Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 12

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 12

"Jika belakangan Banyak Angga mendapat banyak kebohongan ini, bahkan mencurigaimu, maka satu-satunya tindakanmu adalah melenyapkan pemuda itu," kata Pangeran Yudakara.

"Membunuhnya?"

"Ya!" Pragola terpana mendengarnya.

***

Pagi-pagi benar Pragola sudah dijemput oleh seorang jagabaya. Petugas itu mengabarkan bahwa Banyak Angga memanggilnya.

"Di mana beliau menunggu saya, Paman?" tanya Pragola yang nampak sudah mengenakan pakaian baru, yaitu baju kampret warna nila, ikat kepala hitam, dan celana sontog yang warnanya sama dengan ikat kepalanya.

"Raden Banyak Angga memanggilmu dan menanti di paseban puri Yogascitra. Bahkan Pangeran tua pun sudah berada di sana. Barangkali ada sesuatu hal penting yang harus disampaikan kepadamu?" kata jagabaya sopan.

Pragola hanya mengangguk-angguk sebagai tanda mengerti. Padahal di dalam hatinya pemuda itu penuh tanda tanya.

Benar saja, sepagi itu kedua anak-beranak sudah duduk-duduk di paseban. Pangeran Yogascitra duduk di atas kursi jati berukir. Dia menggunakan pakaian senting beludru warna hitam yang dihiasi ornamen emas pada sisi-sisinya. Kepalanya diikat dengan iket sawit. Celana panjang berpasmen hampir tertutupi oleh kain kebat batik jenis lereng dan udan liris. Duduk bersila di hadapannya adalah Banyak Angga yang dengan anggunnya menggunakan pakaian baju kurung kain halus warna biru tua. Dia pun memakai tutup kepala jenis iket sawit. Celananya jenis komprang warna hitam.

Pemuda itu begitu gembira ketika melihat Pragola datang diiringi jagabaya. "Masuklah Pragola," ujarnya dengan senyum khas.

Pragola segera duduk bersila di samping Banyak Angga, namun agak sedikit ke belakang. "Saya menghaturkan sembah, Pangeran?" kata Pragola menyembah hormat yang dianggukkan oleh Pangeran Yogascitra dengan cukup ramah.

"Adakah sesuatu yang diperlukan sehingga sepagi ini saya perlu menghadap ke sini?" tanya Pragola hati-hati.

"Ah, tidak perlu benar," Banyak Angga yang menjawabnya. "Lihatlah kabut pagi di Puncak Gunung Salak, begitu indah, bukan? Kalau tidak ada kesibukan yang sangat, setiap pagi kami duduk-duduk di sini menikmati udara pagi sambil mencicipi hidangan. Ayahanda setuju bila engkau ikut mencicipi hidangan di sini?"

"Ah, Raden tidak perlu berlebihan kepada saya. Kedudukan saya begitu rendah bila dibandingkan dengan keluarga di puri ini," kata Pragola merendah.

"Lihatlah Ayahanda, begitu mirip dan begitu jauh bedanya?" kata Banyak Angga membingungkan Pragola. Pemuda ini segera menatap Pangeran Yogascitra. Kebetulan pangeran tua itu pun tengah menatapnya. Pragola bingung dan heran sebab Pangeran Yogascitra menatapnya dengan penuh perhatian. Pragola memang tidak mengerti, mengapa mereka menatapnya seperti itu.

"Kalau diperhatikan dengan seksama, memang ada kemiripan," gumam Pangeran Yogascitra masih menatap Pragola.

"Hanya bedanya sikap dan tindak-tanduk Pragola ini amat sopan dan terlalu hati-hati dalam menghadapi siapa saja," tutur Banyak Angga yang juga sama memperhatikan Pragola, membuat pemuda itu semakin bingung.

"Kalau tidak kau ingatkan, aku tidak bisa membanding-bandingkan seperti apa yang kau lakukan, Angga?" gumam Pangeran Yogascitra.

Pragola menunduk. Hatinya bingung, tapi juga was-was dan curiga. Jangan-jangan rahasia dirinya telah terbongkar. Itulah sebabnya, kendati tindak-tanduk kedua orang itu tidak menampakkan orang yang memendam rasa curiga terhadapnya, Pragola perlu hati-hati. Urat-urat nadinya menegang keras, siap melakukan sesuatu.

"Maafkan kalau sikap kami membuatmu bingung, Pragola?" kata Banyak Angga tersenyum. Pragola diam saja.

"Engkau mirip seseorang yang aku kenal, anak muda. Entah mengapa, bila ditilik dengan seksama wajahmu mirip Ginggi, ksatria bengal yang pada sepuluh tahun silam pernah menggemparkan Pakuan," kata Pangeran Yogacitra.

Pragola terkejut dengan pernyataan mereka ini. Dia mirip Ksatria Ginggi? Mirip apanya?

"Lihatlah sepasang matanya yang bulat berbinar. Lihat pula dagunya yang runcing dan hidungnya yang agak mancung. Kalau saja rambutnya berombak ikal, tidak pelak lagi, dia adalah Ginggi kedua," kata Raden Banyak Angga sambil menilik-nilik wajah Pragola.

Bergetar dada pemuda itu. Dirinya mirip Ksatria Ginggi? Yang benar saja. Lelaki itu adalah musuh besarnya, sebab dialah yang mengakibatkan Ki Sudiraja, gurunya, tewas. Pragola merasa, seumur hidup belum pernah bertemu dengan orang itu, tapi kalau dirinya harus dipersamakan dengannya, jelas menolak. Hanya saja, kendati hatinya tidak suka, Pragola tidak bisa memperlihatkan perasaannya ini. Itulah sebabnya dia hanya menunduk saja ketika kedua orang anak-beranak itu terus berbincang-bincang.

Baik Pangeran Yogascitra maupun Raden Banyak Angga tengah menduga-duga, bagaimana rupa Ginggi sekarang, sebab yang tadi dikatakan punya kemiripan dengan wajah Pragola adalah wajah Ginggi pada sepuluh tahun silam.

"Itulah sebabnya dalam perjalanan ke wilayah timur kelak, engkau harus berusaha menemukan Ginggi," tutur Pangeran Yogascitra.

Mendengar ucapan ayahandanya ini, Raden Banyak Angga seperti diingatkan akan sesuatu hal. "Ayahanda, ada sesuatu yang menarik pada adikku Banyak Inten dan rasanya erat kaitannya dengan saudara Ginggi," kata Raden Banyak Angga kemudian.

Nampak Pangeran Yogascitra melirik dan agak mengerutkan dahinya. "Apakah itu, anakku?"

"Adikku seperti tahu mengenai Saudara Ginggi!" jawab Raden Banyak Angga balik menatap.

"Begitukah?" Pangeran Yogascitra masih mengerutkan dahinya. Kemudian Raden Banyak Angga mengabarkan pertemuan kemarin sore dengan Nyi Mas Banyak Inten. Ketika dia memberi tahu bahwa dalam melakukan perjalanan ke wilayah timur nanti akan juga mencari Ginggi, Nyi Mas Banyak Inten mengatakan bahwa sebetulnya pemuda itu telah beberapa kali mengunjungi mandala.

"Maksudmu, pemuda itu telah beberapa kali mengunjungi Pakuan semenjak peristiwa besar sepuluh tahun silam itu?" tanya Pangeran Yogascitra penuh perhatian.

"Tidak persis begitu, sebab Ginggi tidak pernah memperlihatkan diri di Pakuan ini. Dia hanya datang secara diam-diam untuk menemui adikku di kompleks mandala," kata Banyak Angga lagi.

Untuk beberapa saat Pangeran Yogascitra diam mematung. Dahinya terus berkerut-kerut sebagai tanda berpikir. "Dia datang ke Pakuan dengan diam-diam, tidak mau ketemu siapa pun kecuali dengan putriku. Kira-kira, kemungkinan apakah yang terjadi pada dirinya, Angga?" tanya Pangeran Yogascitra setengah bergumam.

"Menurut Ayahanda sendiri bagaimana?" Banyak Angga balik bertanya.

"Tidak ada dugaan lain, selain pemuda itu tertarik pada adikmu?" kata Pangeran Yogascitra.

"Saya sendiri pun menduga begitu," sambung Banyak Angga.

Hening sejenak. Sementara itu, sang surya telah muncul di balik pepohonan. Suara berbagai burung pun terdengar berkicau merdu. Kabut di Puncak Gunung Salak sedikit demi sedikit sudah mulai menipis sehingga gugusan-gugusan gunung itu nampak menghitam legam.

"Mari kita pergi ke mandala?" kata Pangeran Yogascitra tiba-tiba.

"Sepagi ini, Ayahanda? Semua pendeta pasti masih melantunkan doa-doa. Tidak baik kita mengganggu mereka," tutur Banyak Angga heran.

"Tidak mengapa. Kita tidak akan mengganggu mereka," jawab Pangeran Yogascitra. Pangeran tua itu segera berdiri diikuti Banyak Angga.

"Tidak mengapa, engkau pun boleh ikut serta, Pragola?" kata pangeran itu menatap Pragola.

"Kehadiran saya hanya akan mengganggu saja," tutur Pragola pelan, padahal di dalam hatinya dia ingin sekali ikut ke mandala.

"Tidak akan mengganggu, bahkan sebaliknya berguna, sebab engkau kelak akan bersama-sama mencari Ginggi," tutur Banyak Angga.

Pragola gembira dengan ajakan kedua orang itu, sebab semakin banyak yang dia ketahui di sini, akan semakin baik bagi penyelidikannya. Maka ketiga orang itu beriringan menuju kompleks mandala.

Seperti biasa, kaum laki-laki yang mengunjungi mandala atau asrama pendeta wanita ini, hanya bisa diterima di paseban saja. Dan kendati dengan rasa heran karena sepagi itu sudah ada yang berkunjung, seorang jagabaya dengan hormatnya tetap melayani keinginan tamu. Jagabaya memberitahu tetua mandala perihal kedatangan tamu penting ini. Harus agak lama menunggu sebab sejak subuh hari sampai matahari memancar biasanya para pendeta berkumpul di kuil untuk berdoa dan menerima ceramah berupa santapan rohani.

Namun begitu selesai kegiatan rutin, Nyi Mas Banyak Inten segera menuju ruangan paseban.

"Semoga kesehatan dan keselamatan bertumpah ruah kepadamu, ayahanda," kata Nyi Mas Banyak Inten halus namun dengan nada datar saja.

"Duduklah anakku. Sudah lama aku tidak bertemu engkau dan ingin sekali ayahanda bercakap-cakap denganmu," ujar Pangeran Yogascitra mempersilakan Nyi Mas Banyak Inten duduk di hamparan tikar pandan.

"Tentu ada sesuatu yang amat penting yang menyebabkan ayahanda berkunjung ke sini sepagi ini?" tutur Nyi Mas Banyak Inten, duduk bersimpuh sambil membereskan kain kerudung putihnya.

"Engkau sudah benar-benar seperti pendeta sehingga bisa menebak tujuanku datang ke sini?" ujar Pangeran Yogascitra tersenyum kecil. Nyi Mas Banyak Inten hanya tertunduk-tunduk saja.

"Memang ada sesuatu yang ingin ayahanda rundingkan denganmu, anakku," kata Pangeran Yogascitra menatap tajam gadis berpakaian serba putih itu.

"Merundingkan sesuatu dengan saya? Tidak kelirukah itu ayahanda, sedangkan bagi seorang pendeta tidak ada sesuatu yang bernama masalah. Artinya, sesuatu rundingan yang melibatkan saya sungguh tidak perlu," tutur Nyi Mas Banyak Inten, masih bernada halus namun isinya sedikit menyengat.

Pangeran Yogascitra hanya menanggapinya dengan senyum tipis. "Benar sekali, perundingan hanya menandakan adanya satu masalah. Ayahanda juga tahu, sudah tidak ada permasalahan hidup yang mendera kaum pendeta. Namun bukan berarti pendeta harus membutakan mata dan menulikan telinga terhadap keadaan sekitar."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment