Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Chapter 62

Memuat...
Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan

Chapter 62

"Kalau dia tidak mau, baru aku akan menggunakan kekerasan dan paksaan, akan tetapi bukan membunuhnya," kata Bun Sam.

Ui Kiang mengangguk-angguk. "Ah, Kak Bun Sam sungguh merupakan seorang pendekar budiman. Ilmu silatnya tinggi dan hatinya penuh kelembutan. Dia benar, Hwa-moi. Kita harus belajar memberi maaf kepada orang lain, apalagi kalau orang itu mau bertaubat dan mengubah jalan hidupnya yang sesat. Manusia manakah di dunia ini yang sempurna? Hanya Thian (Tuhan) Yang Maha Sempurna. Setiap manusia pasti berdosa dan pernah melakukan kesalahan, hanya kadarnya saja yang berbeda menurut ukuran kebudayaan dan peradaban manusia. Kalau kita tidak dapat memaafkan kesalahan orang lain, bagaimana Tuhan akan sudi mengampuni kesalahan kita? Setiap orang pasti mempunyai kesalahan, maka sudah sepatutnya kita memberi maaf. Sam-ko, kebijaksanaanmu semakin mengagumkan hatiku, maka kuharap engkau sudi menerima undangan kami!"

"Sam-ko, aku sendiri menganggap Kiang-ko dan Kong-ko seperti kakak sendiri, maka aku pun ikut mengundangmu!" kata Bwee Hwa yang entah mengapa ingin sekali memperdalam hubungan persahabatannya dengan Sie Bun Sam.

"Kalau Bu Sam-ko tidak mau menerima undangan itu, kami pun merasa tidak enak untuk menerimanya!" kata pula Can Gin Siang.

"Ah, Gin-moi, engkau harus datang!" kata Ui Kong sambil memandang wajah gadis itu dengan penuh harapan.

Melihat semua orang membujuknya untuk memenuhi undangan kakak beradik Ui itu, Bun Sam tertawa. "Aha, baiklah kalau begitu. Aku akan pergi bersama kalian."

Semua orang bergembira. Karena tadi Ui Kiang meminta kepada para perwira pasukan untuk memberi dua ekor kuda lagi, kini enam orang itu meninggalkan tempat tersebut dengan menunggang kuda.

Mereka tiba dengan selamat di rumah gedung keluarga Ui. Ui Kiang dan Ui Kong lalu memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan pesta demi menghormati para tamu. Atas permintaan Bwee Hwa, mereka juga menyiapkan sebuah meja sembahyang untuk mendoakan agar arwah Ong Siong Li mendapatkan tempat yang baik.

Sepasang gadis kembar memperoleh sebuah kamar, sementara masing-masing satu kamar diberikan untuk Sie Bun Sam dan Lim Bwee Hwa. Gedung keluarga Ui yang kaya itu memang besar dan memiliki banyak kamar. Kini keluarga Ui hanya menyisakan Ui Kiang dan Ui Kong yang merasa repot harus mengurus semua perusahaan peninggalan mendiang ayah mereka. Untungnya, mendiang Hartawan Ui Cun Lee adalah seorang dermawan sehingga para pegawainya amat setia dan dapat dipercaya untuk mengurus perusahaan tersebut.

Malam itu, Ui Kiang dan Ui Kong menjamu empat orang tamu mereka. Di dalam kamarnya, Bwee Hwa duduk melamun. Ia masih bingung memikirkan urusannya dengan kedua saudara Ui itu. Oleh mendiang ibunya, ia dijodohkan dengan salah satu dari mereka, dan mendiang orang tua kedua pemuda itu pun sudah setuju menerimanya sebagai menantu. Akan tetapi, bagaimana dengan Ui Kiang dan Ui Kong sendiri? Mereka berdua tampak kagum dan tertarik kepadanya, bahkan seolah berlomba mengambil hatinya. Namun, hal itu bukan menjadi bukti bahwa mereka mencintainya.

Yang terpenting, ia sendiri tidak mempunyai rasa cinta terhadap mereka, walaupun ia menyukai mereka sebagai pemuda yang baik. Tidak ada sedikit pun keinginan dalam hatinya untuk diperistri salah satu dari mereka. Namun, apakah ia harus membangkang pesan terakhir ibunya? Inilah yang membuat Bwee Hwa melamun dengan hati risau. Dua kakak beradik itu memang tampan; yang satu adalah sastrawan bijaksana dengan pemandangan luas tentang kehidupan, yang lain adalah pendekar dengan ilmu silat tinggi. Ditambah lagi, mereka kaya raya. Mereka akan menjadi suami yang baik, hal ini tidak diragukan oleh Bwee Hwa.

Tampan, pandai, bijaksana, dan kaya raya. Apalagi yang kurang bagi seorang wanita? Namun, ia harus mengaku dalam hatinya bahwa ia tidak mempunyai perasaan cinta sebagai wanita, ia hanya ingin menjadi sahabat baik atau saudara.

Kerisauan hatinya membuat Bwee Hwa merasa gerah dan segera keluar dari kamarnya yang menghadap ke taman. Ia ingin mencari udara segar. Begitu keluar, angin semilir lembut dan keharuman bunga menyambutnya. Malam itu bulan tiga perempat bulat berseri di langit yang cerah tanpa mendung.

Bwee Hwa menemukan kolam ikan dan duduk di bangku panjang tepi kolam. Kerisauannya perlahan sirna. Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki menuju ke arahnya. Bwee Hwa cepat bangkit dan menyelinap ke balik batang pohon besar. Ia lega ketika melihat bahwa yang datang adalah Ui Kiang dan Ui Kong. Ia hendak keluar menyambut, tetapi menahan gerakannya saat mendengar namanya disebut.

"Urusan dengan Hwa-moi harus kita selesaikan sekarang juga, Kiang-ko, selagi ia masih di sini agar keraguan ini dapat segera diakhiri," kata Ui Kong.

"Mari kita bicara dengan hati terbuka, Kong-te. Memang selama ini aku merasa seolah kita bersaing untuk memperistri Hwa-moi," ajak Ui Kiang.

Dua pemuda itu duduk dan Bwee Hwa semakin tertarik mendengarkan.

"Terus terang saja, tadinya aku amat tertarik kepada Hwa-moi. Siapa yang tidak akan tertarik? Ia cantik dan ilmu silatnya tinggi. Akan tetapi, setelah melihat Can Gin Siang, aku menyadari bahwa aku jatuh cinta kepada Gin-moi. Terhadap Hwa-moi, aku hanya merasa kagum dan suka sebagai sahabat. Karena itu, menikahlah dengan Lim Bwee Hwa, Kiang-ko, karena engkau lebih berhak sebagai kakak," ujar Ui Kong.

"Keadaan kita sama, Kong-te. Aku pun menganggap Hwa-moi sebagai sahabat saja. Engkau sebenarnya lebih tepat menjadi suaminya karena kalian sama-sama pendekar. Selain itu, aku perlu mengaku bahwa pertemuanku dengan Can Kim Siang membuatku yakin bahwa aku mencintainya," sahut Ui Kiang.

Kedua pemuda itu terdiam, tenggelam dalam lamunan. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa di balik pohon, Bwee Hwa hampir bersorak kegirangan. Seketika lenyap kerisauannya.

"Aku bingung. Aku tidak berani mengaku di depan Hwa-moi bahwa aku tidak dapat menjadi suaminya. Hal itu akan menyinggung perasaannya," kata Ui Kiang.

"Aku pun tidak berani, Koko. Padahal, ia datang kepada kita untuk memenuhi pesan mendiang ibunya. Sekarang bagaimana kita dapat menolaknya? Ia tentu akan merasa terhina," timpal Ui Kong.

Kedua kakak beradik itu tetap bingung dan memutuskan untuk memikirkan jalan keluar esok hari. Setelah mereka pergi, Bwee Hwa keluar dari persembunyiannya dengan wajah cerah dan senyum lebar. Ia mendapatkan gagasan untuk menjadi comblang bagi mereka. Jika kedua kakak beradik itu berjodoh dengan si kembar Kim Siang dan Gin Siang, maka ia bebas dari ikatan perjodohan itu tanpa dianggap melanggar pesan ibunya. Bwee Hwa pun kembali ke kamar dan tidur dengan nyenyak, tanpa menyadari bahwa Sie Bun Sam sempat melihatnya dari kejauhan.

Keesokan harinya, Bwee Hwa mendatangi kamar si kembar. Setelah dipersilakan masuk, ia mendapati mereka sudah rapi.

"Wah, pagi sekali sudah cantik dan rapi! Hendak ke manakah kalian?" tanya Bwee Hwa.

"Kami ingin melihat-lihat keadaan Kota Ki-lok ini," jawab Kim Siang.

"Itu bagus. Di luar kota, kira-kira sepuluh lie dari sini, terdapat Kuil Bah-hok-si yang terkenal dengan patung Kwan-im. Kuil itu amat besar dan indah," ujar Bwee Hwa.

"Kalau begitu, mari kita pergi ke sana!" ajak Kim Siang gembira.

"Boleh saja, tetapi nanti dulu. Kunjunganku ke sini sesungguhnya membawa tugas penting," kata Bwee Hwa.

"Tugas penting? Siapa yang menugaskan, Hwa-moi?" tanya Gin Siang penuh selidik.

"Terus terang, aku telah dianggap sebagai adik sendiri oleh kakak beradik Ui. Mereka sudah tidak mempunyai orang tua, maka aku yang mengemban tugas ini. Sebelumnya, aku harap kalian tidak marah kepadaku."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment