Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Chapter 53

Memuat...
Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan

Chapter 53

Dua orang pimpinan Pek-lian-kauw mencabut pedang yang tergantung di punggung mereka. Namun, sebelum mereka sempat menyerang, Ui Kong dan Siong Li sudah lebih dulu bergerak. Ui Kong, yang mendendam kepada Pek-bin Moko, langsung menyerang tokoh Pek-lian-kauw bermuka putih itu. Sementara itu, Siong Li yang melihat Bwee Hwa sedang menghadapi pemuda tampan ketua cabang Pek-lian-kauw, segera bergerak cepat menyerang Ang-bin Moko dengan pedangnya.

Terjadilah pertarungan tiga lawan tiga. Jika Siong Li dan Ui Kong bertarung ilmu pedang dengan kedua Moko, Bwee Hwa justru harus menghadapi Kam Ki yang hanya menggunakan tangan kosong.

Ketika anggota Pek-lian-kauw mulai mempersempit lingkaran dan hendak membantu pimpinan mereka, Kam Ki membentak, "Kalian mundur, tidak boleh mengeroyok!"

Para anggota Pek-lian-kauw pun mundur. Seruan ini sengaja dilakukan Kam Ki yang yakin dapat menundukkan Bwee Hwa, sementara dua rekannya tampak seimbang dengan lawan masing-masing. Selain itu, ia ingin terlihat gagah di mata Bwee Hwa, gadis jelita yang telah memikat hatinya.

Bwee Hwa mengamuk dan mengerahkan seluruh kepandaiannya. Setiap serangannya bersifat mematikan. Tubuhnya lenyap, yang tampak hanyalah bayangan merah yang dibungkus sinar pedang Sin-hong-kiam, disertai suara berdengung seperti ribuan tawon. Namun, tingkat kepandaian Kam Ki jauh di atasnya sehingga ia dapat menghindari semua serangan dengan mudah, bahkan menangkis pedang Sin-hong-kiam dengan tangan telanjang, yang membuat Bwee Hwa terkejut bukan main.

Beberapa kali Bwee Hwa menyambitkan Sin-hong-ciam (Jarum Tawon Merah), tetapi jarum-jarum itu runtuh disambar kebutan tangan Kam Ki. Kam Ki pun mulai mempermainkan Bwee Hwa; setiap ada kesempatan, tangannya dengan nakal meraba, mengelus, atau mencubit dada, punggung, dan pinggul gadis itu. Bwee Hwa menjadi sangat marah, namun ia tidak berdaya karena perbedaan tingkat kemampuan yang jauh.

Siong Li bertanding seimbang dengan Ang-bin Moko. Ia terus memperhatikan Bwee Hwa dan menjadi sangat khawatir melihat gadis itu dijadikan mainan oleh Kam Ki. Tak tahan melihat Bwee Hwa diperlakukan tidak senonoh, Siong Li memutar pedangnya untuk mendesak Ang-bin Moko, lalu melompat menyerang Kam Ki demi membantu gadis itu.

"Singgg!" Sambil melompat, Siong Li membabatkan pedang ke arah leher Kam Ki.

Kam Ki menghindar dengan mudah dengan merendahkan tubuhnya. Saat Ang-bin Moko menyerang dari belakang, Siong Li membalikkan pedang untuk menangkis. "Tranggg!" Bunga api berpijar, namun pada saat bersamaan, Kam Ki melancarkan pukulan jarak jauh dengan telapak tangan yang mengeluarkan uap hitam.

"Wuuuuuttt, dessss!" Hawa pukulan yang dahsyat menghantam dada Siong Li hingga ia terlempar dan muntah darah. Ia terkena pukulan Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun). Meski dadanya terasa seperti dibakar, ia tetap berusaha bangkit.

"Li-ko!" seru Bwee Hwa. Karena perhatiannya teralihkan, ia menjadi lengah. Kam Ki dengan cepat menotok jalan darah di pundak Bwee Hwa hingga gadis itu terkulai lemas. Kam Ki tertawa, menyambar tubuh Bwee Hwa dan pedangnya, lalu membawanya masuk ke dalam rumah besar.

Di sisi lain, Ui Kong berhasil merobohkan Pek-bin Moko. Setelah bertanding sengit, Ui Kong yang memiliki keunggulan tingkat kepandaian berhasil merobek perut Pek-bin Moko dengan ujung pedangnya hingga tokoh itu roboh mandi darah.

Ui Kong melihat Siong Li terhuyung mendekatinya dengan luka dalam yang parah. Ia panik karena tidak melihat Bwee Hwa.

"Kong-te, cepat! Cepat lari dan cari bala bantuan!" seru Siong Li.

"Akan tetapi, Hwa-moi...!" sahut Ui Kong ragu.

"Engkau tidak dapat menolongnya tanpa bala bantuan! Cepat lari!"

Siong Li menarik tangan Ui Kong dan membuka jalan dengan menerjang anggota Pek-lian-kauw yang menghalangi. Ui Kong menyadari kebenaran ucapan Siong Li, lalu ikut memutar pedang hingga mereka berhasil membuka jalan keluar.

"Cepat lari, Kong-te! Cari bala bantuan!" Siong Li kembali berseru sambil merobohkan dua anggota musuh yang menghalangi.

"Tapi engkau...?" tanya Ui Kong bingung.

"Aku akan menghalangi mereka yang mengejarmu. Cepatlah!" jawab Siong Li yang segera menyambut serangan Ang-bin Moko.

Ui Kong berlari menuju tempat kuda mereka, memacu kudanya menuruni lereng Bukit Siong. Hatinya hancur memikirkan Bwee Hwa yang tertawan dan Siong Li yang terancam maut.

Siong Li terus mengamuk meski dikeroyok Ang-bin Moko dan beberapa anggota Pek-lian-kauw. Bagaikan harimau terluka, ia sempat merobohkan tiga orang lagi sebelum rasa nyeri akibat luka dalam membuatnya lemah. Akhirnya, ia roboh dan dihujani bacokan hingga tewas sebagai pendekar perkasa.

Sementara itu, Ui Kong memacu kudanya dengan gelisah. Ia membenci dirinya sendiri karena melarikan diri, namun ia sadar bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk menolong Bwee Hwa. Ia berencana mencari pasukan keamanan pemerintah di kota terdekat atau langsung menuju kota Ki-lok, tempat keluarganya memiliki kenalan pejabat dan perwira keamanan.

Di kaki bukit, Ui Kong hampir bertabrakan dengan dua penunggang kuda yang melaju kencang dari arah berlawanan. Kedua penunggang itu menghindar dengan sangat tangkas. Saat Ui Kong menoleh, ia terpesona melihat dua gadis kembar yang wajah, rambut, dan tubuhnya benar-benar serupa. Can Kim Siang dan Can Gin Siang, dua gadis kembar itu, tersenyum sekilas kepada Ui Kong lalu melanjutkan perjalanan mendaki bukit.

Ui Kong mengerutkan alis. Ia yakin gadis-gadis itu adalah bagian dari Pek-lian-kauw. Melihat kemahiran menunggang kuda dan sepasang pedang di punggung mereka, Ui Kong sadar bahwa musuh semakin kuat. Ia pun memacu kudanya semakin kencang menuju Ki-lok untuk segera mencari bala bantuan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment