Chapter 15
“Sekarang sambutlah seranganku!” kata Bwee Hwa. Baru saja ucapan itu keluar, Lui Thong sangat terkejut karena dia telah kehilangan lawannya. Dia segera memutar tubuhnya dan benar saja, gadis itu sudah berada di belakangnya. Namun, begitu dia membalikkan badan, dia hanya melihat bayangan merah berkelebatan. Gadis itu sudah bergerak sangat cepat, seperti seekor tawon merah yang terbang mengelilingi setangkai bunga. Dalam sekejap, Lui Thong merasa bingung dan pening karena serangan itu datang dari segala arah. Dia harus menangkis dan mengelak dari serangan yang seolah-olah dilakukan oleh empat atau lima orang. Beberapa kali dia terkena tamparan dan tendangan Bwee Hwa. Meskipun gadis itu hanya menggunakan sebagian kecil tenaganya, serangan tersebut cukup mendatangkan rasa nyeri, pedas, dan panas.
Riuh rendah sambutan para anggota gerombolan itu karena heran dan kagum menyaksikan Bwee Hwa yang tampak seperti bayangan merah yang berkelebatan di sekeliling tubuh Lui Thong. Pembantu Gak Sun Thai itu seolah menjadi seekor monyet besar yang diserang seekor kumbang dan tidak berdaya sama sekali menghadapi serangan si kecil yang amat gesit itu. Hal ini pun dirasakan oleh Lui Thong. Dia tahu bahwa jika dilanjutkan, dia akan mendapat malu besar, maka dia segera berseru, "Tahan, Nona!"
Bwee Hwa menghentikan serangannya dan berdiri di depan lawannya sambil tersenyum.
"Nona, *ciang-hoat* (silat tangan kosong) Anda sungguh lihai, meskipun kuakui bahwa pukulan tanganmu hampir tidak terasa olehku. Sekarang, marilah kita mencoba permainan senjata kita!"
Bwee Hwa hanya tersenyum. Dalam hatinya ia berkata, "Hemm, manusia tolol! Kau diberi hati tidak tahu diri. Jika aku benar-benar menyerang dengan pengerahan tenagaku, apakah kau kira engkau masih dapat bernapas lagi?" Akan tetapi, itu hanya suara hatinya, sedangkan mulutnya berkata, "Memang tenagaku tidak kuat, sedangkan tubuhmu terlalu kuat. Jika engkau masih belum puas dan ingin menggunakan senjata, silakan!"
Lui Thong segera mencabut senjatanya, sebatang golok yang sangat besar dan berat, sehingga dua orang anak buah yang disuruhnya mengambil golok itu harus menggotongnya dengan susah payah. Lui Thong menerima golok itu dengan tangan kanan dan mendemonstrasikan kekuatannya. Dia memutar golok besar itu di sekeliling tubuhnya hingga terdengar suara berdesing dan angin menyambar-nyambar.
Diam-diam Bwee Hwa merasa khawatir jika *Sin-hong-kiam*, pedang pusakanya, akan rusak apabila digunakan melawan senjata berat itu. Maka, ia berkata dengan tenang, "Nah, setelah senjatamu berada di tanganmu, apa lagi yang kau tunggu? Mulailah seranganmu!"
"Mana senjatamu, Nona? Keluarkan dan cabutlah pedangmu itu."
Bwee Hwa tertawa lepas tanpa menutupi mulut, tidak seperti kebiasaan gadis-gadis yang selalu menutupi mulut saat tertawa agar tampak sopan. "He-he-he, untuk apa aku harus mencabut pedangku? Biar kuhadapi golok pemotong babi di tanganmu itu dengan tangan kosong saja!"
Lui Thong menjadi sangat marah karena merasa dipandang rendah dan dihina. Namun, karena gadis itu adalah tamu ketuanya, dia menoleh kepada Gak Sun Thai dengan pandangan bertanya.
Gak Sun Thai bertanya kepada Bwee Hwa, "Sungguhkah engkau akan menghadapi golok Lui Thong dengan tangan kosong saja, Nona?"
"Kenapa tidak? Empat batang golok seperti itu masih sanggup aku lawan dengan tangan kosong, apalagi hanya sebatang."
Gak Sun Thai merasa dongkol juga, lalu dia mengangguk kepada Lui Thong. Orang tinggi besar bermuka hitam ini kemudian membentak marah, "Ang-hong-cu, engkau sendiri yang mencari mati!"
Dia lalu membuka serangan dengan jurus *Hong-cui-pai-hio* (Angin Meniup Daun). Golok itu menyambar dengan cepat dan sangat kuat dari arah kanan hingga mengeluarkan suara berdesing. Jangankan tubuh Bwee Hwa yang ramping, sebatang pohon *siong* yang besar pun agaknya akan terbabat putus dengan mudah oleh sambaran golok ini.
Akan tetapi, dengan gerakan lemas, Bwee Hwa merendahkan tubuhnya hingga hampir berjongkok sehingga golok itu lewat di atas kepalanya. Ketika golok itu menyambar kembali dari arah lain dan membabat ke arah bawah, dengan lincahnya ia melompat ke atas sehingga golok itu berdesing lewat di bawah kakinya. Demikianlah, dengan menggunakan keringanan dan kecepatan gerak tubuhnya, Bwee Hwa dengan mudah menghindarkan diri dari serangan-serangan golok Lui Thong.
Orang tinggi besar itu menjadi semakin penasaran dan marah. Dua puluh jurus telah terlewati tanpa dia dapat melukai lawannya. Jangankan melukai, goloknya bahkan tidak mampu menyentuh ujung baju gadis itu. Rasa penasaran dan marah membuat Lui Thong seolah lupa bahwa pertandingan itu sebenarnya hanya merupakan pertandingan persahabatan untuk menguji ilmu silat masing-masing.
Kemarahan membuatnya sangat bernafsu untuk merobohkan lawan, bahkan jika perlu membunuhnya. Dia lalu membentak nyaring dan segera memainkan ilmu andalannya, yaitu *Go-bi To-hoat* (Ilmu Golok Gobi-pai). Goloknya diputar cepat bagaikan kincir angin sehingga membentuk gulungan sinar putih yang menyambar-nyambar ke arah tubuh Bwee Hwa.
Namun, Bwee Hwa mengeluarkan suara tawa lirih dan mengerahkan *gin-kang* miliknya sehingga tubuhnya menjadi bayangan merah yang berkelebat di antara sinar golok yang putih bergulung-gulung tersebut. Karena bayangan merah itu bergerak lebih cepat dan gulungan sinar putih mengejarnya, seolah-olah gulungan sinar putih itu dituntun oleh bayangan merah.
Pemandangan yang indah dan aneh ini amat menarik perhatian, membuat semua orang yang menonton merasa kagum. Terutama para anggota gerombolan itu merasa gembira karena mereka mengira bahwa kali ini Lui Thong berhasil mendesak gadis itu.
"Augh...!" Tiba-tiba terdengar suara Lui Thong mengeluh dan semua penonton terbelalak. Semua terjadi begitu cepat dan di luar dugaan mereka.
Tiba-tiba saja, setelah Lui Thong mengeluh, golok besar itu terlepas dari tangannya, jatuh berkerontang di atas tanah, dan tubuh tinggi besar itu kini berdiri kaku bagaikan telah berubah menjadi arca. Ternyata dia telah terkena totokan jari tangan Bwee Hwa pada jalan darahnya sehingga tubuhnya menjadi kaku dan tidak mampu bergerak.
Setelah merasa yakin bahwa semua orang melihat jelas keadaan Lui Thong yang kaku tertotok, Bwee Hwa melangkah maju dan memungut golok yang besar serta sangat berat itu. Namun, dengan amat mudahnya, seolah golok itu seringan ranting kering, Bwee Hwa melontarkan senjata itu ke atas.
Semua orang memandang ke atas dan melihat golok itu melayang sangat tinggi. Kemudian mereka melihat golok itu meluncur turun dengan cepat. Dengan ujung tajam yang meruncing di bawah, golok itu meluncur ke arah kepala Bwee Hwa. Para wanita dan anak-anak merasa ngeri, bahkan ada yang menjerit ketika melihat golok itu seolah akan menimpa dan menembus kepala gadis itu. Namun, dengan cepat tangan kanan Bwee Hwa bergerak dan tahu-tahu ia telah menangkap golok itu tepat pada ujungnya yang runcing dan tajam. Tanpa banyak bicara, ia lalu menggunakan gagang golok itu untuk membuka totokan pada tubuh Lui Thong sehingga tubuh itu dapat bergerak kembali.
Lui Thong yang dapat bergerak lagi meringis kesakitan karena kekakuan tubuhnya tadi membuat urat-uratnya terasa nyeri. Ketika Bwee Hwa menjulurkan golok itu kepadanya, dia menerimanya lalu menjura rendah sambil berkata lirih, "Sungguh aku yang bodoh telah mendapat banyak pelajaran darimu, Nona." Setelah berkata demikian, dengan menundukkan muka, dia menyeret goloknya dan mengundurkan diri.
Bwee Hwa kini memandang kepada Gak Sun Thai dan bertanya, "Paman Gak, apakah ada lagi yang ingin menguji kepandaianku? Marilah jika ada, selagi aku masih bersemangat. Jika aku sedang malas, dipaksa pun aku tidak mau bertanding secara main-main begini."
Seorang pembantu lain segera melangkah maju menghadapi Bwee Hwa. "Gak-twako, biarkan aku mencoba kepandaian Nona ini." Gak Sun Thai pun menganggukkan kepala tanda setuju.
Orang itu bertubuh pendek kurus, berusia kurang lebih empat puluh tahun. Hidungnya mancung dan mukanya meruncing seperti muka burung, dengan mata juling yang bersinar tajam. Dengan sikap yang dibuat gagah, dia menjura kepada Bwee Hwa dan berkata, "Ang-hong-cu, aku adalah pembantu Gak-twako. Namaku Lie Hoat dan julukanku Kang-jiauw-eng (Garuda Kuku Baja)." Berkata demikian, Lie Hoat sengaja membentuk kedua tangannya seperti cakar garuda. Dia memang seorang yang mengandalkan ketangguhannya dengan ilmu pukulan *Tiat-see-ciang* (Tangan Pasir Besi).
Dalam melatih ilmu ini, dia menggunakan pasir besi dari yang dingin sampai yang panas dengan meremas-remas pasir besi tersebut. Latihan ini membuat kedua tangannya berwarna hitam. Karena dia seorang *lwe-ke* (ahli tenaga dalam), dapat dibayangkan betapa dahsyatnya kedua tangan itu. Pukulan *Tiat-see-ciang* itu dapat meremukkan tulang dan menghanguskan kulit daging. Cengkeramannya cukup kuat untuk menghancurkan batu karang yang keras!
"Hemm, apakah engkau juga hendak bertanding menggunakan senjata?" tanya Bwee Hwa.
"Nona sungguh gagah perkasa. Aku tidak memiliki kepandaian atau senjata apa pun, kecuali hanya mengandalkan sepasang tangan yang lemah ini."
"Kedua tanganmu yang mengandung ilmu *Tiat-see-ciang* itu mana bisa dibilang lemah?" kata Bwee Hwa. Lie Hoat pun terkejut bukan main. Dia merasa heran bagaimana gadis muda ini dalam sekali pandang sudah dapat mengenal ilmu simpanannya.
Dia tidak tahu bahwa guru gadis itu, Sin-kiam Lojin, pernah menerangkan dengan jelas kepada muridnya tentang banyak macam ilmu yang aneh dan berbahaya dari orang-orang di dunia *kang-ouw*, termasuk *Tiat-see-ciang* ini. Bwee Hwa sudah hafal akan ilmu-ilmu itu beserta segala cirinya.
"Ah, sungguh Nona memiliki pandangan yang tajam sekali, dapat mengenal ilmuku sebelum kupergunakan! Sebenarnya siapakah Nona ini dan siapakah guru Nona yang mulia?"
Melihat sikap si orang katai yang sopan ini, Bwee Hwa menjawab sejujurnya. "Tadi aku sudah memperkenalkan namaku. Namaku Bwee Hwa dan orang menjuluki aku Ang-hong-cu. Adapun siapa guruku, tidak perlu kuperkenalkan namanya." Gadis itu memang tidak ingin menyebut nama suhunya karena ia menganggap nama suhunya tidak perlu diketahui oleh golongan perampok seperti ini.
Mendengar jawaban dan melihat sikap Bwee Hwa, Lie Hoat maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis *kang-ouw* yang masih muda, bersikap polos, dan jujur. Dia lalu berkata, "Nona, sudilah kiranya engkau memberi pelajaran untuk menambah pengalaman dan memperluas pengetahuanku yang dangkal."