Chapter 41
Mereka berdua segera mulai latihan ilmu silat yang diajarkan oleh Leng-hong Hoatsu, yaitu Hwe-coa-sin-kun (Silat Sakti Ular Terbang). Mereka berdua sudah mempelajari ilmu silat yang amat hebat ini. Kedua lengan mereka bergerak seperti ular, meliuk-liuk, dan selain gerakannya cepat serta tidak mudah diikuti lawan karena perubahan-perubahannya yang aneh, juga mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat. Karena Bun Sam maklum bahwa tenaga sutenya tidak seimbang dengan tenaganya, maka dia hanya mengeluarkan sebagian tenaganya saja, membatasi gerakannya, dan sesekali jika sutenya membuat gerakan atau jurus yang kurang sempurna, dia memberitahu.
Mereka saling serang sampai puluhan jurus, dan tidak kurang dari sepuluh kali Bun Sam menunjukkan kesalahan atau ketidaksempurnaan gerakan sutenya. Akhirnya Bun Sam merasa cukup, dan begitu dia mempercepat gerakannya, dia berhasil mendorong pundak sutenya sehingga tubuh Thio Kam Ki terdorong ke belakang dan harus membuat salto sampai tiga kali agar tidak terjengkang. Namun, dia tidak terluka karena Bun Sam memang membatasi tenaganya.
“Cukup, sute. Engkau memang telah memperoleh kemajuan pesat!” kata Bun Sam untuk menyenangkan dan memberi semangat kepada Kam Ki.
Wajah Kam Ki berubah pucat, lalu kemerahan. Namun, dia tersenyum dan tidak merasa kecewa. Mereka tadi berlatih menggunakan ilmu silat yang sama. Jika dia kalah matang, gerakannya kalah gesit, maka hal itu tidaklah mengherankan. Sekaranglah tiba saatnya untuk memberi hajaran kepada suhengnya yang telah lama dibencinya karena perasaan iri hati yang memenuhi hatinya. Bagaimanapun juga, jika dia bertanding melawan suhengnya menggunakan ilmu silat, pasti dia akan kalah.
“Terima kasih, suheng. Akan tetapi, aku masih ingin menguji sejauh mana kemajuanku dalam hal tenaga dalam. Karena itu, sambutlah seranganku ini, suheng!”
Bun Sam hendak menolak untuk mengadu tenaga sakti, namun sutenya telah memasang kuda-kuda dan menggerakkan kedua lengan untuk melancarkan pukulan jarak jauh dengan dorongan tenaga sakti. Maka, terpaksa dia harus menyambut, selain untuk melindungi dirinya, juga untuk mengukur sejauh mana kekuatan tenaga sakti sutenya agar dia mengetahui kemajuannya. Biasanya, dia dapat mengukur kekuatan tenaga sakti sutenya sekitar setengah ukuran tenaganya sendiri. Karena mengira bahwa tenaga sakti sutenya mungkin sudah agak naik kekuatannya, dia menambah sedikit tenaganya—menggunakan tiga perempat bagian tenaganya—lalu mendorongkan kedua tangan ke depan menyambut serangan sutenya. Tentu saja dia menggunakan tenaganya hanya untuk menahan, bukan untuk menyerang. Dengan demikian, dia akan memenangkan adu tenaga itu tanpa melukai sutenya; hanya membuat sutenya terpental mundur, dan paling hebat, terjengkang serta terbanting jatuh.
Namun, dia kaget sekali melihat mulut sutenya berkemak-kemik, dan gerakan kedua lengannya ketika mendorong sama sekali berbeda dengan apa yang diajarkan guru mereka. Dia menjadi curiga, namun terlambat, dan pada saat itu, dua tenaga sakti yang dahsyat bertemu di udara, di antara mereka.
“Wuuuutttt…… blaaarrr……!!” Tubuh Bun Sam terlempar ke belakang dan dia terbanting roboh dalam keadaan pingsan!
Melihat ini, Kam Ki menghampiri suhengnya untuk memeriksa. Setelah memastikan kakak seperguruannya itu benar-benar jatuh pingsan, dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya yang berubah merah, lalu mendongak dan tertawa terbahak.
“Haha……!”
Namun, tiba-tiba dia teringat akan Leng-hong Hoatsu, dan suara tawanya itu terhenti seperti dicekik. Timbul rasa takutnya. Jika Leng-hong Hoatsu sampai mengetahui perbuatannya, dia pasti celaka! Bahkan guru gelapnya sendiri, Hwa Hwa Cinjin, merasa takut kepada Leng-hong Hoatsu. Ketika Hwa Hwa Cinjin mengetahui bahwa Kam Ki adalah murid Leng-hong Hoatsu, dia melarikan diri meninggalkan tempat itu. Hwa Hwa Cinjin takut jika dituduh merampas murid Leng-hong Hoatsu, maka dia melarikan diri ketakutan. Apalagi dirinya!
Berpikir demikian, Thio Kam Ki lalu melarikan diri turun dari lereng bukit, tidak berani mengambil pakaiannya yang berada di dalam pondok. Dia berlari cepat dengan hati ngeri, seolah mendengar langkah Leng-hong Hoatsu mengejarnya!
Ketika peristiwa itu terjadi, Leng-hong Hoatsu sedang tekun dalam samadhinya. Tiba-tiba ada perasaan tidak enak mengusiknya, dan dia lalu membuka matanya serta bangkit berdiri. Tidak terdengar suara dari dalam pondok kayunya yang cukup besar itu, menandakan bahwa kedua muridnya tentu berada di luar pondok. Dia lalu melangkah keluar pondok. Karena dia tahu bahwa biasanya kedua muridnya berlatih silat di kebun sebelum mandi, Leng-hong Hoatsu lalu melangkahkan kakinya menuju kebun.
Tak lama kemudian, Leng-hong Hoatsu sudah berjongkok dekat tubuh Bun Sam dan memeriksa keadaan muridnya. Bun Sam masih pingsan, dan pernapasannya sesak. Leng-hong Hoatsu membuka baju pemuda itu, mengerutkan alisnya, dan menggumam.
“Hemm, siapa yang memukulnya dengan Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah) yang keji ini?” Karena maklum bahwa nyawa Bun Sam terancam bahaya maut, Leng-hong Hoatsu cepat turun tangan.
Dia duduk bersila, menempelkan tangan kirinya ke dada Bun Sam, lalu menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh muridnya. Tenaga sakti Leng-hong Hoatsu sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi, maka dalam waktu beberapa menit saja, warna merah darah di dada Bun Sam menghilang dan kulit dada itu menjadi putih bersih kembali. Bun Sam kini bernapas normal, dan tak lama kemudian dia membuka mata. Leng-hong Hoatsu melepaskan tangannya. Melihat suhunya bersila di dekatnya, Bun Sam cepat bangkit duduk dan berlutut memberi hormat. Dia maklum bahwa suhunya telah menolongnya, dan mungkin sekali menyelamatkan nyawanya dari ancaman maut.
“Suhu……!”
“Bun Sam, apa yang terjadi? Siapa yang memukulmu?” tanya Leng-hong Hoatsu.
Bun Sam menghela napas panjang. Rasanya berat menceritakan pengalamannya karena ceritanya itu pasti akan membuat gurunya sedih. Dia sendiri menyayangi Kam Ki karena sejak kecil mereka berdua hidup bersama Leng-hong Hoatsu, suka duka telah mereka hadapi bersama. Dia sendiri merasa sangat sedih melihat kelakuan Kam Ki dan tidak tahu bagaimana adik seperguruannya—yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri—dapat menguasai ilmu pukulan beracun yang demikian hebat dan kejam.
Setelah menghela napas beberapa kali, dia lalu berkata, “Suhu, harap suhu suka memaafkan sute Thio Kam Ki……”
Leng-hong Hoatsu mengerutkan alisnya yang sudah putih, dan memandang wajah Bun Sam penuh selidik, “Hemm, kenapa sutemu? Apa yang telah terjadi? Ceritakanlah, Bun Sam!”
“Teecu (murid) sendiri sampai saat ini masih terheran-heran, suhu. Tadi, sute mengajak teecu untuk latihan bersama. Mula-mula kami berdua berlatih dengan ilmu silat Hwe-coa-sin-kun, dan dalam latihan itu, teecu melihat sute memang ada kemajuan, meskipun tidak banyak. Namun, dia kemudian mengajak latihan mengukur tenaga sakti. Seharusnya teecu hendak menolak, namun dia telah melakukan serangan pukulan jarak jauh kepada teecu. Terpaksa teecu menyambutnya, dan teecu membatasi tenaga teecu agar dia tidak sampai terluka. Namun, teecu melihat gerakan kedua tangannya berbeda dengan gerakan yang suhu ajarkan, dan dari kedua telapak tangan itu menyambar sinar merah yang aneh. Teecu merasa ada kekuatan dahsyat mendorong teecu, membuat teecu terpental ke belakang dengan dada terasa nyeri, dan teecu tidak ingat apa-apa lagi.”
“Hemm, jika engkau menggunakan seluruh tenagamu, belum tentu engkau yang terluka, mungkin dia sendiri yang terluka oleh tenaganya yang membalik. Namun, aneh, bagaimana Kam Ki dapat memiliki Ang-tok-ciang seperti itu……?”
“Ang-tok-ciang, suhu?”
Leng-hong Hoatsu mengangguk. “Benar, pukulan ini adalah Ang-tok-ciang, salah satu ilmu pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sihir. Hemm, di mana sekarang Kam Ki?”
“Teecu tidak tahu, suhu. Mungkin dia telah kembali ke pondok.”
“Panggil dia, Bun Sam. Aku harus bicara dengannya. Kutunggu di ruangan depan!”
Bun Sam lalu mencari-cari. Namun, dia tidak menemukan sutenya. Bahkan ketika dia mencari di kamar sutenya, kamar itu pun kosong. Dia keluar dari pondok, memanggil-manggil, namun tidak ada jawaban. Akhirnya Bun Sam menduga bahwa kemungkinan besar sutenya itu telah pergi, mungkin takut setelah merobohkannya. Maka dia lalu menghadap Leng-hong Hoatsu di ruangan depan, dan melaporkan bahwa sutenya tidak ada. “Hemm, kita tunggu sampai satu dua hari. Jika dia tidak pulang, berarti dia telah melarikan diri,” kata Leng-hong Hoatsu. Dia pun merasa sangat menyesal telah menerima anak itu menjadi muridnya. Memang sejak dulu dia sudah merasa bahwa Kam Ki memiliki watak dasar yang lemah, dan anak itu akan mudah dikuasai oleh nafsu-nafsu daya rendah. Namun, dia sama sekali tidak mengira anak itu berani mempelajari ilmu sesat—entah dari siapa—bahkan menggunakan ilmu itu untuk memukul Bun Sam yang menyayanginya seperti adik sendiri sehingga hampir saja Bun Sam tewas!
Setelah ditunggu sampai dua hari, dan Kam Ki belum juga pulang, tahulah Leng-hong Hoatsu dan Bun Sam bahwa Kam Ki benar-benar telah minggat dan tidak akan pulang lagi. Leng-hong Hoatsu memanggil Bun Sam.
“Bun Sam, sekarang sudah tiba saatnya bagimu untuk turun gunung dan mengamalkan semua ilmu yang telah kaupelajari selama ini di sini.”