Chapter 08
Jadi, kalau menilik hal-hal seperti ini, negara agama baru memerangi Pajajaran bukan karena agama, melainkan karena rebutan kekuasaan semata.
"Dan apabila pendapat saya ini benar, maka percuma mempertahankan dengan cara memperkuat dan memperdalam agama buhun kita, sebab belum tentu berhasil dengan baik," kata seorang pejabat yang Pragola tidak tahu siapa.
"Benar belaka, Ayahanda, menangkal datangnya musuh bukan dengan mantra atau jampi-jampi, melainkan harus dengan kekuatan militer pula, seperti apa yang mereka lakukan terhadap kita," sambut pemuda tampan berkumis tipis yang bersila tegak di jajaran para ksatria.
Pragola baru mengetahuinya bahwa pemuda yang barangkali usianya sepuluh tahun di atasnya itu adalah putra Pangeran Yogascitra.
Pragola menyaksikan, betapa alis pangeran tua itu sedikit berkerut ketika mendengar pendapat-pendapat ini.
"Sang Prabu kurang setuju bila kita harus terus-menerus mengeluarkan dana besar untuk kepentingan angkatan perang.
Menurut beliau, sudah banyak dana yang dihambur-hamburkan hanya untuk kepentingan perang.
Selain itu, Sang Prabu pun menganggap bahwa perang juga banyak menyengsarakan rakyat.
Korban jiwa berjatuhan dan usaha perdagangan serta pertanian terhambat.
Saya juga membenarkan pendapat seperti ini.
Tetapi, begitulah seperti apa yang dikatakan tadi, bila militer tidak kita perkuat kembali, maka bahaya datangnya musuh akan semakin mengancam," kata Pangeran Yogascitra akhirnya.
"Bila Pamanda saja sebagai penasihat sudah tidak sanggup meyakinkan Sang Prabu, bagaimana mungkin dengan kami?" kata pejabat lainnya.
Pangeran tua itu terdiam sejenak.
Dia tampak menunduk dan sedikit memejamkan kedua belah matanya.
"Kita akan tanggulangi sendiri.
Secara diam-diam akan saya usahakan menghimpun kekuatan," ujar Pangeran Yogascitra hampir-hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Bagaimana caranya?" tanya yang lain.
"Banyak orang pandai tidak tergabung dalam kekuatan istana, tetapi mereka orang-orang yang amat setia kepada keberadaan Pajajaran.
Saya akan mengimbau mereka untuk mau bergabung dengan kita," tutur Pangeran Yogascitra.
"Berilah contoh, siapa mereka?" sambut seorang pejabat.
"Kalian tentu ingat tentang pemuda Ginggi, murid Ki Darma?" tanya Pangeran Yogascitra melirik kepada si penanya.
"Tetapi Ayahanda, saudara Ginggi tampaknya sudah tidak tertarik kepada urusan politik.
Sudah hampir sepuluh tahun namanya tenggelam begitu saja.
Ini hanya menandakan bahwa dia ingin menjauhkan diri dari kemelut politik.
Sedangkan yang berperilaku seperti dia bukan hanya satu atau dua saja.
Beberapa perwira pandai yang dulu menjadi andalan Pakuan, mengundurkan diri dari kegiatan kenegaraan karena merasa jemu dengan berbagai pertikaian politik.
Bisakah mereka kita rangkul kembali?" tanya pemuda putra Pangeran tua itu.
"Mereka mungkin jemu karena jabatan dan berbagai kemelut istana, tetapi tidak berarti melepaskan rasa cinta terhadap negara.
Kalau kita imbau bahwa negara ada dalam keadaan bahaya, maka diharapkan mereka mau menoleh kembali," kata Pangeran Yogascitra.
"Bagaimana caranya mencari dan mengumpulkan mereka?" tanya yang lain.
"Itulah sebabnya kita berkumpul di sini hari ini.
Kebetulan datang seorang punggawa muda dari wilayah Sagaraherang.
Menurut Pangeran Yudakara, punggawa muda ini membawa berita dari wilayah timur.
Berita ini penting, kendati kita belum tahu, apakah yang dibawa punggawa muda ini berita yang menggembirakan atau kebalikannya," tutur Pangeran Yogascitra sambil menatap tajam kepada Pragola.
"Pragola, kabarkanlah segera, apa yang kau dapatkan di wilayah timur?" kata Pangeran Yudakara.
Berdebar hati pemuda ini.
Ini adalah tugas pertama yang dibebankan negara agama baru.
Kalau Pragola mulai bicara, sebenarnya ini adalah kebohongan, sesuatu yang dia tidak menyukainya.
Namun kata Pangeran Yudakara tadi malam, kebohongan adalah bagian dari sesuatu bernama taktik dalam upaya memenangkan sesuatu.
"Kebohongan untuk sesuatu kebaikan, bukanlah dosa," ujar Pangeran Yudakara menegaskan.
Menurut Pangeran Yudakara, kekuatan negara agama baru memang selalu menggempur Pajajaran.
Sebetulnya bukan untuk menghancurkan Pajajaran, melainkan untuk mencoba mengubah suatu tatanan yang lebih baik lagi.
"Akan lebih baik lagi bila tatanan Pajajaran disempurnakan melalui perilaku kehidupan agama baru," kata Pangeran Yudakara.
"Penguasa Pakuan puluhan tahun silam telah mengundang kekuatan asing yang perilaku dan sikap hidupnya amat berlainan dengan kita.
Itulah sebabnya, penguasa negara baru dari wilayah timur mencoba menggagalkan persekutuan antara Pajajaran dengan kekuatan asing tersebut," sambung Pangeran Yudakara tadi malam.
Akan tetapi, permusuhan terus berlanjut kendati kekuasaan asing telah pergi.
Sanggupkah Pragola menyetujui hal-hal seperti ini?
"Pragola, kemukakanlah apa yang telah kau alami di wilayah timur," kata Pangeran Yudakara mengulang perintahnya, membuat Pragola terperanjat.
Dengan dada berdebar, Pragola menyembah takzim.
Suasana hening sebab sepertinya semua orang ingin menyimak laporan Pragola dengan saksama.
Hampir semua orang bahkan menatap pemuda itu.
Pragola menahan napas sebentar, kemudian mulai berkata.
Tidak terlalu nyaring, namun cukup didengar dengan baik oleh semua yang hadir.
"Saya ingin melaporkan perjalanan saya ketika berada di wilayah Karatuan Talaga," kata Pragola.
Lalu pemuda itu berkisah, bahwa ketika dia ada di Karatuan Talaga, pemuda ini sempat melakukan perjalanan di dusun-dusun sekitar lereng Gunung Cakrabuana.
Menurut pengamatannya, wilayah lereng barat Gunung Cakrabuana sepertinya dijaga ketat oleh pasukan gabungan dari Talaga dan Cirebon.
"Pragola mencari tahu, mengapa ada penjagaan khusus di sekitar itu, sepertinya di sana ada sesuatu yang harus mereka amati." "Apa jawab mereka, anak muda?" tanya seorang pejabat tua dengan mimik tidak sabar.
Sebelum menjawab, Pragola menelan ludah dulu.
Sesudah itu pemuda itu melirik ke arah Pangeran Yudakara seolah meminta pendapat.
"Terangkanlah Pragola dengan sejelasnya," kata Pangeran Yudakara.
"Salah seorang prajurit Karatuan Talaga berkata bahwa sudah lebih dari lima tahun berselang ini wilayah tersebut memang selalu dijaga ketat," kata Pragola.
"Ya, karena apa?" tanya sang pejabat tua lagi mendesak.
"Karena ada yang harus dicegat," tutur Pragola.
"Ada yang harus dicegat?" tanya yang lain mengerutkan dahi.
"Kata para prajurit Talaga, mereka tengah mencegat kalau-kalau belasan perwira Pakuan yang ada di puncak pada suatu saat turun gunung," sambung Pragola lagi.
Ketika penjelasan ini dikemukakan Pragola, macam-macam tingkah dan penampilan para penyimak itu.
Ada yang tampak mengerutkan alis, ada yang terpana dan ada juga yang terhenyak bagaikan merasa kaget.
"Kalau begitu benar perkiraan kita, bahwa belasan perwira yang belasan tahun silam ditugaskan oleh Pakuan untuk menuju ke wilayah timur hingga kini masih hidup," tutur seorang pejabat menatap ke arah Pangeran Yogascitra.
Tampak Pangeran tua itu termenung.
Alisnya berkerut dan kedua matanya semakin dalam.
Dia menunduk dan berpangku tangan lama sekali.
Seolah-olah dia termenung seorang diri di tempat yang sepi.
"Ketika zaman Prabu Ratu Sakti, kami pernah mempertanyakan hal ini.
Kami pun mengusulkan agar belasan perwira yang tidak pernah kembali itu segera diselidiki dengan mengirim kembali rombongan perwira kedua, mengapa hal itu tidak pernah terperhatikan?" tanya pejabat yang lain.
Semua orang menatap ke arah Pangeran Yogascitra, seolah semua orang meminta pertanggungjawaban kepada pejabat itu.
"Sepuluh tahun silam hal ini pernah menjadi perbincangan hangat.
Banyak perwira kerajaan mengusulkan agar belasan rekannya yang tidak pernah kembali harus segera dicari dan diselidiki, namun Sang Prabu ketika itu menolak," tutur Pangeran Yogascitra.
"Mengapa menolak?" tanya hadirin.
"Entahlah.
Tetapi waktu itu saya pun setuju dengan penolakan Sang Prabu." "Mengapa?" tanya hadirin dengan nada heran dan tidak puas.
"Waktu itu beberapa perwira kerajaan yang setia terhadap negara memang mengusulkan seperti itu.
Namun saya pun mencurigai, ada kelompok lain yang ikut membonceng pada usul seperti ini tetapi untuk kepentingan mereka sendiri," tutur Pangeran Yogascitra. "Kalian tentu tahu, suasana ketika itu terasa panas.
Istana telah dipenuhi pemberontak.
Barangkali benar, perwira setia mengusulkan agar dikirim rombongan kedua untuk mencari jejak rekan-rekannya yang hilang dengan niat yang wajar.
Namun usulan yang dikeluarkan oleh kelompok pengkhianat cenderung untuk keuntungan mereka.
Mereka tengah mempersiapkan sebuah pemberontakan besar, agar pemberontakan mereka berhasil, kekuatan di Pakuan harus dikurangi.
Waktu itu pejabat-pejabat kepercayaan Sang Prabu Ratu Sakti tetapi yang sebetulnya pengkhianat, mengusulkan perwira-perwira setia dan terbaik untuk ditugaskan ke wilayah timur dalam mencari rekan-rekan yang hilang.
Ini mencurigakan.
Kami menduga, para pemberontak akan menyerang Pakuan di saat para perwira setia tidak ada di istana.
Itulah sebabnya saya tidak setuju Raja menugaskan perwira-perwira lainnya.
Bersama Ksatria Ginggi kami mengatur siasat, seolah-olah Pakuan jadi mengirimkan pasukan ke wilayah timur.
Apakah mereka tahu siasat ini atau tidak, tidak jelas.
Namun yang pasti, peristiwa besar telah terjadi.
Mereka melakukan pemberontakan.
Ada ratusan pasukan yang datang dari wilayah timur menyerbu Pakuan, untung dapat dipatahkan," kata Pangeran Yogascitra.
Pragola menunduk ketika mendengar cerita ini.
Bagi orang Pakuan, pasukan dari timur itu adalah pemberontak dan kini orang-orang yang masih hidup dikejar-kejar seperti penjahat.
Namun bagi Pragola, mereka adalah pahlawan.
Ki Sudirela, gurunya, bukanlah penjahat, melainkan pahlawan.
Dia tewas karena membela sesuatu yang besar yang erat kaitannya dengan penentuan nasib sebuah negara.
Mati karena kepentingan negara adalah pahlawan." Pragola terkejut ketika tiba-tiba Pangeran Yogascitra mengajukan pertanyaan.