Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 14

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 14

Banyak Angga mengatakan bahwa suatu saat Pragola harus siap ikut melakukan perjalanan ke wilayah timur.

Banyak Angga pulang ke puri, sedangkan Pragola kembali ke kesatriaan.

Malam itu Pragola tidak ke mana-mana karena ada surat rahasia yang dikirim Pangeran Yudakara bahwa tengah malam Pangeran itu akan mengunjunginya.

Namun, semakin larut malam, yang ditunggu tak kunjung datang.

Pragola menjadi gelisah.

"Adakah sesuatu yang menghalanginya?" Pangeran Yudakara ini memang sedang bermain api, pikir Pragola sambil berbaring di sebuah dipan kayu.

Betapa tidak, dia adalah kerabat Kandagalante Sunda Sembawa yang tewas dalam upaya pemberontakan di Pakuan sepuluh tahun silam.

Hanya karena tidak terbukti melakukan persekongkolan dengan Sunda Sembawa saja, Pangeran Yudakara lolos dari kecurigaan pihak Pakuan.

Menurut pengetahuan Pragola yang didapat melalui Paman Manggala, pada peristiwa sepuluh tahun silam Pangeran Yudakara memang tidak terlibat, bahkan sama sekali tidak tahu menahu perihal rencana pemberontakan yang dilakukan Sunda Sembawa.

Dulu, untuk memperkuat wilayah timur dari rongrongan Demak dan Cirebon, pihak Pakuan setuju untuk membangun kekuatan militer di wilayah Kandagalante Sunda Sembawa, yaitu Saraherang.

Sagaraherang terlalu dekat dengan Sumedanglarang yang sudah dipengaruhi kekuasaan Cirebon.

Dengan dana yang amat besar yang disisihkan dari seba (pajak) tinggi dari rakyat, kekuatan militer dibangun di Sagaraherang.

Namun, apa yang diharapkan pihak Pakuan, lain yang dikerjakan Sunda Sembawa.

Sunda Sembawa memanfaatkan pembangunan kekuatan militer di sana bahkan untuk keperluannya sendiri dalam melawan Pakuan.

Sunda Sembawa ingin memanfaatkan situasi.

Dia tahu, banyak rakyat membenci Sang Prabu Ratu Sakti karena tindakan-tindakannya yang kejam terhadap rakyat.

Sunda Sembawa berpendapat Ratu Sakti tidak pantas menjadi penguasa Pakuan karena dirinyalah yang lebih pantas.

Baik Ratu Sakti maupun Sunda Sembawa masih sama-sama keturunan Sang Prabu Ratu Dewata (1535-1543).

Menurutnya, keliru jika Pakuan dipegang oleh Ratu Sakti (1543-1551).

Pangeran Yudakara selamat dari persekongkolan hanya karena Sunda Sembawa tidak percaya kepadanya.

Menurut Sunda Sembawa, Pangeran Yudakara yang beristrikan wanita Sumedanglarang dianggap punya hubungan dengan Sumedanglarang dan juga dengan Cirebon.

Sedangkan Sunda Sembawa, kendati bertekad ingin meruntuhkan Sang Prabu Ratu Sakti, bukan berarti ingin bergabung dengan Cirebon.

Bahkan Sunda Sembawa memiliki cita-cita, seandainya dirinya bisa menduduki istana, maka tujuan utamanya adalah mengembalikan wilayah-wilayah Pajajaran yang sudah direbut Banten dan Cirebon.

Pemberontakan yang dilakukan Sunda Sembawa gagal total karena ternyata Pakuan lebih kuat.

Masih banyak orang pandai yang secara tidak resmi, bukan perwira atau petugas istana, namun mau berjuang menjaga keselamatan Pakuan.

Salah satunya adalah Ginggi yang kini banyak disanjung dalam cerita pantun di seluruh Pakuan dan wilayah Pajajaran pada umumnya.

Pangeran Yudakara beruntung tidak dicurigai pihak Pakuan karena selain tidak dipercaya Sunda Sembawa, hubungannya dengan Sumedanglarang juga "terputus" hanya karena istrinya meninggal dunia.

Pihak Pakuan mendapatkan berita bahwa Pangeran Yudakara tidak pernah lagi berhubungan dengan Sumedanglarang setelah istrinya tiada.

Belakangan, dia dipercaya Pakuan untuk menjadi penguasa Sagaraherang saja.

Sebagai penguat kedudukan, wilayah Sagaraherang yang dulu hanya dikuasai pejabat setingkat kandagalante (barangkali setingkat kewedanaan sekarang), oleh Pakuan akan ditingkatkan kedudukannya hingga setingkat kabupaten, sebuah tingkatan wilayah yang hampir sama dengan Sumedanglarang atau Kabupaten Banten yang kini dikuasai Cirebon dan Demak.

Usaha perluasan status wilayah ini mungkin sedikit berlebihan, mengingat Sagaraherang belum seramai Sumedanglarang, apalagi jika disamakan dengan Banten yang sedikit demi sedikit telah berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang dikelola pemerintahan agama baru.

Namun, rupanya tindakan Pakuan ini dilakukan dengan berbagai pertimbangan.

Pertama, Sagaraherang adalah wilayah rawan.

Kedudukannya terlalu dekat dengan pengaruh Cirebon.

Untuk menjaga kekuasaan Cirebon terus merambah ke wilayah barat, maka Sagaraherang perlu diperkuat.

Pertimbangan kedua, Sagaraherang letaknya agak di utara.

Sedangkan wilayah utara adalah wilayah perdagangan.

Dulu milik Pajajaran, sekarang milik Cirebon.

Jalur yang kini dikuasai orang lain ini hingga kini masih bermanfaat bagi orang-orang Pajajaran.

Politik adalah politik, tetapi dagang tetap dagang.

Orang-orang Cirebon yang menguasai perdagangan di wilayah pesisir utara tetap membutuhkan konsumen sebanyak-banyaknya, siapa pun mereka.

Mungkin saja pihak penguasa Cirebon secara politis melarang orang-orangnya melayani konsumen dari Pajajaran.

Tetapi pada kenyataannya, para pedagang di pesisir utara tetap berhubungan dengan penduduk pedalaman.

Mungkin Pakuan akan memanfaatkan situasi seperti ini agar kelak, bila Pajajaran kuat kembali, jalur perdagangan ini bisa dikuasai lagi.

Pertimbangan ketiga mengapa Sagaraherang akan dipersiapkan kedudukannya setingkat kabupaten adalah semata untuk "membujuk" Pangeran Yudakara agar benar-benar menjadi "orang Pajajaran".

Penguasa Pakuan berprinsip, melumpuhkan harimau bukan melawannya dengan kekerasan, melainkan dengan memberinya kasih sayang.

Ini sesuai dengan prinsip Sang Prabu Nilakendra yang tidak menyukai kekerasan. Raja ini tetap berprinsip bahwa kekerasan hanya akan mendatangkan kekerasan, sebaliknya kehalusan budi akan mendatangkan kehalusan budi.

Pangeran Yudakara adalah kerabat Sunda Sembawa, juga pernah dekat dengan pihak Sumedanglarang.

Tetapi di lain pihak, Pakuan juga mengetahui bahwa pangeran setengah baya ini memiliki pengaruh besar di Sagaraherang.

Amatlah berbahaya jika orang berpengaruh seperti dia menjadi musuh Pakuan.

Walaupun hubungannya dengan Sunda Sembawa tidak terlalu dekat, terbunuhnya kandagalante ini di Pakuan sedikit banyaknya akan memengaruhi perasaan Pangeran Yudakara.

Jika pangeran setengah baya ini tidak dibujuk dengan kekuasaan tinggi, bisa-bisa dia melakukan pembalasan.

Itulah sebabnya, setelah pemberontakan Sunda Sembawa, Pangeran Yudakara segera diangkat Pakuan sebagai penggantinya.

Tidak hanya itu, kekuasaan pangeran ini bahkan ditingkatkan, tidak lagi sebatas sebagai kandagalante yang hanya membawahi beberapa orang cutak (camat), melainkan akan diangkat menjadi kepala wilayah setingkat kabupaten seperti versi Cirebon dalam penyusunan pemerintahan.

Pangeran Yudakara akan diangkat semacam penguasa kabupaten timbul dari gagasannya sendiri yang dilontarkan kepada penguasa Pakuan.

Bahwa sebenarnya tidak pantas Sagaraherang yang dimiliki Pakuan hanya berupa kandagalante sebab daerah rawan ini menghadapi banyak tantangan di kiri kanannya.

Menurut Pangeran Yudakara, Kerajaan Sumedanglarang membawahi beberapa nagari (semacam kota), yaitu Sumedang, Ciasem, Pamanukan, Indramayu, Sukapura, dan Parakanmuncang.

Sagaraherang hanyalah sebuah wilayah kandagalante di sebuah nagari bernama Ciasem saja.

Nagari Ciasem sebenarnya sudah masuk pengaruh Cirebon.

Jadi, betapa bahayanya bila kedudukan Sagaraherang yang masih dikuasai Pajajaran bila kekuatannya tidak ditingkatkan, padahal nagarinya saja sudah masuk pengaruh Cirebon, begitu pun ibu nagarinya, Sumedanglarang.

Ke mana Pangeran Yudakara ini akan melakukan perluasan daerah, Pragola sendiri tidak begitu mengerti.

Sebab jika benar Sagaraherang harus ditingkatkan kedudukannya, harus ada perluasan daerah dan ini berarti mencari masalah dengan Cirebon.

Pragola memang tidak mengerti jalan pikiran pangeran yang kini menjadi majikannya itu.

Jika disimak rencana-rencana kerja Pangeran Yudakara yang disampaikan kepada pihak Pakuan, seolah-olah pangeran ini berpikir untuk kepentingan Pajajaran.

Padahal Pragola sendiri tahu, Pangeran Yudakara hari-hari belakangan ini berada di Pakuan adalah karena bekerja untuk kepentingan Cirebon.

"Apa pula maksud sebenarnya dari rencana-rencana Pangeran Yudakara ini?" Inilah yang Pragola anggap pangeran itu bermain api.

Dia sedang mempermainkan kepercayaan orang-orang Pakuan yang diberikan kepadanya.

Dan kemudian, kebijaksanaannya dalam mengusulkan perluasan Sagaraherang juga diperkirakan akan menjadi teka-teki bagi pihak Cirebon jika hal ini tidak dirundingkan benar-benar di antara mereka.

Pragola semakin risau sesudah malam hampir menjelang dinihari yang ditunggu tidak kunjung muncul.

Pragola sudah mengenal sifat majikannya, yaitu tidak pernah melanggar janji.

Jadi semestinya Pangeran Yudakara malam ini datang berkunjung kepadanya, kecuali ada gangguan.

"Gangguan apakah itu?" Kalau begitu, Pragola harus cepat tanggap terhadap keadaan.

Bila didesak oleh keadaan darurat, Pragola boleh berinisiatif.

Sekarang pun dia menganggap berada dalam suasana darurat.

Jadi, meskipun Pangeran Yudakara melarangnya mengunjungi puri di mana pangeran itu tinggal, Pragola akan mengunjunginya.

Pemuda itu harus memeriksa keselamatan majikannya.

Itulah sebabnya, setelah berpikir sejenak, Pragola segera mengganti pakaiannya.

Kini dia memakai pakaian serba hitam.

Dia memakai baju kurung tangan panjang dan celana pangsi.

Ikat kepalanya terbuat dari kain lebar berwarna hitam pula.

Pragola keluar melalui lubang jendela secara diam-diam.

Ada beberapa penjaga yang duduk terkantuk-kantuk di gardu.

Tapi hal ini tidak menyulitkannya.

Jangankan penjaga yang mengantuk, bahkan mereka yang berjaga penuh pun bisa dilewati dengan mudah oleh ilmu yang dia miliki.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment