Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Chapter 46

Memuat...
Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan

Chapter 46

Wajah yang manis itu tampak gembira, mulutnya tersenyum lebar sehingga tampak deretan gigi yang putih mengkilap dan rapi seperti mutiara berjajar, bibir yang merah basah itu merekah sehingga sekilas tampak rongga mulut yang merah.

“Ah, terima kasih, twako. Mari kita ke *lian-bu-thia* (ruang berlatih silat)!” kata Pek-hwa Sianli yang tanpa sungkan lagi lalu memegang tangan Kam Ki dan menggandeng pemuda itu keluar dari kamar itu, memasuki sebuah ruangan kosong yang dipergunakan untuk berlatih silat. Di sudut ruangan itu terdapat sebuah rak senjata, penuh dengan senjata lengkap delapan belas macam. Mereka memasuki ruangan itu dan segera disusul datangnya A-hui dan A-kui yang membawa dua baskom air dan sehelai handuk. Setelah menaruh barang-barang itu di atas sebuah meja di sudut ruangan, keduanya sambil tersenyum manis keluar lagi dari ruang latihan silat itu.

“Nah, marilah kita bertanding tangan kosong, twako. Hati-hati, jangan pandang rendah ilmuku, twako, jangan-jangan engkau akan kalah olehku!”

Kam Ki tersenyum. Dia tadi sudah melihat ketika wanita ini dikeroyok oleh tiga orang lawannya sehingga dia dapat mengukur sejauh mana kepandaian Pek-hwa Sianli dan tentu saja dia sudah dapat mengira-ngirakan apakah dia akan mampu mengalahkan wanita itu. Akan tetapi, dia tidak mau memandang rendah, dan dia hanya tersenyum, lalu dia berdiri dengan santai dan berkata kepada wanita itu.

“Nah, mulailah, Hwa-moi, aku sudah siap sekarang.”

Berbeda dengan Kam Ki yang berdiri santai tidak memasang kuda-kuda namun tetap waspada mengamati gerak-gerik lawan, Pek-hwa Sianli memasang kuda-kuda yang tampak gagah. Ia membuka ilmu silat *Sin-hong-kun* (Silat Burung Hong Sakti) dengan kuda-kuda *Sinci* (Burung Hong Sakti Pentang Sayap), kedua kakinya di depan dan belakang berjingkat, kedua lengan dipentang ke kanan dan kiri dengan tangan ditekuk menunjuk ke atas, kepala tegak, dan matanya memandang Kam Ki dengan mulut tersenyum manis.

“Nah, seranglah, Hwa-moi. Aku siap melayanimu,” kata Kam Ki pula.

“Awas seranganku, Ki-twako. Hyaaatttt……!” Wanita itu menyerang dengan dahsyat. Ketika tangannya menyambar dan menampar dari kiri. Kam Ki merasa betapa kuatnya angin pukulan yang terdorong oleh tangan kiri lawannya. Akan tetapi dia tidak menangkis, melainkan menghindarkan diri dengan elakan. Dia membiarkan wanita itu menyerangnya secara bertubi-tubi sampai belasan jurus. Pek-hwa Sianli menampar, memukul, mendorong, dan menendang, namun semua serangannya hanya mengenai angin saja. Wanita itu memang menyerang dengan menggunakan jurus-jurus yang paling ampuh karena sesungguhnya ia ingin benar-benar menguji sejauh mana kelihaian pemuda yang menarik hatinya itu.

Setelah belasan kali mengelak, Kam Ki mulai menangkis untuk mengukur sejauh mana kekuatan yang terkandung dalam lengan wanita itu.

“Duk-dukk……!” Dua kali lengan mereka beradu dan Pek-hwa Sianli terhuyung ke belakang. Dia merasa lengannya bertemu dengan benda yang kenyal seperti karet, namun yang mengandung tenaga kuat sekali sehingga tenaganya membalik dan membuat dia terhuyung. Dengan kagum ia melihat dua kenyataan tentang kelebihan pemuda itu, yaitu dalam ilmu meringankan tubuh yang membuat pemuda itu dapat bergerak sangat gesit sehingga belasan kali serangannya yang dilakukan cepat dan bertubi, tak sekalipun mengenai tubuh pemuda itu. Kemudian dalam mengadu tenaga sinkang, jelas bahwa ia pun jauh kalah kuat.

Di samping perasaan kagum, ia juga merasa sangat girang karena pemuda itu ternyata menyambut atau menangkis pukulannya dengan menggunakan tenaga lunak. Hal ini menandakan bahwa Kam Ki tidak ingin ia terluka; sebab jika pemuda itu menangkis dengan tenaga keras, bukan mustahil ia akan menderita luka luar maupun dalam. Akan tetapi Pek-hwa Sianli masih belum merasa puas. Ia lalu menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Kam Ki melihat betapa kedua telapak tangan yang berkulit putih halus itu kini menjadi sangat merah.

“Twako, awas, sambutlah *Ang-tok-ciang* ini!” Setelah berkata demikian, ia menyerang lagi dengan jurus-jurus *Sin-hong-kun*, akan tetapi kali ini dengan kedua telapak tangan merah yang mengandung racun. Itulah *Ang-tok-ciang* (Tangan Racun Merah) yang sangat berbahaya! Lawan yang terkena tamparan tangan merah ini akan menderita luka yang beracun dan dapat mengakibatkan kematian! Akan tetapi Pek-hwa Sianli tidak khawatir karena seandainya pemuda itu terkena tangan racun merahnya, ia memiliki obat untuk memusnahkan racun itu.

“Tuk-tuk!”

Pek-hwa Sianli terbelalak karena seketika ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Ia tahu bahwa dirinya terkena totokan yang sangat ampuh. Hal yang membuatnya heran adalah bagaimana ia sampai dapat tertotok. Padahal, selama ini ia jarang sekali bertemu lawan sepadan. Paling-paling ia bertemu dengan lawan yang tingkat kepandaiannya seimbang atau sedikit di atasnya. Akan tetapi pemuda ini, yang tadi selalu hanya mengelak, tiba-tiba mampu menotoknya dengan sekali bergerak. Hal ini saja menunjukkan bahwa tingkat kepandaian Kam Ki jauh melampaui tingkatnya.

Akan tetapi hanya beberapa detik ia tak mampu bergerak karena segera tangan Kam Ki menepuknya dan totokan itu pun punah sehingga ia dapat bergerak kembali.

Hati Pek-hwa Sianli bukan main kagumnya. Akan tetapi dasar seorang wanita yang tidak mudah merasa puas, ia masih ingin mencoba lagi.

“Hebat, twako. Ilmu silat tangan kosongmu benar-benar luar biasa dan aku mengaku kalah. Akan tetapi sebelum engkau dapat mengalahkan senjataku *siang-kiam* (sepasang pedang) aku masih belum mengaku kalah mutlak. Maukah engkau melayani aku bersilat pedang?”

Kam Ki memang ingin memamerkan kepandaiannya kepada gadis itu, maka sambil tersenyum dia menjawab, “Baiklah, Hwa-moi, aku akan melayanimu bermain-main sebentar dengan sepasang pedangmu.”

Pek-hwa Sianli menjadi sangat girang. Ia berlari ke arah rak senjata dan mengambil sepasang pedang. Kemudian ia berkata kepada Kam Ki, “Twako, cepat pilih senjata mana yang kausukai!” Wanita ini tidak ragu untuk bertanding dengan senjata karena meskipun menggunakan senjata, seorang yang ilmu silatnya telah mencapai tingkat tinggi, dapat menguasai senjatanya sepenuhnya sehingga ia tidak akan melukai lawan jika hal itu tidak dikehendakinya. Semua gerakan terkendali sehingga tidak mungkin sampai melukai lawan.

Kam Ki yang sudah dapat mengukur tingkat kepandaian Pek-hwa Sianli dan memang ingin memamerkan kepandaiannya, sambil tersenyum menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak perlu menggunakan senjata, Hwa-moi, bukan karena aku meremehkan ilmu pedangmu, melainkan aku percaya bahwa engkau tidak akan melukai aku. Pergunakanlah *siang-kiam* itu untuk menyerangku, aku akan mencoba menghindarkan diri dari serangan sepasang pedangmu.”

Pek-hwa Sianli mengerutkan alisnya, bukan merasa tersinggung karena ia pun sudah mengerti bahwa pemuda ini lebih lihai darinya, hanya ia ragu apakah benar pemuda itu mampu menghadapi *siang-kiamnya* dengan tangan kosong. Sepasang pedangnya itu jarang bertemu lawan yang dapat mengalahkannya. Ia memiliki ilmu pedang *Liapkiam* (Sepasang Pedang Pengejar Naga) yang terkenal sangat lihai.

“Betulkah engkau akan menghadapi sepasang pedangku dengan tangan kosong, twako? Ketahuilah bahwa aku mempunyai ilmu *Liapkiam* yang sangat lihai, dan selama ini jarang ada orang yang mampu mengalahkan sepasang pedangku. Karena itu, aku ragu-ragu untuk menyerangmu jika engkau bertangan kosong.”

“Jangan khawatir, Hwa-moi. Bagaimanapun juga, engkau tidak akan menggunakan sepasang pedangmu itu untuk membunuh atau melukai aku, bukan?”

Melihat senyum yang membuat wajah pemuda itu sangat tampan dan menarik hatinya, Pek-hwa Sianli terpesona dan ia semakin kagum akan keberanian pemuda itu.

“Baiklah jika begitu. Nah, bersiaplah, twako!” Gadis itu lalu memasang kuda-kuda, pembukaan ilmu pedang Pengejar Naga. Mula-mula, sepasang pedang itu berpisah; yang kiri menunjuk ke bumi, yang kanan menunjuk ke langit. Lalu sepasang pedang bergerak dan saling bertemu di depan dada, mengeluarkan bunyi berdenting dan tampak bunga api berpijar ketika sepasang pedang bertemu dan pedang-pedang itu bersilang!

Kam Ki memandang kagum. Betapa gagah dan cantiknya gadis ini, pikirnya. Ia pun kini memasang kuda-kuda yang tampak sangat gagah, kaki kiri ke belakang, kaki kanan di depan dengan lutut ditekuk, tangan kanan di pinggang dikepal, dan tangan kiri di depan dada membentuk cakar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment