Chapter 69
“Sekarang kami berdua menganjurkan kepada kalian semua, pertama-tama kepada Kepala Dusun Gan See Ki. Jadilah pemimpin rakyat dusun yang bijaksana, adil, dan mementingkan kesejahteraan rakyat. Jangan menuruti kemurkaan nafsu sendiri untuk menumpuk harta kekayaan dengan cara menerima suap dari para hartawan serta melakukan penindasan terhadap yang miskin dan lemah. Kalau engkau tidak sanggup melakukan semua syarat itu, lebih baik sekarang juga engkau meletakkan jabatanmu! Kalau engkau sanggup, laksanakanlah dengan benar karena kalau lain kali kami lewat di sini dan mendengar engkau masih melanjutkan sikap dan perbuatanmu yang lalu, terpaksa kami akan memberi hajaran keras kepadamu!”
“Akan saya perhatikan dan saya taati petunjuk taihiap!” kata Gan See Ki dengan suara merendah.
“Dan engkau, Bu-kauwsu, mulai sekarang bubarkan semua anak buahmu yang hanya terdiri dari tukang pukul yang tiada gunanya. Buktinya mereka melarikan diri ketika gerombolan datang. Mulai sekarang, yang menjadi penjaga keamanan dusun adalah para pemuda dusun yang jumlahnya ratusan. Engkau bertugas melatih ilmu silat kepada mereka tanpa memeras. Engkau tidak boleh melaksanakan semua perintah yang tidak benar dari kepala dusun atau para hartawan dengan upah besar. Kalau ratusan orang laki-laki yang masih muda itu bersatu padu dan menjaga keamanan, kiranya tidak ada gerombolan yang berani mengganggu. Sanggupkah engkau?”
“Saya sanggup, taihiap.”
“Jangan hanya mengatakan sanggup akan tetapi tidak kaulaksanakan, Bu-kauwsu!” kata Bwee Hwa. “Kalau lain hari aku mendengar engkau tidak melaksanakan apa yang kaujanjikan itu, lihat ini!” Gadis itu menjulurkan tangannya pada ujung batu pualam tebal meja itu dan sekali mengerahkan tenaga, ujung batu tersebut telah diremasnya hancur menjadi tepung!
Melihat ini, wajah Bu Kauwsu menjadi pucat. Sebagai seorang ahli silat, dia tahu benar betapa dahsyatnya tenaga gadis itu.
“Saya akan melaksanakan apa yang telah saya janjikan, lihiap!” katanya.
“Nah, sekarang dengarkan baik-baik, para wan-gwe (hartawan) dan juga kalian yang mewakili penduduk miskin. Kaya dan miskin bukan hal yang perlu dipertentangkan, bahkan yang kaya dan yang miskin itu dapat saling melengkapi karena kedua pihak saling membutuhkan. Apa jadinya kehidupan ini kalau semua orang kaya raya? Tentu tidak ada yang bekerja di sawah, tidak ada yang berjualan, tidak ada yang membuat pakaian sehingga setiap orang kalau membutuhkan sandang, pangan, dan papan harus mencari serta membuat sendiri! Pendeknya, kalau semua orang itu kaya raya, kehidupan tidak dapat dilanjutkan karena tidak ada yang mengerjakan untuk mengadakan apa yang dibutuhkan untuk hidup. Sebaliknya, kalau semua hidup miskin, kehidupan akan menjadi sengsara, serba kekurangan, dan akhirnya akan saling berebutan. Karena itu, ada yang kaya dan ada yang melarat itu baik sekali. Keduanya dapat saling bekerja dan saling membantu sehingga kehidupan rakyat pada umumnya dapat makmur dan sejahtera. Akan tetapi, kedua pihak haruslah hidup yang benar dan baik, sesuai dengan kemampuan masing-masing.”
“Dengan adanya yang kaya, maka dia dapat memodali perusahaan yang menyerap banyak tenaga kerja. Dengan adanya yang miskin, maka tersedia tenaga kerja. Yang kaya membutuhkan yang miskin sebagai karyawannya, yang miskin membutuhkan yang kaya untuk lapangan kerja. Karena itu, yang kaya harus membagi hasil keuntungan perusahaannya karena para pekerja itulah yang memiliki jasa atas kemajuan perusahaannya. Yang kaya harus mencukupi kebutuhan para pekerjanya dan terbuka hati serta tangannya untuk menolong mereka yang kekurangan. Di lain pihak, yang miskin harus rajin bekerja dengan jujur dan setia karena perusahaan tempat mereka bekerja merupakan sumber kehidupan bagi dia dan keluarganya.”
“Dengan demikian, maka mereka saling membutuhkan. Kedua pihak memberi dan mengambil. Hubungan antara mereka menjadi akrab dan baik, tidak ada yang meninggikan dan tidak ada yang merendahkan. Kalau sudah begitu, maka apabila terjadi suatu gangguan seperti tadi, seluruh penduduk akan bangkit, bersatu untuk melawan dan menghalau pengganggu kehidupan mereka. Mengertikah kalian apa yang kami maksud?”
Para hartawan itu mengangguk-angguk dan tampaknya senang serta setuju. Dua orang wakil penduduk yang miskin tersenyum. “Alangkah berbahagianya kami kalau terjadi seperti yang taihiap maksudkan. Kalau kehidupan kami terjamin, tentu saja kami akan bekerja dengan rajin dan setia menjaga sumber kebutuhan hidup kami.”
“Kami juga akan merasa senang sekali kalau semua penduduk dapat hidup rukun dan bersatu seperti itu,” kata seorang hartawan.
“Nah, kalau begitu mulai sekarang ubahlah semua keadaan yang pincang ini. Cukupilah kebutuhan penduduk yang miskin. Beri mereka penghasilan yang dapat menjamin tercukupnya sandang pangan mereka sekeluarga. Mereka akan bekerja dengan rajin sehingga hasil sawah ladang tentu akan bertambah dan semua dapat mengalami kemakmuran. Untuk pelaksanaan keadaan baru ini, harus dijalankan oleh Gan-cungcu dengan adil dan bijaksana. Bu-kauwsu boleh mulai memilih sebanyak mungkin pemuda dan melatih ilmu silat kepada mereka agar setiap saat ada bahaya mengancam, penduduk sendiri yang akan menghalau para pengacau.”
Ketika dua orang wakil itu diperkenankan turun untuk mengabarkan kepada semua penduduk yang berkumpul di pekarangan gedung kepala dusun, mereka berdua lalu bicara dengan lantang di tepi serambi, menceritakan rencana perubahan mengenai keadaan penduduk dusun itu seperti yang dianjurkan oleh kedua orang pendekar dan telah disetujui semua pihak.
Mendengar ini, penduduk itu bersorak-sorai dan tertawa gembira, ada yang menari-nari, bahkan ada yang menangis tersedu-sedu. Baru mendengar beritanya saja mereka sudah demikian gembira, apalagi kalau berita itu sudah menjadi kenyataan. Enyahlah lapar dan dingin! Minggatlah duka nestapa! Pergilah iri dan dengki!
Para hartawan, Kepala Dusun Gan See Ki, dan Bu Sui selaku kepala pengawal tertarik dan menghampiri tepi serambi. Melihat penduduk begitu gembira, mereka dicekam keharuan dan menyadari bahwa selama ini mereka memang telah menempuh jalan sesat, mencari keuntungan dengan menari di atas penderitaan orang lain! Dengan terheran-heran, mereka menemukan kenyataan aneh bahwa kebahagiaan orang-orang di bawah itu bukan hanya mengharukan, akan tetapi juga mendatangkan perasaan bahagia yang belum pernah mereka rasakan selama ini!
Belum juga melaksanakan semua rencana tadi, mereka sudah merasa berjasa dan bermanfaat. Hidup mereka kini mempunyai tugas tertentu dan berguna bagi banyak orang. Mereka diberi kesempatan untuk menjadi alat penyalur berkah Tuhan kepada banyak manusia!
Akan tetapi, ketika mereka menoleh ke belakang, mereka terbelalak karena tidak melihat lagi Bun Sam dan Bwee Hwa!
“Aih, ke mana perginya kedua pendekar itu?” tanya seorang hartawan. Mereka semua mencari-cari dengan pandang mata mereka, akan tetapi tidak tampak bayangan dua orang yang tadi duduk menghadapi meja dan bicara dengan mereka.
“Hemm, tentu mereka telah pergi dengan diam-diam!” kata yang lain.
“Bukan main! Mereka seperti dewa saja, dapat menghilang begitu saja!” kata Bu Sui, guru silat itu. Dia tahu bahwa beberapa orang yang pernah mengajarkan ilmu silat kepadanya tidak mungkin mampu menandingi ilmu silat dua orang pendekar itu.
“Ah, sungguh menyesal sekali!” kata kepala dusun. “Kita belum sempat menghaturkan terima kasih, menjamu mereka, dan yang lebih kita sesalkan lagi, kita belum sempat mengetahui nama kedua pendekar itu!”
Kepala dusun Liok-teng lalu berseru kepada semua penduduk yang masih bergembira ria di pekarangan gedungnya, “Hai, saudara-saudara sekalian, penduduk dusun Liok-teng! Apa yang kalian dengar dari keterangan dua orang wakil kalian tadi semua benar belaka! Aku sebagai kepala dusun bertanggung jawab dan tugaskulah untuk mengatur agar semua yang diperintahkan kedua orang pendekar penolong kita itu terlaksana dengan baik. Kami semua telah menyadari kekeliruan kami selama ini dan mulai hari ini, kita semua akan memulai kehidupan baru yang tenteram dan makmur, bersatu padu membangun dusun kita!”
Para penduduk menyambut ucapan kepala dusun mereka itu dengan gembira. Di antara keriuhan sorak-sorai penduduk, Gan-cungcu menghadapi delapan orang hartawan dan berkata lirih yang hanya didengar oleh mereka dan Bu-kauwsu, “Maaf, Cu-wi (kalian) kalau mulai detik ini, kita harus mengubah hubungan kita menjadi sewajarnya. Mari berlomba melakukan kebaikan untuk rakyat kita.”
Delapan orang hartawan itu mengangguk-angguk.
“Dan engkau, Bu-kauwsu, laksanakan perintah taihiap dan lihiap tadi,” kata pula Gan-cungcu.
Mereka semua, juga para penduduk, merasa menyesal sekali bahwa kedua orang pendekar itu telah menghilang dengan diam-diam. Pemuda dan gadis perkasa itu bukan hanya mendatangkan keadaan hidup baru, akan tetapi juga telah menyelamatkan semua barang berharga yang akan dirampok penjahat, menyelamatkan para gadis yang akan diculik, dan barangkali juga menyelamatkan nyawa mereka dari ancaman gerombolan. Sementara itu, selagi semua penduduk Liok-teng gembira, Bun Sam dan Bwee Hwa sudah pergi jauh meninggalkan dusun itu. Mereka sengaja pergi diam-diam karena tidak ingin disanjung. Setelah jauh meninggalkan dusun Liok-teng, mereka berjalan dengan langkah santai.
“Sam-ko, luar biasa sekali apa yang kaulakukan tadi,” puji Bwee Hwa kepada temannya.
“Ah, tidak, Hwa-moi. Memang seyogianya demikianlah sikap setiap manusia, berbuat kebaikan berguna bagi orang lain sekuat kemampuan dan keadaan masing-masing. Kalau kita dapat melakukan sesuatu demi kebaikan orang banyak, maka baru kita menyadari bahwa untuk itulah kita hidup. Saling tolong, saling bantu. Sayang, sebagian besar orang hanya mengerahkan kemampuan mereka untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri tanpa memedulikan orang lain, seolah mereka lupa bahwa tidak mungkin hidup seorang diri saja di dunia ini. Kita hidup saling bergantung dan membutuhkan. Tidak pantas kita hidup kalau hanya dapat meminta tanpa memberi, yang berarti kita hanya menuntut hak tanpa memenuhi kewajiban.”
“Sam-ko, apakah engkau yakin bahwa dusun Liok-teng akan dapat berubah menjadi dusun yang makmur bagi semua penduduknya, tanpa kecuali?”
“Aku yakin hal itu akan tercapai kalau setiap orang setia melakukan kewajiban masing-masing. Kalau para pekerja rajin, jujur, dan setia, maka hasilnya tentu akan berlipat ganda. Jika pemilik modal menjamin kehidupan mereka sekeluarga dengan cukup sebagai bagian mereka atas hasil pekerjaan itu, maka semua pihak akan merasa berbahagia dan keadaan itu akan mendatangkan kemakmuran serta persatuan yang kokoh. Akan tetapi, kalau mereka hanya menuntut hak tanpa melaksanakan kewajiban masing-masing, tentu saja kemakmuran tidak akan tercapai dan persatuan akan retak. Kekacauan dan kelemahan akan timbul.”
“Sayang, sebagian orang hanya menuntut hak tanpa mau melaksanakan tugas dengan baik, Sam-ko.”
Pemuda itu menghela napas panjang. “Hal itu merupakan kenyataan yang pahit, Hwa-moi. Akan tetapi, kesemuanya itu terpulang kepada pribadi masing-masing, apakah dia ingin mengisi hidup yang tak berapa lama ini dengan pekerjaan yang bermanfaat bagi orang lain ataukah hanya menghabiskan waktu selama hidupnya untuk memenuhi kepentingan dan kesenangan diri sendiri belaka tanpa memedulikan keadaan orang lain. Hidup seperti itu tiada bedanya dengan kehidupan binatang.”