Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 07

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 07

Pragola cepat menduga, bangsawan yang berpakaian beludru hitam gaya bedahan lima yang hampir seluruh pinggiran bajunya dihiasi keliman emas itu tentulah Pangeran Yogascitra, penasihat Ratu Pakuan.

Bangsawan itu pasti usianya sudah amat lanjut.

Melihat sepasang pipinya yang tampak dalam serta alis tebal berwarna putih mulus, Pragola menaksir, barangkali pejabat tinggi ini usianya lebih dari tujuh puluh tahun.

Namun yang pemuda itu kagumi, kendati usianya pasti sudah demikian tinggi, bangsawan tua itu masih tampak gagah.

Kulit wajahnya putih agak kemerahan dan hanya sedikit keriput yang mengganggu dahinya.

Tubuhnya masih sanggup tegak ketika duduk di kursi kayu jati itu.

Jadi, kendati kursi itu memakai sandaran, namun orang tua itu tidak memanfaatkannya untuk menyandarkan punggungnya yang tidak terlihat bungkuk karena usia tua.

Kepalanya pun mendongak berwibawa namun jauh dari kesan angkuh.

Gagah sekali manakala dia mengangguk-angguk ketika Pragola menghormat rengkuh.

Ornamen warna emas yang menghiasi iket sawit (jenis ikat kepala namun jauh lebih rapi ketimbang iket orang kebanyakan) yang digunakan bangsawan itu tampak berkelap-kelip karena pantulan cahaya.

Semua orang yang hadir di paseban sama-sama menoleh ke arah beranda untuk melihat siapa yang datang.

Mereka menatap Pragola dengan penuh saksama.

"Diakah punggawa muda itu, Yuda?" terdengar pangeran tua itu mengajukan pertanyaan kepada Pangeran Yudakara.

Amat perlahan suaranya.

Namun karena semua orang sama-sama memperhatikan Pragola tanpa bersuara, maka suara halus yang keluar dari mulut pangeran tua itu terdengar nyata.

"Benar Pamanda, dialah Punggawa Pragola yang saya ceritakan tempo hari itu," jawab Pangeran Yudakara.

Semua hadirin tampak lebih memperhatikan Pragola manakala namanya dikenalkan.

"Duduklah punggawa muda," kata pangeran tua itu.

Pragola segera duduk bersila.

Tidak di atas hamparan permadani, melainkan hanya di atas lantai papan jati saja.

Dan kalaupun dia duduk dalam deretan para ksatria, namun hanya mengambil posisi paling ujung saja.

Dia sadar, kedudukannya di sini paling rendah bila dibandingkan dengan para ksatria yang tampak gagah dan berwibawa itu.

Pragola duduk bersila dengan berupaya bersikap tenang.

Padahal ada ketegangan yang luar biasa di hatinya.

Betapa tidak, inilah pertama kalinya dia menginjak kompleks Pakuan.

Inilah pertama kalinya dia berhadapan dengan orang-orang penting Pakuan.

Hatinya berkecamuk dan penuh pertentangan.

Jauh sebelum dia berhadapan dengan Pangeran Yogascitra, dia sudah mendapatkan berita mengenai keberadaan orang ini dengan berbagai pendapat dan penafsiran.

Di wilayah Kacutakan Caringin atau Waringin di mana dia tinggal, hampir semua orang bersepakat bahwa negeri yang bernama Pajajaran harus dimusnahkan sebab banyak pejabatnya melakukan penyelewengan hidup.

Mereka kerjanya bersenang-senang sedangkan di lain pihak rakyat penuh derita.

Buktinya, ketika rakyat Kacutakan Waringin ingin melepaskan diri dari Pajajaran dan berniat menggabungkan diri dengan Cirebon, Pakuan marah dan mengirimkan pasukan.

Kacutakan Waringin porak-poranda digempur pasukan dari Pakuan.

Cutak Wirajaya, ayahanda Pragola memang tidak tewas secara langsung dalam peristiwa penyerbuan ini, namun tetap saja kematiannya diakibatkan oleh penyerbuan orang-orang Pakuan.

Penduduk Kacutakan Waringin membenci Pakuan.

Itulah sebabnya, banyak penduduk mengabdi menjadi prajurit Cirebon dan akan senang bila ditugaskan menyerbu wilayah-wilayah Pakuan.

Menurut Paman Manggala, untuk menundukkan Pakuan harus sanggup melenyapkan orang-orang kuat yang berdiri di sana.

Pangeran Yogascitra disebut-sebut sebagai orang kuat di Pakuan.

Dan kalau mendengar banyak pejabat Pakuan yang selalu berbuat kejahatan hidup, tidakkah Pangeran Yogascitra ini pun sebenarnya orang jahat belaka?" "Banyak orang jahat bersembunyi pada wajah damai dan penuh welas asih," kata Paman Manggala suatu ketika.

Kalau ucapan ini benar, Pragola pun harus berani melenyapkannya.

"Kau sampaikan kembali hormatmu kepada Pangeran Yogascitra, Pragola," kata Pangeran Yudakara memerintah.

Untuk kedua kalinya Pragola memberi hormat lagi.

Sesudah hormat dia sampaikan kepada Pangeran Yogascitra, dia pun segera menyembah kepada semua yang hadir di situ.

Selintas dia memang sudah menduga bahwa beberapa orang yang hadir di sana merupakan orang-orang penting semua.

Ini melihat dari penampilan dan usia mereka.

Rata-rata berusia di atas lima puluhan tahun, kecuali ada seorang pemuda dewasa yang Pragola taksir usianya sekitar dua puluh tujuh atau mungkin lebih satu atau dua tahun.

Namun karena pemuda yang berpakaian baju kurung hitam tipis berlapis kampret warna biru tua dari jenis kain halus itu ada di antara mereka, Pragola menduga, pemuda tampan berkulit halus dengan kumis tipis itu tentu termasuk orang penting juga.

Mereka saling berpandangan sejenak.

Tapi Pragola lebih dahulu menundukkan muka sebab sorot mata pemuda itu tajam berwibawa.

"Puji syukur harus kita sampaikan kepada Hyang karena punggawa setia ini telah berhasil tiba di Pakuan dengan selamat.

Padahal untuk berusaha menyampaikan berita penting ini dia pasti banyak menemukan rintangan dan marabahaya," tutur Pangeran Yogascitra.

Pragola menunduk menyembunyikan wajahnya ketika pangeran bersuara halus itu berkata demikian.

Pragola tidak tahu persis, apa-apa saja yang tengah dibicarakan dalam pertemuan ini.

Namun kendati tidak lengkap dia dengar, beberapa bagian dari percakapan mereka ternyata perihal situasi negara dewasa ini.

Pangeran Yogascitra mengemukakan bahwa waktu-waktu belakangan ini boleh dikata negara ada dalam situasi rawan.

Penyebabnya ada beberapa hal.

Pertama, suasana ekonomi negara semakin tidak menentu sesudah puluhan tahun lamanya Pakuan tak bisa melakukan hubungan dagang dengan negara lain.

Hal kedua, sendi-sendi kekuatan negara berhaluan agama baru semakin hari semakin kuat.

Pajajaran kini semakin terjepit di pedalaman.

Wilayah timur dan utara sudah dikuasai oleh Demak dan Cirebon.

Kemudian sebelah barat, kekuatan Banten semakin merebak juga.

Pangeran Yogascitra amat khawatir, di saat-saat kekuatan musuh semakin nyata, keberadaan Pajajaran sendiri malah cenderung melemah.

Luka-luka di tubuh negara akibat pemberontakan yang dilakukan negara-negara kecil yang ingin memisahkan diri dari Pakuan hingga kini masih belum sembuh.

Akibat sering memerangi pemberontak, terjadi beberapa kemunduran di sektor militer.

Militer Pajajaran sudah tak sekuat dulu.

Membangun kekuatan militer memerlukan dana yang besar.

Tapi kini negara sudah tak memiliki dana yang besar lagi mengingat terbatasnya perdagangan antarnegara.

Selain itu, dari peperangan berkali-kali, menyebabkan negara banyak kehilangan orang-orang pandai.

Benar, bahwa hingga saat ini, Pajajaran masih memiliki puluhan ribu prajurit.

Benar juga bila orang mengatakan bahwa seribu perwira pengawal Raja hingga kini jumlahnya tiada berkurang.

Namun, jumlah seribu orang antara hari ini dengan kemarin kualitasnya sudah jauh berbeda.

Pakuan sudah banyak ditinggalkan perwira tangguh.

Kalaupun tidak gugur dalam peperangan, mereka berhenti karena tua, sedangkan penggantinya tidak setangguh yang digantikannya.

Perwira-perwira baru masuk ke dalam kelompok seribu itu bukan karena kualitasnya, melainkan karena untuk mengisi kekosongan jumlah saja.

Ini yang memprihatinkan Pangeran Yogascitra.

"Saya khawatir akan kekuatan dari barat.

Puluhan tahun silam saat Pakuan diperintah oleh Sang Prabu Ratu Dewata, kendati tidak mengatasnamakan secara resmi, namun Banten berhasil menyerbu Pakuan.

Kini kekuatan mereka semakin meningkat dan kita sebaliknya semakin melemah.

Saya khawatir situasi buruk yang melanda negeri ini merupakan peluang yang baik bagi mereka.

Saya khawatir, suatu saat mereka melakukan penyerbuan lagi yang barangkali lebih dahsyat dari penyerbuan puluhan tahun silam," kata Pangeran Yogascitra.

Suasana amat hening manakala pangeran tua itu selesai mengemukakan isi pikirannya, sehingga saking heningnya, suara kokok ayam jantan jauh di hamparan padang rumput terdengar nyata.

"Bagaimana upaya Sang Prabu dalam menghadapi keadaan seperti ini?" tanya seorang pejabat berkumis tebal bermata bulat yang duduk bersila di samping pemuda tampan.

Terlihat Pangeran Yogascitra menghela napas panjang.

"Susah mengatakannya," desis Pangeran Yogascitra setengah mengeluh, membuat suasana kembali hening.

Namun pada akhirnya, pangeran tua ini berbicara juga.

Dan tampaknya Pangeran Yogascitra amat menyesalkan kebijaksanaan Sang Prabu dalam menanggapi situasi politik negara dewasa ini.

"Saya sebetulnya amat menghargai kebijaksanaan beliau yang ingin kembali memperkuat sendi-sendi pemerintahan dengan tonggak agama leluhur.

Menurut beliau, kekuasaan Cirebon dan Banten semakin menghimpit Pakuan dengan terapan agama baru.

Maka tak ada jalan penangkalnya selain kita lebih memperkuat keyakinan agama lama yang sudah sejak ratusan tahun dihargai oleh para leluhur kita.

Sang Prabu bersama Purohita Ragasuci (Pendeta Agung) lebih sering berada di kuil ketimbang di istana.

Beliau terlalu tenggelam untuk memperdalam agama, sebab menurut hematnya, hanya dengan keyakinan yang kuat saja maka propaganda agama baru akan bisa tertolak," ujar Pangeran Yogascitra.

"Tapi Pamanda, saya menganggap bahwa serbuan negara agama baru ke Pakuan tidak semata untuk menyebarkan agama, melainkan karena ingin memperluas kekuasaan semata.

Puluhan tahun silam tujuh pelabuhan penting milik Pajajaran direbut mereka dengan alasan mencegah Pajajaran yang semakin aktif melakukan hubungan dagang dengan bangsa-bangsa asing.

Terutama Portugis.

Namun belakangan, setelah semua pelabuhan dagang direbut, malah merekalah yang menggantikan kedudukan Pakuan dalam melakukan hubungan dagang dengan bangsa asing.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment