Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Chapter 05

Memuat...
Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan

Chapter 05

“Mohon beribu maaf, Tuan,” Kim Ciangkun berkata sambil memberi hormat. “Hamba dan teman-teman sudah berusaha menangkap mereka, akan tetapi mereka itu lihai sekali sehingga tiga orang anak buah hamba roboh terluka. Akan tetapi, hamba telah tahu siapa mereka yang menyerang Tuan tadi.”

“Hemm, bagus. Siapakah mereka yang seberani itu?”

“Mereka adalah anggota-anggota perkumpulan rahasia yang menamakan diri Hwe-coa-kauw, Tuan.”

Tidak hanya Jaksa Thio yang terkejut mendengar nama perkumpulan rahasia yang berkedok agama dan yang amat tersohor itu, bahkan Bwee Hwa juga terkejut.

“Jadi benarkah mereka itu para anggota Hwe-coa-kauw?” kata Bwee Hwa. “Tadi telah kuduga ketika melihat senjata rahasia dan sulaman pada dada mereka. Suhu pernah bercerita tentang kekejaman dan kesesatan perkumpulan ini. Aku senang sekali telah dapat menghalangi niat jahat mereka tadi!”

“Bahkan Pendekar Wanita telah berhasil membunuh seorang di antara mereka,” kata Kim Tiong dengan kagum.

“Bukan aku yang membunuhnya, akan tetapi kawan-kawannya sendiri. Agaknya mereka yang melarikan diri itu khawatir kalau kawan yang terluka itu akan membuka rahasia, maka mereka lalu membunuhnya dengan piauw mereka,” kata Bwee Hwa. Jaksa Thio menggeleng-geleng kepalanya. “Memang demikianlah yang kudengar. Mereka itu menculik, membunuh, dan mereka selalu membunuh kawan mereka yang tertawan. Akan tetapi, setahuku, perkumpulan jahat itu berada di daerah Tit-le. Mengapa mendadak mereka berada di sini dan datang-datang mereka itu hendak membunuhku?”

“Ah, sekarang aku merasa menyesal sekali mengapa tadi aku tidak mengejar dan menangkap yang dua orang lagi. Kupikir mereka tidak berhasil membunuh, dan seorang di antara mereka telah dapat kurobohkan, maka aku sengaja memberi keringanan kepada mereka dan membiarkan mereka pergi.”

“Betapapun, engkau telah berjasa besar menyelamatkan kami sekeluarga, Bwee Hwa,” kata Jaksa Thio. Dia lalu memerintahkan para kepala pengawal agar melakukan penjagaan dengan ketat agar jangan ada penjahat yang mampu datang mengganggu.

Ketika malam tiba, Cin Lan mengajak Bwee Hwa tidur di dalam kamarnya yang cukup luas dan indah. Bwee Hwa merasa senang sekali. Ia belum pernah bergaul dengan gadis sebaya, dan kini bertemu dengan Cin Lan yang amat ramah dan tidur sekamar dengan gadis itu, ia bergembira sekali, dan mereka berdua mengobrol sampai jauh malam.

Lewat tengah malam, Bwee Hwa masih belum tidur. Suasana dalam kamar yang indah dan harum itu amat berbeda dengan tempat seadanya di mana ia biasa melewatkan malam. Mungkin terlalu nyaman dan terlalu indah, kasurnya juga terlalu lunak baginya sehingga ia malah sukar untuk jatuh pulas. Padahal, pernah ia terpaksa tidur di dalam sebuah kuil kosong yang pengap dan kotor, atau di dalam sebuah guha batu dan ia dapat tidur dengan nyenyak!

Tiba-tiba pendengarannya yang peka dan tajam karena terlatih, mendengar suara perlahan di atas atap. Ia menoleh dan melihat Cin Lan sudah tidur pulas. Wajah gadis itu lembut dan cantik sekali ketika tidur, bibirnya tersenyum.

Bwee Hwa cepat turun dari pembaringan, mengenakan sepatu, membereskan pakaiannya, dan mencabut pedangnya. Ia merasa yakin bahwa suara itu tentu gerakan kaki orang di atas genteng, gerakan kaki yang menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. Ia merasa heran bagaimana orang itu dapat tiba di atas genteng, padahal rumah Jaksa Thio dijaga ketat oleh pasukan pengawal, dijaga bagian bawah dan bagian atasnya! Sekeliling gedung telah dikepung pasukan pengawal, namun masih saja ada orang yang dapat menyusup.

Dari tempat ia berdiri, yaitu di dekat jendela, Bwee Hwa meniup ke arah lilin kecil yang dibiarkan menyala di atas meja. Lilin itu padam, dan Bwee Hwa lalu membuka daun jendela dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ia melompat keluar, dan pada saat itu ia mendengar teriakan-teriakan orang dan berkerontangannya senjata tajam beradu.

Suara itu terdengar dari atas genteng. Tahulah Bwee Hwa bahwa tentu para pengawal sudah memergoki penjahat dan kini mereka sedang mengeroyok penjahat itu. Maka cepat ia pun keluar dan melompat naik ke atas genteng.

Benar saja dugaannya. Di bawah sinar bulan yang cukup terang, Bwee Hwa melihat seorang laki-laki berkepala gundul sedang dikepung dan dikeroyok tujuh orang pengawal! Si kepala gundul itu memainkan sebatang golok besar dengan hebatnya. Goloknya berubah menjadi segulungan sinar putih yang menahan serangan tujuh orang pengeroyoknya yang juga mempergunakan golok.

Namun, Bwee Hwa melihat jelas betapa sinar golok yang dimainkan si kepala gundul itu jauh lebih dahsyat daripada para pengeroyoknya sehingga ia mampu mendesak ketujuh orang pengawal. Bahkan pada saat itu, tendangan kakinya mengenai dada seorang pengeroyok sehingga tubuhnya terguling-guling dan jatuh ke bawah, mengeluarkan suara berdebuk.

“Para pengawal, serahkan bangsat gundul ini kepadaku!” bentak Bwee Hwa sambil melompat dekat. Para pengawal yang sudah merasa jerih, merasa lega mengenal suara Bwee Hwa dan mereka segera mundur, membiarkan gadis perkasa itu untuk menghadapi lawan yang lihai itu.

“Ha-ha-ha!” Si gundul tertawa sambil memandang kepada Bwee Hwa dengan sinar mata jalang. “Benar sekali kata-kata Kakak Tiat. Nona baju merah ini selain hebat ilmu silatnya, juga amat cantik jelita!”

Di bawah sinar bulan Bwee Hwa yang sudah berhadapan dengan penjahat itu dapat melihat dengan jelas. Laki-laki bertubuh tinggi kurus itu berusia kurang lebih empat puluh tahun, kepalanya gundul dan pakaiannya juga mirip jubah yang biasa dipakai para pendeta Buddha, akan tetapi di dadanya sebelah kiri, di atas bajunya terdapat sulaman seekor ular bersayap! Tahulah ia bahwa pendeta ini tentu anggota perkumpulan Hwe-coa-kauw itu. Perkumpulan penjahat yang berkedok agama! Pantas saja tokoh-tokohnya ada yang berpakaian seperti pendeta, dengan kepala digunduli.

“Hemm, engkau ini seorang pendeta mengapa menjadi penjahat? Percuma saja engkau berpakaian pendeta dan menggunduli kepalamu. Engkau pendeta palsu, penjahat yang berkedok pendeta!” Bwee Hwa memaki sambil menudingkan pedangnya ke arah muka orang itu.

Pendeta itu hanya tertawa, akan tetapi tiba-tiba kedua tangannya bergerak dan enam batang Piauw Ular Terbang sudah menyambar ke arah bagian tubuh Bwee Hwa yang cepat memutar pedangnya. Pedangnya berubah menjadi gulungan sinar yang melindungi tubuhnya dan semua piauw itu terpental ke kanan kiri. Tangan kiri gadis itu cepat merogoh sebuah kantung di pinggangnya.

“Makanlah ini!” bentak Bwee Hwa dan begitu tangan kirinya bergerak, sinar-sinar kecil berkepelapan menyambar ke arah tubuh si kepala gundul. Itulah jarum tawon, senjata rahasia berbentuk jarum yang di bagian belakangnya ada lubangnya sehingga ketika disambitkan dengan pengerahan tenaga dalam, jarum itu meluncur dan mengeluarkan bunyi berdengung seperti tawon! Tanpa menggunakan tenaga dalam yang amat kuat, tidak mungkin jarum-jarum itu dapat mengeluarkan suara berdengung seperti itu.

Pendeta palsu itu terkejut bukan main melihat senjata rahasia lembut yang menyambar sambil berdengung-dengung seperti sekumpulan tawon menyerangnya itu. Cepat dia memutar goloknya dengan gerakan Dewa Membuka Payung. Goloknya berubah menjadi gulungan sinar seperti payung yang menangkis semua jarum.

Melihat jarum-jarumnya gagal, Bwee Hwa lalu menerjang dan menyerang dengan pedangnya. Sinar pedangnya berkelebat dan sebuah tusukan kilat menyambar ke arah leher pendeta itu. Si pendeta palsu mengerahkan seluruh tenaga sakti dan menggunakan goloknya menangkis sekuat tenaga dengan maksud untuk membuat pedang lawan patah atau setidaknya terpental. “Wuuutttt…… trangg. !!” Pendeta Hwe-coa-kauw itu terkejut setengah mati karena bukan pedang gadis itu yang patah atau terpental. Bahkan golok di tangannya hampir saja terlepas karena tangannya tergetar hebat. Kiranya gadis itu memiliki tenaga sakti yang tidak kalah kuatnya! Dia lalu balas menyerang dan bersilat dengan hati-hati sekali karena maklumlah dia bahwa dia menghadapi seorang lawan yang amat tangguh.

Akan tetapi, gerakan pedang Bwee Hwa terlampau cepat dan tenaga gadis itu terlampau kuat bagi pendeta Hwe-coa-kauw itu. Dia terdesak hebat dan nyaris tidak mampu balas menyerang. Akan tetapi pada saat itu, tampak sesosok bayangan berkelebat datang dan muncullah seorang pendeta lain yang memegang golok. Pendeta pertama menjadi girang.

“Adik seperguruan, mari kita bunuh kuda betina liar ini!”

Ternyata pendeta kedua itupun lihai ilmu goloknya, dan Bwee Hwa lalu dikeroyok dua. Namun gadis perkasa itu tidak menjadi gentar. Ia malah mempercepat gerakan pedangnya sehingga pedangnya berubah menjadi gulungan sinar yang lebar dan tubuh gadis itu lenyap dalam sinar pedangnya.

Ketika para pengawal yang belasan orang jumlahnya itu datang hendak membantu, muncul pula tiga orang pendeta lain. Pertempuran menjadi semakin hebat. Bwee Hwa tetap dikeroyok dua, sedangkan belasan orang pengawal itu mengeroyok tiga orang pendeta Hwe-coa-kauw yang baru muncul. Sayang sekali bahwa di antara para pengawal, hanya Perwira Kim Tiong seorang yang kepandaian silatnya lumayan, sedangkan yang lain jauh di bawah tingkatnya. Oleh karena itu, maka amukan tiga orang pendeta yang baru datang itu membuat para pengawal kocar-kacir dan sebentar saja empat prajurit pengawal sudah roboh terkena sambaran golok tiga orang pendeta gundul itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment