Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Chapter 03

Memuat...
Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan

Chapter 03

Keramaian luar biasa terjadi di halaman kuil, bahkan meluber hingga ke jalan raya depan. Orang-orang berdesakan demi menyaksikan keluarga Jaksa Thio yang sedang menyalakan lilin dan membakar hio, lalu sembahyang di depan arca Kwan Kong berukuran besar. Sebenarnya, pemandangan ini tidak istimewa dan tidak layak ditonton. Siapa yang aneh melihat orang sembahyang? Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian ribuan penonton, yang sebagian besar adalah laki-laki. Bwee Hwa, yang berada di antara kerumunan, mendengar percakapan mereka dan segera menyadari bahwa sumber keramaian adalah seorang gadis yang ikut sembahyang bersama keluarga Jaksa Thio. Ia sendiri tidak ingin berdesakan, jadi ia menjauh dan mendekati seorang wanita setengah baya yang juga menonton dari kejauhan.

"Bibi yang baik, tolong tanyakan. Siapakah keluarga yang sedang bersembahyang di kuil itu dan mengapa begitu banyak orang berdesakan untuk menonton? Suasana di kota ini seperti sedang merayakan pesta, ada perayaan apa sebenarnya?"

Wanita setengah baya itu memandang Bwee Hwa dengan mata terbelalak kagum. Kecantikan Bwee Hwa yang mengenakan pakaian merah mencolok memang memesona.

"Aduh, nona. Kukira Thio-siocia (Nona Thio) sendiri yang datang di depanku! Ah, Anda tidak tahu apa yang terjadi dan tidak mengenal keluarga yang sedang bersembahyang dan menjadi tontonan? Kalau begitu, mudah saja ditebak bahwa Anda pasti bukan orang sini!"

"Memang benar, Bibi. Tapi mengapa orang-orang itu berdesakan ingin melihat gadis itu? Siapakah dia?"

"Dia adalah Thio-siocia dan Anda sangat mirip dengannya, Nona. Lihatlah, sungguh mirip! Hei, kalian lihatlah, bukankah nona ini mirip Thio-siocia?" Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Bwee Hwa, malah berteriak menarik perhatian orang.

Beberapa pria yang berdesakan melotot dan menatap Bwee Hwa dengan takjub. Gadis itu memang mirip Thio-siocia, bahkan lebih cantik dan berwibawa. Sorakan kagum mereka membuat sebagian besar pria yang menonton ke dalam menoleh. Ketika mereka melihat Bwee Hwa, semua memutar tubuh. Kini lebih banyak pria menengok ke luar daripada memandang ke dalam!

Tadinya, para penonton pria terpesona oleh seorang gadis yang ikut bersembahyang. Gadis itu adalah putri Jaksa Thio, bernama Thio Cin Lan. Ia memang sangat cantik, bahkan terkenal sebagai bunga kota Ki-ciu. Sebagai putri bangsawan, Cin Lan jarang tampil di depan umum, sehingga semakin banyak pemuda merindukannya.

Kerinduan itu bukan hanya sekadar angan-angan kosong untuk memilikinya sebagai istri, tetapi juga keinginan untuk sekadar melihat dan mengagumi kecantikannya. Oleh karena itu, tak mengherankan jika banyak pemuda berdesakan di depan kuil itu hanya untuk melihat wajah dan sosok gadis yang masyhur jelita itu.

Thio Cin Lan, atau Thio-siocia (Nona Thio), menyadari hal ini. Ia tahu dirinya menjadi pusat perhatian, sehingga ia bersembahyang dengan kepala tertunduk. Pipinya yang putih mulus merona karena malu. Betapapun, ia tidak marah, malah merasa bangga dan gembira, jantungnya berdebar.

Beberapa kali ia mencuri pandang ke luar dengan sudut matanya dan tersenyum geli melihat tatapan para pemuda bagaikan mata harimau kelaparan. Setiap kali ia melirik, setiap pria merasa dirinya yang dilirik! Namun, tiba-tiba suasana di luar kelenteng berubah. Para penonton pria banyak yang berbalik menengok ke luar. Hal ini membuat Cin Lan merasa tidak senang dan heran. Ia cepat menyelesaikan sembahyangnya, lalu memandang ke luar. Karena tempat sembahyang agak tinggi, ia dapat melihat kepala dan dada Bwee Hwa. Barulah ia sadar bahwa gadis berpakaian merah itulah yang membuat para penonton beralih perhatian dan tidak lagi memperhatikannya. Ia merasa tertarik pada gadis berpakaian merah itu dan segera berbisik kepada ayahnya.

"Ayah, di luar ada seorang gadis yang sepertinya sangat ingin menonton perayaan kita dari dekat. Kasihan ia berdesakan di luar. Lebih baik suruh ia masuk saja, Ayah."

Jaksa Thio adalah pria tua yang baik hati. Pejabat berusia sekitar lima puluhan ini selain bijaksana, juga sangat menyayangi putrinya. Mendengar ucapan Cin Lan, ia segera menoleh dan memandang ke luar. Ia langsung melihat gadis yang dimaksud putrinya. Melihat gadis berbaju merah itu menjadi pusat perhatian penonton, Jaksa Thio turun dari tempat sembahyang dan berkata kepada para penonton.

"Hai, saudara-saudara, beri jalan kepada nona berbaju merah yang berdiri di luar itu agar ia dapat masuk!" Kemudian ia memandang Bwee Hwa dan berseru, "Nona baju merah, silakan masuk saja, tidak baik berdesakan di luar!"

Melihat keramahan pria tua berpakaian indah itu, Bwee Hwa merasa senang. Ia melihat wajah yang berwibawa namun ramah, serta sikap yang lembut dan penuh hormat kepadanya. Ia pun tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia melangkah masuk. Karena terhalang banyak orang, ia menggunakan kedua tangannya untuk mendorong perlahan ke kanan dan kiri, membuka jalan.

Dasar pemuda, di mana pun sama saja. Melihat gadis berbaju merah yang jelita itu mendorong-dorong, banyak di antara mereka sengaja berdiri menghalang agar didorong dan disentuh tangan putih mulusnya. Ini adalah kesempatan untuk bersentuhan dengan gadis cantik jelita itu!

Namun, jika tadinya mereka menunggu sentuhan sambil tersenyum memasang gaya, saat tangan lembut itu mendorong perlahan, mereka terbelalak kaget. Senyum mereka seketika berubah menjadi seruan kaget karena mereka terdorong ke kanan kiri seperti dilanda gempa bumi! Mereka yang tidak melawan dorongan itu hanya tergeser ke samping. Akan tetapi, mereka yang menggunakan tenaga untuk melawan dan menahan dorongan Bwee Hwa, merasa tubuh mereka dilanda tenaga raksasa sehingga mereka menubruk orang di sampingnya dan terhuyung!

Hal ini hanya diketahui dan dirasakan oleh mereka yang mengalaminya. Keluarga Jaksa Thio dan orang lain tidak menyadarinya, sedangkan mereka yang merasakannya tentu merasa malu untuk menceritakan bagaimana mereka terdorong hingga terhuyung oleh tangan halus gadis itu yang tampaknya hanya mendorong perlahan.

Meskipun jarang bergaul, Bwee Hwa cukup diajari tata cara sopan santun oleh Sin-kiam Lojin. Ia mengangkat kedua tangan ke depan dada, membungkuk memberi hormat kepada Jaksa Thio. Karena tidak tahu ia berhadapan dengan bangsawan berkedudukan tinggi, ia berkata dengan lembut namun bersahaja, "Lo-pek (paman tua), terima kasih banyak atas kebaikanmu."

Sebaliknya, Bwee Hwa yang melihat pria tua itu tertawa tergelak-gelak, ikut tertawa lepas, tidak menutupi mulutnya seperti kebiasaan gadis pemalu, sehingga mulutnya terbuka dan orang dapat melihat deretan giginya yang putih dan rapi, lidah, serta rongga mulutnya yang merah. Bwee Hwa menganggap pria tua itu pasti sangat gembira. Sesuai pelajaran tata susila yang pernah ia dapatkan dari gurunya, jika orang lain tertawa, ia pun sebaiknya ikut tertawa, meskipun tidak tahu sebabnya.

Melihat Jaksa Thio dan gadis berbaju merah itu sama-sama tertawa besar, orang-orang yang tadinya heran kini semakin melongo keheranan dan saling pandang dengan wajah bodoh!

"Haha! Nona baju merah, kau sungguh lucu sekali! Lucu dan baik!" kata Jaksa Thio sambil memandang Bwee Hwa. "Kau pasti bukan orang sini dan kelihatannya kau seorang gadis kang-ouw karena aku melihat pedang tergantung di pinggangmu, di balik baju luarmu. Nona yang baik, siapakah namamu dan di mana tempat tinggalmu?"

Melihat di sana terdapat banyak bangku bundar yang terukir indah, Bwee Hwa tanpa diminta langsung duduk di salah satu bangku sebelum menjawab pertanyaan itu. Melihat ini, Jaksa Thio tersenyum dan memberi isyarat kepada istri dan putrinya untuk duduk. Mereka pun duduk mengelilingi meja, berhadapan dengan Bwee Hwa. Setelah itu, Jaksa Thio berseru kepada para penonton.

"Saudara-saudara, silakan mengambil tempat duduk dan merayakan ulang tahun kami bersama-sama!"

Seruan ini disambut riuh gembira oleh semua penonton, lalu mereka menduduki bangku-bangku yang memang telah disediakan di pekarangan itu. Jaksa Thio memberi isyarat kepada para pelayan untuk mengeluarkan hidangan kepada semua orang. Semua orang merasa gembira dan berterima kasih karena sang pembesar kembali menunjukkan kebijaksanaan dan kebaikan hatinya kepada siapa saja.

Setelah duduk berhadapan dengan Jaksa Thio dan anak istrinya, Bwee Hwa menjawab pertanyaan tadi dengan sikap sederhana.

"Namaku Bwee Hwa dan entahlah, aku sendiri tidak tahu apakah aku seorang gadis kang-ouw atau bukan. Aku juga tidak punya tempat tinggal tetap. Aku baru datang dari Bukit Heng-san, berpisah dari guruku, dan kini aku sedang merantau."

Mendengar jawaban yang sangat terbuka dan sederhana ini, Jaksa Thio mengerti bahwa ia berhadapan dengan gadis yang benar-benar lugu dan jujur, bukan seorang kang-ouw yang biasanya bersikap acuh tak acuh dan berani bersikap sembarangan terhadap siapa saja. Maka ia pun memperkenalkan diri, istri, dan putrinya. Meskipun kini ia tahu bahwa keluarga itu adalah bangsawan dan pembesar, sikap Bwee Hwa tetap biasa saja, bersahabat, dan tidak menjilat. Hal ini membuat Jaksa Thio semakin kagum. Ia sudah jemu dengan sikap orang yang biasanya sangat menghormat, bahkan terkadang berlebihan seperti menjilat kepadanya, dan ia tahu benar bahwa penghormatan itu sesungguhnya bukan ditujukan kepada pribadinya, melainkan kepada kedudukan dan kekuasaannya!

Thio Cin Lan mengamati pakaian dan pedang Bwee Hwa dengan tertarik. Pakaian Bwee Hwa indah dan ringkas, nyaman dipakai, dan memungkinkan gadis itu bergerak leluasa, tidak seperti pakaiannya, pakaian seorang gadis bangsawan yang berlebihan dan membatasi gerakannya.

"Berapa usiamu sekarang? Kau tampak masih sangat muda."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment