Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Chapter 56

Memuat...
Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan

Chapter 56

Di lain pihak, sepasang gadis kembar itu terkejut ketika serangan gencar mereka selalu gagal. Pemuda itu dapat bergerak sangat cepat sehingga tubuhnya bagaikan bayangan yang berkelebatan di antara sinar pedang mereka. Setiap kali Kam Ki mengibaskan tangan untuk menangkis pedang dari samping, mereka merasakan tangan mereka tergetar hebat.

Sekarang, sepasang gadis kembar itu mengerti mengapa Pek-hwa Sianli menyuruh mereka berdua mencari dan membunuh Kam Ki. Pek-hwa Sianli sendiri pasti tidak dapat menandingi pemuda yang amat lihai ini. Mereka lalu mengerahkan seluruh kemampuan dengan kerja sama yang baik sehingga mampu menekan Kam Ki, walaupun tidak mudah untuk membunuhnya.

Kam Ki melihat Ang-bin Moko sudah muncul di situ bersama anak buahnya, menonton dia bertanding melawan sepasang gadis kembar tersebut.

“Moko, bantu aku menangkap mereka ini. Jangan bunuh dan jangan lukai, tangkap hidup-hidup!” kata Kam Ki.

Ang-bin Moko maklum dengan maksud Kam Ki. Dia lalu membanting bahan peledak di dekat dua gadis kembar itu. Terdengar suara ledakan dan asap putih tebal membubung. Can Kim Siang dan Can Gin Siang hendak menghindar, namun Kam Ki menghadang mereka dengan tamparan yang mendatangkan angin kuat sehingga mereka tidak mampu menjauh dan terpaksa menghirup asap putih tersebut. Seketika pandangan mereka menjadi gelap, dan sambil mengeluh, keduanya roboh terguling, pingsan terbius oleh asap yang mengandung obat pembius kuat itu.

Sambil tertawa girang, Kam Ki mengempit tubuh dua gadis kembar itu dan membawanya masuk ke dalam kamar besar tempat Bwee Hwa masih terikat di atas pembaringan. Kam Ki memerintahkan anak buahnya untuk mengambil dua buah dipan, lalu mengikat kedua gadis kembar itu masing-masing di atas dipan, seperti keadaan Bwee Hwa, telentang dengan kedua kaki dan tangan terikat kuat.

Kam Ki duduk menghadapi meja dan tertawa senang sambil memandangi tiga orang gadis itu bergantian. Ketiganya memiliki daya tarik tersendiri; cantik jelita dan menggairahkan.

“Ha-ha-ha! Aku semalam tidak bermimpi kejatuhan tiga buah bintang gemerlapan, tahu-tahu sekarang ada tiga orang gadis cantik manis siap melayaniku. Ha-ha-ha!”

“Engkau jahanam keparat busuk!” maki Bwee Hwa.

Namun, Kam Ki hanya tertawa sambil menuangkan arak ke dalam cawan dan meminumnya dengan hati senang.

Dengan perasaan berat dan diliputi kekhawatiran akan nasib Siong Li yang terkepung, apalagi nasib Bwee Hwa yang tertawan oleh Kam Ki, ketua Pek-lian-kauw yang lihai itu, Ui Kong memacu kudanya menuruni lereng bukit.

Tiba-tiba, dia melihat debu mengepul tinggi di dekat bukit dan tampak pasukan yang cukup besar, agaknya tidak kurang dari dua ratus orang prajurit. Hati Ui Kong berdebar penuh ketegangan dan harapan, lalu memacu kudanya ke depan. Setelah dekat, dia melihat kakaknya, Ui Kiang, menunggang kuda di depan pasukan bersama tiga orang perwira. Pasukan itu mulai memasuki hutan di lereng terbawah. Melihat ini, Ui Kong berseru nyaring, “Kiang-ko!”

Ui Kiang memandang ke depan dan segera mengenali adiknya. Dia memberi perintah kepada para perwira agar menghentikan pasukan. Pasukan berhenti, dan sejenak kemudian kedua kakak beradik itu sudah saling berhadapan.

Mereka melompat turun dari kuda dan berlari saling menghampiri. “Kong-te, bagaimana keadaanmu? Di mana Hwa-moi dan saudara Siong Li?”

“Ah, celaka, Kiang-ko. Bwee Hwa tertawan dan Li-ko terancam bahaya,” kata Ui Kong.

“Bagaimana mungkin kalian bertiga sampai dapat dikalahkan?” Ui Kiang berseru heran dan kaget.

“Kiang-ko, cabang Pek-lian-kauw itu mempunyai seorang ketua baru, masih muda dan bernama Kam Ki. Dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali, amat lihai dan kami tidak mampu menandinginya,” jawab Ui Kong.

“Kalau begitu, mari kita tolong adik Bwee Hwa dan saudara Siong Li. Engkau menjadi penunjuk jalan. Pasukan ini akan membantu kita, Kong-te!”

Ui Kong merasa lega dan dengan semangat yang meluap-luap karena timbul harapan baru, dia memacu kudanya kembali naik ke Bukit Siong, diikuti oleh Ui Kiang, para perwira, dan pasukan mereka.

Tak seorang pun di antara mereka mengetahui bahwa ketika Ui Kong dan Ui Kiang berbicara tadi, ada bayangan orang yang mengintai dan mendengarkan mereka dari atas sebatang pohon yang tinggi dan berdaun lebat. Begitu mendengar nama Kam Ki disebut, bayangan itu berkelebat lenyap dan mendahului pasukan naik ke Bukit Siong. Gerakannya amat ringan dan larinya seperti terbang.

Bagaimana Ui Kiang dapat secara kebetulan tiba di tempat itu bersama pasukan besar? Ternyata, setelah Ui Kong, Bwee Hwa, dan Siong Li pergi, Ui Kiang merasa tidak enak karena dia hanya mampu menyumbangkan pikiran dan tidak dapat melakukan sesuatu untuk membantu mereka. Maka, dia segera menghubungi panglima pasukan keamanan di kota Ki-lok dan menceritakan segalanya, termasuk dugaannya bahwa sarang pembunuh dari tokoh Pek-lian-kauw itu dapat dilacak melalui gerombolan Kiu-liong-pang. Dia juga menceritakan tentang usaha Ui Kong, Bwee Hwa, dan Siong Li yang ingin menemukan pembunuh ayahnya serta merampas kembali patung Kwan Im dari Kuil Ban-hok-si. Dia meminta bantuan panglima tersebut yang segera memerintahkan tiga perwiranya untuk memimpin dua ratus prajurit membantu Ui Kiang melakukan pengejaran. Demikianlah, di lereng pertama Bukit Siong itu pasukan bertemu dengan Ui Kong setelah mereka mendatangi gerombolan Kiu-liong-pang di lembah Sungai Kiu-liong dan memaksa tiga orang ketua gerombolan itu untuk menunjukkan sarang Pek-lian-kauw.

Siapakah bayangan yang berkelebat dan kini berlari secepat terbang mendaki Bukit Siong itu? Dia adalah seorang pemuda dengan bentuk tubuh sedang, wajah gagah namun membayangkan kelembutan, berpakaian sederhana, dan kepalanya ditutupi caping lebar. Pemuda ini memiliki sinar mata lembut dan wajah yang selalu dihiasi senyum ramah, penuh kesabaran, serta pengertian.

Dia adalah Sie Bun Sam, pemuda berusia dua puluh lima tahun, murid utama Leng-hong Hoatsu. Seperti diketahui, Sie Bun Sam menerima tugas dari Leng-hong Hoatsu untuk mencari sute-nya, Thio Kam Ki, yang menyeleweng dan berguru pada orang sesat.

Setelah beberapa bulan melacak, pada hari itu dia secara kebetulan mendengar keluhan penduduk di daerah Bukit Siong tentang kejahatan gerombolan yang bersarang di puncak bukit tersebut. Seperti halnya dua orang gadis kembar, mendengar hal ini Bun Sam menjadi penasaran. Jiwa pendekarnya tersentuh dan dia memutuskan untuk mendaki Siong-san demi membasmi gerombolan penjahat itu agar tidak lagi mengganggu ketenteraman penduduk.

Kebetulan sekali dia melihat pertemuan antara Ui Kong dan Ui Kiang. Bun Sam yang ingin tahu apa yang terjadi sehingga ada pasukan besar di situ, cepat melompat ke atas pohon dan mendengar percakapan mereka. Ketika dia mendengar bahwa Pek-lian-kauw-lah perkumpulan gerombolan pengacau itu dan kini dipimpin oleh Kam Ki, tentu saja dia terkejut dan menyesal sekali.

Tidak disangkanya bahwa sute yang amat disayanginya itu kini malah semakin dalam terperosok dalam kesesatan hingga menjadi ketua Pek-lian-kauw. Maka, dia harus cepat turun tangan mencegah sute-nya melakukan perbuatan yang tidak baik. Dia mendengar laporan para penduduk di kaki gunung tadi bahwa gerombolan itu mengganggu rakyat dan bahkan menculik gadis-gadis.

Hati Bun Sam terguncang, penuh keraguan. Benarkah sute-nya sekarang melakukan kejahatan seperti itu? Rasanya sukar dipercaya. Akan tetapi, kalau dia mengingat betapa sute-nya telah memukulnya pingsan dengan ilmu pukulan asing yang bersifat jahat, dia menjadi curiga. Maka, dia segera melompat dan berlari cepat ke puncak gunung karena agaknya pasukan pemerintah siap untuk membasmi gerombolan yang dipimpin Thio Kam Ki.

Dia hendak membuktikan keadaan gerombolan itu terlebih dahulu. Kalau benar gerombolan Pek-lian-kauw melakukan kejahatan di bawah pimpinan Kam Ki, dia harus menentangnya. Akan tetapi, kalau semua itu hanya fitnah dan sute-nya tidak bersalah, dia harus membela sute-nya dari serangan pasukan.

Thio Kam Ki duduk menghadap meja dan minum arak sambil memandang tiga orang gadis yang telah diikat kaki tangannya dan rebah telentang di atas pembaringan masing-masing. Dia merasa girang sekali. Tiga orang gadis itu sungguh cantik dan menarik, dan mereka bertiga sudah berada dalam tangannya. Bagaikan tiga potong daging sudah berada dalam mangkuk di depannya, tinggal makan saja. Akan tetapi, dia merasa kecewa dan tidak puas. Dia ingin tiga gadis cantik itu mau melayaninya dan membalas cintanya, bukan melayaninya karena dipaksa. Kalau saja mereka bertiga suka menjadi istrinya dan hidup bersamanya di situ, tentu dia akan merasa sangat berbahagia.

Setelah puas minum arak, Kam Ki menghampiri pembaringan Bwee Hwa. Dia duduk di tepi pembaringan dan membujuk Bwee Hwa, karena bagaimanapun juga, dia lebih tertarik kepada Bwee Hwa.

“Bwee Hwa, bagaimana, apakah engkau tetap menolak? Lihat, mereka berdua menjadi tawananku. Mereka pun cantik-cantik dan memiliki ilmu silat yang bahkan lebih lihai daripada kepandaianmu. Mereka tentu akan senang sekali kalau menjadi istriku.”

“Jahanam busuk! Siapa sudi menjadi istrimu? Aku tidak sudi!” kata Can Kim Siang yang kini sudah siuman.

“Akupun tidak sudi! Lebih baik mati!” teriak Can Gin Siang yang juga sudah siuman.

“Huh, laki-laki tidak tahu malu!” Bwee Hwa mengejek. “Tulikah telingamu sehingga kamu tidak mendengar ucapan mereka? Mereka berdua menolak untuk menjadi istrimu, akupun lebih baik mati daripada menjadi istrimu. Mau bunuh, boleh bunuh, akan tetapi untuk menjadi istrimu, jangan harap!”

Ucapan tiga orang gadis itu mendatangkan kesan baik satu sama lain di antara mereka dan mereka merasa lebih kuat karena mengalami nasib yang sama.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment