Chapter 64
“Siang ini kita rayakan pengangkatan saudara ini! Kita rayakan bersama kedua adik kembar dan juga Kakak Sie Bun Sam! Kita mengadakan pesta antara kita!” seru Ui Kiang.
“Pesta pengangkatan saudara, ataukah pesta pertunangan kalian?” Bwee Hwa menggoda.
“Yah, kedua-duanya!”
Biarpun sudah mendapat kabar yang menentukan dari Bwee Hwa bahwa cinta mereka kepada dua orang gadis kembar itu mendapat sambutan, kakak beradik Ui itu masih belum yakin benar. Lagi pula, mereka berdua sama sekali tidak mempunyai pengalaman tentang hubungan cinta kasih, sehingga kalau bertemu dengan dua orang gadis kembar itu, mulut mereka seperti dibungkam dan mereka tidak dapat berkata apa-apa. Melihat hal ini, Bwee Hwa menjadi gemas dan penasaran.
Pagi hari itu, Bwee Hwa menemani sepasang gadis kembar melihat-lihat keadaan Kota Ki-lok, bahkan pergi berkunjung ke Kuil Ban-hok-si.
Ketika mereka pulang, mereka melihat bahwa sebuah meja sembahyang telah diatur rapi karena kedua orang kakak beradik Ui itu hendak melakukan upacara sembahyang untuk acara angkat saudara antara mereka dan Bwee Hwa. Sie Bun Sam tampak membantu kesibukan dua orang kakak beradik itu. Tak lama kemudian, semua telah dipersiapkan, mulai dari alat-alat upacara sembahyang sampai pesta antara mereka berenam di ruangan dalam, di mana terdapat sebuah meja besar dengan enam buah kursinya.
Dengan Ui Kiang sebagai pengatur karena dia yang lebih tahu akan upacara itu, mereka bertiga melakukan sumpah di depan meja sembahyang, yaitu sumpah pengangkatan saudara antara dua orang kakak beradik Ui itu dengan Lim Bwee Hwa. Setelah selesai upacara pengangkatan saudara yang disaksikan dengan penuh perhatian oleh Sie Bun Sam dan sepasang gadis kembar, Ui Kiang lalu berkata, “Sekarang, untuk merayakan upacara pengangkatan saudara ini, kami bertiga—aku sendiri, Adik Ui Kong, dan Adik Bwee Hwa—mengundang Kakak Sie Bun Sam dan kedua adik, Kim Siang dan Gin Siang, untuk bersama kami berpesta makan minum.”
Mereka berenam lalu duduk menghadapi meja makan bundar yang besar itu. Segera para pelayan datang menghidangkan masakan-masakan mewah dan mahal ke atas meja, disertai anggur dan arak. Tiga orang gadis itu tidak berani minum arak yang keras dan hanya meminta anggur yang lebih halus. Mereka makan minum dengan gembira.
Sie Bun Sam mengangkat cawan araknya lalu dengan wajah gembira berkata, “Aku memberi selamat kepada Adik Ui Kiang, Ui Kong, dan Bwee Hwa atas pengangkatan saudara ini. Semoga kalian bertiga dapat menjadi kakak beradik yang rukun, setia, dan saling membantu. Marilah kita minum untuk itu!”
Semua orang minum dari cawan masing-masing dan pesta itu dirayakan oleh mereka berenam dengan gembira. Setelah selesai makan, Bwee Hwa mengangkat cawan anggurnya. “Sekarang aku hendak memberi selamat kepada Kiang-ko dan Kong-ko, dan kepada Enci Kim dan Enci Gin atas hubungan kasih antara mereka. Semoga hubungan itu akan segera membawa mereka dua pasangan ke jenjang pernikahan yang berbahagia.”
Biarpun wajah mereka berubah kemerahan, kedua saudara Ui dan kedua gadis kembar terpaksa minum dari cawan masing-masing, diikuti Bun Sam yang tersenyum.
“Sam-ko, aku ingin bicara denganmu, akan tetapi jangan didengar orang lain. Maka, marilah kita keluar dan tinggalkan dua kakakku dengan kekasih mereka masing-masing!” ajak Bwee Hwa pada Sie Bun Sam.
Pemuda itu yang sudah maklum apa yang terjadi, tersenyum dan bangkit, lalu bersama Bwee Hwa meninggalkan ruangan itu.
Setelah tiba di ruangan depan, Bun Sam dan Bwee Hwa duduk di atas bangku berhadapan. “Hwa-moi, apakah yang ingin kau bicarakan dengan aku?” tanya pemuda itu.
Bwee Hwa tersenyum. “Aku hanya ingin memberi kesempatan kepada dua pasang kekasih itu untuk bercakap-cakap dengan leluasa. Kehadiran kita hanya akan mengganggu mereka.”
Bun Sam menghela napas panjang dan memandang gadis itu dengan sinar mata kagum. “Adik Lim Bwee Hwa, engkau selain gagah perkasa, juga memiliki kebijaksanaan. Apa yang telah kaulakukan terhadap dua pasangan itu sungguh luar biasa dan cerdik sekali.”
“Eh? Apa maksudmu?” tanya Bwee Hwa heran karena tidak mengira ada orang yang mengetahui akal yang ia pergunakan untuk mempertemukan dua pasang hati itu.
“Aku tahu dan menyaksikan ketika engkau mendengarkan percakapan kedua orang Adik Ui di taman, dan aku tahu pula betapa pagi tadi engkau beraksi sebagai mak comblang! Padahal, menurut apa yang kudengar dari semua percakapan itu, engkaulah yang sebetulnya dijodohkan dengan seorang di antara dua kakak beradik itu.”
“Ah, aku sama sekali tidak menginginkan hal itu dan kenyataan bahwa kedua orang kakak angkatku itu mencinta kedua enci kembar merupakan jalan keluar terbaik untuk membatalkan ikatan yang dulu diadakan oleh ibu kami. Sekarang, kedua orang pemuda itu menjadi kakak angkatku dan aku merasa gembira sekali. Akan tetapi sudahlah, hal itu tidak perlu kita bicarakan lagi. Sam-ko, setelah meninggalkan kota ini, engkau hendak pergi ke mana?”
“Sudah kukatakan bahwa aku ingin mencari sute-ku, Thio Kam Ki, untuk memenuhi pesan guruku.”
“Kalau begitu, izinkan aku ikut dan membantumu menangkap sute-mu itu!”
“Akan tetapi setelah engkau menjadi adik angkat kedua saudara Ui, seharusnya engkau tinggal di sini membantu pekerjaan mereka, Hwa-moi.”
“Hemm, jadi engkau tidak suka kalau aku ikut dan membantumu menangkap Thio Kam Ki itu?” Bwee Hwa bertanya dan matanya mencorong memandang wajah pemuda itu.
“Oh, tidak, bukan begitu, Hwa-moi!” Cepat Bun Sam membantah sambil menggoyangkan kedua tangan untuk menyangkal.
“Kalau begitu, aku boleh ikut?” Bwee Hwa cepat menyerang pemuda yang masih gelagapan itu.
“Eh, oh... begini, Hwa-moi. Terus terang saja, aku tidak pernah melakukan perjalanan bersama seorang gadis asing.”
“Aku bukan gadis asing! Kita telah bekerja sama dan menjadi sahabat. Ataukah keliru anggapanku ini dan engkau tidak sudi menganggap aku sahabat?” Bertubi-tubi serangan kata-kata Bwee Hwa sehingga Bun Sam menjadi kewalahan dan tidak berdaya.
“Begini maksudku...” katanya gagap, “ah, engkau membikin aku bingung, Hwa-moi.”
“Mengapa bingung? Urusannya sederhana. Aku ingin ikut dan membantumu menangkap Thio Kam Ki. Jawabanmu tinggal boleh atau tidak, habis perkara. Mengapa mesti bingung-bingung?”
“Hemm, engkau benar juga. Memang aku kurang pengalaman menghadapi wanita sehingga begitu engkau mendesakku, aku kehabisan akal. Akan tetapi sebelum aku memutuskan, aku ingin mendapatkan dulu penjelasanmu. Mengapa engkau ingin ikut denganku mencari sute-ku yang belum kuketahui di mana adanya itu? Padahal engkau dapat tinggal di sini bersama kedua kakakmu? Mengapa mencari kesusahan dan kesulitan melakukan perjalanan tidak tentu arahnya dan mungkin menghadapi segala macam bahaya?”
“Baik, akan kujawab. Akan tetapi setelah itu, engkau harus pula memberi jawaban, boleh atau tidak! Begini, Sam-ko. Aku adalah seorang pengembara, ingin bertualang, tidak akan betah tinggal di rumah, betapapun baiknya dan menyenangkannya rumah itu. Selain itu, aku pun mendendam sakit hati kepada Thio Kam Ki, mengingat akan kematian sahabat baikku, Kakak Ong Siong Li.”
“Akan tetapi, menurut apa yang kudengar dari kalian, Saudara Ong Siong Li itu tewas karena dikeroyok oleh Ang-bin Moko dan anak buah Pek-lian-kauw, sedangkan Ang-bin Moko sudah tewas oleh Adik Ui Kong. Bukankah itu berarti kematian Saudara Ong Siong Li telah terbalas?”
Bwee Hwa menggelengkan kepalanya. “Akan tetapi penyebab tewasnya Kakak Ong Siong Li adalah karena Kam Ki yang berada di sana dan memimpin Pek-lian-kauw. Kalau tidak ada dia, kami bertiga, aku, Kong-ko, dan Li-ko akan mampu membasmi Pek-lian-kauw dan Li-ko tidak akan tewas! Biang keladinya adalah Thio Kam Ki dan juga aku ingin membalas karena dia pernah menangkap aku dan kedua Enci Can dengan niat terkutuk dan keji!”
Bun Sam mengerutkan alisnya. “Hwa-moi, aku tidak ingin membunuhnya, hanya menyadarkannya dan mengajak dia pulang kepada suhu agar suhu dapat menyembuhkan sakitnya.”
“Sakit? Dia sakit?”
“Benar, Hwa-moi. Bukan jasmaninya yang sakit, melainkan rohaninya. Aku tidak ingin engkau membunuhnya. Dengar, Hwa-moi, dendam merupakan racun yang akan merusak hati sendiri. Dendam menimbulkan kebencian dan seorang pendekar menentang orang yang sesat untuk menghentikan perbuatan jahatnya, bukan menentang karena kebenciannya. Kebencian menghilangkan keadilan, padahal seorang pendekar harus mempertahankan kebenaran dan keadilan. Aku pernah mendengar nama Sin-kiam Lojin dari guruku yang memujinya sebagai seorang pendekar pedang yang bijaksana dan baik budi. Aku percaya bahwa sebagai muridnya engkau pun tentu memiliki sifat-sifatnya yang bijaksana itu.”
Bwee Hwa menundukkan mukanya dan teringatlah ia kepada gurunya, Sin-kiam Lojin, dan hatinya merasa terharu. Memang dahulu gurunya sering menerangkan kepadanya soal kebijaksanaan. Setelah kini ia kehilangan ibu kandungnya, biarpun ia sudah mendapatkan dua orang kakak angkat yang baik dan sayang kepadanya, namun ia merasa rindu kepada gurunya yang telah mengasuh dan mendidiknya semenjak ia berusia delapan tahun. Gurunya sudah tua dan tinggal sebagai pertapa seorang diri di rumah puncak bukit Pegunungan Heng-san. Setelah menghela napas panjang, ia berkata.
“Engkau benar, Sam-ko. Ucapanmu mengingatkan aku kepada guruku. Pernah suhu mengatakan bahwa lebih baik orang jahat yang bertaubat dan menghentikan kejahatannya daripada orang yang merasa dirinya baik karena sekali waktu dia akan dapat menyeleweng dari kebenaran. Seperti orang sakit dapat sembuh dan orang sehat sekali waktu dapat saja jatuh sakit.”