Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 10

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 10

Pragola mengangguk puas atas jawaban ini. Serasa lega di hatinya bila benar sebutan "adik" ini tak keluar dari hati yang tulus.

"Pada waktunya nanti, kita tidak akan merasa canggung," tutur Pragola sambil hatinya berbisik bahwa ucapannya ini memiliki makna yang dalam dan luas yang tak mungkin bisa dimengerti oleh pemuda Pakuan ini.

"Mari kau ikut aku ke Mandala, Pragola?" ajak Banyak Angga, mengganti sebutan 'adik' seperti apa yang diinginkan Pragola.

"Mandala, apakah itu?" tanya Pragola.

"Mandala adalah asrama para pendeta wanita. Saya ingin menengok adikku Banyak Inten," kata Banyak Angga.

"Adik?" Pragola merespons. "Kalau begitu, pendeta wanita itu pasti usianya masih amat muda. Mengapa semuda itu sudah menjadi pendeta, Raden?" tanya Pragola heran.

Dia membayangkan Pendeta Banyak Inten tentu amat muda dan elok, sebab Banyak Angga yang menjadi kakaknya pun demikian tampan wajahnya.

Pragola melihat pemuda itu memperlihatkan wajah murung ketika dia mengajukan pertanyaan seperti itu. Dia tak segera menjawab, kecuali hanya mengayunkan langkah kakinya dengan pelan dan berat. Kedua tangannya dia silangkan di belakang. Dua orang jagabaya menunduk hormat manakala Banyak Angga lewat ke sebuah gardu jaga.

"Adikku memang masih muda. Barangkali usianya baru dua puluh lima tahun?" gumam pemuda itu.

"Dia gadis yang baik. Semuda itu hanya masalah rohani saja yang dia pikirkan?" kata Pragola memuji.

Namun Banyak Angga tak terhibur dengan pujian ini. Dia terus saja melangkah dengan lesu.

"Semua orang akan merasa bahagia bila mencari kesucian atas dasar pasrah dan kesadaran. Tapi akan merasa tersiksa dan tak berarti kalau datang karena paksaan?" kata Banyak Angga.

"Paksaan?" Alangkah ganjilnya orang harus dipaksa melakukan kebaikan?" gumam Pragola tidak sadar.

Banyak Angga tertegun sejenak, membuat Pragola terperanjat. "Tidakkah pemuda ini tersinggung atas kata-katanya?"

"Menjadi pendeta adalah melepaskan segala kehidupan duniawi. Banyak orang berhasil menjadi pendeta yang baik karena sudah kenyang dengan segala macam bentuk kehidupan lahiriah. Orang berani mendekati kehidupan rohani karena sudah paham akan kehidupan duniawi. Sedangkan adikku ketika masuk Mandala masih hijau, bagaikan daun dan bunga yang masih kuncup. Dia belum pernah merasakan indahnya mekar bunga dengan tebaran kumbang di sekelilingnya," tutur Banyak Angga panjang lebar.

"Kalau memang masih perlu mendalami kehidupan duniawi, mengapa Putri Inten memasuki Mandala, Raden?"

"Sudah saya katakan tadi, memasuki Mandala karena paksaan situasi," lalu pemuda itu bercerita tanpa Pragola minta.

Bahwa sepuluh tahun silam, Nyi Mas Banyak Inten pernah menjadi gadis yang dipilih Sang Prabu Ratu Sakti, penguasa Pakuan ketika itu. Namun karena gangguan bangsawan muda Suji Angkara, Sang Prabu merasa amat terhina. Betapa tidak terhina, Suji Angkara secara membabi-buta telah melarikan gadis pingitan Ratu. Suji Angkara nekat merebut cinta. Menghina Ratu adalah pemberontakan. Itulah sebabnya Suji Angkara dikepung dan dibunuh.

Namun Ratu tak sudi lagi mempersunting Nyi Mas Banyak Inten. Gadis belia itu akhirnya dikirim ke Mandala. Gadis-gadis yang gagal karena cinta juga masuk Mandala.

"Tapi saya memperkirakan, adikku dimasukkan ke Mandala karena balas dendam Sang Ratu saja. Sang Penguasa Pakuan memang amat mencintai adikku. Memasukkan adikku ke Mandala adalah sebagai hukuman, juga menutup perjalanan kehidupan duniawi, termasuk urusan jodoh adikku. Sang Ratu rupanya tak rela bila suatu saat adikku mendapatkan jodoh lain. Itulah sebabnya dibuat keputusan seperti itu," keluh Banyak Angga.

"Tapi bila Putri Banyak Inten sanggup diam di Mandala hingga begitu lama, barangkali segalanya pun sudah jadi keputusan dirinya pula," komentar Pragola.

Banyak Angga tidak mengiyakan atau membantahnya, melainkan melanjutkan perjalanan. Mandala memang terletak di bagian lain. Tempat itu pun bahkan sedikit terpencil, hampir berada di ujung utara benteng dalam. Agak terpisah dari bangunan-bangunan lain. Untuk menuju ke sana siapa pun harus melewati hamparan rumput hijau yang cukup luas. Tempatnya demikian sepi dan cukup pantas untuk tujuan bersunyi-sunyi, apalagi bagi orang-orang yang sedang berupaya melepaskan kehidupan duniawi.

Banyak Angga dan Pragola harus menunggu di paseban, sebab hanya kaum wanita saja yang diperbolehkan memasuki kompleks ini. Kaum lelaki yang masuk ke kompleks ini pun terbatas saja, yaitu hanya mereka yang punya hubungan kerabat dengan para pendeta wanita itu. Itu pun jarang-jarang mereka berkunjung. Namun tentu saja Banyak Angga di luar kebiasaan ini. Pragola mendapatkan bahwa sepertinya pemuda ini kerap kali mengunjungi adiknya, bila melihat kata-kata dan sambutan para jagabaya di sana.

"Raden sudah hampir dua minggu tidak berkunjung ke sini, adakah hal-hal yang menghalangimu, Raden?" tanya jagabaya santun tapi terkesan akrab.

"Betul, saya demikian sibuk akhir-akhir ini, Paman," kata Banyak Angga mengulum senyum ramah. "Tolong panggilkan adikku, Paman?" lanjutnya lagi.

Jagabaya itu segera berlalu. Namun yang memanggil langsung Nyi Mas Banyak Inten adalah seorang petugas wanita. Sang jagabaya hanyalah menunggu jauh di pekarangan asrama.

Dari kejauhan Pragola melihat seorang wanita melangkah pelan menyusuri jalan berbalai di tengah hamparan rumput. Kepalanya yang terlindung tudung kain putih nampak menunduk seperti tengah memperhatikan jalan yang tengah dilaluinya. Seluruh pakaian yang dikenakannya putih-putih belaka, kecuali ada warna hitam di pinggang yang bertindak sebagai angkin. Wanita itu melangkah pelan menuju paseban, dikawal dua tiga langkah di belakang oleh jagabaya yang tadi.

"Kakanda?" sapa Nyi Mas Banyak Inten dengan tatapan lembut ke arah Banyak Angga yang tegak duduk bersila di atas hamparan tikar.

Pragola menatap kehadiran Nyi Mas Banyak Inten. Gadis ini usianya dua puluh lima tahun, terpaut hampir delapan tahun di atas usia Pragola. Dia berupa wanita dewasa. Dan memang, sorot matanya yang lembut nampak berwibawa. Wajahnya putih anggun, dan keelokannya tiada terkira. Bila saja Nyi Mas Banyak Inten bersolek seperti umumnya gadis-gadis puri istana, maka inilah pohaci, dewi kayangan, yang tercantik dari semua pohaci.

Sayang wajah anggun itu hadir tanpa senyum. Kendati tidak terlihat ada garis kesedihan, namun wajah anggun itu seperti jauh dari binar bahagia. Atau memang begitukah kaum pendeta yang sudah membebaskan diri dari kehidupan duniawi, mereka sudah tidak memiliki kesedihan ataupun kebahagiaan? Bila begitu, Pragola amat menyayangkan. Padahal menurut hematnya, manusia datang ke buana pancatengah dengan dibekali berbagai rasa di hatinya. Kalaupun dia tak berkewajiban memiliki rasa duka, maka berilah hak berbahagia padanya. Maka alangkah ganjilnya menurut pandangan Pragola seandainya ada orang yang tengah dibekali berbagai perasaan namun tidak menggunakannya.

"Semoga engkau dalam keadaan sehat selamanya, Ayunda," kata Banyak Angga.

"Saya tidak pernah kurang suatu apa pun di sini, Kakanda," jawab Nyi Mas Banyak Inten halus dan pelan. Wajahnya masih tetap menunduk. Namun manakala satu kali dia melirik ke arah wajah Pragola, selintas ada kesan rasa terkejut.

Pragola tak tahu mengapa ada sedikit perubahan pada wajah gadis-gadis molek itu ketika menatap wajahnya. Sebentar saja pemuda itu balik menatap, untuk kemudian segera menundukkan kepalanya. Pragola menduga, barangkali gadis itu tiada senang melihat kehadiran dirinya. Bukankah kata jagabaya, orang asing dan kaum lelaki tidak diperbolehkan memasuki kompleks Mandala?

"Dia adalah punggawa muda dari wilayah Kandagalante Sagaraherang. Kakanda baru bertemu dengannya tapi serasa wajah pemuda ini sudah tidak asing bagi Kakanda," kata Banyak Angga sambil melirik ke arah Pragola.

Tidak ada komentar apa-apa dari Nyi Mas Banyak Inten. Sedikit kerutan di dahinya telah hilang dan mimik wajahnya kembali kosong dari perasaan apa pun. Gadis itu pun seperti tak punya minat untuk menyapa atau berkenalan dengan Pragola.

"Terima kasih bila engkau selama ini baik-baik saja, Dinda," kata Banyak Angga. "Soalnya dalam jangka waktu yang lama besar kemungkinan kita akan tiada bertemu," tuturnya lagi sambil menatap adiknya.

Nyi Mas Banyak Inten mengangkat wajah dan balik menatap.

"Dalam beberapa hari mendatang Kakanda akan mengemban tugas jauh. Kakanda akan melakukan perjalanan ke wilayah Timur. Selama kita tidak bertemu, Kakanda akan selalu berdoa untuk kesehatan dan ketenteramanmu. Namun sebaliknya, Kakanda pun mohon doamu agar selama perjalanan Kakanda tiada kurang suatu apa pun," kata Banyak Angga.

"Melakukan perjalanan ke wilayah Timur?" gumam gadis itu masih menatap kakaknya.

"Betul, Dinda."

"Di mana saja Kakanda berada, doaku selalu menyertaimu. Namun kalau boleh saya bertanya, ada keperluan apakah Kakanda melakukan perjalanan ke wilayah Timur?" tanya Nyi Mas Banyak Inten penuh perhatian.

Sebelum menjawab, Banyak Angga menghela napas sejenak. Sepasang matanya menerawang ke hamparan rumput hijau.

"Bukan untuk mengejar ilmu ataupun sekadar mencari pengalaman. Namun Kakanda melakukan perjalanan ke Timur adalah semata demi kepentingan negara," gumam Banyak Angga dengan tatapan masih jauh menerawang ke depan.

"Semua orang berkata demi negara. Padahal apa yang Kakanda akan lakukan barangkali penuh dengan bahaya," tutur Nyi Mas Banyak Inten setengah bergumam.

"Tidak melakukan apa-apa pun bahaya selalu mengancam, Adinda," potong Banyak Angga sambil menjelaskan alasan rencana perjalanan ini. "Negara amat membutuhkan orang-orang kuat dalam mempertahankan keberadaannya. Banyak dari mereka bertebaran begitu saja."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment