Chapter 06
Bwee Hwa menyadari bahaya yang mengancam para pengawal. Ia menjadi marah, pedangnya menyambar-nyambar dengan dahsyat, dan dari mulutnya keluar suara berdengung tinggi. Suara itu tidak keras, seperti dengung lebah mengamuk, tetapi karena dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam, mengandung getaran yang mampu melemahkan semangat lawan.
Usahanya berhasil. Pertahanan kedua pengeroyoknya melemah. Dengan jurus Naga Sakti Menyambar Mustika, pedangnya meluncur. Salah seorang pengeroyok berteriak, roboh bergulingan di atas genteng, lalu jatuh ke bawah, tewas seketika karena dadanya tertembus pedang. Pengeroyok kedua terkejut bukan main dan melompat mundur.
Tiba-tiba, terdengar teriakan kebakaran dari belakang gedung. Api berkobar menjilat-jilat ke atas atap. Sebagian pengawal segera meninggalkan atap dan berlari ke belakang untuk membantu rekan mereka memadamkan api agar tidak menjalar ke bagian tengah gedung.
Bwee Hwa tidak berani meninggalkan atap karena harus melindungi keluarga Jaksa Thio. Ia mengamuk, pedangnya menyambar-nyambar ganas mendesak pendeta kedua yang mengeroyoknya. Namun, pendeta itu meloncat pergi, melarikan diri. Terdengar suara mendesis seperti ular, isyarat bagi gerombolan Hwe-coa-kauw untuk melarikan diri. Bwee Hwa menjadi marah. Tubuhnya melayang bagai tawon terbang. Sekali pedangnya berkelebat, pendeta yang melarikan diri terkena babatan pedangnya. Sebelah kakinya buntung, ia menjerit kesakitan, tubuhnya menggelinding dan terjatuh ke bawah. Tiga pendeta lain telah melarikan diri dan menghilang dalam kegelapan malam.
Bwee Hwa melompat turun. Ternyata banyak pengawal terluka, bahkan ada yang tewas. Hanya dua penjahat gundul yang berhasil dirobohkan oleh pedangnya.
Ketika hendak masuk ke dalam gedung untuk melihat keadaan keluarga Jaksa Thio, tiba-tiba ia melihat Jaksa Thio berlari keluar dengan napas terengah-engah. Pejabat itu berteriak, “Tolong! Tolong! Cin Lan diculik penjahat!” Ia melihat Bwee Hwa berdiri di sana dengan pedang di tangan. Jaksa Thio lalu berlutut dan berkata, “Tolonglah, Bwee Hwa, tolong Cin Lan… ia dibawa lari penjahat berkepala gundul…!”
Bwee Hwa tidak menunggu Jaksa Thio selesai berbicara. Tubuhnya berkelebat lenyap dari hadapan Jaksa Thio. Tak lama kemudian, gadis perkasa itu berlari di atas genteng mencari ke sana kemari. Namun, dalam kegelapan malam yang hanya diterangi bulan remang-remang, ke mana ia harus mencari?
Setelah mencari ke mana-mana, mengelilingi kota tanpa hasil, ia teringat dua pendeta yang dirobohkannya tadi. Cepat ia kembali ke gedung Jaksa Thio. Di sana, orang-orang masih sibuk menolong yang terluka dan mengurus yang tewas. Dua pendeta palsu itu masih tergeletak. Seorang telah tewas berlumuran darah, sedangkan yang buntung kakinya sudah tiga perempat mati karena banyak kehilangan darah dan tidak ada yang mau menolongnya.
Bwee Hwa menyeret tubuh penjahat itu ke tempat terang. Ia menotok pangkal paha kaki yang buntung untuk menghentikan pendarahan dan mengurangi rasa sakit. Pendeta itu bergerak perlahan, membuka matanya, dan memandang wajah Bwee Hwa dengan kagum dan benci.
“Engkau akan mati. Lebih baik engkau menebus dosamu dengan memberitahukan di mana sarang kawan-kawanmu. Mungkin dengan cara ini dosamu menjadi ringan,” kata Bwee Hwa.
Dengan susah payah, orang gundul itu bertanya, “…engkau… engkau… engkau… siapakah?”
“Aku Bwee Hwa, murid Sin-kiam Lojin!” jawab Bwee Hwa tegas. Ia sengaja memperkenalkan nama gurunya yang ia tahu sangat ditakuti penjahat di dunia persilatan.
Kedua mata orang itu terbelalak, wajahnya pucat pasi saat memandang wajah Bwee Hwa. “Ah… engkau… hong-cu… Ang-hong-cu!” Setelah berkata terengah-engah itu, kepalanya terkulai dan ia pun tewas.
Bwee Hwa menghela napas panjang. Ia gagal memaksa orang itu mengakui di mana sarang Hwe-coa-kauw. Namun, ia tertarik mendengar ucapan terakhir orang itu. Ia menduga pendeta Hwe-coa-kauw itu mengenal baik nama besar gurunya, serta kesaktian gurunya yang pandai menggunakan senjata rahasia jarum yang disebut hong-cu-ciam (jarum tawon). Oleh karena itu, ia menyebutnya sebagai Ang-hong-cu. Tentu karena pakaiannya serba merah. Ang-hong-cu? Hemm, julukan yang tepat dan tidak buruk, bahkan lucu. Ia memang berpakaian merah, warna kesukaannya, dan pandai menggunakan hong-cu-ciam. Pedang pemberian gurunya juga disebut Sin-hong-kiam (Pedang Tawon Sakti)! Boleh juga, pikirnya. Mulai sekarang ia akan menggunakan julukan Ang-hong-cu!
Ia bangkit berdiri. Saat itu, Jaksa Thio menghampirinya dan dengan suara gemetar bertanya mengenai Cin Lan, putrinya. Nyonya Thio berada di belakang suaminya, wajahnya pucat pasi.
“Harap Bapak bersabar,” kata Bwee Hwa. “Saya sudah mencari ke seluruh penjuru kota, tetapi belum menemukan jejak penculik itu. Ketika saya memaksa keterangan dari penjahat yang terluka, sayang sebelum dapat memberi keterangan orang itu telah tewas.”
Mendengar ini, Nyonya Thio menjerit-jerit dan menangis sedih. Jaksa Thio membanting-banting kaki dan menggeleng-gelengkan kepala dengan sedih dan bingung.
“Jahanam Hwe-coa-kauw! Kalau kalian hendak membunuhku, datanglah dan cobalah, jangan mengganggu putriku yang tidak berdosa!” teriak Jaksa Thio sambil mengacungkan kepalan tangannya ke arah atap rumah.
“Bapak dan Ibu, biarlah saya mencari Enci Cin Lan sampai dapat!” Setelah berkata demikian, tubuh Bwee Hwa melayang ke atas genteng dan sebentar saja bayangannya lenyap.
Malam hampir habis, berganti fajar berwarna putih keabu-abuan. Ketika Bwee Hwa sedang berlompatan dari satu genteng ke genteng lain dengan gerakan cepat dan ringan sehingga tidak menimbulkan suara, tiba-tiba ia melihat bayangan orang berlari di sebelah timur. Bayangan itu berlari di atas genteng dengan sangat cepat.
Bwee Hwa tentu saja menjadi curiga. Tak salah lagi, bayangan itu pasti anggota Hwe-coa-kauw, pikirnya, maka ia cepat melompat dan melakukan pengejaran. Agaknya bayangan itu mengetahui dirinya dikejar. Ia mempercepat larinya dan sesekali menengok ke belakang.
Dalam kejar-mengejar ini, keduanya terkejut dan heran karena menyadari bahwa baik pengejar maupun yang dikejar tidak mampu mengubah jarak di antara mereka. Tidak bisa lebih dekat atau lebih jauh. Ini berarti ilmu berlari cepat dan ilmu meringankan tubuh mereka setingkat dan seimbang! Hal ini membuat Bwee Hwa penasaran karena suhunya sendiri pernah mengatakan jarang ada orang yang mampu menandingi kecepatan larinya.
Mereka berkejaran terus sampai keluar kota. Kabut pagi menipis tertiup cahaya matahari yang meninggi sehingga kini Bwee Hwa dapat melihat orang yang dikejarnya dengan jelas. Sebaliknya, orang yang dikejarnya ketika menengok, dapat melihat pengejarnya dengan jelas pula, dan ia tertegun. Tak disangkanya bahwa orang yang mengejarnya adalah seorang gadis berpakaian serba merah. Ia pun tersenyum dan menghentikan larinya, membalikkan tubuh dan menunggu datangnya pengejar itu. Bwee Hwa yang sudah merasa panas hatinya dan penasaran bahwa sejak tadi ia tidak mampu menyusul orang itu, begitu berhadapan segera menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka orang itu dan memaki, “Pengecut, jangan lari kalau engkau memang gagah!”
Ternyata pelari itu adalah seorang pemuda berwajah cukup tampan dengan bahu bidang dan tubuh yang agak pendek, hanya sedikit lebih tinggi dari Bwee Hwa.
“Astaga, kukira siapa yang mengejar-ngejarku sejak tadi…”
“Hemm, kau kira siapa?” bentak Bwee Hwa yang marah dengan suara ketus.
Pemuda itu tersenyum. Wajahnya tampak manis kekanak-kanakan saat tersenyum lebar. “Kukira setan atau siluman, tidak tahunya…” Dia tidak melanjutkan kata-katanya dan mengamati gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, membuat Bwee Hwa merasa risih sekali. “Tidak tahunya siapa? Ayo bicara yang jelas!”
“Tidak tahunya seorang bidadari baju merah yang cantik jelita dan galak!”
“Bangsat kurang ajar!” Bwee Hwa memaki, lalu cepat menggerakkan pedangnya yang sejak tadi dipegangnya, menyerang dengan tusukan ke arah dada pemuda itu. Gerakannya cepat dan mengandung tenaga sakti yang sangat kuat, terbukti dari suara pedang yang bergetar ketika ditusukkan.
Pemuda itu terkejut, menyadari gadis itu memiliki pedang yang sangat berbahaya dan merupakan lawan yang lihai sekali. Ia pun cepat mencabut pedangnya dan segera menyambut dengan gerakan tangkas, cepat, dan bertenaga. Ia juga bersilat dengan sangat hati-hati. Setelah beberapa kali serangan Bwee Hwa berhasil ia hindari dengan elakan cepat, tiba-tiba pedang gadis itu menyambar dengan babatan cepat ke arah lehernya. Tentu saja pemuda itu tidak menghendaki lehernya dipenggal. Dari samping, ia menggerakkan pedangnya menangkis sambil mengerahkan tenaga sekuatnya.