Chapter 09
"Adakah hal-hal lain yang engkau ketahui, anak muda?" Pragola berpikir untuk menyusun sebuah perkataan sebab pertanyaan ini terlalu banyak memerlukan jawaban.
Dan bila jawabannya salah atau kurang wajar, hanya akan membuat orang lain curiga saja.
"Misalnya, apakah engkau tahu bahwa pasukan Karatuan Talaga atau Cirebon akan melakukan penyerbuan ke puncak?" Pangeran Yogascitra lebih mengarahkan pertanyaannya.
Namun pertanyaan yang isinya lebih jelas ini tetap belum membantu Pragola sebab pemuda ini tak dibekali "pengetahuan" sejauh itu.
"Puncak Cakrabuana masih penuh misteri. Belum ada orang yang berani naik ke sana. Jadi, mereka hanya menjaga lorong-lorong penting saja?" tuturnya sambil melirik ke arah Pangeran Yudakara.
Namun ketika dilihatnya mata pangeran itu mencorong ke arahnya sambil sedikit mengerutkan dahi, buru-buru pemuda itu menambahkan keterangan "baru" lagi, "Tapi mengingat di Puncak Cakrabuana banyak benda pusaka milik Karatuan Talaga, ada juga prajurit yang mengabarkan bahwa pada suatu saat, Puncak Cakrabuana akan diserbu," sambungnya.
Wajah Pangeran Yudakara kembali tenang. Hanya menandakan bahwa ucapan Pragola disetujui pangeran dari Sagaherang ini.
Selesai Pragola memberikan keterangan, semua yang hadir termenung. Pragola merasa bahwa tak berlebihan bila dia bicara seperti itu.
Menurut keterangan Pangeran Yudakara, ketika Karatuan Talaga yang semula ada di bawah Pajajaran masuk menjadi kekuasaan Cirebon, banyak juga para pejabatnya melarikan diri karena tak setuju Talaga memihak Cirebon. Salah seorang perwira bernama Dita Jaya Sasana kabur sambil memboyong beberapa pusaka Karatuan Talaga, di antaranya sebuah tombak bernama Cuntangbarang.
Menurut Pangeran Yudakara, banyak orang mengidam-idamkan benda pusaka tersebut. Dan ketika ada kabar burung bahwa Dita Sasana melarikan benda-benda berharga pusaka ke Puncak Cakrabuana, maka banyak orang mengejarnya.
Hanya entah kenapa, tidak pernah ada seorang pun yang kembali, tidak juga kelima belas perwira Pakuan yang dikirimkan ke sana pada sebelas atau dua belas tahun yang lalu. Pada masa itu, ada musuh negara yang sangat dibenci Sang Prabu Ratu Sakti, yaitu Ki Darma, bekas perwira Pakuan. Ki Darma yang diketahui bersembunyi di Puncak Cakrabuana harus dikejar. Namun bukan karena Ki Darma semata maka lima belas perwira Pakuan dikirim ke timur, melainkan juga karena kehadiran tombak pusaka Cuntangbarang.
Rupanya Prabu Ratu Sakti memperhatikan benda pusaka itu dan ingin memilikinya. Dan mendengar Ki Darma bersembunyi di Puncak Cakrabuana yang diduga memendam tombak pusaka, maka kemarahan Sang Prabu menjadi-jadi. Disangkanya Ki Darma sembunyi di sana sambil mengangkangi benda pusaka juga. Itulah sebabnya, lima belas perwira diutus ke wilayah timur dan ditugaskan menangkap Ki Darma sekalian memboyong benda-benda pusaka. Hanya saja sejauh ini beritanya tak jelas benar. Jangankan berhasil membawa Ki Darma atau memboyong benda pusaka, bahkan nasib kelima belas perwira itu pun sampai saat ini tak diketahui.
Laporan Pragola di paseban ini ternyata menjadi bahan percakapan tiada habis-habisnya. Beberapa pejabat melontarkan gagasan atau bahkan sekadar meminta pendapat Pangeran Yogascitra mengenai nasib belasan perwira itu. Ada juga yang mengusulkan agar Pakuan segera mengirimkan rombongan penolong.
"Sebab saya pikir kedudukan rekan-rekan kita ada dalam bahaya. Belasan tahun menghilang, mungkin karena tak bisa pulang, sebab bila mereka memaksa turun gunung, akan dihadang," tutur seorang pejabat tua.
"Saya juga menyetujui pendapat ini. Dan bila Pangeran sudi mendengarkan jalan pikiran saya, sebaiknya kita mengusulkan kepada Sang Prabu Nilakendra agar sudi mengirimkan rombongan penjemput," tutur Pangeran Yudakara menguatkan usul pejabat lainnya.
Pangeran Yogascitra menoleh, sepertinya ingin mendapatkan alasan rinci mengenai usulan ini.
"Harap Pangeran ingat akan situasi negara, seperti yang Pangeran katakan sendiri, negara berada dalam ambang bahaya mengingat kekuatan negara agama baru dari barat semakin melebar. Bila Sang Prabu didesak melakukan hal ini, sama saja dengan melicinkan keinginan Pangeran sendiri. Bukankah Pamanda Pangeran menginginkan kekuatan di Pakuan bertambah? Nah, dengan kembalinya belasan perwira sakti itu, Pakuan bisa memupuk kekuatannya lagi," tutur Pangeran Yudakara.
Mendengar alasan ini, tampak Pangeran Yogascitra mengangguk-angguk. Pangeran Yudakara tersenyum cerah melihatnya. Dan hanya Pragola yang mengerti betul mengapa Pangeran Yudakara begitu bergembira.
"Saya setuju untuk mengusulkan hal ini, sebab sesuai dengan jalan pikiran saya dalam mengupayakan pulihnya kembali kekuatan Pakuan. Namun tentu saja kita tak boleh sembrono melakukannya. Kita harus punya bukti bahwa lima belas perwira itu benar masih hidup dan kita punya alasan kuat untuk menjemput mereka," ujar Pangeran Yogascitra kemudian.
Selesai pangeran tua itu mengemukakan pendapatnya, tampak ada perubahan di wajah Pangeran Yudakara. Ini pun tentu hanya Pragola saja yang tahu penyebabnya.
"Mengapa harus dibuktikan kembali, sepertinya Pamanda agak menyangsikan kebenaran laporan bawahan saya?" tanya Pangeran Yudakara kemudian.
Pangeran Yogascitra hanya tersenyum ketika didesak pertanyaan ini.
"Ini bukan urusan percaya dan tidaknya. Tetapi keyakinan lebih diperhitungkan daripada mempercayai. Terlalu banyak yang harus kita pertimbangkan. Kita memang butuh kekuatan tambahan. Tetapi tentu kita pun tak ingin kehilangan dua kali. Ingat, mengirimkan pasukan ke wilayah timur adalah mendekati musuh. Pasukan kita dikirim ke sana bukan hanya sekadar mencari orang hilang tetapi kemungkinan menyuruh mereka berperang juga. Inilah yang harus kita pikirkan," ujar Pangeran Yogascitra.
Semua orang mengangguk-angguk membenarkan jalan pikiran Pangeran Yogascitra, kecuali Pangeran Yudakara yang tampak menunduk kendati tidak menampakkan perasaan menentang.
"Benar, kita harus melakukan penelitian sebelumnya. Kalau sudah jelas apa yang sebetulnya terjadi, baru kita mengusulkan kepada Sang Prabu," ujar hadirin.
"Kita harus mengirimkan penyelidik terlebih dahulu," kata yang lain.
"Tepat, kita memang harus mengutus penyelidik," kata Pangeran Yogascitra. "Saya bahkan sudah berpikir untuk mengutus anakku sendiri ke wilayah timur. Yudakara, kalau engkau tak keberatan, saya akan meminta punggawa mudamu untuk menyertai anakku, Banyak Angga," kata Pangeran Yogascitra menoleh kepada Pangeran Yudakara.
Pragola terkejut mendengarnya. Dia diminta untuk menyertai pemuda yang duduk di dekatnya? Tidakkah ini mengacaukan rencana? Bukankah dia dikirim ke Pakuan ini untuk ikut menyelidiki kekuatan di Pakuan? Namun ternyata permintaan ini tak mungkin terbantahkan. Buktinya Pangeran Yudakara tak berani menolaknya.
"Terima kasih, Yudakara. Punggawa muda, siapa namamu tadi?" kata Pangeran Yogascitra menatap Pragola.
"Pragola, Juragan?"
"Atasanmu telah menyetujuinya. Maka sesudah engkau cukup beristirahat, engkau akan melaksanakan tugas baru, yaitu menyertai anakku kembali ke wilayah timur," kata Pangeran Yogascitra. Pragola menyembah takzim.
Banyak Angga, pemuda berkumis tipis yang Pragola taksir usianya sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun tampak melirik dan tersenyum kepadanya. Pragola mengangguk hormat tak kuasa melawan senyum ramah pemuda yang usianya terpaut hampir sepuluh tahun di atas usianya itu.
"Engkau akan menjadi teman seperjalananku, adikku?" desis Banyak Angga pelan.
Merinding bulu kuduk Pragola, namun sekaligus juga ada perasaan malu. Pemuda itu orang Pakuan, termasuk musuh besarnya pula. Tetapi tiada hujan tiada angin, pemuda Pakuan ini berkata "adik" kepadanya. Basa-basinya atau mengemukakan ejekan? Pragola tidak tahu semuanya. Itulah sebabnya bulu kuduknya terasa berdiri.
Sesudah mengikuti pertemuan ini, Pragola malah diminta oleh Pangeran Yogascitra untuk tetap tinggal di purinya. Pangeran Yudakara juga tetap menyetujuinya. Membuat Pragola mudah keluar masuk lingkungan para pejabat istana adalah keinginan Pangeran Yudakara. Itulah sebabnya Pragola melihat senyum kecil di sudut bibir Pangeran Yudakara manakala mendengar Pangeran Yogascitra memintanya tinggal di puri miliknya. Memang amat beralasan bila Pangeran Yogascitra meminta Pragola tinggal di purinya. Ini untuk memudahkan dalam mendapatkan keterangan lebih rinci dari pemuda itu.
"Kita tidak akan bisa melakukan perjalanan ke timur dengan cepat, perlu ada pemikiran dan persiapan matang. Jadi selama menunggu rencana pemberangkatan, engkau bebas tinggal di sini, termasuk bebas meminta sesuatu yang engkau rasa perlukan, adikku?" tutur Banyak Angga di tengah jalan menuju ke asrama ksatria.
"Terima kasih saya sampaikan. Dan kebetulan saya pun ingin meminta sesuatu kepada Raden," tutur Pragola menunduk hormat.
"Jangan ragu-ragu, mintalah sesuatu," tutur Banyak Angga.
"Tolong, janganlah Raden menyebut saya adik?" gumam Pragola menunduk.
Pemuda berkumis tipis itu menatap sambil tersenyum.
"Saya hanyalah punggawa biasa, terlahir dari kalangan cacah (orang kebanyakan). Jadi amat tidak pantas bila Raden memanggil saya seperti itu?" tutur Pragola lagi.
Banyak Angga tampak masih menyungging senyum. Dia bahkan memegang tangan Pragola dengan penuh keakraban.
"Usiamu di bawahku. Jadi amat tepat bila kau kupanggil adik," jawab Banyak Angga.
"Kepada setiap punggawa muda, apakah Raden pun memanggil adik?" tanya lagi Pragola.
Banyak Angga belum bisa memberikan jawaban. Sambil kembali melangkah di depan, pemuda itu masih terus tersenyum.
"Tentu tidak. Tetapi engkau akan menjadi teman yang khusus. Kita akan melakukan perjalanan bersama ke tempat jauh. Barangkali perjalanan ini akan amat membahayakan keselamatan jiwa kita karena pergi ke timur berarti mendekati wilayah musuh. Di sana kita tak akan memperlihatkan diri sebagai orang Pajajaran. Jadi kalau aku membiasakan diri memanggilmu adik, kelak sudah tak akan canggung lagi," tutur Banyak Angga pada akhirnya.