Chapter 09
Cin Lan, yang masih terbius oleh mantra, tak berdaya meronta maupun berteriak. Ia dinaikkan ke atas bangku tinggi dan didudukkan di sana. Gadis tak berdaya itu hanya mampu duduk lemas, matanya memandang penuh rasa ngeri. Di depannya, berjarak kurang lebih dua tombak, sebuah kotak emas tergantung pada tali dari tiang pengait. Kotak itu seluruhnya terbuat dari emas dan diukir indah dengan motif ular terbang. Meski tak diberitahu, Cin Lan merasakan bahaya yang mengancamnya berasal dari kotak emas aneh itu, sehingga ia memandang ke arah kotak tersebut dengan gelisah.
Seluruh anggota gerombolan itu tak bersuara, mata mereka hanya memandang Cin Lan dengan tatapan kagum dan penuh gairah. Dari pandangan mata mereka, terkesan seolah ingin menelan gadis itu bulat-bulat! Hal ini dirasakan oleh Cin Lan dan menambah kengerian hatinya. Siapa yang tidak ngeri, dalam keadaan tak berdaya berada di tengah-tengah tigapuluh orang pria yang tampak buas dan bermata liar? Di bawah gantungan kotak emas itu, duduk tiga pendeta berkepala gundul berjubah longgar. Yang seorang bertubuh tinggi besar, berwajah brewokan namun berkepala gundul, matanya mencorong lebar, usianya sekitar limapuluh lima tahun. Inilah Toa-kauwcu, ketua agama pertama.
Yang kedua adalah laki-laki berusia limapuluh tahun, pendek dan sangat gendut, seperti babi. Wajahnya tampak lucu dan sama sekali tidak menyeramkan, meskipun ia berusaha membuatnya tampak seram. Dia adalah Ji-kauwcu, ketua kedua. Adapun yang ketiga adalah Sam-kauwcu, kurus tinggi berwajah pucat kekuningan, berusia empatpuluh tahun. Mereka bertiga duduk di atas kursi berukir bergambar ular terbang.
Setelah Cin Lan dinaikkan ke atas bangku tinggi, kelima pelayan wanita itu mengundurkan diri ke dalam kamar atau ruangan di bagian belakang bangunan besar bekas kuil itu, seperti para pelayan wanita lainnya. Mereka dilarang menyaksikan upacara perkawinan. Cin Lan ditinggalkan sendirian, dan gadis itu dengan wajah pucat ketakutan memandang sekeliling melalui kerudung pengantin berupa tirai tipis tembus pandang.
Kemudian, ketiga ketua agama itu berdoa dengan suara tidak jelas, seolah hanya bergumam. Anehnya, semua anggota yang berada dalam ruangan itu menundukkan muka dan ikut berdoa, sehingga ruangan itu penuh dengan suara orang berdoa yang menimbulkan gaung aneh dan suasana menjadi sangat seram. Cin Lan mendengarkan dengan mata terbelalak dan bulu tengkuknya meremang karena ngeri dan takut. Toa-kauwcu kemudian membakar dupa wangi yang asapnya memenuhi ruangan itu. Bau dupa yang harum dan aneh ini menambah suasana yang ganjil dan menyeramkan.
Tiba-tiba, semua mulut terdiam seolah mendapat komando tak bersuara. Suasana menjadi sunyi, sunyi yang aneh karena suara doa gemuruh tadi berhenti mendadak. Ketiga ketua agama itu kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Cin Lan yang duduk di atas bangku tinggi. Mereka menggeser kursi mereka ke dekat bangku tinggi tempat Cin Lan duduk, lalu berdiri di atas kursi sehingga setara tingginya dengan gadis itu.
“Ya dewa ular yang maha agung, terimalah persembahan kami ini, pengantin paduka!” kata Ji-kauwcu dalam doanya sambil merenggut kerudung penutup kepala dan muka Cin Lan. Pada saat yang sama, Sam-kauwcu membuka totokan pada urat saraf Cin Lan, tetapi sekaligus juga menotok pundak gadis itu sehingga Cin Lan menjadi lemas dan tak mampu bergerak sedikitpun. Gadis itu kini hanya mampu bersuara, tetapi tidak mampu bergerak. Terdengar isak tangis ketakutannya. Kalau saja ia tidak ditotok sehingga tak mampu bergerak, tentu Cin Lan akan melompat turun dari bangkunya yang tinggi.
Sementara itu, Toa-kauwcu menekan tombol pada kotak emas itu sehingga terdengar suara "klik" dan kotak emas itu terbuka. Dari kotak itu tampak keluar kepala seekor ular kecil dengan sepasang mata liar berwarna kemerahan dan lidahnya menjilat-jilat keluar dari moncongnya. Lidahnya berwarna lebih merah lagi.
Perlahan-lahan ular itu merayap keluar, tampak tubuhnya yang kecil panjang berbintik-bintik merah dan hitam. Binatang itu merayap ke atas peti dan akhirnya melingkar diam di atas peti, kepalanya memandang ke sana kemari seperti raja memeriksa para hulubalang yang menghadap di depannya. Agaknya ular itu hendak turun, tetapi peti emas itu tergantung begitu tinggi dan tidak ada tempat untuk merayap turun. Ular itu lalu menggerak-gerakkan kepalanya mencari tempat terdekat untuk diloncati, dan tentu saja yang terdekat dengannya adalah Cin Lan yang duduk di atas bangku. Maka perhatian ular itu kini sepenuhnya beralih kepada gadis itu yang duduk tak bergerak bagaikan patung di atas bangkunya.
Cin Lan terbelalak memandang ular itu. Melihat betapa binatang itu memandangnya sambil menjilat-jilat lidahnya, Cin Lan menjadi sangat ngeri dan takut, air matanya mengalir membasahi pipinya yang pucat. Ia tak mampu mengeluarkan suara sedikitpun karena menahan keinginan untuk menjerit, takut jika itu akan membuat ular itu menyerangnya.
Pada saat itu, Toa-kauwcu berdiri dari kursinya dan menghampiri Cin Lan yang hampir pingsan ketakutan. Pendeta ini memegang secawan anggur dan berbisik kepada Cin Lan, “Nona pengantin, silakan minum anggur pengantin untuk menghormati pengantin pria.”
Mendengar ucapan ini, Cin Lan menganggap bahwa ucapan itu ada benarnya. Karena menyangka bahwa yang berada dalam cawan itu tentu racun yang akan mematikannya, cepat ia berkata, “Baik, berikan anggur itu, akan kuminum!”
Karena Cin Lan tidak dapat menggerakkan tubuhnya yang lemas tertotok, Toa-kauwcu lalu mengangkat cawan itu ke bibir Cin Lan dan menuangkan isi cawan ke dalam mulut gadis itu. Cin Lan menerimanya lalu meminumnya sampai habis. Rasa minuman itu manis, tetapi berbau amis. Namun, karena merasa lebih baik mati cepat daripada menghadapi siksaan mengerikan itu, Cin Lan menahan rasa mualnya dan menelan semua isi cawan.
Toa-kauwcu tersenyum lalu turun dari kursi dan meninggalkan Cin Lan setelah ia membebaskan gadis itu dari totokan yang membuatnya lemas tak mampu bergerak tadi.
Gadis malang itu merasa kepalanya menjadi pening dan pandangannya kabur. Segala sesuatu tampak berputar, dan ia memejamkan kedua matanya, siap menerima kematian. Ia merasa tubuhnya sangat ringan dan anehnya, ia merasa nyaman, enak, dan menyenangkan! Selama beberapa saat ia memejamkan mata, dan di depan mata yang terpejam itu ia melihat bermacam warna beterbangan, berputar-putar, dan berkilauan amat indah.
Ketika ia membuka mata kembali, sungguh heran, ia merasa sangat segar dan senang. Ia melihat betapa ular di atas kotak emas itu mengangkat kepalanya, dan kini tampak jelas betapa di bagian dada dan perut ular itu terkembang sayap di kanan kiri! Alangkah indahnya ular itu. Kulitnya yang berbintik merah hitam itu mengkilap dan warnanya amat indah.
Cin Lan merasa sangat suka melihat ular itu, bagaikan seorang gadis melihat setangkai bunga atau seekor burung berbulu indah. Tanpa disadarinya sendiri, gadis itu mengangkat kedua lengannya ke atas seolah hendak dijulurkan dan hendak membelai ular yang kini siap hendak melompat! Semua anggota Hwe-coa-kauw yang berada di situ memandang ke arah kedua makhluk yang saling berhadapan itu dan mereka menahan napas dengan hati tegang. Mereka semua maklum bahwa sebentar lagi, "pengantin pria" itu akan melompat dan menerkam leher "pengantin wanita", dalam gigitannya yang berbisa dan mematikan. Setiap tahun sekali terjadi persembahan kurban seperti ini yang dipilih di antara gadis-gadis cantik. Dan tahun ini yang terpilih adalah Thio Cin Lan, yang selain cantik jelita dan menjadi kembang kota Ki-ciu, juga berdarah bangsawan dan terutama sekali puteri Jaksa Thio yang tidak disukai Hwe-coa-kauw.
Suasana tegang memuncak dan semakin mencekam ketika orang-orang melihat betapa ular itu kini mengembangkan "sayapnya" yang sebenarnya hanyalah tubuh ular yang digepengkan sehingga menjadi lebar seperti sayap. Ular itu kini siap untuk "terbang" atau melompat ke arah Cin Lan yang berada di bawah pengaruh minuman perangsang itu, menanti ular kecil indah itu dengan senyum yang amat manis! Ular itu mendesis beberapa kali, kemudian tiba-tiba ia "terbang" melompat ke arah Cin Lan, meluncur ke leher gadis itu. Semua orang menahan napas melihat tubuh ular itu melayang, hati mereka penuh ketegangan.
Pada saat itu, dari luar jendela ruangan itu menyambar sinar-sinar kecil yang mengeluarkan suara berdengung seperti ada serombongan tawon kecil terbang masuk. Sinar-sinar kecil itu menyambar ke arah tubuh ular yang sedang meluncur di udara itu. Ular itu terpental di tengah udara sambil menggeliat-geliat dan jatuh ke bawah. Ketika tiba di atas lantai, ular itu berkelojotan sebentar lalu diam mati. Kepala dan lehernya penuh ditancapi jarum-jarum kecil. Itulah hong-cu-ciam (jarum tawon), senjata rahasia ampuh dari Bwee Hwa Si Tawon Merah!
Untuk sesaat, keadaan menjadi sunyi dan semua orang yang berada di situ tercengang keheranan. Demikian pula ketiga Kauw-cu yang sama sekali tidak menduga akan terjadi hal seperti itu. Mereka tertegun dan tak dapat berbuat sesuatu kecuali memandang bangkai ular pujaan mereka yang telah mati. Namun, keadaan ini tidak berlangsung lama. Segera mereka bertiga melompat dengan marah sambil mencabut senjata masing-masing.
“Jahanam busuk, jangan lari!” mereka berseru dan cepat mereka melompat keluar dari ruangan itu melalui jendela. Di luar jendela telah berdiri Bwee Hwa dan Ong Siong Li, menanti dengan sikap tenang dan pedang di tangan kanan.
“Keparat, engkau berani datang lagi? Agaknya memang sudah bosan hidup!” teriak Toa-kauwcu, yang segera mengenal Siong Li yang tadi pagi melarikan diri setelah menghadapi pengeroyokan mereka bertiga.
Siong Li tersenyum mengejek.
“Selama pedang ini masih berada di tanganku, aku takkan berhenti berusaha untuk membasmi Hwe-coa-kauw yang terkutuk!”
Bwee Hwa juga tidak mau kalah dan dengan pedang melintang di depan dada, telunjuk tangan kirinya menuding ke arah tiga orang itu. “Kalian ini orang-orang sesat yang menyamar sebagai pendeta agama sesat. Kalau kalian ingin selamat, bebaskan nona Thio dan bubarkan perkumpulan jahat ini, lalu kalian menyerah kepada yang berwajib untuk menerima hukuman. Kalau tidak demikian, terpaksa kami turun tangan dan tidak saja kami akan membinasakan kalian bertiga, tapi juga akan kami obrak-abrik dan bakar sarang kalian ini!”
“Nah, bukankah engkau ini perempuan yang semalam telah membunuh beberapa orang anak buah kami? Bagus, tidak usah kami bersusah payah mencari, engkau telah datang mengantarkan nyawa ke sini!” teriak Toa-kauwcu.
“Bunuh mereka!” bentak Ji-kauwcu yang segera menyerang Bwee Hwa dengan serangan kilat. Pedangnya membacok ke arah leher gadis itu.