Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Chapter 55

Memuat...
Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan

Chapter 55

Setelah orang itu mendekat dan duduk di tepi pembaringan tempat ia diikat, ia melihat Kam Ki yang agaknya baru saja mandi dan kini mengenakan pakaian bersih serta indah. Begitu pula saat pemuda itu berada tepat di sampingnya, ia mencium bau harum yang menyengat. Agaknya pemuda itu sengaja bersolek untuk menarik hatinya. Akan tetapi, kemunculan pemuda yang tampak tampan dan lembut itu tidak menarik hati Bwee Hwa, justru membuatnya muak dan semakin membencinya.

“Ah, adik manis, kenapa engkau menangis?” tanya Kam Ki dengan lembut sambil mengusap air mata dari pipi Bwee Hwa. Gadis itu menggerakkan kepalanya, menolak rabaan itu.

“Bwee Hwa, bagaimana, apakah engkau telah mengambil keputusan? Maukah engkau menjadi istriku tersayang? Percayalah, aku cinta padamu.”

“Jahanam, tidak perlu merayu. Kalau mau membunuh, lakukanlah, dan jangan banyak cakap lagi!” Bwee Hwa menghardik lalu membuang muka, tidak ingin memandang pemuda yang dibencinya itu.

Kesabaran mulai menyurut dari hati Kam Ki. “Dengar baik-baik, Bwee Hwa. Sekarang engkau boleh memilih satu di antara dua. Pertama, engkau menurut dengan sukarela menjadi istriku dan kita hidup berdua di sini dalam keadaan terhormat, mulia, dan serba kecukupan. Kedua, kalau engkau tetap menolak, aku akan memaksamu dan memperkosamu. Setelah aku bosan, engkau akan kuserahkan kepada anak buah Pek-lian-kauw agar mereka permainkan beramai-ramai sampai engkau mati! Nah, engkau pilih yang mana?”

Tanpa berpikir panjang, Bwee Hwa membentak, “Aku memilih mati!” Wajah Kam Ki berubah merah. “Engkau memilih yang kedua?”

“Aku tidak sudi memilih, baik yang pertama maupun yang kedua. Aku akan membalas dendam kepadamu jika aku masih hidup, atau aku akan memilih mati agar arwahku dapat mengejar dan membalas dendam kepadamu, keparat!”

Kam Ki marah sekali. Akan tetapi, pada saat itu, pintu kamar diketuk orang dari luar.

“Siapa berani menggangguku? Apa engkau minta mati?” bentak Kam Ki yang merasa terganggu.

“Ampun, Pangcu (Ketua). Saya tidak bermaksud mengganggu, akan tetapi hendak melaporkan bahwa di luar ada dua orang gadis cantik yang ingin bertemu dengan Pangcu,” jawab kepala jaga dengan suara agak gemetar karena ketakutan.

Mendengar bahwa ada dua orang gadis cantik yang ingin bertemu dengannya, kemarahan Kam Ki mereda. Ia bangkit berdiri dan berkata kepada Bwee Hwa, “Kau tunggu saja. Masih ada waktu untuk berpikir. Akan tetapi kalau aku kembali ke sini dan engkau masih keras kepala menolak menjadi istriku, aku akan melakukan pilihan kedua!” Setelah berkata demikian, Kam Ki melangkah keluar dan menutup kembali daun pintu kamar itu. Kemudian, diiringi oleh kepala jaga yang melapor tadi, ia melangkah pergi.

Setelah tiba di luar, ia melihat dua orang gadis cantik berdiri dengan sikap gagah. Yang mengagumkan hatinya, kedua gadis itu memiliki wajah, bentuk tubuh, gelung rambut, dan pakaian yang persis sama, seolah ia melihat seorang gadis dan bayangannya! Ia menduga bahwa ia sedang berhadapan dengan sepasang gadis kembar yang cantik jelita dan gagah. Mereka memiliki kulit putih mulus kemerahan, bermata tajam jeli seperti bintang, hidung mancung, dan mulut yang menggairahkan. Bentuk tubuh mereka pun amat indah. Dua orang gadis ini tidak kalah cantik dibandingkan Lim Bwee Hwa!

Sementara itu, Can Kim Siang dan Can Gin Siang, dua orang gadis kembar, tercengang melihat bahwa ketua Pek-lian-kauw yang keluar menemui mereka sama sekali bukan seorang yang berpakaian pendeta berusia lanjut seperti yang mereka duga, melainkan seorang laki-laki muda yang berpakaian mewah! Pemuda itu berwajah tampan, gagah, bersikap lembut, dan senyumnya menawan.

Kam Ki merasa gembira dan segera mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai tanda penghormatan yang segera dibalas oleh sepasang gadis kembar itu.

“Sio-cia (Nona Berdua), siapakah kalian dan ada keperluan apa kalian datang berkunjung?” tanya Kam Ki dengan suara lembut dan senyum memikat.

“Kami ingin bertemu dan berbicara dengan ketua Pek-lian-kauw,” kata Can Kim Siang. Ia mengira bahwa pemuda itu tentu seorang anggota biasa.

Kam Ki tersenyum, “Akulah ketua Pek-lian-kauw di sini, Nona.”

Dua orang gadis itu saling pandang dan Kim Siang mengerutkan alisnya, lalu berkata ragu, “Akan tetapi, bukankah ketua Pek-lian-kauw seorang yang sudah berusia lanjut dan berpakaian sebagai pendeta? Kami mendengar bahwa Pek-lian-kauw adalah perkumpulan agama...”

“Ha-ha, memang tadinya begitu. Akan tetapi sekarang aku yang menjadi ketua di sini semenjak beberapa bulan yang lalu.”

“Hemm, kebetulan kalau begitu. Kami sepasang saudara Can hanya kebetulan lewat di daerah ini dan kami mendengar berita dari para penduduk di pedusunan bahwa banyak terjadi penculikan dan perampokan yang dilakukan oleh gerombolan penjahat yang tinggal di puncak Siong-san ini. Karena yang berada di sini adalah perkumpulan Pek-lian-kauw, maka kami minta pertanggungjawaban ketua Pek-lian-kauw. Benarkah anak buahmu yang melakukan pengacauan dan mengganggu rakyat di pedusunan daerah ini?” tanya Kim Siang sambil menatap tajam sang ketua gerombolan.

Senyum di bibir Kam Ki melebar. Tentu saja ia tahu akan perbuatan anak buahnya itu karena dialah yang lebih dulu memilih gadis-gadis yang diculik, memilih yang ia sukai.

“Aih, nona-nona yang baik, kenapa kalian menuduh begitu? Aku, ketua Pek-lian-kauw, Kam Ki, tidak pernah...” Sepasang gadis kembar itu terkejut sekali sehingga Kim Siang segera memotong ucapan Kam Ki, “Siapa namamu tadi?”

“Namaku Kam Ki dan aku tidak pernah membiarkan anak buahku berbuat jahat!”

“Kam Ki? Jadi engkau inikah yang dulu berada di lereng Bukit Ayam Emas? Engkau yang telah berzina dengan A-hui dan A-kui? Engkau tunangan Pek-hwa Sianli?” Kim Siang berseru marah.

“Eh, bagaimana engkau bisa tahu?” Kam Ki bertanya, terheran-heran dan terkejut, tetapi sama sekali tidak takut sehingga ia pun tidak hendak menyangkal.

Can Kim Siang dan Can Gin Siang mencabut pedang mereka. Kedua orang gadis kembar ini bersenjata siang-kiam (sepasang pedang).

“Kam Ki, bersiaplah engkau untuk menebus dosa dan mati di tangan kami!” Kim Siang membentak. Ia kini tidak merasa ragu untuk memenuhi permintaan piauw-ci (kakak misan) yang juga gurunya, yaitu Pek-hwa Sianli, untuk membunuh Kam Ki karena ternyata pemuda itu adalah seorang penjahat, ketua Pek-lian-kauw yang suka mengganggu penduduk dusun dan menculik gadis-gadis.

“Hei, nanti dulu!” kata Kam Ki, masih tenang saja karena ia selalu memandang rendah orang lain dan menganggap dirinya sendiri yang paling pandai. “Boleh saja kalau kalian hendak mencoba untuk membunuhku nanti. Akan tetapi, katakan lebih dulu apa hubungannya aku bercintaan dengan Pek-hwa Sianli, dengan A-hui dan A-kui? Siapakah kalian berdua ini sebenarnya?”

“Kami adalah piauw-moi (adik misan) Pek-hwa Sianli dan ia meminta kepada kami untuk membunuh engkau yang telah mengkhianati cintanya. Kam Ki, bersiaplah untuk mati di tangan kami!”

“Ha-ha-ha!” Kam Ki tertawa. “Aku memang sudah siap, bukan untuk mati di tangan kalian, melainkan untuk bersenang-senang dengan kalian berdua!”

“Haiiittttt……!!”

Kam Ki terkejut bukan main. Serangan kedua orang gadis ini benar-benar hebat dan amat berbahaya. Ia mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan mengandalkan kecepatannya untuk mengelak ke sana-sini. Akan tetapi, dua pasang pedang itu membentuk empat gulungan sinar yang mengejarnya ke mana pun ia berkelebat sehingga Kam Ki menjadi kewalahan juga. Sesungguhnya, tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi daripada tingkat kepandaian sepasang gadis kembar ini. Akan tetapi karena kedua gadis itu maju bersamaan dan memiliki hubungan batin yang amat kuat sehingga gerakan mereka dapat dipersatukan, seolah dikendalikan oleh satu pikiran saja, mereka menjadi lawan yang amat tangguh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment