir, perjalanan hidupnya di Pakuan ini hanya bisa berjalan dengan baik bila dijaga oleh orang yang berjuang untuk kebaikan.
"Aku bisa membantumu agar bisa memenuhi tugas beratmu tanpa diganggu oleh kelompok-kelompok petualang. Hanya saja, ada gangguan paling berat yang susah dibantu dan hanya engkau sendirian yang harus memeranginya," ujar Ki Rangga Guna.
"Musuh apakah itu, Ki Rangga?"
"Ya, itulah musuh yang ada di dalam hatimu sendiri. Sudah aku katakan, semua orang harus berperang dengan ambisinya. Kalau ambisi sudah mengendalikan peranan dalam hidup ini, maka berbagai tujuan murni sudah tak akan berarti lagi," kata Ki Rangga Guna sungguh-sungguh.
"Ambisi... Sekecil apa pun, Ki Rangga?" tanya Purbajaya berdebar.
"Ya, ambisi sekecil apa pun," jawab Ki Rangga Guna tandas.
Demi mendengar ucapan Ki Rangga Guna ini, Purbajaya mengeluh. Tempo hari, orang tua itu sendiri yang mengatakan kalau yang namanya ambisi memang sulit dilawan. Sekarang, Ki Rangga Guna sendiri yang mengatakan kalau ambisi yang ada dalam hatinya musti dilawan dengan keras kalau masih menginginkan tugasnya dikerjakan secara murni. Purbajaya hanya bisa duduk termangu memikirkannya.
"Memang sungguh tepat kau disusupkan ke Puri Yogascitra. Namun demikian, justru di sanalah engkau akan menerima kepedihan yang sangat sebagai manusia, anak muda. Di tempat itu, kepura-puraan akan dilawan oleh kejujuran. Kau datang ke sana sebagai penyusup, pasti akan menjadi orang yang penuh pura-pura, padahal penghuni puri adalah orang-orang yang menghargai kejujuran dan kesetiaan. Mereka adalah kelompok yang tidak pernah bercuriga dan menganggap buruk kepada orang lain. Hal inilah yang akan membuatmu pedih karena rasa kemanusiaanmu akan terkoyak-koyak oleh kepura-puraan yang kau jalankan. Hatimu selamanya akan saling berbenturan sendiri," tutur Ki Rangga Guna.
Setelah kenyang menerima wejangan serta petuah, akhirnya Purbajaya disuruh meninggalkan tempat itu. Ki Rangga Guna menginginkan agar Purbajaya segera kembali ke rumah Ki Jongjo agar orang tua itu tidak curiga atas kepergian Purbajaya. Ki Rangga Guna sendiri akan berusaha mengobati lukanya di Pulo Parakan Baranangsiang sebelum fajar menjelang.
Purbajaya menghormat takzim sebelum meninggalkan tempat itu. Sebelum dia benar-benar pergi, Ki Rangga Guna masih memberinya peringatan ulangan.
"Hati-hatilah akan ambisi hatimu, anak muda," kata Ki Rangga Guna.
Purbajaya tak kuasa menjawabnya. Sebab berbareng dengan itu, suasana Puri Yogascitra mendahului membayang di benaknya. Di sana ada Ki Yogascitra yang jujur dan amat mencintai negerinya. Di sana ada Banyak Angga yang baik hati, ramah, dan santun. Jangan lupa, di sana pun ada Nyimas Banyak Inten yang cantik, yang amat membuat hati Purbajaya selalu berdebar.
Purbajaya bergidik. Tidakkah hal-hal ini yang akan membuat dirinya goncang serta tak bisa menahan gejolak hatinya sehingga tujuannya sebagai penyusup terganggu total? Sambil mendayung sampan kembali menuju daratan, hati Purbajaya tak habis-habisnya mengeluh. Dia merasa bimbang dalam menghadapi kesemuanya ini. Di Puri Yogascitra, dia pasti akan menghadapi lawan yang lebih tangguh dari musuh apa pun. Dan itulah yang namanya cinta. Cinta susah dihalau dan amat membuatnya pedih.