Halo!

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Chapter 01

Memuat...
Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan

Chapter 01

Musim dingin baru tiba. Bunga-bunga salju kecil yang ringan bagaikan kapas melayang-layang turun dari langit, bertebaran menutupi segala benda di permukaan bumi. Di mana-mana tampak putih bersih, menyedapkan penglihatan. Biasanya, pada awal musim salju, segalanya tampak indah. Warna keputih-putihan yang bersih itu diselingi totol-totol hitam dari benda berwarna yang luput dari tutupan salju, bagaikan hiasan di atas dasar putih yang tampak indah sekali.

Dinginnya hawa udara memang amat menusuk, terutama di puncak Bukit Heng-san yang menjulang tinggi. Semua pohon di hutan-hutan yang memenuhi bukit itu, yang biasanya kaya dengan warna hijau daun, kini tertumpuk salju. Daun-daun hijau telah rontok meninggalkan cabang-cabang dan ranting-ranting gundul yang kini telah dicat putih oleh salju. Jarang tampak binatang hutan yang dahulunya banyak. Entah ke mana mereka pergi bersembunyi, menyelamatkan diri dari musim dingin yang terkadang terasa kejam bagi mereka.

Keadaan di Bukit Heng-san seakan-akan mati. Sunyi sekali, agaknya tidak ada makhluk hidup yang berani meninggalkan tempat berlindung pada saat hawa sedingin itu.

Akan tetapi, kiranya tidak demikian! Lihatlah di lereng dekat puncak itu! Dua sosok bayangan manusia sedang bergerak menuruni lereng yang amat terjal. Ada sesuatu yang aneh. Kedua orang itu bergerak demikian cepat menuruni lereng yang terjal dan berbahaya, menerjang hujan salju seolah-olah tidak merasa dingin. Sepatutnya hanya sebangsa kera saja yang mampu bergerak sedemikian cekatan menuruni lereng yang terjal. Apalagi setelah kedua sosok bayangan itu dilihat dari dekat. Orang akan menjadi semakin heran.

Salah seorang dari mereka adalah kakek berjenggot panjang. Rambut, kumis, dan jenggotnya sudah putih semua, seperti benang-benang sutra putih, berkibar-kibar ketika ia bergerak. Bahkan alisnya juga sudah putih semua, bukan putih oleh salju, melainkan putih uban. Pakaiannya amat sederhana, pakaian petani, dan bentuk tubuhnya yang kurus itu masih tampak tegak dan kuat walaupun usianya tentu sudah mencapai tujuh puluh tahun lebih.

Adapun orang kedua juga menimbulkan keheranan bagi siapa pun yang melihat mereka menuruni lereng yang terjal itu. Orang kedua ini ternyata seorang gadis muda yang usianya paling banyak baru delapan belas tahun. Rambutnya hitam tebal dikepang menjadi dua kuncir panjang dan tebal yang bergantungan di kanan kiri lehernya, panjang sampai ke punggung.

Memang mengherankan melihat seorang kakek tua dan seorang gadis muda bergerak demikian cekatan dan lincah melalui tebing terjal dalam hujan salju yang mendatangkan hawa dingin menusuk tulang. Keduanya kini melangkah dengan wajah berseri dan tetap segar, sama sekali tidak tampak kelelahan maupun kedinginan. Akan tetapi, kalau orang sudah mengenal siapa mereka, tentu tidak akan merasa heran lagi. Kakek itu adalah seorang yang amat terkenal di dunia *kang-ouw* (sungai telaga) dan *bu-lim* (rimba persilatan). Bahkan, para penjahat ganas pun kiranya akan cepat lari bersembunyi dengan tubuh gemetar ketakutan kalau melihat kakek itu. Ia bukan lain adalah datuk persilatan yang dikenal dengan julukan Sin-kiam Lojin (Kakek Tua Pedang Sakti) dari Heng-san, yang memiliki tingkat tinggi sekali dalam dunia persilatan.

Sin-kiam Lojin adalah seorang ahli pedang yang telah berhasil merangkai jurus-jurus ilmu pedang yang kabarnya belum pernah terkalahkan sehingga ia dijuluki Si Pedang Sakti. Karena ilmunya yang tinggi, tubuhnya yang sudah tua itu amat kuat sehingga setua itu ia masih mampu bergerak menuruni lereng terjal itu dengan cepat tanpa merasa lelah dan juga tidak kedinginan walaupun diterpa hujan salju.

Adapun gadis muda itu, yang berwajah manis sekali dan hanya dikenal dengan nama Bwee Hwa, adalah murid Sin-kiam Lojin. Tentu saja ia sudah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari kakek itu dan tidaklah aneh kalau ia mampu bergerak cepat tanpa kelelahan dan kedinginan. Gadis ini cantik jelita dan tampak demikian lemah gemulai sehingga melihat wajah dan bentuk tubuhnya, tidak akan ada orang menyangka bahwa dalam tubuh yang indah dan sempurna lekuk-lengkungnya itu terkandung kekuatan yang amat dahsyat dan ilmu silat yang amat lihai.

Wajahnya bulat telur, dengan sepasang mata yang lebar, jeli, dan bercahaya jernih, akan tetapi terkadang dapat mencorong tajam penuh wibawa. Hidungnya kecil mancung, dan mulutnya berbentuk indah sekali. Sepasang bibir yang selalu merah segar itu amat menggairahkan. Tubuhnya yang padat dan indah, dengan kulit putih mulus, mengenakan pakaian yang indah sekali, jauh berbeda jika dibandingkan dengan pakaian Sin-kiam Lojin. Baju dan celananya terbuat dari sutra halus berwarna merah dengan sulaman kembang kuning di sana-sini.

Ia memakai sebuah baju luar berwarna kuning emas yang berkibar-kibar di belakang, terkadang, kalau terhembus angin, berkembang mirip sayap lukisan bidadari. Ketika jubah itu tersingkap, tampaklah sebatang pedang dengan sarung terukir indah, tergantung di pinggang kiri. Sepatunya memakai sol besi dan berwarna hitam mengilat. Bentuk tubuh dengan lekuk-lengkung sempurna itu sedang saja dan tampak serasi; hanya saja rampingnya pinggang serta panjangnya leher dan kaki membuat ia tampak jangkung.

Guru dan murid itu berjalan cepat menuruni bukit, berjalan berdampingan tanpa bercakap-cakap. Kakek itu tampak tenang-tenang saja, akan tetapi si dara tampak gelisah atau tidak senang; sepasang alis yang hitam kecil melengkung itu berkerut. Pandangan matanya juga menunjukkan bahwa hatinya sedang murung.

Setelah menuruni lereng-lereng terjal, terkadang harus melompati jurang, akhirnya mereka tiba di kaki bukit dan berhenti di sebuah jalan simpang tiga. Mereka saling pandang, dan kakek itu berkata, suaranya besar dan penuh wibawa.

“Nah, Bwee Hwa, akhirnya tiba juga saatnya bagi kita untuk berpisah. Engkau ambillah jalan menuju ke timur ini, sedangkan aku akan mengambil jalan menuju ke barat.”

“Suhu (guru)…” tiba-tiba sepasang mata yang jeli itu terpejam. Bwee Hwa menahan agar kedua matanya yang terasa panas itu tidak sampai menitikkan air mata. “…Mengapa Suhu tidak mengizinkan teecu (murid) mengembara bersama Suhu? Selama teecu belajar dan ikut Suhu, belum pernah teecu dilepas seorang diri di dunia yang luas ini…” Ucapan itu mengandung penuh permohonan.

Sin-kiam Lojin mengerutkan alisnya yang putih, menatap tajam wajah muridnya penuh selidik. Kedua tangannya bertolak pinggang, sikapnya berwibawa sekali.

“Hem, apa pula ini? Engkau… takut…?”

Melihat sikap dan mendengar ucapan Suhunya, tiba-tiba Bwee Hwa mengangkat mukanya dan memandang Suhunya dengan sinar mata tajam. Kemuraman yang tadi menyelubungi wajahnya yang jelita itu lenyap seketika. Sepasang matanya bersinar-sinar, kepalanya tegak.

“Suhu! Teecu takut? Apakah teecu bukan murid Suhu? Ah, teecu sama sekali tidak takut dan tentu Suhu juga tahu betul akan hal ini. Akan tetapi, setelah hidup bersama Suhu selama kurang lebih sepuluh tahun lamanya, dan selama itu Suhu telah melimpahkan budi kebaikan kepada teecu, mendidik, memelihara, berupaya dengan susah payah dan penuh kasih sayang untuk menjadikan teecu seperti yang Suhu harap-harapkan, kini… Suhu melepaskan teecu pergi begitu saja?”

“Muridku, memang demikianlah keadaan dalam kehidupan ini, sesuai dengan hukum alam; tiada yang kekal di dunia ini. Ada waktunya bertemu, ada waktunya berkumpul, dan ada waktunya berpisah.”

“Suhu benar sekali. Akan tetapi, Suhu telah teecu anggap seperti orang tua sendiri, dan teecu belum diberi kesempatan untuk membalas semua budi kebaikan Suhu. Suhu sekarang sudah tua, teecu ingin merawat Suhu dan biarkanlah teecu membalas budi sebagai seorang murid atau anak yang berbakti.”

Sin-kiam Lojin menghela napas panjang, bukan karena duka, melainkan karena lega dan senang.

“Bwee Hwa, engkau tidak mengecewakan hati gurumu. Tidak sia-sia kiranya aku menculikmu dahulu dan mengambilmu sebagai murid. Akan tetapi, engkau tidak usah merasa berutang budi kepadaku, Bwee Hwa. Engkau tidak berutang apa pun kepadaku, karena aku pun tidak merasa mengutangkan apa-apa kepadamu. Aku tidak merasa telah memberi apa pun kepadamu, dan kalau pelajaran ilmu silat itu kau anggap sebagai pemberian, aku pun tidak kehilangan apa-apa. Asal engkau mempergunakan semua ilmu itu untuk membela kebenaran dan keadilan, menantang kejahatan, itu berarti engkau telah membayar segala jerih payahku mengajarimu, juga membayar segala jerih payahmu sendiri ketika mempelajari kepandaian itu. Tentang berbakti tadi, hem, engkau masih mempunyai orang tua; kepada merekalah engkau harus berbakti.”

Ucapan ini mengingatkan Bwee Hwa akan keadaan dirinya, dan ia menatap wajah gurunya. “Teecu hampir lupa akan ayah ibu teecu. Setelah kini Suhu ingatkan, harap Suhu memberitahu, di mana teecu dapat menemukan mereka?”

Sin-kiam Lojin menghela napas lagi, sekali ini helaan napasnya karena ia seakan-akan merasa menyesal telah mengingatkan muridnya akan orang tuanya. “Bwee Hwa, terus terang saja, aku sendiri tidak tahu di mana adanya orang tuamu karena mereka tidak memiliki tempat tinggal yang tetap.” Bwee Hwa mengerutkan alisnya. “Tidak apa, Suhu. Tolong Suhu beritahu saja siapa nama ayah teecu karena sesungguhnya teecu telah lama lupa sama sekali akan nama ayah dan ibu.”

“Nama aslinya aku pun tidak tahu. Akan tetapi, ayahmu terkenal dengan julukan Kauw-jiu Pek-wan (Lutung Putih Tangan Sembilan).”

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment