Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 05

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 05

"Peristiwa ini hampir melibatkan Bangsawan Yogascitra," gumam Pangeran Yudakara.

"Peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Raja sebetulnya di luar perintah Cirebon."

"Namun apa pun kenyataannya, tindakan Purbajaya waktu itu bisa membantu usaha-usaha kita. Paling tidak, dengan adanya peristiwa itu, telah terjadi bentrokan dan saling curiga di antara pejabat dan bangsawan Pakuan," tutur Pangeran Yudakara seperti bicara pada diri sendiri.

"Namun harus diingat, Pangeran, tujuan Cirebon menyusupkan orang-orangnya ke pusat pemerintahan Pajajaran bukan sekadar ingin mengadu domba dan membuat kekacauan di Pakuan. Tujuan Cirebon adalah menginginkan Pajajaran benar-benar menjadi negara besar dengan landasan kepercayaan dan keyakinan agama baru," giliran Perwira Jaya Sasana yang berbicara, padahal sejak tadi lelaki setengah baya ini hanya mengatupkan bibir saja.

Perwira Goparana mula-mula termenung mendengar perkataan rekannya ini, namun pada akhirnya mengangguk juga sebagai tanda membenarkan pendapat Perwira Jaya Sasana.

Mereka bertiga berbincang-bincang sebentar. Sesudahnya, kembali menatap Pragola.

"Sudah sejauh mana pengetahuanmu tentang Dayo Pakuan beserta tugasmu nanti, anak muda?" tanya Perwira Goparana.

Pemuda itu tidak menjawab, melainkan menoleh kepada Paman Manggala. "Sudah saya beri sedikit pengetahuan. Tapi alangkah baiknya bila Juragan sendiri yang memberi pengarahannya?" tutur Paman Manggala dengan hormat.

Suasana hening sejenak. Perwira Goparana menyaksikan seekor nyamuk yang mendekati api pelita. Nyamuk itu terbang mengelilingi cahaya pelita, lalu menyambar-nyambar lidah api. Keberaniannya kurang perhitungan. Suatu saat, tubuhnya hangus menabrak lidah api pelita.

Perwira Goparana tersenyum melecehkan saat melihat tubuh nyamuk yang sedikit gosong itu jatuh tak berarti di atas tikar pandan. "Syarat utama memasuki Pakuan bukan keberanian, melainkan kehati-hatian," gumam Perwira Goparana tanpa menatap siapa pun. "Dan engkau, anak muda, engkau hanya bisa berhasil ikut misi ini bila sanggup bertindak hati-hati," sambungnya sambil mulai menatap Pragola.

"Seusai pergantian pucuk pimpinan dari Sang Prabu Ratu Sakti kepada Sang Lumahing Majaya, ada beberapa perubahan situasi di Pakuan. Dulu, zaman Ratu Sakti, suasana di dalam istana seperti api dalam sekam. Sesama pejabat saling curiga, bahkan saling bermusuhan dan menjelek-jelekkan. Akibat situasi ini, mereka lengah terhadap gerakan penyusupan. Namun kini keadaan sudah berbeda. Sang Lumahing Majaya bukanlah orang berperangai keras. Kendati bukan pemarah dan pendendam, dia adalah Raja yang amat berhati-hati. Barangkali rasa hati-hati ini terbentuk karena peristiwa yang menyertainya. Kekacauan dan pertempuran yang beberapa kali terjadi di wilayah Pakuan berlangsung karena adanya tindak penyusupan dan pengkhianatan. Maka, bercermin dari peristiwa ini, semua pejabat dan perwira di Pakuan amat berhati-hati dalam menerima kedatangan orang dari luar. Wilayah-wilayah kandagalante seperti Tanjungpura, Muaraberes, Tanjungbarat, kendati masih di bawah kekuasaan Pakuan, penguasanya sudah menaruh kecurigaan lain. Apalagi terhadap wilayah Sagaraherang. Bahwa sepuluh tahun lalu wilayah ini menjadi pusat pengendali penyerbuan ke Pakuan, masih menjadi mimpi buruk yang tak mau mereka lupakan. Itulah sebabnya, dalam upaya penyusupan ini, engkau harus bertindak hati-hati," kata Perwira Goparana panjang lebar.

Pragola mengangguk-angguk kecil beberapa kali sebagai tanda maklum akan penjelasan ini. Setelah merenung sejenak, pemuda bermata bulat binar itu mengemukakan pendapatnya. "Ampun beribu ampun Juragan, bila apa yang ingin saya kemukakan ini tak berkenan di hati," tuturnya menyembah dan menunduk.

"Sampaikanlah apa yang menjadi pikiranmu, anak muda. Sebab lebih banyak pendapat yang masuk akan lebih bagus," kata Perwira Jaya Sasana menatap pemuda itu. "Katakanlah, anak muda!" kata Perwira Goparana pendek.

Pragola mulai berani menyampaikan pendapatnya. "Juragan, dalam upaya merebut Pakuan dari penguasa sekarang, apakah tidak lebih baik kita jalankan dengan perilaku yang jujur? Kita ingin mengubah Pajajaran ke arah sesuatu yang lebih baik. Jadi, upayakanlah maksud-maksud seperti itu dengan tata cara yang baik dan jujur pula. Gerakan menyusup hanya punya arti bahwa kita bekerja dengan bersembunyi, berpura-pura, dan berlaku tidak jujur. Padahal untuk menampilkan kebenaran yang kita miliki, segala tindakan yang berani dan penuh kejujuran harus kita kedepankan agar mereka yakin dan percaya akan maksud-maksud kita," kata Pragola tegas.

Mendengar ucapan ini, wajah Paman Manggala tampak pucat pasi. Serta-merta dengkulnya dia benturkan ke arah dengkul pemuda itu yang sama-sama duduk bersila. Rupanya Pragola pun tahu bahwa Paman Manggala menegurnya. Buktinya, pemuda itu menoleh padanya dengan wajah agak memerah karena jengah. Untung saja ketiga pejabat itu tidak merasa heran atau marah akan ucapan pemuda itu. Perwira Goparana malah hanya terkekeh kecil setelah menyimak pendapat seperti itu.

"Engkau masih hijau, anak muda. Dan kejujuran yang engkau patuhi hanyalah kejujuran kaku semata," ujar Perwira Goparana.

Pragola mengernyitkan dahinya, merasa bingung akan koreksi dari pejabat ini. "Ketahuilah, anak muda, yang namanya kejujuran, dalam suasana perang bisa diterjemahkan secara luas. Begitu pun apa yang kita kenal sebagai kelicikan. Sementara orang bahkan mengatakan bahwa kejujuran dan kelicikan sudah berbaur, sebab yang ada hanyalah sesuatu yang bernama siasat. Siasat adalah gerakan yang harus disembunyikan terhadap musuh. Jadi, bila kita sekarang melakukan gerakan penyusupan, itu bukan penyerbuan yang dikemas dengan ketidakjujuran, melainkan sebuah siasat untuk mencapai kemenangan," tutur Perwira Goparana.

Pragola belum mengiyakan atau menolak pendapat ini. Ia hanya menundukkan wajahnya seperti menatap tikar pandan di bawahnya. Perwira Goparana rupanya memakluminya bahwa pemuda itu belum puas atas kesimpulan ini. "Baik, kau dengarkanlah penjelasanku ini, anak muda," ujar Perwira berkulit hitam itu. "Pajajaran, kendati kerapkali diguncang pemberontakan, adalah negara yang tetap setia terhadap agama lama dan masih memiliki ketangguhan militer. Dulu, lebih dari tiga puluh tahun lalu, ketika Pakuan diperintah Sang Prabu Ratu Dewata, Dayo (ibukota negeri) diserbu oleh pasukan dari Banten yang dikirim secara tidak resmi. Ini adalah pertama kalinya kekuatan pasukan agama baru menyerbu sampai ke wilayah pusat pemerintahan. Kalau gerakan ini dilakukan secara terbuka, tak mungkin berhasil karena pertahanan di Pakuan amat tangguh dan berlapis-lapis. Hanya karena siasat penyusupan dan pengkhianatan dari dalam saja Pakuan bisa ditembus. Itu pun hanya sampai ke alun-alun benteng luar. Sebab untuk mencapai benteng dalam, apalagi ke kompleks istana Sri Bima Untarayana Madura Suradipati (tempat tinggal Raja dan keluarganya), tetap kami tidak sanggup. Itulah tandanya Pajajaran masih tetap tangguh," kata Perwira Goparana. "Kita tidak sanggup berperang dengan kejujuran yang kaku, sebab kejujuran yang kaku artinya berperang tanpa siasat," sambungnya lagi.

Pragola mendengarkan perkataan dan pendapat pejabat ini sambil tetap menundukkan kepala. Perwira Goparana rupanya tidak mau lagi memperbincangkan perkara ini. Ia lebih menitikberatkan pada pengarahan dan petunjuk untuk Pragola. Perwira ini menerangkan situasi Pakuan akhir-akhir ini. Menurutnya, kendati tindakan penyusupan ke istana tidak semudah dulu, inilah saat terbaik bagi mereka untuk kembali memasuki pusat pemerintahan Pakuan. Hal ini memungkinkan sebab di kalangan pejabat istana tengah terjadi lagi beberapa pertikaian dan perbedaan pendapat.

"Seperti sudah diketahui pihak kita, perangai Ratu Pakuan yang memerintah sekarang kurang suka melakukan kekerasan. Raja yang usianya masih cukup muda ini seperti menuruni perangai kakeknya, yaitu Sang Prabu Ratu Dewata. Sang Lumahing Majaya lebih senang tinggal di kuil untuk memperdalam agama lama. Dia lebih percaya bahwa agama yang dipeluknya benar-benar bisa menjamin keselamatan. Agamanya dipercaya bisa menolak bala, termasuk bahaya kedatangan musuh. Dia berkilah, musuh tidak akan datang menyerang selama mereka tidak menampakkan sikap permusuhan kepada pihak lain. Sikap Raja Pajajaran seperti ini sebetulnya akan amat menguntungkan kita apabila para pembantunya tidak bersikap lain. Para perwira bahkan penasihat Raja punya pendapat lain. Mereka pada umumnya punya kekhawatiran besar akan pendapat rajanya ini. Menurut para perwira, Raja terlalu terlena dalam kehidupan keagamaan tanpa melihat kenyataan politik kenegaraan. Padahal menurut para perwiranya, Pajajaran sekarang akan kembali menghadapi bahaya musuh dari luar bila mereka terlena dan tidak mau memperkokoh pertahanan militer. Secara diam-diam, Pangeran Yogascitra sebagai penasihat Raja beserta beberapa perwira bertekad memperkuat militer kendati Raja kurang setuju. Mereka akan mencoba menghimpun kekuatan dengan cara mengumpulkan kembali tokoh-tokoh penting yang dianggap punya kekuatan. Pangeran Yogascitra sekarang berupaya mencari tokoh-tokoh yang dulu terkenal tapi kini menghilang dari percaturan. Dari sejumlah tokoh yang mereka harapkan, disebut-sebut nama Ki Darma Tunggara, Ki Rangga Guna, dan murid mereka yang bernama Ginggi. Inilah salah satu tugas kita, yaitu menghadang usaha mereka dalam upaya menghimpun kekuatan. Kekuatan Pakuan harus diusahakan lemah seiring lemahnya pucuk pimpinan mereka."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment