Chapter 40
"Itu tidak perlu. Katakan saja di mana sarang cabang Pek-lian-kauw di daerah ini," kata Siong Li pula. Ui Kiong menekankan pedangnya ke dada Sam-liong sehingga orang tinggi kurus bermuka pucat itu menyeringai kesakitan.
"Cepat katakan!" bentak Ui Kong.
"Baiklah, Pek-lian-kauw mempunyai cabang yang bersarang di puncak Bukit Siong di sebelah utara itu!" kata Sam-liong sambil menuding ke arah sebuah bukit yang tampak dari situ.
"Katakan, siapa pemimpin mereka dan berapa banyak jumlah anak buah mereka!" kata Siong Li lagi.
"Kami hanya tahu bahwa pimpinan mereka terdiri dari tiga orang yang berjuluk Ang-bin Moko (Iblis Muka Merah), Hek-bin Moko (Iblis Muka Hitam), dan Pek-bin Moko (Iblis Muka Putih). Akan tetapi kami tidak mengenal mereka. Adapun berapa jumlah anak buah mereka, kami tidak tahu, hanya kabarnya anak buah mereka tidak banyak, akan tetapi ilmu kepandaian para pimpinan itu tinggi sekali," kata Sam-liong pula.
"Baik, aku percaya akan keterangan kalian. Akan tetapi awas, kalau ternyata kalian berbohong, kami akan mencari kalian dan tidak akan memberi ampun! Sekarang, ayo kembalikan tiga ekor kuda kami berikut semua barang yang berada di atas kuda! Awas, kami tidak akan mengampuni kalau ada satu pun barang kami yang dicuri. Cepat!"
"Cepat taati perintah itu dan kembalikan kuda serta barang-barang mereka!" bentak Ji-liong kepada anak buahnya.
Bergegas para anak buah itu menuntun tiga ekor kuda yang tadi mereka rampas. Semua barang juga mereka kembalikan ke atas pelana kuda.
"Coba periksa isinya, Hwa-moi dan Kong-te."
Ui Kong dan Bwee Hwa lalu saling pandang. Seolah telah mengerti maksud masing-masing, mereka bergerak cepat menotok. Toa-liong roboh terkulai, berbarengan dengan Sam-liong yang juga roboh karena jalan darahnya tertotok. Setelah membuat dua orang ketua ini tidak berdaya, Ui Kong dan Bwee Hwa menghampiri kuda mereka dan memeriksa. Ternyata buntalan pakaian mereka masih utuh, begitu pula kantong uang yang dibawa Ui Kong sebagai bekal. Mereka lalu mengangguk kepada Siong Li. Dengan gerakan sangat cepat, Siong Li juga menotok Ji-liong hingga roboh terkulai. Tiga orang ketua itu tak mampu bergerak. Siong Li berteriak kepada para anggota Kiu-liong-pang, "Para pimpinan kalian kami robohkan dan sebelum lewat satu jam, mereka tidak akan dapat bergerak. Awas, jangan ada yang menghalangi kami pergi dari sini!"
Setelah Siong Li berkata demikian, tiga orang pendekar muda itu melompat ke atas punggung kuda masing-masing dan segera memacu kuda ke arah utara menuju Bukit Siong, sarang cabang Pek-lian-kauw.
Apa yang pernah diceritakan oleh Ong Siong Li tentang Leng-hong Hoatsu memang benar. Leng-hong Hoatsu adalah seorang pertapa yang datang dari Himalaya, peranakan ayah bangsa Han dan ibu bangsa India. Sejak muda ia mengasingkan diri di Himalaya, bertemu dengan orang-orang sakti serta pertapa-pertapa berilmu tinggi. Ia sangat gemar mempelajari ilmu kesaktian sehingga akhirnya menjadi seorang tua yang memiliki kepandaian luar biasa.
Ia merantau ke timur, ke daratan Cina, dan mengajarkan agama Buddha yang bercampur dengan agama Hindu. Ia menasihati rakyat agar hidup di jalan kebenaran karena jalan itulah yang membawa kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan di dunia. Ia juga selalu mengulurkan tangan menolong mereka yang terserang penyakit karena di samping ilmu silat dan ilmu sihir, Leng-hong Hoatsu juga mahir dalam ilmu pengobatan.
Pertapa sakti ini mempunyai peliharaan seekor ular aneh. Di kanan-kiri bawah lehernya, ular itu memiliki tonjolan yang dapat mekar seperti sayap sehingga ular itu disebut Hwee-coa (Ular Terbang). Sesungguhnya ia tidak terbang, melainkan melompat dari pohon ke pohon; saat melompat, tonjolan tersebut berkembang sehingga ular itu dapat melayang.
Akan tetapi, pada waktu itu rakyat, terutama di dusun-dusun, masih sangat takhayul. Mereka mulai menyembah ular itu yang dianggap sebagai penjelmaan dewa, bahkan mereka lebih menghormati ular tersebut daripada Leng-hong Hoatsu sendiri. Kakek pertapa itu berusaha membantahnya, namun takhayul yang sudah mencengkeram hati dan pikiran manusia memang sukar dihilangkan. Akhirnya Leng-hong Hoatsu kembali ke barat karena ia tidak ingin ular peliharaannya dipuja-puja orang.
Kakek sakti ini mempunyai dua orang murid. Yang pertama bernama Sie Bun Sam, yang pada saat kisah ini terjadi telah berusia dua puluh lima tahun. Sie Bun Sam adalah seorang yatim piatu yang telah menjadi murid Leng-hong Hoatsu sejak berusia lima tahun. Ia hidup sebatang kara setelah orang tuanya meninggal akibat wabah yang mengamuk di desanya di daerah Sinkiang. Wajah Sie Bun Sam sederhana saja seperti pemuda dusun kebanyakan, tidak buruk tetapi juga tidak terlalu tampan.
Namun, ada sesuatu yang sangat menarik pada wajahnya yang membuat orang merasa suka saat bertemu dengannya. Mungkin karena mulutnya yang selalu dihiasi senyum serta matanya yang bersinar lembut penuh pengertian dan kesabaran. Tubuhnya sedang saja, tidak membayangkan bahwa pemuda ini adalah seorang yang sakti dan sangat lihai. Pakaiannya juga sederhana namun bersih.
Kesukaannya adalah memakai caping lebar untuk melindungi wajah dan kepalanya dari sengatan matahari maupun air hujan. Ia tidak membawa senjata apa pun, namun di tangannya, benda apa pun dapat dijadikan senjata yang ampuh. Sie Bun Sam adalah pemuda yang berbudi luhur, setia, dan berbakti, sehingga Leng-hong Hoatsu sangat menyayanginya.
Selain Sie Bun Sam, Leng-hong Hoatsu masih mempunyai seorang murid lain bernama Thio Kam Ki. Sebetulnya Leng-hong Hoatsu yang bermata tajam dan peka perasaannya tidak begitu suka kepada anak ini. Akan tetapi, karena Thio Kam Ki ditemukan sebagai anak berusia tiga tahun yang sebatang kara dan terlantar, ia merasa kasihan dan membawanya ke pondok.
Saat ini Thio Kam Ki berusia dua puluh tiga tahun. Ia memiliki tubuh sedang dan wajah tampan yang pasti menarik perhatian banyak wanita. Berbeda dengan Sie Bun Sam, kakaknya seperguruannya yang sederhana, Thio Kam Ki sejak kecil menyukai kemewahan. Ia suka iri hati dan pandai mengambil hati dengan sikap manis buatan. Karena sifat-sifat ini, Leng-hong Hoatsu lebih menyayangi Sie Bun Sam dan mengajarkan lebih banyak ilmu kepadanya. Diam-diam Thio Kam Ki mengetahui hal ini dan merasa iri kepada suhengnya.
Tanpa sepengetahuan guru dan suhengnya, saat berusia dua puluh tahun, ia diam-diam berguru kepada seorang pendeta aliran sesat yang juga bertapa di Pegunungan Himalaya, tidak jauh dari tempat Leng-hong Hoatsu. Secara sembunyi-sembunyi selama dua tahun, Thio Kam Ki mempelajari beberapa ilmu silat dan sihir hitam dari pertapa tersebut.
Pendeta itu berjuluk Hwa Hwa Cinjin. Setelah menjadi guru rahasia selama dua tahun, Hwa Hwa Cinjin meninggalkan Himalaya sekitar setahun yang lalu, ketika Kam Ki berusia dua puluh dua tahun.
Kam Ki kini merasa dirinya sudah memiliki ilmu yang sangat tangguh. Biarpun tadinya ia merasa iri karena gurunya memberikan ilmu lebih banyak kepada Sie Bun Sam, setelah menimba ilmu dari Hwa Hwa Cinjin, Kam Ki merasa tidak akan kalah oleh suhengnya.
Pada suatu sore, setelah menyelesaikan semua tugas pekerjaan seperti membersihkan rumah, mengumpulkan kayu bakar, mengangkut air, dan mempersiapkan makan malam, kedua saudara seperguruan itu berada di kebun belakang pondok. Biasanya, sebelum mandi, mereka berlatih silat untuk menyegarkan tubuh. Bun Sam sudah duduk di atas bangku kebun ketika sutenya, Kam Ki, datang menghampiri.
"Suheng!" tegur Kam Ki sambil tersenyum akrab.
"Eh, Sute. Apakah engkau sudah membersihkan kamar samadi Suhu? Hari ini giliranmu, ingat?"
Sambil tersenyum lebar Kam Ki berkata, "Jangan khawatir, Suheng! Tentu saja aku ingat dan sudah membersihkannya dengan rapi!"
"Bagus! Eh, Sute, sudah beberapa lama ini aku sering melihat engkau meninggalkan pondok pada malam hari. Pergi ke mana saja engkau?"
"Ah, aku mencari tempat yang sunyi untuk berlatih dengan tekun, Suheng. Aku perlu tempat yang sepi dan dingin untuk menghimpun hawa murni dan memperkuat tenaga sakti. Selama ini aku memperoleh banyak kemajuan, Suheng. Maukah engkau melayaniku berlatih sore ini? Hitung-hitung engkau memberi petunjuk kepadaku agar aku dapat memperbaiki kekuranganku."
Bun Sam tersenyum. Memang sudah lama sekali ia tidak pernah latihan bersama sutenya ini karena dahulu tingkat kepandaian adik seperguruannya masih jauh di bawahnya. Sekarang pun ia merasa yakin bahwa sutenya bukan lawan yang seimbang. Akan tetapi, untuk menyenangkan hati Kam Ki, ia mengangguk.
"Baiklah, Sute. Mari kita latihan bersama."