Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Chapter 34

Memuat...
Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan

Chapter 34

Ui Kong tampak lemas dan menghela napas. “Ah, memang sayang sekali, setelah dulu aku dilatih oleh Suheng Sin-kiam Lojin dan beliau pindah ke Heng-san, aku tidak mau ikut, sehingga aku tidak sempat merantau jauh dan mencari pengalaman. Setelah tamat belajar, aku lalu pulang dan tidak pernah meninggalkan ayah. Aku hanya menentang kejahatan yang terjadi di sekitar daerah Ki-lok saja sehingga aku hampir buta tentang dunia kangouw.”

“Aih, tidak perlu berkecil hati, Kong-ko. Aku sendiri pun tidak memiliki pengetahuan seluas Li-ko mengenai dunia kangouw. Dunia kangouw itu luas sekali dan memiliki tokoh-tokoh yang terhitung banyaknya. Sekarang jalan terbaik adalah melakukan penyelidikan di mana kiranya ada cabang Pek-lian-kauw di daerah Ki-lok ini atau di Provinsi Hok-kian.”

“Sayang aku bukan seorang ahli silat sehingga aku tidak berdaya untuk membantu kalian. Akan tetapi menurut pendapatku, akan lebih berhasil kalau kalian mencari sarang cabang Pek-lian-kauw itu dari para penjahat di daerah ini. Bukankah ada ucapan orang bijaksana yang mengatakan bahwa burung gagak selalu bergaul dengan burung gagak dan burung Hong hanya mau berpasangan dengan burung Hong lainnya? Mencari sarang perkumpulan jahat harus melalui para penjahat. Dan aku mendengar bahwa di Provinsi Hok-kian ini, gerombolan penjahat yang paling terkenal adalah Gerombolan Sembilan Naga di lembah Sungai Kiu-liong (Sungai Sembilan Naga). Entah benar atau tidak pendapatku ini.”

“Wah, hebat! Benar sekali pendapatmu itu, Kiang-ko! Hampir aku lupa. Memang, gerombolan yang menamakan dirinya Gerombolan Sembilan Naga itu amat terkenal dan sukar dibasmi karena daerah mereka amat luas, di sepanjang lembah Sungai Kiu-liong,” kata Ui Kong.

“Kalau begitu, ke sanalah kita pergi! Biasanya, gerombolan penjahat akan lari mengungsi kalau diserbu pasukan pemerintah yang besar jumlahnya. Akan tetapi kalau hanya kita bertiga yang muncul, tentu mereka akan memandang rendah dan kita dapat bertemu dengan pimpinan mereka untuk mencari keterangan tentang cabang Pek-lian-kauw di Provinsi Hok-kian ini,” kata Siong Li.

“Bagus, kita berangkat sekarang!” kata Bwee Hwa.

Kedua kakak beradik Ui itu mengadakan persiapan. Ui Kiang yang tidak pandai ilmu silat tentu saja tidak dapat ikut karena ia tidak akan dapat membantu, malah hanya menjadi beban karena yang lain harus melindunginya. Ui Kiang dan adiknya mempersiapkan tiga ekor kuda yang baik. Ui Kong juga membawa sekantung uang bekal dalam perjalanan yang belum mereka ketahui berapa lamanya itu. Setelah persiapan selesai, tiga orang muda perkasa itu, Ui Kong, Siong Li, dan Bwee Hwa, berangkat menunggang kuda keluar dari kota Ki-lok, menuju ke lembah Sungai Kiu-liong.

Melakukan perjalanan diapit dua orang pemuda yang ia tahu sama-sama mencintainya, Bwee Hwa merasa bingung. Apalagi kalau ia teringat Ui Kiang yang tidak ikut. Ia tahu bahwa Ui Kiang, pemuda sastrawan itu, juga jatuh cinta padanya. Tiga orang pemuda mencintainya dan ia harus memilih seorang di antara mereka! Atau lebih tepat lagi, karena oleh mendiang ibunya ia sudah dijodohkan dengan putra keluarga Ui, ia harus memilih antara Ui Kiang dan Ui Kong.

Secara resmi, Siong Li sudah berada di luar hitungan. Semua ini membuat ia merasa bingung sekali. Dua orang saudara Ui itu sama baiknya, yang seorang lemah lembut dan bijaksana, juga terpelajar tinggi. Yang seorang lagi gagah perkasa, memiliki ilmu silat yang tangguh. Keduanya sama tampan dan menarik pula! Baru memilih di antara keduanya ini saja sudah membingungkan.

Apalagi kalau ia teringat kepada Siong Li! Pemuda ini telah banyak jasanya, dan ia sudah membuktikan sendiri bahwa pemuda ini amat mencintainya, juga merupakan seorang pendekar yang gagah perkasa dan baik budi. Ia menjadi bingung, tidak tahu harus memilih yang mana!

Bwee Hwa tidak tahu betapa sejak tadi Ui Kong memperhatikannya. Ketika itu, matahari telah naik tinggi. Mereka telah melakukan perjalanan beberapa hari dan terik matahari yang menyengat membuat mereka merasa lelah. Kuda mereka juga tampak kelelahan.

“Sebaiknya kita berhenti mengaso di sini agar kuda kita juga dapat mengaso,” kata Siong Li yang dianggap sebagai pemimpin mereka.

Mereka berhenti di tepi sebuah hutan, melepas kuda agar dapat makan rumput yang tumbuh subur di bawah pohon-pohon. Mereka bertiga lalu duduk di bawah pohon yang teduh, duduk di atas batu-batu yang banyak terdapat di situ. Ui Kong segera menurunkan bekal makanan dan minuman dari pelana kudanya. Roti dan daging kering merupakan makanan lezat pada saat itu, dan minumannya hanya air jernih yang dituang dari guci.

Sehabis makan mereka membiarkan tubuh mereka beristirahat dan kesempatan ini dipergunakan oleh Ui Kong untuk menyatakan perasaan hatinya melihat Bwee Hwa sejak tadi banyak termenung.

“Hwa-moi, aku melihat wajahmu sejak tadi tampak muram. Mengapakah, Hwa-moi? Ah, aku merasa menyesal sekali bahwa karena urusan keluarga kami, engkau dan juga Li-ko jadi ikut repot dan bersusah payah menemani aku untuk mencari pembunuh ayah.”

“Ah, mengapa engkau berpendapat seperti itu, Kong-ko? Aku termenung bukan sekali-kali karena merasa repot mengejar pembunuh ayahmu. Hal itu memang sudah menjadi kewajibanku menentang kejahatan!” kata Bwee Hwa.

“Benar apa yang dikatakan Hwa-moi, Kong-te. Selain mencari pembunuh Paman Ui Cun Lee, kita juga sudah sepatutnya merampas kembali Patung Kwan Im yang dicuri dan dilarikan Pek-bin Moko, tokoh Pek-lian-kauw. Semua itu, seperti dikatakan Hwa-moi tadi, sudah menjadi tugas kewajiban kita, sama sekali tidak merepotkan dan menyusahkan!” Ui Kong tersenyum dan mengangkat kedua tangan di depan dada memberi hormat. “Terima kasih banyak. Memang kalian berdua, Hwa-moi dan Li-ko, adalah pendekar-pendekar budiman yang bijaksana dan gagah perkasa. Akan tetapi, aku melihat Hwa-moi banyak melamun sehingga timbul pertanyaan itu dalam hatiku. Maafkan aku.”

Bwee Hwa tersenyum. Pada dasarnya, ia seorang gadis periang sehingga tidak dapat lama terbenam dalam lamunan tentang cinta yang membingungkan hatinya tadi. Kini ia memandang wajah Ui Kong dan tertawa. “Heheh, engkau ini lucu, Kong-ko. Orang melamun saja ditafsirkan. Aku tadi memang melamun karena teringat akan keadaanku yang hidup sebatang kara di dunia yang penuh kejahatan ini.”

“Aih, Hwa-moi, mengapa hal seperti itu diingat lagi? Apa engkau sudah lupa bahwa aku juga seorang yatim piatu dan hidup sebatang kara di dunia ini?” kata Siong Li sambil tertawa pula.

“Dan aku bagaimana? Kakakku Kiang-ko juga? Kami juga tidak mempunyai ayah dan ibu lagi!” kata Ui Kong pula.

“Nah, selain kita berempat, masih banyak sekali manusia di dunia ini yang sudah menjadi yatim piatu. Akan tetapi jangan katakan bahwa kita hidup sebatang kara di dunia yang penuh kejahatan ini, Hwa-moi. Kita tidak sebatang kara. Kita hidup dengan banyak manusia lain. Setidaknya, bukankah kita sekarang ini saling bersahabat dan saling membantu? Dunia tidak hanya terisi kejahatan, Hwa-moi, akan tetapi juga terdapat banyak kebaikan.”

“Ah, aku jadi ingat kepada kakakku. Kiang-ko sering kali bicara tentang kehidupan ini, tentang kebaikan dan kejahatan. Sering aku menjadi termangu keheranan kalau ia bicara tentang kehidupan, dan sama sekali kata-katanya itu tidak dapat dibantah dan aku harus mengakui kebenaran ucapannya,” kata Ui Kong.

Hati Bwee Hwa menjadi tertarik sekali. Ia pun dapat merasakan bahwa Ui Kiang yang lemah dan tidak pandai silat itu memiliki kelebihan dalam hal lain.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment