Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 04

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 04

Dan sekarang, tanpa harus ditekan pundaknya, pemuda itu menyembah dengan hormat kepada Perwira Jaya Sasana.

Sebetulnya orang ini hanya mengenakan pakaian orang kebanyakan, yaitu baju kampret dan celana gombrong, semuanya serba hitam.

Lelaki setengah baya tanpa kumis atau cambang ini pun mengenakan ikat kepala warna nila seperti yang dikenakan Pangeran Yudakara.

Namun, sama seperti apa yang ada pada diri Pangeran bersorot mata tajam itu.

Kalau orang teliti memperhatikan mereka, akan tampak sekali bahwa mereka semua bukan orang kebanyakan.

Jenis pakaian sederhana yang mereka kenakan tidak akan sanggup menutupi kewibawaan mereka.

Sorot mata mereka, gerak-gerik mereka, bagi pandangan orang yang teliti, akan tampak lain dari orang kebanyakan.

Selesai menyembah kepada Perwira Jaya Sasana, Pragola menghadap kepada Perwira Goparana dan kembali memberi hormat.

Sebelum menunduk, pemuda itu sempat melirik untuk memperhatikan wajah perwira ini.

Dia bermata seperti mata elang, hidungnya mancung sedikit melengkung.

Kulitnya sedikit hitam dan pada sepasang tangannya yang kekar tumbuh banyak bulu-bulu hitam.

Dagunya tampak kelimis dan tampak seperti baru saja mencukur jenggot.

Pragola menduga, pada mulanya orang ini pasti bukan penduduk asli.

Selama dia tinggal di kacutakan (setingkat kecamatan) Caringin, wilayah kekuasaan Cirebon, dia sudah beberapa kali bertemu dengan orang-orang berkulit hitam dan bertubuh jangkung seperti ini.

Menurut pengetahuannya, orang-orang jenis ini pada mulanya datang dari negeri Parasi (Iran kini), atau dari bagian tanah Arab lainnya yang pada akhir-akhir ini banyak berkunjung ke Nusantara.

Mereka selain datang ke Cirebon untuk berniaga, juga ada yang tinggal sebagai penduduk tetap, bahkan ada juga yang mengabdi kepada Karatuan Cirebon.

Kalau benar begitu, barangkali Perwira Goparana ini pun adalah bangsa asing yang mengabdi kepada Cirebon.

"Duduklah, anak muda?" kata Pangeran Yudakara tanpa ekspresi yang berarti.

Pragola duduk bersebelahan dengan Paman Manggala dan berhadapan dengan ketiga orang itu.

"Aku tidak tahu sejauh mana engkau memiliki kepandaian. Tapi karena Manggala sudah memilihmu untuk ikut misi ini, maka aku pun akan percaya," kata Pangeran Yudakara setengah bergumam.

"Sejak Cutak (pejabat setingkat camat) Wirajaya meninggal karena sakit, anak ini sudah diurus oleh Ki Sudireja. Siapa pun sudah tahu, Pangeran, Ki Sudireja adalah ahli kedigjayaan dari Karatuan Talaga. Orang tua sakti ini, kendati tidak menjadi warga agama baru, akan tetapi selalu membantu Cirebon. Karatuan Talaga bisa jatuh ke Cirebon pun, yaitu pada tiga puluh satu tahun silam (1530 M), salah satunya karena bantuan Ki Sudireja," lapor Paman Manggala dengan hormat.

"Sudireja membantu Cirebon. Tapi mengapa dia tidak masuk agama baru?" tanya Perwira Goparana, ikut menyela pembicaraan.

Sebelum menjawab, Paman Manggala menatap dulu kepada Pangeran Yudakara, seolah-olah meminta pendapat.

"Jawablah?" jawab Pangeran Yudakara sebagai tanda memberi izin kepada Paman Manggala untuk menjawab.

Paman Manggala melirik kepada Perwira Goparana.

"Ki Sudireja membantu Cirebon meruntuhkan kekuasaan Karatuan Talaga dalam mempertahankan agama lama, bukan karena urusan agama itu sendiri," ujar Paman Manggala.

"Karena apa dia mau membantu Cirebon?" tanya Perwira Goparana dengan mata tajam menyelidik.

"Karena rasa sakit hatinya terhadap Pakuan. Menurut Ki Sudireja, Pakuan Pajajaran adalah negara besar yang angkuh. Mereka lebih mementingkan gemerlapnya keraton daripada kesejahteraan rakyat. Sang Prabu Surawisesa yang menjadi pucuk pimpinan ketika itu, kegemarannya hanya berperang sehingga rakyat menjadi lelah. Ki Sudireja adalah bekas perwira Karatuan Talaga yang telah berperang untuk Pakuan, tetapi tidak merasa mendapatkan imbalan sepadan dengan jasa-jasanya. Itulah sebabnya dia memendam sakit hati. Ki Sudireja juga termasuk orang yang membenci Sang Prabu Surawisesa karena kehadiran armada Portugis di Pelabuhan Sunda Kalapa adalah hasil undangan dan kerja sama Sang Penguasa Pajajaran itu," kata Paman Manggala panjang lebar.

"Sikap Ki Sudireja sebetulnya sejalan dengan kerajaan pemeluk agama baru. Tapi mengapa orang tua sakti itu tidak tertarik untuk memindahkan keyakinannya ke dalam pangkuan agama baru?" tanya lagi Perwira Goparana penasaran.

Tidak ada yang mencoba menjawabnya.

"Lain kali aku ingin bersua dengan Ki Sudireja. Akan kuajak dia memasuki agama baru di Cirebon?" gumam Perwira Goparana.

"Barangkali sudah tidak mungkin lagi, Juragan?" jawab Paman Manggala menunduk.

"Mengapa?" Perwira Goparana mengerutkan dahi dan menatap tajam kepada Paman Manggala.

"Ki Sudireja sudah meninggal?"

"Meninggal karena sakit?"

"Bukan dia tewas dalam pertempuran?"

"Pertempuran? Sudah tidak ada pertempuran berarti sejak peristiwa pemberontakan Kandagalante Sunda Sembawa sepuluh tahun silam," gumam Perwira Goparana merenung.

"Memang tidak ada pertempuran besar. Tapi penguasa Pakuan yang baru, yaitu Sang Lumahing Majaya, didesak oleh para pembantunya untuk mengejar sisa-sisa pemberontak, terutama yang dianggap membahayakan. Ki Sudireja adalah salah seorang yang terlibat dalam pemberontakan itu. Pasukan pemberontak dari Kandagalante Sagaraherang, dalam upaya melakukan penyerbuan ke Pakuan, meminta bantuan dari wilayah timur yang memang menginginkan Pajajaran segera jatuh. Ki Sudireja merupakan salah satu anggota pasukan yang dikirim oleh Cirebon secara tidak resmi. Ki Sudireja ikut pertempuran di Bukit Badigul. Dan ketika pasukan Sunda Sembawa sudah kucar-kacir karena pihak Pakuan lebih kuat, walau dengan susah payah akhirnya Ki Sudireja berhasil meloloskan diri dari kepungan. Tapi begitulah, pasukan Pakuan terus mengejar. Hampir tiga tahun lamanya Pakuan melakukan pengejaran kepada tokoh-tokoh penting yang ikut penyerbuan ke Bukit Badigul. Dalam jangka waktu tersebut, hampir semua tokoh pemberontak bisa diburu, kecuali dua orang, yaitu Ki Sudireja dan Ki Banaspati. Namun pada tiga tahun lalu, Ki Sudireja akhirnya bisa ditemukan oleh para perwira Pakuan di perbatasan Sumedanglarang," kata Paman Manggala mengisahkan perjalanan hidup Ki Sudireja.

Manakala mendengar kisah paling akhir ini, tidak terasa ada air mata menetes dari sepasang pipi Pragola.

Ini adalah kisah sedih yang tidak dapat dilupakan sampai kapan pun olehnya.

Bayangkan, orang yang mengasuh dirinya sejak kecil, bahkan yang mendidiknya dengan berbagai ilmu kedigjayaan saat dia beranjak dewasa, kini sudah tiada.

Ki Sudireja memang, meskipun sudah berusia lanjut, namun mati dengan cara yang tidak wajar, yaitu dibunuh beramai-ramai oleh sebuah pasukan asing.

Pragola tidak menyaksikan persis pembunuhan ini.

Tapi menurut orang-orang yang menyaksikan, Ki Sudireja memang dikepung oleh belasan orang asing yang entah datang dari mana.

Kelompok penyerbu itu tidak menampakkan identitas yang khas.

Mereka tidak seperti kaum prajurit sebab hanya mengenakan pakaian orang kebanyakan.

Mereka juga tidak tampak seperti orang Cirebon ataupun Sumedanglarang.

Namun yang jelas, kepandaian belasan pengepung itu amat tinggi.

Sepandai apa pun ilmu berkelahi Ki Sudireja, bila dikepung oleh orang-orang yang rata-rata berkepandaian tinggi, tidak mungkin dirinya bisa menang.

Jangankan mencapai kemenangan, hanya sekadar untuk meloloskan diri saja sudah tidak bisa.

Inilah yang membuat Pragola penasaran.

Sebagai murid yang sejak kecil dididik ilmu keperwiraan, mati dalam pertempuran adalah biasa.

Tapi yang membuat hatinya tidak dapat menerima adalah karena kekalahan gurunya diakibatkan oleh suatu kelicikan.

"Sebagai lelaki sejati engkau harus bersifat ksatria, kalau pada suatu saat engkau harus berkelahi, maka berkelahilah dengan adil dan jujur!" kata Ki Sudireja di saat melatih kedigjayaan.

Petuah ini tertanam erat di hati sanubarinya.

Sampai ketika Pragola melebarkan sayap pengalamannya, petuah ini tidak pernah terabaikan.

Kalaupun pada suatu saat dia harus berhadapan dengan orang lain sebagai lawan, Pragola selalu memilih-milih.

Dia berani menentang lawan yang tingkat kepandaiannya ada di atas dirinya dan akan lebih bersyukur apabila kepandaian lawan seimbang dengan dirinya.

Tapi sebaliknya, Pragola tidak pernah mau berhadapan dengan lawan yang tingkat kepandaiannya di bawah dirinya.

Dia tidak mau mengambil keuntungan dari posisi seperti itu.

Bagi dirinya, letak kehormatan seorang lelaki bukan dari hasil menundukkan orang yang kemampuannya ada di bawah dirinya.

Bila ada orang melakukan kekeliruan, Pragola tidak pernah menegurnya dengan kekerasan seandainya yang dihadapinya hanya orang-orang biasa.

Dia tidak pernah menjadikan kepandaian sebagai alat untuk menakut-nakuti.

Jadi, ketika mendengar gurunya tewas karena pengeroyokan, Pragola menilainya sebagai suatu hal yang tidak adil.

Pemuda ini merasa penasaran.

Itulah sebabnya Pragola hari ini berada di Pakuan.

Sejenak semua orang termangu-mangu ketika Paman Manggala selesai menceritakan kisah ini.

Pragola masih tetap menunduk dan Pangeran Yudakara serta Perwira Jaya Sasana bersedekap di dada.

Kecuali Perwira Goparana yang melirik tajam ke arah Pragola.

"Hati-hati, anak muda. Kalaupun engkau bersedia ikut dalam misi ini, tetapi jangan kau jadikan gerakan kita ini sebagai ajang untuk pemuas balas dendam. Ini adalah perjuangan. Dan tidak ada urusan pribadi di sini. Dalam agamaku, tabu melakukan peperangan dengan dada bersimbah dendam!" kata Perwira Goparana mengingatkan dengan suara tegas.

Pragola masih menundukkan wajahnya.

"Sepuluh tahun silam, Cirebon mengutus ksatrianya untuk menyusup ke Pakuan. Dia sudah hampir berhasil mengemban misi dalam upaya melemahkan sendi-sendi kekuatan di pusat istana. Sayang sekali, ksatria yang masih muda itu terperosok ke dalam urusan pribadi. Dia mendendam Sang Prabu Ratu Sakti karena urusan cinta," kata Perwira Goparana.

"Mungkin yang dimaksud olehmu adalah Raden Purbajaya. Sepuluh tahun lalu memang ada peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Ratu Sakti."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment