Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 02

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 02

Bukan berarti dia sudah punya pengalaman utuh dalam memimpin negara, namun regenerasi yang terlalu cepat ini terjadi dalam keterpaksaan.

Sang Lumahing Majaya adalah putra terkasih dari banyak putra Sang Prabu Ratu Sakti.

Agar tidak terkesan pergantian kekuasaan dilakukan secara paksa dan berbau pemberontakan, maka pengganti Sang Prabu Ratu Sakti "dipilih"lah putranya sendiri.

Padahal, para pengamat politik masa itu telah menduga bahwa telah terjadi "pemberontakan halus" terhadap Sang Prabu.

Kebijaksanaan Sang Prabu Ratu Sakti dalam mengendalikan pemerintahan kurang disenangi banyak pejabat, terutama oleh para pejabat istana yang jujur dalam membela kepentingan Pakuan.

Ketika itu Ratu Sakti mudah terbuai oleh mulut manis dan sebaliknya mudah tersinggung bila menerima panca-parisuda (lima obat penawar = kritik membangun).

Kelemahan raja yang penuh ambisi ini juga selalu bertindak keras kepada rakyat atau kalangan yang dianggap punya kesalahan dan punya kegemaran yang romantis, yaitu amat menyukai kecantikan wanita.

Puncak kegelisahan para pejabat bahkan terjadi setelah Sang Prabu melakukan pelanggaran moral, yaitu mengawini wanita larangan.

Yang dimaksud wanita larangan adalah wanita yang sudah punya tunangan.

Dan karena hasrat hatinya dalam memiliki tubuh molek, maka kekuasaannya sebagai raja dia gunakan untuk meraih apa yang dia inginkan.

Kekacauan di dalam negeri kian memuncak disertai beberapa pemberontakan yang dilakukan negara-negara kecil yang semula berada di bawah naungan Pakuan. Disertai tindakan-tindakan tak terpuji Sang Prabu, maka akhirnya telah terbentuk kesepakatan bersama sesama pejabat istana. Mereka mengatakan langsung kepada Raja bahwa Raja sudah terlalu lelah memimpin.

Dan di saat suasana genting seperti ini, perlu tenaga segar dalam memimpin negara.

Para pejabat langsung menyodorkan keinginan bahwa Sang Lumahing Majaya, putra terkasih Raja, kendati masih amat muda tapi dinilai mampu menangani dan membenahi negara sampai keberadaannya kembali mencuat ke puncak kebesaran seperti apa yang dicita-citakan Raja.

Inilah sebenarnya taktik menyingkirkan Ratu Sakti yang tidak terkesan berbau pemberontakan.

Mengapa mesti disebut pemberontakan? Ini bukan menggeser atau mendepak Raja, toh yang menggantikannya adalah putranya sendiri.

Perpindahan dari Ratu Sakti kepada Sang Lumahing Majaya, "tidak lebih tidak kurang", hanya berupa kejadian alamiah belaka, yaitu estafet tongkat kepemimpinan.

Sang Ratu Sakti setuju dengan gagasan ini.

Tahun 1551 M ia turun takhta dan digantikan oleh putranya.

Namun, benarkah ia tidak merasakan maksud sebenarnya dari peralihan kekuasaan ini? Tidak ada orang yang tahu dengan pasti.

Yang jelas, hanya berselang beberapa bulan dari pergantian kekuasaan, Sang Prabu Ratu Sakti wafat dalam tahun itu juga karena sakit yang parah.

Hanya secara bisik-bisik saja kalangan istana dan para pengamat politik menduga-duga bahwa kematian mantan raja ini karena menderita tekanan batin.

Ia adalah seorang raja yang memiliki ambisi besar, yaitu ingin mengembalikan kejayaan Pajajaran ke puncak kejayaan seperti yang dialami pada masa pemerintahan kakek-buyutnya, Sang Prabu Sri Baduga Maharaja (1482-1521 M).

Namun, apa daya, bukan kebesaran yang ia dapatkan, melainkan kekacauan dan perpecahan.

Kini sudah berselang sepuluh tahun dari peristiwa itu.

Sang Lumahing Majaya, atau Tohaan di Majaya, atau juga dikenal sebagai Sang Prabu Nilakendra, sudah berusia 28 tahun.

Sepuluh tahun memimpin negara, setidaknya ia sudah merasa punya "pengalaman" dan merasa tahu bagaimana caranya mengendalikan pemerintahan.

Sang Prabu Nilakendra selama menyimak kepemimpinan ayahnya hanya menemukan berbagai pertentangan di dalam negeri sendiri semata.

Penarikan seba (pajak) tinggi yang dilakukan ayahandanya hanya melahirkan kesengsaraan dan ketidakpuasan rakyat.

Itulah sebabnya, ketika pimpinan kekuasaan jatuh kepadanya, Sang Prabu Nilakendra mencoba mengubah gaya kepemimpinan.

Dana besar yang dihasilkan melalui pajak tinggi kebanyakan hanya digunakan untuk kepentingan militer dalam upaya menahan serangan musuh.

Namun kenyataannya, dana yang tinggi bukan habis untuk menangkal serangan musuh.

Selama pemerintahan Sang Prabu Ratu Sakti (1543-1551 M), tidak pernah ada penyerbuan baik dari Banten maupun dari Cirebon.

Hal ini terjadi karena baik Cirebon maupun Banten sedang membantu Demak dalam melakukan penyerbuan ke Pasuruan.

Kekuatan militer Pajajaran yang dihasilkan melalui dana besar sebetulnya hanya dihabiskan untuk berperang dengan sesama orang Pajajaran sendiri.

Seperti yang diutarakan terdahulu, karena kebijaksanaan penarikan pajak tinggi, banyak negara kecil di bawah Pajajaran mulai memalingkan muka.

Mereka mencoba melakukan pemberontakan dan memisahkan diri.

Yang wilayahnya lebih dekat kepada Cirebon atau Banten, lebih memilih memihak mereka dan berganti agama.

Negara-negara kecil di wilayah timur Sungai Citarum seperti Sumedanglarang, Karatuan Talaga, Timbanganten, atau Gilingwesi, semua telah berpindah agama dan mengabdi kepada Cirebon.

Di wilayah barat sepanjang sisi-sisi Sungai Cihaliwung (Ciliwung), negara-negara kecil seperti Muaraberes atau Tanjungbarat sudah menjadi wilayah transisi.

Rakyatnya sudah banyak beralih agama dan secara diam-diam sebagian pejabatnya sudah berpihak kepada Banten.

Bercermin kepada kegagalan ayahandanya, Sang Prabu Nilakendra tidak memilih kekerasan dalam mengendalikan pemerintahannya.

Kendati pajak tetap ditarik, tetapi tidak seketat seperti yang dilakukan ayahandanya.

Sang Prabu mencoba melawan musuh dan penentangnya dengan kelembutan.

Bila kakek-buyutnya, Sang Prabu Surawisesa, gemar berperang (selama 14 tahun memerintah negara, yaitu 1521-1535 M, terjadi 15 kali pertempuran), Sang Prabu Nilakendra lebih memilih menjauhi perang.

Menurutnya, sebenarnya musuh bisa dilawan dengan tidak melakukan perlawanan.

"Pada umumnya, orang hanya akan menyakiti bila disakiti.

Jadi kalau kita tidak menyakiti, maka orang pun tidak akan menyakiti," ujar beliau.

Karena dasar pemikiran inilah, Sang Prabu Nilakendra tidak merasa takut terhadap musuh.

Sebab, pada hematnya, selama tidak diganggu maka mereka pun tidak akan mengganggu.

Namun ini adalah jalan pemikiran Raja dan tidak mewakili seluruh pemikiran pejabat lainnya.

Padahal, para pejabat di bawahnya cenderung tidak berpikir begitu.

Politik tidak mempunyai kewajiban mematuhi etika filosofis.

Musuh tidak bisa dicegah hanya karena kita memilih diam.

Bahkan, tindakan diam yang dilakukan hanya akan mengundang sangka bahwa Pakuan semakin lemah.

Nasib buruk Kerajaan Sunda yang sudah berdiri hampir 900 tahun lamanya (sejak tahun 669 M) seperti akan terus berlanjut.

Pertikaian demi pertikaian, baik antara Pakuan dengan kekuatan negara agama baru, maupun dengan sesama orang Pajajaran sendiri seperti tidak habis-habisnya.

Kini, dalam usia 10 tahun masa kepemimpinan Sang Prabu Nilakendra, kembang-kembang pertikaian seperti akan kembali mencuat kendati belum kentara benar.

Lihatlah pemuda misterius berkuda hitam yang memasuki dayo Pakuan ini.

Apa yang akan ia kerjakan di pusat Kerajaan Pajajaran ini?

Orang pintar mengaku pintar itu biasa; orang bodoh mengaku pintar itu petaka; tetapi yang paling hebat, orang bodoh mengaku bodoh sebab itulah yang namanya pintar.

Lantunan prepantun (juru pantun) demikian merdu kendati isi syairnya menyengat.

Entahlah, apakah para penyimak yang tengah mengelilingi prepantun tua dan buta ini mengerti akan maknanya? Yang jelas, orang-orang yang duduk-duduk di bale-bale kedai nasi paling besar di tepi jalan ini menyimak dengan hati sukacita.

Hampir semua penyimak mengangguk-angguk karena mengikuti irama dawai kecapi yang dipetik prepantun buta itu.

"Seringkah pertunjukan pantun di sini, Aki?" tanya seorang pemuda berkulit putih halus, bermuka sedikit bundar, dan bermata binar yang ikut menyimak pertunjukan pantun ini.

Orang tua bercelana kampret hitam dengan baju jenis sampir yang ditanya menoleh heran kepada pemuda itu.

"Apakah Ki Sanak baru datang ke dayo ini?" tanyanya heran.

Pemuda itu agak ragu untuk menjawab.

Namun sesudah itu, ia mengangguk pelan.

"Ki Sanak datang dari mana?" Ia terdiam sejenak.

"Saya dari Muaraberes."

"Muaraberes dekat saja dari dayo. Apakah engkau jarang ke dayo Pakuan ini?" tanya orang tua itu kembali menatapnya heran.

Pemuda bermata binar yang menggunakan baju kampret berwarna nila dan bercelana sontog dengan warna yang sama itu mencoba menghindar dari tatapan orang tua itu.

"Oh, ya, aku tahu. Kendati dari sini ke Muaraberes tidak begitu jauh, dan perjalanan tidak begitu sulit, tetapi orang tidak sebebas dulu dalam melakukan perjalanan ke sini, anak muda?" tutur orang tua itu lagi mengeluh. "Tetapi engkau beruntung, anak muda. Kau masih bisa melakukan perjalanan ke sini. Bagaimana engkau bisa?" lanjutnya menatap penuh curiga.

"Ah, hanya sekadar keberuntungan saja, Aki!" gumam pemuda berikat kepala kain batik jenis pupunjengan ini.

"Apa pula tujuanmu datang ke sini?" Orang tua itu seperti terus menguntitnya.

"Pakuan adalah dayo paling ramai. Bagi orang muda seperti saya, mencari kehidupan lebih baik adalah dambaan utama. Di sini banyak hal-hal menyenangkan. Seniman terbaik ada di sini. Cobalah, Aki, simak prepantun tua ini. Di Muaraberes tidak ada prepantun sebaik ini?" tutur pemuda itu berbasa-basi.

"Hm, hanya prepantun tua yang membosankan. Kerjanya begitu-begitu saja. Kalau tidak menyindir, ya memuji!" potong lelaki tua itu.

Pemuda itu kini tersenyum.

"Kau juga mengetawakan prepantun di sini, anak muda?"

"Saya malah tersenyum karena cemoohanmu, Aki. Menyindir tidak boleh, memuji pun kau cerca. Habis, harus bagaimana orang menyimak kehidupan ini?" tanya pemuda berwajah bulat itu.

"Sekarang Pajajaran tengah mengalami masa-masa suram. Di zaman Sang Prabu Ratu Sakti, salah dan benar hampir tidak ada daya pemisah. Asal mau mengobral pujian, kebenaran akan muncul, sebaliknya kita akan menjadi orang bersalah bila berani mengirim sindiran.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment