Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 01

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 01

Matahari di ufuk barat semakin lama semakin menebal warnanya. Sebelum bulatan raksasa jatuh terbenam di balik rimbunan pohon beringin, seorang penunggang kuda sudah tiba di gerbang kota Pakuan.

Mulut kuda mendengus-dengus dan nampak uap putih mengepul dari hidungnya ketika penunggangnya menarik tali kekangnya. "Bukakan gerbang!" teriaknya ketika melihat pintu gerbang kota yang terbuat dari papan jati tebal itu ditutup para jagabaya.

"Tidak tahukah Ki Silah, kentongan telah ditabuh dan kulit tiram sudah ditiup?" teriak seorang jagabaya sedikit melongokkan kepalanya dari sela-sela kedua ujung daun pintu raksasa.

"Aku tahu, tanda kota segera tertutup untuk orang luar. Tapi tak tahukah kalian siapa yang datang?" jawab penunggang kuda dengan sedikit kesal.

Sang jagabaya mencoba meneliti penunggang kuda itu. Cahaya temaram dari bayangan lembayung masih sanggup menerangi wajah pendatang itu. Dia yang duduk setengah membungkuk di atas pelana kuda hitam itu sepertinya seorang prajurit biasa bila menilik kepada pakaiannya.

Dadanya yang bidang tidak menggunakan baju, kecuali penutup dada dari beludru hitam jenis kasar. Sepasang pergelangan tangannya bergelang logam perak. Dia menggunakan celana sontog yang terbuat dari kain beludru hitam jenis kasar. Rambutnya digelung ke atas dan diikat kain warna nila.

Jagabaya menaksir, prajurit berkuda itu masih muda, paling berusia duapuluh tahun. Hanya karena ada cambang bauk saja maka pemuda itu seperti usia tigapuluh tahun.

"Melihat pakaianmu Ki Silah, tentu prajurit Pajajaran. Tapi peraturan menentukan, gerbang kota harus ditutup di saat matahari terbenam!" kata sang jagabaya setelah meneliti siapa yang datang.

Kuda melonjak-lonjak ketika tali kekang dihentak penunggangnya. Matahari sudah semakin kelam dan ada banyak binatang kalong terbang melayang ke utara menuju Gunung Salak. Namun, kepulan debu tanah nampak terlihat menebal ketika sepasang kaki depan kuda menghentak-hentak keras.

"Jangan tersinggung Ki Silah, apakah engkau lebih senang melihat prajurit Pakuan melanggar tata-tertib kerajaan?" kata sang jagabaya ketika tahu sang penunggang kuda tersinggung atas penolakannya.

"Aku tahu ihwal peraturan itu dan seluruh penghuni Pajajaran tabu untuk melanggarnya. Tapi Ki Silah, peraturan tak boleh dilaksanakan kaku. Harap bijaksanalah sedikit," tutur penunggang kuda.

"Kebijaksanaan adalah penyelewengan dari sebuah peraturan," bantah jagabaya.

"Membuat penyelewengan untuk sesuatu kepentingan adalah tindakan tepat, apalagi menyangkut urusan negara!" jawab prajurit penunggang kuda lagi.

Hening sejenak. "Bagaimana?" kata jagabaya pada teman-temannya yang lain. "Coba kau, tanyakan kepentingan apa yang dia katakan ada hubungannya dengan negara itu," terdengar seorang jagabaya lain berbicara.

"Tentang apa?" "Penting sekali. Tetapi hanya bisa disampaikan kepada Pangeran Yogascitra," jawab penunggang kuda.

"Dia mengenal Pangeran?" bisik seorang jagabaya di balik gerbang. Kemudian terdengar rundingan-rundingan yang tak bisa didengar penunggang kuda. Namun, rupanya rundingan itu menyangkut disetujui atau tidaknya sang penunggang kuda memasuki gerbang.

Tiba-tiba gerbang berderit. Pintu jati terbuka perlahan dan terkuak kecil tapi cukup dilewati satu penunggang kuda. Si penunggang kuda rupanya mafhum bahwa pada akhirnya dia diizinkan memasuki gerbang.

"Tapi engkau baru bisa menghadap Pangeran Yogascitra esok hari, Ki Silah?" kata seorang jagabaya berdada bidang. "Di mana aku harus bermalam?" tanya si penunggang kuda sambil sepasang kakinya menjepit perut kuda karena binatang itu nampak selalu gelisah.

"Engkau hanya bisa tinggal di wilayah jawi khita," kata jagabaya menerangkan. "Engkau akan kami antar ke asrama jagabaya agar keperluan bermalammu bisa kami urus," kata yang lain.

Si penunggang kuda termenung sejenak, namun kemudian dia bergumam, "Biarlah aku bisa mencari penginapan sendiri," ujarnya.

"Carilah warung-warung nasi di pasar, mereka suka menyediakan tempat menginap juga!" tutur jagabaya. Si penunggang kuda hanya mengangguk pelan, sesudah itu membedal kuda dan berlalu.

"Kuda hitam itu seperti kurang akrab dengan penunggangnya?" gumam seorang jagabaya. "Barangkali hanya kuda temuan di tengah jalan?" gumam temannya.

Sementara itu, si penunggang kuda segera mencongklang kudanya dengan cukup pelan ketika jalanan berbala batu sudah memasuki tempat cukup ramai. "Barangkali ini yang dinamakan pasar?" gumamnya sendirian.

Si penunggang kuda ini pernah mendengar khabar bahwa Pakuan adalah ibukota Kerajaan Pajajaran paling ramai dan paling besar bila dibandingkan dengan ibukota sebelumnya. Orang-orang Karatuan Talaga atau penduduk Karatuan Sumedanglarang kerapkali bercerita kepadanya, bahwa ibukota kerajaan besar bernama Pajajaran kerapkali berpindah-pindah berdasarkan selera penguasa pada waktu itu.

Contohnya, Prabu Guru Darmasiksa yang semula berkedudukan di Saunggalah pada tahun 1187 M memindahkan ibukota ke Pakuan, sebuah kota yang sudah ada sejak dulu dan pernah juga dijadikan ibukota oleh raja-raja sebelumnya.

Pakuan didirikan oleh Maharaja Tarusbawa (670 M). Sambil mencongklang kuda pelan-pelan, pemuda bercambang ini meneliti kiri-kanan. Ibukota Pakuan memang sebuah kota dengan segala macam kesibukan.

Kendati sejak 34 tahun lalu (1527 M) kegiatan ekonomi dengan negri sebrang telah mulai beku karena Pelabuhan Kalapa (Sunda Kalapa) sudah dikuasai Demak dan Cirebon, tapi kegiatan perdagangan di ibukota Pakuan masih kelihatan sibuk.

Pemuda itu mendapatkan di beberapa persimpangan jalan berbalay terlihat orang berkerumun. Mereka mengerumuni kaum pedagang. Di kerumunan lain, penduduk kota tengah memperhatikan pedagang pakaian.

Jenis pakaian yang dijual sebenarnya sederhana saja kualitasnya. Hampir semuanya berupa jenis pakaian untuk orang kebanyakan, terbuat dari tenunan kasar seperti gaya anyaman seumat sahurun, anyam cayut, kalangkang ayakan, hujan riris atau pasi-pasi.

Yang diperdagangkan adalah cangcut (celana) dan pangadwa (baju) untuk kaum pria, atau sinjang dan samping serta apok dan kutang-kutung untuk wanita. Di sudut jalan yang lain, ada pedagang yang khusus menjajakan berbagai jenis ikat pinggang seperti angkin, beubeur, benten atau benting ususus.

Dia seberang jalan berbalay ada pedagang menjajakan alat pertanian atau berladang seperti parang, congkrang, etem atau arit. Ada yang menjual alat rumah tangga seperti kendi, lodong (tempat mengambil air terbuat dari bambu), bekong (cangkir dari batok kelapa), kowi (cangkir bambu) atau tampekan (tempat sirih).

Dan di sudut lain, ada pedagang menggelar alat-alat senjata seperti golok, pedang, abet, pamuk, peso teundeut sampai keris. Yang mengerumuni pedagang senjata, hampir sebagian besar terdiri dari prajurit dan ponggawa.

Ada juga yang berpakaian orang kebanyakan, akan tetapi pemuda itu bisa menduga, mereka adalah ponggawa juga bila melihat tindak-tanduknya. Sambil melambatnya jalannya kuda, pemuda itu memang banyak menemukan prajurit berkeliaran di jawi khita ini.

Menurut orang-orang Sumedanglarang, Pakuan merupakan kota terbesar kedua di Nusantara sesudah Demak. Penduduknya hampir 50.000 jiwa. Namun, untuk menjaga keamanan penduduk sejumlah itu, Pakuan melengkapi diri dengan 100.000 prajurit, bahkan diperkuat oleh 1.000 perwira pengawal Raja.

Pakuan sejak zamannya Sri Baduga Maharaja perlu memiliki kekuatan militer setelah terjadi permusuhan dengan Cirebon dan Demak. Apalagi sesudah 7 pelabuhan milik Pajajaran direbut mereka. Dan Banten yang semula merupakan pelabuhan kedua terbesar sesudah Sunda Kalapa, sesudah direbut Demak, belakangan bahkan memisahkan diri dari Demak tapi juga sama memusuhi Pakuan.

Malah selama bermusuhan dengan negara agama baru, Bantenlah yang paling beringas dalam melakukan serbuan ke Kerajaan Pajajaran hingga ke pusat pemerintahan. Terbukti pada masa pemerintahan Sang Prabu Ratu Dewata (1535-1543 M), serbuan prajurit Banten menusuk hingga ke wilayah jawi khita.

Di alun-alun benteng luar terjadi pertempuran besar yang menewaskan dua perwira kerajaan paling handal yaitu Tohaan Ratu Sarendet dan Tohaan Ratu Sangiang. Peristiwa penyerbuan pasukan Banten di zaman Sang Prabu Ratu Dewata menjadi cermin bagi raja yang menggantikannya, yaitu Sang Prabu Ratu Sakti (1543-1551 M).

Raja Pajajaran keempat yang selalu bertindak keras ini beranggapan bahwa ayahandanya terlalu lemah dalam memimpin sehingga musuh tidak merasa takut melakukan penyerbuan sampai menusuk pusat pemerintahan. Oleh sebab itu, kekuatan militer harus jadi tumpuan utama dalam hal menyusun dan mempertahankan keberadaan negara.

Sayang, pembangunan militer yang butuh dana besar ini tidak didukung oleh situasi ekonomi. Karena kegiatan ekonomi antar negri sudah lumpuh, maka untuk memperkuat negri, Sang Prabu Ratu Sakti menarik seba (pajak) tinggi kepada rakyat.

Kebijaksanaan ini amat meresahkan rakyat sehingga banyak negara kecil yang semula di bawah naungan Pakuan melakukan pemberontakan. Celakanya, kebijaksanaan Raja dalam menarik pajak tinggi juga dimanfaatkan oleh beberapa pejabat yang berniat merebut kekuasaan.

Pembangunan kekuatan militer yang di beberapa wilayah bahkan dimanfaatkan oleh para pejabat sendiri untuk melakukan perlawanan terhadap Raja. Sebagian tentara yang dibiayai oleh Raja pada akhirnya malah digunakan untuk memberontak terhadap Raja.

Tahun 1551 M, pucuk pemerintahan di ganti oleh Sang Lumahing Majaya atau Nilakendra Tohaan di Majaya. Raja ini diwastu (dilantik) di atas palangka dalam usia yang masih amat muda, yaitu sekitar 18 tahun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment