Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Chapter 63

Memuat...
Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan

Chapter 63

Sepasang gadis kembar itu semakin heran. “Eh, apa maksudmu, Hwa-moi? Apa hubungannya pula dengan kami berdua?”

“Nanti dulu, kalian harus berjanji bahwa tidak akan marah kepadaku jika aku menceritakan tugasku ini.”

“Tentu saja kami tidak akan marah! Mengapa kami mesti marah jika engkau menceritakan tentang tugasmu?” tanya Gin Siang.

“Karena hal ini menyangkut diri kalian berdua.”

“Eh? Benarkah? Engkau membuat kami ingin tahu sekali, Adik Bwee Hwa! Tugas apakah itu? Katakan, kami berjanji tidak akan marah!” kata Gin Siang.

“Nah, kalau begitu baru aku berani menceritakan. Begini, seperti kukatakan tadi, Kakak Ui Kiang dan Kakak Ui Kong sudah tidak mempunyai keluarga lagi, maka mereka mengangkat aku menjadi utusannya. Tugasku menemui kalian berdua pagi ini adalah……” Bwee Hwa berhenti sejenak dan memandang wajah kedua gadis kembar itu. “Akan tetapi benar, kalian berjanji tidak akan marah, ya?”

Sepasang gadis kembar itu menjadi tidak sabar. “Kami berjanji tidak akan marah! Katakanlah!” kata mereka hampir bersamaan.

“Kakak Ui Kiang dan Ui Kong adalah dua pemuda yang amat baik budi, sopan, dan pemalu. Maka, mereka meminta tolong kepadaku untuk menyampaikan perasaan mereka kepada kalian. Aku bertugas memberi tahu bahwa Kiang-ko jatuh cinta kepadamu, Enci Kim Siang, dan Kong-ko jatuh cinta kepada Enci Gin Siang. Lega hatiku karena telah menyampaikan pesan itu! Kalian tidak marah, bukan?” Bwee Hwa memandang wajah kedua gadis kembar itu. Melihat mereka segera menunduk dengan wajah memerah dan tersenyum malu-malu, ia berani melanjutkan.

“Selanjutnya, biarpun ini belum resmi, Kiang-ko dan Kong-ko ingin meminang kalian untuk menjadi istri mereka. Tentu saja mereka akan mengajukan pinangan secara resmi setelah ini, lalu dilanjutkan dengan upacara pernikahan yang meriah!”

Kedua gadis itu masih menundukkan muka. Mereka merasa heran dan malu, tetapi di dalam hati merasa girang sekali. Sebetulnya, secara diam-diam mereka juga mengagumi kedua pemuda kakak-beradik itu. Ui Kong adalah pemuda gagah perkasa dengan ilmu silat yang tinggi, sementara Ui Kiang, meskipun tidak ahli ilmu silat, merupakan seorang sastrawan yang cerdas. Lebih lagi, keduanya adalah pemuda kaya raya, memiliki banyak perusahaan, serta dikenal dermawan dan baik budi.

“Hei, bagaimana sih kalian ini? Diajak bicara serius malah diam saja, menunduk, dan hanya tersenyum-senyum! Jawablah! Bagaimana aku harus memberi jawaban kepada kedua Kakak Ui itu jika mereka bertanya mengenai hasil tugasku ini? Enci Kim Siang dan Gin Siang, katakan sesuatu! Jangan hanya diam seribu bahasa dengan wajah memerah!”

Bwee Hwa sengaja menggoda karena sebagai seorang wanita, ia dapat merasakan bahwa bidikannya tepat sasaran. Jika tidak, tentu kedua gadis itu akan marah atau setidaknya memperlihatkan penolakan. Namun, sikap mereka yang diam dan tersenyum malu-malu menunjukkan bahwa mereka sesungguhnya setuju.

Akhirnya, Kim Siang yang lebih pandai bicara menjawab dengan pertanyaan, “Adik Bwee Hwa, benarkah semua ucapanmu tadi? Apakah engkau hanya bergurau hendak menggoda kami? Rasanya tidak mungkin dua pemuda sehebat mereka mau dengan kami, dua gadis yatim piatu yang melarat dan bodoh ini.”

“Heit! Jangan merendahkan diri seperti itu! Kalian menganggap mereka pemuda hebat, bukan? Nah, kalau benar mereka hebat, lalu apalagi yang menghalangi kalian untuk menerima pinangan mereka? Jawablah bahwa kalian menerima pinangan mereka agar aku dapat segera memberi kabar kepada mereka. Upah jerih payahku tentu banyak sekali!” Bwee Hwa tertawa dan kedua gadis itu pun merasa geli.

“Hemm, jadi sekarang engkau bekerja sebagai mak comblang, Adik Bwee Hwa?” Gin Siang bertanya dan ketiganya pun tertawa. “Mak comblang bayaran?”

“Sudah, jangan berkelakar lagi. Aku menghendaki jawaban yang tegas. Mereka sudah menanti dengan tidak sabar. Hayo, beri jawaban, ya atau tidak?”

“Adik Bwee Hwa, bagaimana mungkin perkara perjodohan diputuskan secara kilat seperti ini? Bagaimanapun juga, kami masih mempunyai seorang *piauw-ci* (kakak misan) yang juga menjadi guru pertama kami. Urusan perjodohan harus dilaporkan kepadanya lebih dulu untuk meminta pertimbangan dan restunya,” kata Kim Siang.

“Enci Kim benar, Adik Bwee. Kami harus mendapatkan persetujuan dari guru kami, yaitu Pek-hwa Sianli yang tinggal di lereng Bukit Ayam Emas,” kata Gin Siang. “Ia dapat menjadi wali kami.”

“Baik, hal itu mudah dilakukan. Akan tetapi, yang paling penting sekarang adalah pengakuan kalian berdua. Kedua Kakak Ui sudah menyatakan cintanya. Sekarang, bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga mencintai mereka? Apakah kalian bersedia menjadi istri mereka?”

Kedua gadis kembar itu saling pandang. Kulit wajah mereka yang cantik menjadi semakin merah, lalu keduanya mengangguk sambil tersenyum malu-malu.

“Nah, begitu dong! Wah, sebagai mak comblang amatir, hasil karya pertamaku ini tidak mengecewakan!” Bwee Hwa berseru gembira.

“Hei! Kalian bertiga begitu gembira! Bolehkah kami ikut merasakan kegembiraan itu?”

Sepasang gadis kembar itu terbelalak kaget dan menundukkan muka saat melihat Ui Kiang dan Ui Kong datang. Melihat mereka, Bwee Hwa terkejut. *Celaka, permainannya bisa ketahuan*, pikirnya. Ia segera berlari keluar, memegang tangan Ui Kiang dan Ui Kong, lalu mengajak mereka ke ruangan lain.

“Tentu saja kalian boleh ikut gembira karena aku membawa kabar baik!” seru Bwee Hwa nyaring agar terdengar oleh dua gadis di dalam kamar. Kakak-beradik itu pun heran melihat Bwee Hwa menggandeng tangan mereka dan menariknya ke ruangan lain.

“Eh, Hwa-moi, ada apakah ini?” Mereka merasa heran karena gadis itu belum pernah bersikap sedemikian akrab.

Setelah tiba di ruangan lain, Bwee Hwa melepaskan tangan mereka dan berkata, “Silakan duduk, Kiang-ko dan Kong-ko. Aku membawa kabar yang amat menggembirakan!”

Kedua kakak-beradik itu duduk berhadapan dengan Bwee Hwa dan memandang wajah ayu itu penuh selidik. “Kabar apakah, Hwa-moi? Engkau begitu penuh rahasia!” kata Ui Kong.

“Coba jawab dulu pertanyaanku. Kiang-ko, engkau mencintai Can Kim Siang dan Kong-ko mencintai Can Gin Siang, bukan?”

Kakak-beradik itu terkejut dan merasa khawatir jika hal itu membuat gadis yang telah dipertunangkan dengan salah satu dari mereka merasa tersinggung.

“Bagaimana engkau dapat berkata begitu?” tanya mereka hampir bersamaan. Melihat pandangan cemas kedua pemuda itu, Bwee Hwa tersenyum.

“Akuilah saja terus terang, aku tidak akan marah. Aku akan marah jika kalian berbohong. Nah, kuulangi pertanyaanku. Kiang-ko, engkau mencintai Enci Can Kim Siang, bukan?”

Ui Kiang memandang Bwee Hwa dengan wajah memerah. Ia menghela napas panjang lalu menjawab, “Tidak kusangkal, Hwa-moi, aku mencintai Adik Can Kim Siang.”

“Dan engkau mencintai Can Gin Siang, Kong-ko?”

Ui Kong akhirnya menjawab dengan tegas, “Benar, Hwa-moi, aku mencintai Adik Can Gin Siang! Akan tetapi, bagaimana engkau tahu akan hal itu?”

“Ya, bagaimana engkau mengetahui rahasia hati kami?” Ui Kiang bertanya.

“Dengarlah baik-baik! Semalam, secara tidak sengaja aku mendengar percakapan kalian berdua di taman.”

“Ahh!” Kakak-beradik itu terkejut.

“Tenanglah! Aku sama sekali tidak marah, bahkan merasa gembira. Untuk membuktikannya, pagi ini aku mendatangi kedua enci kembar itu dan mewakili kalian untuk menyampaikan pinangan secara tidak resmi.”

“Ahhh!” Kakak-beradik itu semakin terkejut.

“Jangan heran, hasilnya amat menggembirakan. Kedua enci kembar itu menerima cinta kalian dengan girang. Mereka bersedia menjadi istri kalian, sekarang tinggal melamar dan menanti laporan mereka kepada *piauw-ci* mereka di Bukit Ayam Emas, yaitu Pek-hwa Sianli. Bukankah itu kabar yang membahagiakan?”

Kakak-beradik itu saling pandang, lalu menatap wajah Bwee Hwa. “Aduh, terima kasih atas semua kebaikanmu ini, Hwa-moi!” kata Ui Kong.

“Hwa-moi, kami mohon maaf jika tanpa disengaja kami telah menyinggung perasaanmu,” kata Ui Kiang.

Bwee Hwa tersenyum. “Sama sekali tidak, Kiang-ko. Aku bahkan merasa gembira karena sesungguhnya, aku sendiri belum mempunyai keinginan untuk menikah. Jika aku menghubungi kalian, itu adalah karena aku ingin menaati pesan terakhir ibuku.”

“Kalau begitu, sekali lagi terima kasih, Hwa-moi. Engkau sungguh gadis yang bijaksana!” kata Ui Kong.

“Hwa-moi, karena kita bertiga sama-sama yatim piatu dan tidak mempunyai sanak keluarga lain, kami akan merasa berbahagia jika engkau mau menjadi adik angkat kami agar hubungan baik antara orang tua kita dapat dilanjutkan!” kata Ui Kiang.

“Aku akan senang sekali menjadi adik angkat kalian!” jawab Bwee Hwa.

“Bagus! Wah, kami yang merasa beruntung sekali!” kata Ui Kong.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment