Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 11

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 11

Ada yang belum sempat terhimpun, namun ada juga yang tercerai-berai karena berbagai kemelut dan permasalahan. Tiada terhimpunnya kekuatan ini hanya akan membahayakan keselamatan negara. Apalagi kalau diingat bahwa kekuatan negara agama baru, baik yang ada di timur maupun yang ada di barat, semakin hari semakin besar jua.

Dinda mungkin masih bisa mengingatnya, betapa pada sepuluh tahun silam ada limabelas orang perwira tangguh yang dilepas menuju wilayah timur, hingga kini mereka tidak pernah kembali. Kita bahkan menganggap mereka hilang atau tewas. Belakangan, punggawa muda ini membawa kabar dari timur bahwa para perwira kita masih hidup, tetapi dalam keadaan terperangkap di Puncak Gunung Cakrabuana. Mereka tak bisa turun gunung karena semua lubang untuk mencapai kaki gunung telah ditutup pasukan musuh. Mereka harus kita tolong. Itulah sebabnya Kakanda akan melakukan penyelidikan ke sana, kata Banyak Angga.

Nyi Mas Banyak Inten menatap tajam ke arah Pragola ketika kakaknya selesai membeberkan permasalahan ini. Tatapan gadis itu demikian tajam menyorot dan menembus jantung Pragola, membuat pemuda itu terhenyak. Mengapa gadis itu menatap begitu tajam? Tidakkah dia sanggup menerawang isi hatinya? Kalau benar begitu, tidakkah gadis itu telah mengetahui kebohongan yang dia beritakan ini? Pragola segera menundukkan wajah. Dia tak sanggup melawan tatapan tajam ini.

Banyak yang harus Kakanda kerjakan di wilayah timur kelak. Selain akan menyelidiki kebenaran berita ini, Kakanda pun akan berupaya mencari beberapa orang penting yang sekiranya mau diajak membantu membela negara. Di wilayah timur, Kakanda akan mencari Ksatria Ginggi, atau bahkan kalau mungkin, Kakanda pun akan mencari Ki Darma, kata Banyak Angga.

Nyi Mas Banyak Inten tidak memberikan komentar atau pun menatap kakaknya. Yang dia kerjakan hanyalah duduk terpekur dengan dada halus turun naik karena menghela napas. Kakanda memaklumi kalau Adinda memiliki perasaan tidak senang terhadap Ginggi. Tapi apa pun yang terjadi, pemuda itu sebetulnya memiliki kepribadian tinggi. Dia adalah pemuda yang baik. Dia cinta dan mau berkorban untuk Pajajaran tanpa secuil pun pamrih di hatinya. Itulah sebabnya, Kakanda akan berusaha mencarinya walau tak punya keyakinan untuk menemukannya. Pemuda itu hilang bagaikan tertelan bumi sesudah peristiwa besar pada sepuluh tahun silam itu, kata Banyak Angga sambil memangku tangan dengan alis berkerut.

Tak ada komentar dari Nyi Mas Banyak Inten. Pragola, yang mendengarkan percakapan mereka, mempunyai kesimpulan bahwa pernah ada suatu masalah yang menyangkut antara Nyi Mas Banyak Inten dengan Ksatria Ginggi. Masalah apakah ini, tentu Pragola pun ingin sekali mengetahuinya.

Hari sudah mendekati senja. Lihatlah ribuan kelelawar yang datang dari arah Gunung Salak telah terbang menuju kemari. Kakanda harus mohon diri sebab Adinda tentu memiliki kesibukan khusus pada menjelang malam ini, kata Banyak Angga sambil bangun dari duduknya. Pragola pun ikut mengangkat tubuhnya. Sementara Nyi Mas Banyak Inten masih tetap duduk di hamparan tikar pandan.

Mari Kakanda antar hingga ke halaman mandala, Adinda? ajak Banyak Angga. Silakan Kakanda pulang, saya bisa berjalan sendiri, jawab Nyi Mas Banyak Inten pelan. Sambil sedikit menghela napas, Banyak Angga mencoba meninggalkan paseban, diikuti oleh Pragola di belakang. Beberapa langkah mereka melangkah, terdengar Nyi Mas Banyak Inten berkata pelan, Kakanda pasti bisa menemukan Ksatria Ginggi?

Banyak Angga mendadak menghentikan langkahnya. Dia berpaling ke belakang menatap adiknya yang juga sama-sama menatap dirinya. Kau maksudkan Ginggi masih hidup? Nyi Mas Banyak Inten mengangguk. Maksudmu, kau pernah bertemu pemuda itu? Banyak Angga menatap tajam dan tak sabar sebab Nyi Mas Banyak Inten belum juga memberikan jawaban tambahan. Sejak sepuluh tahun yang lalu, sudah tiga kali dia datang ke sini, kata Nyi Mas Banyak Inten pelan. Maksudmu, dia beberapa kali datang ke Pakuan? Tidak pernah ke Pakuan, sebab kalian tidak pernah tahu akan kedatangannya. Tanpa diketahui oleh seluruh penghuni mandala, beberapa kali dia mencoba menemui saya. Setahun sesudah peristiwa besar pada sepuluh tahun silam, dia menemui saya di sini. Selang dua tahun kemudian dia datang lagi ke sini. Kedatangannya yang terakhir adalah pada tiga tahun silam, kata Nyi Mas Banyak Inten lagi.

Kalau begitu benar, Ginggi masih ada. Dan perkiraan Kakanda juga benar, dia tak mungkin melupakan Pakuan begitu saja, kata Banyak Angga. Hanya yang Kakanda herankan, mengapa Ginggi hanya mau bertemu denganmu saja? Mengapa dia tak ingin menjumpai aku atau Ayahanda? tanya Banyak Angga heran sambil menatap wajah adiknya. Dan Pragola melihat betapa wajah Nyi Mas Banyak Inten bersemu merah serta menunduk dalam ketika ditatap kakaknya. Melihat Nyi Mas Banyak Inten kian menunduk, Banyak Angga semakin menatapnya dengan penuh selidik. Dinda, apakah memang Ginggi datang ke sini hanya karena Dinda semata? tanya Banyak Angga semakin menatap tajam. Tidak ada jawaban, kecuali wajah putih bersih itu semakin tenggelam di dalam kerudung putih. Terimakasih kau mau bantu Kakanda perihal ini, kata Banyak Angga pada akhirnya. Dan tanpa bertanya lagi dengan berbagai pertanyaan, akhirnya Banyak Angga mohon diri dari mandala. Pragola pun segera mengikutinya dari belakang. Namun sebelum jauh benar, Pragola sempat berpaling ke belakang. Tampak Nyi Mas Banyak Inten masih duduk di atas tikar sambil kepalanya tertunduk.

Ini adalah malam pertama Pragola menginap di puri Yogascitra. Tujuan kelompoknya untuk menyusup menjadi "orang Pakuan" berhasil sudah. Dan barangkali, kelompoknya pun akan semakin bersyukur bila mendapatkan kenyataan bahwa dia sudah demikian "dekat" dengan tokoh penting di Pakuan. Pangeran Yogascitra adalah tokoh maha penting. Pangeran tua ini mungkin merupakan tokoh kuat yang berpengaruh di istana. Bukan saja karena jabatannya sebagai penasihat Raja, tetapi yang lebih penting dari itu, Pangeran Yogascitra-lah yang nampaknya memiliki ambisi kuat agar keberadaan Pajajaran tetap dipertahankan. Keinginannya ini, sepertinya telah melebihi kehendak Raja sendiri. Bila Sang Prabu Nilakendra mencoba mempertahankan keberadaan negara dengan cita-cita "seadanya" saja, adalah kebalikannya dari cita-cita pangeran tua itu. Pangeran Yogascitra bercita-cita mengembalikan keberadaan Pajajaran dengan menghimpun kekuatan militer, sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh Sang Prabu. Tindakan dan kebijaksanaan Pangeran Yogascitra amat membahayakan. Paling tidak, akan menjadi penghalang besar bagi negara baru dalam mencoba melumpuhkan Pajajaran. Kalau ingin melumpuhkan ular, maka tangkaplah kepalanya. Ternyata kepala ular di Pajajaran bukan Sang Prabu sendiri, melainkan penasihatnya. Jadi Pragola harus berpikir, untuk melumpuhkan Pajajaran, bukan mengarahkan perhatian pada Sang Prabu Nilakendra, melainkan kepada penasihatnya ini.

Sudahkah Pangeran Yudakara menyadari akan hal ini? Belum habis Pragola berpikir, di atas wuwungan kamar di mana dia bermalam, terdengar suara keresekan halus. Itu bukan suara ranting pohon yang menjulur ke atas genting sirap, melainkan sesuatu yang bergerak, yang sedang melangkah. Langkah orangkah? Musuh atau bukan, Pragola belum bisa menentukannya, sebab kendati pun yang berada di atas adalah kawan, pasti mereka akan datang secara sembunyi. Pragola hanya berjaga-jaga saja, yaitu memadamkan pelita minyak jarak dan mencoba membuka daun jendela. Dengan memadamkan pelita dan membuka jendela, gerakan di luar rumah akan terawasi.

Urat-urat di tubuh pemuda itu nampak menegang ketika sebuah bayangan hitam dengan amat cepat meloncat lewat lubang jendela. Pragola tidak sembrono untuk menyerang begitu saja sebelum tahu apa maksud kedatangan bayangan hitam itu. Pragola, aku datang! desis sebuah suara. Pragola hapal, itu adalah suara Pangeran Yudakara. Oh, selamat datang, Pangeran! desis Pragola pula. Dia segera duduk bersila sambil tetap membiarkan suasana kamar tetap gulita. Pemuda itu mengerti untuk apa Pangeran Yudakara datang malam-malam. Tentu dia ingin mendapatkan keterangan darinya.

Senja tadi saya diajak Raden Banyak Angga mengunjungi mandala, tutur Pragola sesudah menyembah hormat. Aku tahu, setiap saat pemuda itu mengunjungi adiknya di sana. Tapi adakah kabar yang patut engkau kabarkan padaku? Banyak Angga hanya ingin memberi tahu akan rencana kepergiannya ke wilayah timur. Ada pengetahuan tambahan, Nyi Mas Banyak Inten mengatakan bahwa Ksatria Ginggi beberapa kali pernah mengunjunginya. Ini hanya menandakan bahwa lelaki yang dikabarkan sakti itu masih hidup dan merupakan gangguan bagi gerakan kita. Apalagi Banyak Angga ke wilayah timur bermaksud mencari orang itu, kata Pragola.

Pangeran Yudakara mengangguk-angguk. Kemudian diam sejenak, seperti tengah berpikir sesuatu. Bagaimana perkara ajakan Banyak Angga agar saya ikut serta ke wilayah timur? tanya Pragola kemudian. Sebetulnya itu di luar rencana kita. Tapi kau jalankan saja. Tapi kendati begitu, kita harus berani memanfaatkan berbagai kesempatan yang ada yang sekiranya sesuai dengan tujuan semula, kata Pangeran Yudakara. Kemudian pangeran ini berdiri dan lalu-lalang di seputar ruangan.

Tujuan kita datang ke Pakuan ini di samping mencari titik-titik kelemahan Pakuan, juga mencoba menghalangi rencana penghimpunan kekuatan mereka. Engkau di sana kelak harus bisa meyakinkan bahwa belasan perwira yang terkepung di Puncak Gunung Cakrabuana benar bukan bualan semata. Ini perlu, supaya di hari kemudian ada pasukan yang menyusul ke sana. Kau mengerti maksudku? Saya mengerti, Pangeran, kata Pragola. Tapi bagaimana halnya bila saya tidak berhasil meyakinkan Banyak Angga? tanyanya. Itu adalah suatu kegagalan. Namun kendati begitu, belum terlambat untuk memperbaikinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment