Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 13

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 13

Pendeta di Pakuan adalah warga Pajajaran yang memiliki hak dan kewajiban untuk merawat dan mempertahankan keberadaan negeri. Demikian kata Pangeran Yogacitra dengan senyum tipisnya.

Nyi Mas Banyak Inten hanya menunduk.

Bahkan ayahanda datang ke sini bukan untuk bertemu pendeta, melainkan dengan anakku sendiri. Bukankah sampai saat ini engkau masih mengakuiku sebagai ayahandamu, Nyi Mas? tanya Pangeran tua itu sambil menatap Nyi Mas Banyak Inten dengan penuh kasih sayang.

Sepeninggal ibunda, kini hanya ayahanda, orang tuaku, yang wajib saya hormati dan taati, tutur Nyi Mas Banyak Inten. Pernyataan itu membuat Pangeran Yogascitra puas.

Terima kasih bila begitu. Kebahagiaan paling sempurna bagi orang tua adalah adanya rasa hormat dan taat dari anaknya, sahut Pangeran Yogascitra gembira.

Namun sebaliknya, sekilas Pragola melihat perubahan pada wajah gadis itu, meskipun hanya sedikit. Pemuda itu, yang duduk di belakang Raden Banyak Angga, menduga bahwa gadis itu merasa terperangkap oleh ucapannya sendiri.

Ayahanda sebagai seorang ayah ingin meminta sesuatu darimu sebagai seorang anak, tutur Pangeran tua itu. Ini permintaan pribadi, tetapi bukan untuk kepentingan pribadi. Permintaan ayahanda adalah untuk kepentingan negara semata, lanjutnya.

Nyi Mas Banyak Inten, sambil tetap tertunduk, tampak mengulum senyum tipis.

Ayahanda datang sebagai seorang ayah, tetapi yang meminta adalah seorang pejabat negara, untuk kepentingan negara pula. Sedangkan saya yang duduk bersimpuh ini harus tetap bertindak sebagai seorang anak. Tidak apa. Kalau itu demi kebaikan kita semua, saya siap menunggu perintah ayahanda? tutur gadis itu dengan senyum tipisnya. Ucapan itu membuat wajah Pangeran Yogascitra sedikit memerah.

Ayahanda sebetulnya merasa malu. Tapi apa boleh buat, yang Ayahanda pikirkan selalu saja urusan negara. Jadi, kendati dengan hati yang berat karena malu, Ayahanda terpaksa mengajukan permintaan kepadamu, anakku? kata Pangeran Yogascitra akhirnya.

Sampaikanlah segera, apa yang ingin Ayahanda sampaikan, agar segala permasalahan bisa kita selesaikan dengan baik, pinta Nyi Mas Banyak Inten.

Anakku, Ayahanda mendengar kabar bahwa pemuda Ginggi beberapa kali pernah berkunjung ke mari, tetapi tanpa diketahui orang lain. Ini hanya menandakan bahwa pemuda itu punya kepentingan khusus denganmu? kata Pangeran Yogascitra.

Nyi Mas Banyak Inten tampak sedikit memerah pipinya. Ia terus menunduk.

Engkau harus tahu, anakku, bahwa pemuda itu sebenarnya sangat diharapkan kehadirannya. Pakuan membutuhkan orang pandai di saat kedudukannya sedang terjepit. Jadi, kalau engkau mau ikut membela negara, bujuklah dia agar sudi datang ke istana dan tidak sembunyi-sembunyi seperti sekarang ini, kata pangeran tua itu.

Saya belum mengerti, apa yang dimaksud Ayahanda? tutur gadis itu setelah sekian lama terdiam.

Ya, undanglah dia agar mau tinggal di Pakuan. Saya tidak bisa memaksakan kehendak kepada orang lain, Ayahanda. Apalagi Ginggi pernah berkata kepada saya, ia benci urusan kenegaraan. Kalau bukan karena saya, dia tidak mau memasuki wilayah Pakuan, kata gadis itu.

Itulah kunci agar pemuda itu mau ke Pakuan, anakku. Maksud Ayahanda? Sebagai orang tua, Ayahanda mengerti apa yang ada di hati anak muda. Ginggi selalu berusaha dengan diam-diam memasuki mandala karena cintanya kepadamu. Ayahanda yakin, pemuda itu sangat mengharapkanmu, jadi berilah dia kesempatan, anakku, kata Pangeran Yogascitra.

Nyi Mas Banyak Inten mengatupkan kelopak matanya. Ia terpaksa merangkapkan kedua tangannya dan bibirnya bergerak-gerak seolah mengucapkan doa.

Semoga kita semua mendapatkan pengampunan Hyang atas segala kekeliruan yang kita lakukan? bisiknya.

Berupaya membela negara bukanlah sebuah kekeliruan, anakku, tutur Pangeran Yogascitra dengan raut wajah khawatir.

Tapi Ayahanda harus ingat, saya adalah seorang pendeta yang sudah melepaskan kehidupan duniawi. Pendeta telah melepaskan segala keterkaitan dengan urusan dunia. Itulah sebabnya tadi saya katakan tidak bisa memaksakan kehendak, tutur gadis itu sambil tetap menunduk dan sedikit mengatupkan matanya sehingga garis hitam lentik bulu matanya semakin terlihat menebal.

Hening beberapa lama, hanya suara kicauan burung di pagi cerah yang terdengar nyaring. Banyak Angga duduk tegak bersila dengan kedua tangan bersilang di dada. Terlihat jelas kerutan di dahinya saat menyimak percakapan ayahnya dan adiknya itu. Sementara itu, Pragola yang bersila di belakangnya duduk tenang, meskipun hatinya sangat tertarik dengan situasi di ruangan paseban itu.

Ayahanda sadar bahwa kedudukanmu sekarang adalah pendeta. Pendeta muda yang tidak sempat banyak makan asam-garam kehidupan. Dan engkau pun adalah pendeta muda yang kependetaannya karena perintah orang lain, tutur Pangeran Yogascitra hampir bergumam sambil matanya menerawang jauh.

Saya mengakuinya, Ayahanda. Kependetaan saya karena perintah Sang Prabu Ratu Sakti. Beliau adalah raja dari segala raja. Semua orang wajib menaati perintahnya. Mentaati perintah Ratu adalah bagian dari pembelaan terhadap negara, kata Nyi Mas Banyak Inten masih tetap menunduk.

Bagus sekali bila engkau menyadari hal ini, anakku, tutur Pangeran Yogascitra dengan wajah cerah, yang membuat gadis itu bingung.

Untuk kepentingan negara pula, maka pada suatu saat engkau akan diperintah Ratu untuk melepaskan kependetaannya lagi, kata Pangeran Yogascitra kemudian.

Nyi Mas Banyak Inten sangat terkejut mendengar pernyataan ayahandanya, sehingga dengan segera gadis itu mengangkat wajahnya.

Sang Prabu Nilakendra adalah seorang agamawan yang baik. Setiap waktunya dihabiskan di kuil. Saya tidak percaya bila beliau mau mempermainkan agama, tutur gadis itu.

Siapa yang akan mempermainkan agama? Tidak ada seorang pun yang menyuruhmu keluar dari agama karuhun (nenek moyang). Berhenti dari kependetaan bukanlah berarti keluar dari anutan agama. Engkau akan diminta untuk melepaskan keagamaan hanya karena kepentingan negara semata. Bukankah engkau pernah mengatakan bahwa agamawan juga punya kewajiban membela negara? tutur Pangeran Yogascitra.

Nyi Mas Banyak Inten tidak menanggapi perkataan ayahandanya. Yang dilakukannya hanyalah bersedekap, merangkapkan kedua telapak tangannya. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Namun, semua orang tahu bahwa gadis itu menyimpan kesedihan yang mendalam. Sampai rombongan kecil itu meninggalkan kompleks mandala, gadis itu tidak pernah berkata apa-apa, bahkan hanya sepatah dua patah kata.

Adikku memang gadis malang, gumam Banyak Angga di tengah jalan setelah mereka berpisah dengan Pangeran Yogascitra.

Pragola melihat betapa murung wajah pemuda itu. Apakah karena memikirkan nasib adiknya atau lebih dari itu, Pragola tidak bisa menduga. Namun, ia perlu bersyukur karena pemuda bangsawan itu tampaknya sudah sangat percaya kepadanya. Secara politis, ini sangat menguntungkan karena dalam hal-hal tertentu terasa membantu tugas-tugasnya dalam upaya menyelidiki situasi Pakuan.

Sepanjang jalan menuju puri, Banyak Angga tak henti-hentinya membicarakan kemalangan Nyi Mas Banyak Inten.

Aku tahu, selama hampir sepuluh tahun ini adikku memendam duka yang sangat karena urusan cinta, tutur pemuda itu.

Tanpa diminta, Banyak Angga memaparkan peristiwa tragis yang pernah dialami gadis itu sepuluh tahun silam. Menurut penuturan pemuda itu, dulu Nyi Mas Banyak Inten dicintai oleh dua lelaki. Yang satu adalah Prabu Ratu Sakti, penguasa Pakuan Pajajaran, dan yang satunya lagi adalah pemuda bangsawan bernama Raden Suji Angkara.

Dicintai oleh Raja sama dengan perintah yang harus ditaati. Namun, secara pribadi, rupanya gadis ini memilih Suji Angkara. Belakangan, banyak orang mengetahui bahwa pemuda bangsawan itu bermoral bejat. Hanya di muka umum saja pemuda itu menampilkan dirinya sebagai orang terhormat. Sedangkan di belakang, secara sembunyi-sembunyi Suji Angkara melakukan hal-hal tidak terpuji, yaitu menyatroni kamar-kamar gadis untuk merenggut keperawanan mereka. Setiap gadis yang menolak mengalami nasib buruk karena dibunuhnya. Adalah pemuda Ginggi yang pertama kali membongkar rahasia keburukan perilaku Suji Angkara. Bahkan ketika Nyi Mas Banyak Inten dilarikan pemuda itu, Ginggilah yang menggagalkannya. Dan secara tidak langsung, Ginggi pulalah yang membunuh pemuda bejat itu. (Baca episode "Senja Jatuh di Pajajaran").

Adikku seperti menderita kehancuran. Dia dicintai Raja, tetapi juga mencintai seorang pemuda yang belakangan diketahui berperangai buruk, gumam Banyak Angga sedih.

Itulah sebabnya Nyi Mas memilih memasuki kehidupan mandala, kata Pragola tiba-tiba.

Adikku gadis penurut. Apa yang diperintahkan orang tua selalu ditaatinya. Begitu pun perintah yang diberikan Ratu. Sang Ratu Sakti memerintahkan adikku supaya tinggal di mandala, dan adikku menurut saja. Padahal, aku berpikir, ketika itu belum saatnya adikku memasuki kehidupan di mana orang meninggalkan kehidupan duniawi. Waktu itu adikku baru berumur lima belas atau enam belas tahun, tutur Banyak Angga.

Jadi, karena dulu memasuki kehidupan mandala atas sebuah perintah, maka sekarang pun orang boleh memerintahkannya untuk keluar lagi dari sana, gumam Pragola.

Banyak Angga menoleh dan menatap sejenak. Kemudian berpaling lagi ke arah lain dan terdengar mengeluh.

Kami malu harus melakukan hal seperti itu. Rasanya benar pendapat adikku, demi kepentingan akal-akalan (politik), agama dipermainkan. Dulu Ratu memerintahkan adikku memasuki mandala demi harkat dan kehormatan Ratu. Sekarang ayahanda akan menggunakan wewenang Ratu untuk mengeluarkan adikku dari mandala. Semua hanya akal-akalan untuk kepentingan negara? gumam Banyak Angga lagi.

Pragola hanya mengangguk-angguk, meskipun ia sendiri tidak mengerti apa makna dari anggukannya itu. Sampai keduanya berpisah, tidak ada lagi percakapan di antara mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment