Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 03

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 03

Sekarang zamannya Sang Prabu Nilakendra, tak ada kekerasan. Sang Prabu sungguh pendiam. Tapi yang namanya berlebihan, apa pun jenisnya, itu tidak baik. Sang Susuhunan muda ini terlalu pendiam. Kerjanya bersunyi-sunyi di dalam kuil. Terlalu pendiam artinya tidak ada ambisi. Dan orang yang tidak punya ambisi pun jelek namanya.

Lihatlah, karena Sang Prabu terlalu membiarkan sesuatu, giliran rakyat yang bermain dengan ambisi. *Wong huma darpa mamangan, tan igar yan tan pepelakan* (petani menjadi serakah akan makanan, tidak merasa senang bila tidak bertanam sesuatu). Yang tidak sadar akan keadaan, semakin tenggelam dalam keserakahan. Namun sebaliknya, yang merasa prihatin akan situasi, paling banter hanya akan kuat menyodorkan sindiran.

"Cobalah, sejauh mana sindiran bisa menukik ke dalam kalbu selama kita bermabuk-mabuk akan ambisi dan keserakahan?" Si pemuda hanya tersenyum tipis, namun tidak bisa diduga apa maksudnya.

Sementara itu, prepantun semakin melantunkan syairnya.

Persis seperti apa kata orang tua tadi, kini orang kerjanya hanya menyindir dan memuji tanpa berusaha mengubah keadaan dengan tindakan nyata. Sang prepantun tua, kalau tadi menggebu dengan sengatan, kini berkidung dengan puja dan puji:

Di kegersangan, walau bisa jadi penyegar,

tak mampu menepis haus.

Oh, hai Darma Tunggara,

engkau air setetes yang hilang terserap bumi.

Kini ada Ksatria Ginggi mencoba menguak hati.

Hidup mati tak peduli,

asalkan yang hakiki bisa dicari.

Namun sayang, tak pernah abadi.

Ginggi pergi sebelum berseri.

Ke mana Ginggi? Ke mana? Padahal negeri tengah menanti.

"Saya kerap kali mendengar nama Ksatria Ginggi banyak disebut kaum prepantun, tapi saya tidak tahu apa maknanya, Aki?" gumam si pemuda sambil mengucak-ngucak ujung hidungnya yang sedikit mancung.

Orang itu menoleh sambil mengernyitkan dahinya. Barangkali dia merasa terganggu sebab sudah sejak tadi pemuda itu hanya bertanya dan bertanya saja pekerjaannya.

"Berapa usiamu kini, anak muda?"

"Mungkin delapan belas?" jawab si pemuda setelah mengingat-ingat sejenak.

"Pantas saja engkau tidak tahu, sebab nama Ksatria Ginggi mencuat pada sepuluh tahun silam. Barangkali usiamu ketika itu baru delapan tahun, umur-umur di saat orang belum mengerti keadaan," kata orang tua itu.

"Saya ingin sekali tahu. Kalau Aki tidak keberatan, tolong gambarkan secara singkat keberadaan orang itu," kata si pemuda seperti penuh harap.

Maka di sela-sela denting dawai kecapi yang dipetik prepantun, orang tua itu terpaksa sedikit bercerita. Menurut dia, seni bercerita yang disebut pantun sebetulnya bisa juga disebut berita. Baik itu berita perkembangan negara, maupun berita mengenai perjalanan hidup atau pengelanaan seorang ksatria.

Sudah puluhan tahun orang-orang Pajajaran mengenal kisah Guru Gantangan atau juga lebih dikenal sebagai Mundinglaya di Kusumah. Cerita Mundinglaya di Kusumah yang demikian terkenal sebetulnya diambil dari kisah nyata perjalanan hidup dan kisah heroik dari Sang Prabu Surawisesa ketika beliau masih muda. Begitu halnya dengan cerita-cerita lain seperti kisah Darmajati, Jayasena, Adiparwa, Sedamana, Kisah Anggalarang dan Banyakcitra, atau Sanghyang Lutung Kasarung. Semua adalah berupa kisah kepahlawanan orang-orang Pajajaran.

"Cerita-cerita itu abadi di hati orang Pajajaran, kendati tokoh-tokoh pujaan itu sudah tidak ada di dunia lagi," kata orang tua itu.

"Maksudmu, Ksatria Ginggi pun kini telah mati, Aki?" tanya si pemuda.

Orang tua itu menatap tajam, seperti diingatkan bahwa ucapannya mungkin tidak seluruhnya benar.

"Ksatria Ginggi itu seorang pemuda yang sakti mandraguna. Dialah murid terkasih Ki Darma Tunggara yang sikap perbuatannya hampir menyerupai gurunya. Ki Darma dulunya bekas anggota seribu perwira pengawal Raja. Dia tidak berambisi, membela negara dengan tanpa pamrih. Sama halnya dengan Ksatria Ginggi. Tujuan mereka mulia namun banyak dikotori oleh orang lain yang ingin memanfaatkan situasi. Ki Darma Tunggara pernah dituding pemberontak dan dikejar-kejar prajurit atas perintah Sang Prabu Ratu Sakti. Begitu pun Ksatria Ginggi, pernah mengalami nasib buruk dianggap pengkhianat."

"Sekarang bagaimana?"

"Beruntung Raja yang sekarang sadar bahwa baik Ki Darma Tunggara maupun Ksatria Ginggi selama ini bukan saja tidak pernah berkhianat, bahkan selalu berkorban untuk kepentingan negara. Kedua orang itu akhirnya dibersihkan namanya."

"Barangkali mereka kini sudah menjadi pejabat di istana yang terkemuka, Aki?" kata si pemuda memancing.

Orang tua itu kini seperti menghela napas berat seakan ada keluhan di dalam hatinya.

"Itulah yang disesalkan semua orang. Mengapa orang sebaik mereka malah tidak pernah berpeluang dengan tepat dalam upaya pembelaan terhadap negeri ini?"

"Ki Darma tidak pernah kembali ke istana. Malah kabar selentingan yang sampai ke telinga rakyat, Ki Darma sebetulnya sudah tewas di puncak Gunung Cakrabuana, sebab Sang Prabu Ratu Sakti pernah memerintahkan para perwira untuk menyerbu ke sana?"

"Dan Ksatria Ginggi?"

"Seusai berhasil ikut menggagalkan pemberontakan yang dipimpin Ki Banaspati, Ksatria Ginggi pergi meninggalkan Pakuan secara diam-diam. Sampai kini sudah sepuluh tahun berselang. Ke mana ksatria muda itu pergi, tidak ada kabar beritanya. Padahal, banyak orang merindukan anak muda itu. Di saat-saat seperti ini, mungkin negara memerlukan dia lagi?"

"Mengapa?"

"Engkau masih terlalu muda jadi belum paham situasi negara. Harap waspada, sebetulnya negara dalam keadaan genting. Kekuatan di dalam negeri semakin melemah, sedangkan musuh dari barat semakin kuat. Hanya ketika saat pemerintahan Sang Prabu Surawisesa yang gagah, maka para prepantun sanggup mengabarkan Pakuan aman dari serbuan. Sedangkan di hari-hari ini, Pakuan sudah tidak punya apa-apa lagi. Kau lihatlah anak muda, Sang Prabu kurang berambisi untuk melawan musuh dan para prajurit kerjanya santai dan mabuk-mabukan. Ini bertanda bahaya sebab musuh akan segera datang?" ujar orang tua itu, disambut anggukan pelan pemuda bermata binar itu.

Malam semakin larut dan juru pantun pun semakin menggebu dengan lantunan dan celoteh merdunya. Semua orang semakin tenggelam dalam menyimak, kendati di beberapa sudut, ada yang terkantuk-kantuk atau kerjanya hanya bermabuk-mabuk.

Sampai pada suatu saat si pemuda meninggalkan kerumunan itu dan berlalu memburu suatu tempat kegelapan. Rupanya pemuda itu menemui seseorang yang sengaja menunggunya di kegelapan kelamnya pohon soka.

"Paman Manggala! Saya cari sejak tadi senja, ke mana saja?" kata pemuda itu menegur, tapi dengan nada penuh syukur karena bisa bertemu dengan lelaki setengah baya berjenggot tebal dengan ikat kepala gaya barangbang semplak.

Lelaki yang dipanggil Paman Manggala itu tampak berpakaian hitam-hitam, baik baju *kampret* maupun celana *sontog*-nya. Tampak sekali dia tidak ingin diketahui umum.

"Pragola, seharusnya engkau tidak terlalu banyak berhubungan dengan orang-orang di sini," terdengar Paman Manggala menegur.

"Ah, hanya berbincang-bincang dengan rakyat biasa saja, Paman!" jawab pemuda bernama Pragola ini.

"Tapi wajahmu itu... mengapa kau tanggalkan cambang dan baukmu?"

Pragola tersenyum kecil di keremangan malam sambil mengusap-ngusap dagunya yang halus klimis.

"Saya tidak melanggar perintah, sebab bukankah wajah bercambangku hanya ketika saya berpura-pura sebagai prajurit Pajajaran saja? Sekarang sudah saya tanggalkan pakaian prajurit dan berpakaian kebanyakan. Kalau tidak ingin dikenal sebagai prajurit gadungan, ya akalnya harus mengembalikan wajah seperti semula, Paman?" kata Pragola melihat kiri-kanan, kalau-kalau ucapannya didengar orang lain.

Rupanya alasanmu ini masuk akal juga. Buktinya Paman Manggala menganggukkan kepala.

"Ya... Tapi yakinkah engkau dalam mengubah wajah tidak ada orang yang tahu?" tanya Paman Manggala masih dengan nada khawatir.

Pragola menggelengkan kepalanya.

"Lantas, kuda yang engkau pakai, di mana kini?"

"Saya menyembunyikan di suatu tempat. Tapi kalau kita jual, bagaimana, Paman?"

"Jangan!"

"Kita butuh uang untuk kebutuhan sehari-hari di sini!" kata Pragola.

"Jangan bodoh! Engkau akan tetap menjadi prajurit Sagaraherang yang utuh. Artinya, kuda dan seragam prajuritmu jangan sampai hilang!"

"Tapi sampai kapan saya akan keluyuran di sini?"

"Bodoh kau! Mari!"

Juru pantun masih melantunkan tembang-tembang cantik ketika Paman Manggala dan Pragola meninggalkan tempat itu. Pemuda itu dibawanya ke kegelapan malam. Keluar dari jalan berbatu dan masuk gang sempit yang diapit dua *kuta* (benteng terbuat dari tanah). Berjalan lagi beberapa lama, melewati rimbunan pohon dan sedikit alang-alang. Lalu tibalah di sebuah rumah tua.

Rumah itu terbuat dari gedek bambu seluruhnya. Beratap ijuk dan berlantai tanah. Yang membuat pemuda itu penuh perhatian, karena di ruangan rumah yang diberi penerangan pelita terbuat dari minyak jarak itu sudah duduk tiga orang. Di keremangan malam, tampak wajah ketiga orang berusia setengah baya itu dingin dan kaku.

"Ini pemuda Pragola yang kita maksud, Pangeran?" kata Paman Manggala.

Mulanya Pragola belum begitu jelas, siapa dari ketiga lelaki setengah baya yang dipanggil pangeran ini. Namun pada akhirnya Pragola mengetahui juga. Yang dipanggil pangeran adalah lelaki berjanggut tebal yang duduk bersila di tengah, di atas hamparan tikar pandan. Lelaki bermata tajam ini berpakaian biasa saja, yaitu baju *salontreng* hitam dengan ikat pinggang terbuat dari kulit tebal. Dia menggunakan ikat kepala dari kain kasar berwarna nila.

Ketika melihat Pragola masuk, lelaki yang ujung dagunya seperti terbelah dua ini menatapnya dari mulai ujung rambut hingga ujung kaki.

"Cepat haturkan sembah kepada Pangeran Yudakara!" kata Paman Manggala setengah menekan pundak pemuda itu.

Karena tenaga tekanan itu begitu keras, Pragola membungkukkan badannya setengah terpaksa.

"Kau haturkan sembah lagi kepada Perwira Jaya Sasana dan Perwira Goparana!" kata Paman Manggala.

Pragola tahu yang dimaksud Paman Manggala.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment