Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Chapter 31

Memuat...
Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan

Chapter 31

“Jangan curi patung itu!” katanya. Akan tetapi Pek-bin Moko menyambutnya dengan bacokan pedang yang sudah dicabutnya dengan tangan kanan.

“Singgg…… carttt……!” Darah muncrat dan tubuh Hartawan Ui roboh mandi darah karena pundak dan dadanya terbacok pedang. Ui Kiang menubruk ayahnya.

“Ayahhhhhh……!” Dia berteriak dengan sedih. Ayahnya tadi sengaja menghadang serangan pedang Pek-bin Moko untuk melindunginya, dan ayahnya yang menjadi korban pedang itu!

Pek-bin Moko menggerakkan pedangnya lagi untuk membacok Ui Kiang, namun tiba-tiba sesosok bayangan merah berkelebat masuk.

“Trangggg……!” Bunga api berpijar ketika pedang di tangan Pek-bin Moko itu bertemu dengan Sin-hong-kiam (Pedang Tawon Sakti) di tangan Bwee Hwa yang menangkisnya.

Merasa betapa tangannya yang memegang pedang tergetar hebat, Pek-bin Moko terkejut dan marah. Dia lalu menyerang Bwee Hwa yang melompat ke belakang untuk mencari tempat yang lebih lega. Pek-bin Moko mengejar dan mereka berdua sudah terlibat dalam perkelahian pedang yang seru dan mati-matian.

Sementara itu, Sam-kauwcu, yaitu Ban Kit, Lie Hoat, dan Souw Ban Lip, setelah merobohkan tiga hwesio, kini diserang oleh Siong Li yang sudah mengamuk dengan pedangnya. Pemuda itu marah sekali dan merasa menyesal mengapa tadi dia dan Bwee Hwa terhalang banyak orang sehingga kedatangan mereka di ruangan itu agak terlambat dan para penjahat telah merobohkan tiga hwesio dan juga Hartawan Ui. Dia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya sehingga tiga penjahat itu agak kewalahan dan akhirnya mereka bertiga berloncatan keluar untuk mencari tempat yang lebih luas sehingga pengeroyokan mereka akan lebih leluasa.

Ui Kong juga terkejut melihat ayahnya roboh mandi darah. Dia mencabut pedangnya dan hendak menyerang Pek-bin Moko yang telah membunuh ayahnya, namun Hek-bin Moko sudah menyerang dengan pedang sehingga terpaksa dia melayani Iblis Muka Hitam itu.

Ui Kiang tidak memedulikan mereka yang bertempur. Dengan bantuan dua hwesio yang berindap-indap menghampiri dengan takut, dia mengangkat tubuh ayahnya yang mandi darah ke sebelah dalam kuil. Seorang hwesio tua yang paham akan ilmu pengobatan berusaha untuk menolong Hartawan Ui dengan memberi obat kuat untuk diminumkan, lalu obat untuk menghentikan pendarahan dan membalut lukanya yang parah. Hartawan Ui belum tewas, namun keadaannya payah sekali. Luka di pundak terus ke dada itu cukup dalam. Napasnya terengah-engah dan dia berada dalam keadaan tidak sadar.

Sementara itu, perkelahian di luar ruangan depan kuil itu yang kini tampak sepi karena semua pengunjung telah kabur melarikan diri, masih berlangsung seru. Melihat betapa gadis berbaju merah yang menjadi lawannya itu hebat bukan main memainkan pedangnya yang mengeluarkan bunyi berdengung seperti banyak lebah mengurungnya, Pek-bin Moko sengaja bergerak mendekati rekannya, Hek-bin Moko yang masih bertanding melawan Ui Kong. Ternyata pemuda she Ui ini pun gagah perkasa karena dia mampu menandingi kehebatan ilmu pedang tokoh Pek-lian-kauw itu.

Yang agak kerepotan malah Siong Li. Meskipun tingkat kepandaiannya lebih tinggi daripada lawan-lawannya, namun karena mereka maju bertiga mengeroyoknya, dan ketiganya memang cukup tangguh, maka dia kewalahan dan Siong Li terpaksa hanya dapat memutar pedangnya sehingga gulungan sinar pedangnya menjadi perisai melindungi seluruh tubuhnya.

Ban Kit yang dulu menjadi ketua agama tingkat tiga memiliki ilmu pedang yang dasarnya adalah Go-bi-kiam-sut (Ilmu Pedang Aliran Go-bi), namun telah bercampur dengan ilmu pedang Pek-lian-kauw yang memiliki gerakan aneh dan curang sehingga cukup berbahaya. Adapun Lie Hoat, meskipun lengan kirinya telah buntung dalam perkelahian melawan Siong Li dahulu, ternyata tangan kanannya masih sangat ampuh dengan ilmu silat Kang-jiauw-eng (Garuda Cakar Baja), tidak kalah berbahayanya dibandingkan senjata tajam. Souw Ban Lip juga amat tangguh dengan goloknya yang lebar dan tipis, amat tajam.

Melihat betapa kawan-kawannya ditandingi orang-orang yang tangguh dan tampaknya tidak akan mudah menang, Pek-bin Moko menjadi khawatir. Dia khawatir kalau-kalau tugas yang mereka pikul gagal. Para pimpinan tertinggi Pek-lian-kauw tentu akan memberi hukuman berat jika tugas tidak dapat dilaksanakan dengan hasil baik. Oleh karena itu, yang paling penting adalah menyelamatkan patung emas Kwan-im Pouwsat yang sudah dikempitnya!

“Hek-te (Adik Hitam), dan tiga kawanku, lawan terus!” katanya dan tiba-tiba dia meloncat jauh ke depan.

Ketika Bwee Hwa mengejarnya dan berseru nyaring, “Keparat, hendak lari ke mana engkau?”

Tiba-tiba Pek-bin Moko membanting sebuah benda ke tanah. Sebuah ledakan terdengar dan tampak asap hitam mengepul tebal. Bwee Hwa terkejut dan cepat melompat ke belakang karena khawatir kalau-kalau asap itu beracun. Namun ternyata tidak dan ketika ia hendak mengejar, bayangan Pek-bin Moko telah lenyap.

Dengan marah sekali ia lalu memandang ke arah Hek-bin Moko yang masih bertanding pedang dengan hebatnya melawan pemuda gagah dan lihai itu. Ia terkejut ketika melihat betapa dasar gerakan ilmu pedang yang dimainkan pemuda itu sama persis dengan dasar gerakan ilmu pedangnya sendiri. Ia teringat! Itulah Sin-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti) yang juga menjadi dasar dari Sin-hong-kiam-sut (Ilmu Pedang Tawon Sakti) yang sengaja dirangkai oleh gurunya, Sin-kiam Lojin untuk disesuaikan dengan gerakan seorang wanita dan diajarkan kepadanya!

Melihat betapa pemuda itu mampu mengimbangi permainan pedang Iblis Muka Hitam, bahkan mampu mulai mendesaknya, ia menoleh ke arah Siong Li dan terkejutlah ia ketika melihat betapa Siong Li yang dikeroyok tiga oleh lawan-lawannya yang tangguh itu terdesak hebat dan hanya mampu melindungi diri! Bwee Hwa menjadi marah sekali. Cepat ia melompat ke arah medan pertempuran itu, tangan kirinya siap dengan jarum-jarumnya. “Bangsat-bangsat rendah, mampuslah!” bentaknya dan ia telah menggerakkan tangan kirinya. Jarum-jarum lembut yang mengeluarkan suara berdengung menyambar ke arah tiga orang yang mengeroyok Siong Li.

Souw Ban Lip dapat menangkis dengan senjata mereka, namun Lie Hoat yang hanya mengandalkan tangan kanan yang tak bersenjata, tak sempat mengelak dan dia roboh terpelanting ketika ada jarum mengenai pundak dan tengkuknya.

Bwee Hwa mengayun pedangnya dan tewaslah Lie Hoat! Setelah membunuh Lie Hoat, Bwee Hwa menyerang Ban Kit yang dulu sempat meloloskan diri.

Ban Kit terkejut dan juga gentar bukan main melihat kini gadis yang berjuluk Ang-hong-cu (Si Tawon Merah) itu menyerangnya dengan pedang yang mengeluarkan bunyi seperti ratusan tawon itu. Dia melawan mati-matian, namun karena gugup dan takut, gerakannya menjadi kacau dan pedang di tangan Bwee Hwa menyambar dari samping. Lambungnya tersayat dan Ban Kit terjungkal roboh untuk tidak bangun kembali.

Pada saat itu juga, Souw Ban Lip juga roboh oleh pedang Siong Li. Setelah dia hanya menghadapi seorang lawan, Siong Li yang memang lebih tinggi tingkat kepandaiannya, dengan mudah mengalahkan Souw Ban Lip. Tiga anak buah Pek-lian-kauw itu tewas semua.

Melihat betapa tiga kawannya tewas dan Pek-bin Moko sudah melarikan diri sehingga dia tinggal seorang diri, Hek-bin Moko menjadi gentar dan dia pun ingin melarikan diri. Dia sudah mengeluarkan sebuah alat peledak dan siap membanting alat peledak yang menimbulkan asap tebal itu. Namun sekali ini Bwee Hwa telah waspada karena tadi ia telah tertipu oleh Pek-bin Moko dengan alat peledak itu sehingga ia kehilangan lawannya yang menggunakan akal licik.

Kini ia telah siap siaga, maka begitu Hek-bin Moko mengambil sesuatu dari kantung jubahnya, ia mendahuluinya dan begitu tangan kirinya bergerak, sinar-sinar lembut meluncur ke arah tubuh Hek-bin Moko. Pendeta atau anggota pimpinan cabang Pek-lian-kauw itu tidak menduga akan diserang dengan senjata rahasia yang meluncur demikian cepatnya.

Beberapa batang Hong-cu-ciam (Jarum Tawon) mengenai tenggorokan, dada, dan perutnya, dan robohlah Hek-bin Moko. Alat peledak itu pun ikut terbanting dan terdengarlah ledakan disertai asap tebal yang mengepul. Namun setelah asap itu membuyar, tampak tubuh Hek-bin Moko terbujur kaku karena sudah tewas.

Siong Li menghampiri, menyingkap jubahnya dan di bawah jubah itu tampak lukisan setangkai bunga teratai putih di bajunya yang putih, yang membuktikan bahwa dia adalah seorang pimpinan Pek-lian-kauw.

Tiba-tiba Ui Kong berseru, “Ayah...!”

Dan tanpa memedulikan Bwee Hwa dan Siong Li, dia melompat dan berlari memasuki kuil yang telah kosong dan sepi itu.

Siong Li memberi isyarat kepada Bwee Hwa dan keduanya juga lari memasuki kuil karena tadi Siong Li juga melihat robohnya Hartawan Ui. Ketika Siong Li dan Bwee Hwa memasuki ruangan dalam kuil itu, mereka melihat laki-laki berusia lima puluh tahun itu menggeletak di atas dipan. Bajunya telah ditanggalkan dan tampak pundak dan dadanya dibalut kain putih. Laki-laki ini adalah Ui Cun Lee yang telah dikenal Siong Li. Ui Kiang duduk di atas bangku dekat dipan dan Ui Kong yang baru datang berlutut di dekat dipan. Seorang hwesio kurus tua duduk di atas sebuah kursi.

“Ayah……!” Ui Kong berseru, lalu dia memegang lengan kakaknya. “Kiang-ko, bagaimana keadaan ayah kita?”

Ui Kiang memandang adiknya dan menghela napas dengan wajah sedih. “Entahlah, Kong-te, lo-suhu ini sudah berusaha mengobatinya, namun lukanya amat parah dan dia mengeluarkan banyak darah……”

Ui Kong lalu bangkit berdiri dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan hwesio tua itu. “Lo-suhu, tolonglah ayah kami. Obati dan sembuhkan dia, lo-suhu!”

“Omitohud, siapa yang tidak akan suka menolong Ui-wangwe (Hartawan Ui) yang terkenal bijaksana dan dermawan? Pinceng (saya) sudah berusaha semampunya, namun semua hasilnya terserah kepada Yang Maha Kuasa, Omitohud!” kata pendeta itu sambil merangkap kedua tangan di depan dadanya.

Pada saat itu, Hartawan Ui bergerak membuka matanya dan mengeluh panjang.

“Ayah……!” Ui Kiang dan Ui Kong berseru, mendekati ayah mereka. Namun Ui Cun Lee mencari-cari dengan tatapan matanya, lalu bertanya, suaranya lemah.

“Mana ia...? Mana Lim Bwee Hwa?”

Kedua kakak beradik itu bingung karena mereka sendiri tidak tahu di mana gadis yang ditanyakan ayah mereka itu. Namun mendengar pertanyaan ini, Siong Li segera menarik tangan Bwee Hwa, untuk maju menghampiri pembaringan dan berkata.

“Paman Ui, inilah Nona Lim Bwee Hwa!”

Ui Kiang dan Ui Kong menoleh dan terbelalak memandang gadis berpakaian merah yang tadi mereka lihat membela mereka dengan gagah perkasa. Mereka lalu bangkit dan memberi ruang kepada Siong Li dan Bwee Hwa. Gadis itu merasa terharu dan iba kepada Ui Cun Lee. Ia maju dan berlutut di dekat pembaringan sambil berkata,

“Paman, sayalah Lim Bwee Hwa dan maafkan bahwa saya terlambat menolong Paman tadi.”

Hartawan Ui melebarkan matanya untuk dapat memandang gadis itu lebih jelas. Lalu dia tampak tersenyum girang. “Hemmm, engkau cantik seperti ibumu dan seperti ayahmu! Aku... aku senang...” Hartawan Ui terengah-engah, lalu menoleh kepada anak-anaknya. “...Kiang-ji dan Kong-ji.”

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment