Chapter 15
Pragola menyelinap di antara kuta dan semak, atau bahkan juga bergayut dan meloncat di atas dahan sawo dan nangka. Sesekali dia harus meloncat-loncat di atas wuwungan dan atap sirap. Setibanya di kompleks puri di mana Pangeran Yudakara tinggal, Ginggi harus semakin hati-hati bergerak. Bukan karena penjagaan di sana amat ketat, namun dialakukan hanya sebagai persiapan saja dari berbagai kemungkinan yang tidak diharapkan. Puri itu sunyi-senyap, seolah tak ada penghuni di sana. Namun ilmu hiliwir sumping yang dia miliki mendapatkan kenyataan lain. Hiliwir sumping adalah ilmu yang biasa dimiliki oleh tokoh-tokoh sakti Pajajaran. Ini adalah semacam ilmu untuk mendengarkan suara halus, kecil atau pun jauh. Semakin tinggi ilmu yang dimiliki, semakin banyak gunanya, bahkan bisa menyerap dan mendengarkan satu suara dari berbagai ragam suara yang dalam suatu waktu terdengar bersamaan. Pragola belum sepandai itu dalam menyaring suara yang diinginkan. Tapi di sela-sela suara binatang malam, dia pun ada mendengar suara percakapan manusia. Datangnya dari tempat yang agak terpencil. Mungkin dari ruangan belakang, mungkin juga dari kompleks taman. Dan karena tahu suara itu datangnya dari arah depan, maka dengan amat hati-hati, Pragola mendekati tempat itu. Benar saja, suara tersebut datangnya dari taman puri yang terletak jauh di belakang dan sedikit tersembunyi karena rimbunnya pepohonan serta tingginya benteng puri. Dengan mata hati-hati Pragola meloncat ke atas wuwungan sebuah bangunan dan melihat ke tengah taman di mana di sana terdapat sebuah bale-kambang. Bale-kambang adalah sebuah bale peristirahatan yang berada di tengah kolam. Dari jarak sekitar empat puluh depa, Pragola sanggup menyaksikan, bahwa di atas bale-bale itu ada dua orang duduk bersila saling berhadapan. Yang seorang amat jelas, dialah Pangeran Yudakara. Namun seorang lagi Pragola tak tahu siapa dia. Kendati sedang duduk bersila, namun laki-laki itu tentu bertubuh jangkung, sedikit tinggi besar. Laki-laki itu berpakaian serba hitam, ikat kepalanya bahkan hampir-hampir menutupi sepasang telinga dan sebagian pipinya. Kalau dia adalah seorang tamu, maka laki-laki itu datang seperti tak ingin diketahui oleh orang lain. Ada kumis tebal menghiasi bibirnya. Hidung laki-laki itu mancung tapi sedikit melengkung di punggung hidungnya. Pragola tak bisa menaksir, berapa usia laki-laki asing itu. Namun melihat betapa hati-hatinya Pangeran Yudakara berhadapan dengan laki-laki itu, hanya menandakan bahwa orang lelaki itu bukan orang sembarangan. Mungkin dia seorang tokoh penting. Tokoh penting dari Cirebonkah? Oh pasti bukan bila mendengar percakapan mereka. "Cirebon tidak boleh punya inisiatif melakukan penyerbuan kepada Pakuan," desis laki-laki itu dengan nada datar tapi terasa pasti dan bernada perintah. "Mengapa tidak boleh?" tanya Pangeran Yudakara. "Karena hanya Bantenlah yang akan melakukan penyerbuan." "Ya, mengapa hanya Banten yang boleh menyerang Pakuan?" "Karena Bantenlah yang terkuat. Jadi hanya Bantenlah yang akan sanggup meruntuhkan kekuasaan Pajajaran," sahut laki-laki itu. "Banten pun masih di bawah Demak. Tentu sebelumnya kalian harus berunding dulu dengan mereka," kata Pangeran Yudakara. Terdengar laki-laki itu tertawa mengejek. "Demak sudah berantakan, tidak ada apa-apanya lagi. Sebentar lagi Banten akan memisahkan diri dari Demak dan berdiri sebagai negara merdeka," katanya lagi. "Sombong!" dengus Pangeran Yudakara. "Kesombongan yang dilakukan oleh orang kuat adalah wajar, tapi kesombongan yang dilakukan oleh orang lemah adalah musibah. Kalian orang Cirebon harus hati-hati, sejak dulu kekuatan Cirebon hanya mengandalkan Demak semata. Cirebon sanggup merebut tujuh pelabuhan penting milik Pajajaran, termasuk merebut Banten, hanya karena bantuan Demak semata. Sekarang karena terlalu seringnya cekcok dalam perebutan kekuasaan, Demak sudah lemah, sehingga otomatis Cirebon pun tak punya daya. Kalian hanya bisa besar bila mau kerjasama dengan Banten. Itulah sebabnya hanya akan berupa musibah bila Cirebon bersombong diri hendak mencoba menundukkan Pajajaran," tutur lelaki itu masih dengan nada angkuh. Dari atas wuwungan Pragola melihat tubuh Pangeran Yudakara menegang tegak tak bergerak. Sepasang telapak tangannya terkepal erat di atas pahanya. Pragola menduga, tegangnya otot-otot Pangeran Yudakara karena akan melakukan suatu gerakan. Benar saja, belum rampung Pragola berpikir, terlihat Pangeran Yudakara melakukan gerakan cepat. Sepasang tangannya yang tadi berada di atas pahanya ditarik ke belakang untuk dengan cepat didorong lagi ke depan dengan jari-jari terbuka lebar. Pragola mengerti, ini adalah serangan pukulan dengan menggunakan tenaga dalam. Pemuda ini belum pernah melihat Pangeran Yudakara bermain jurit. Paman Manggala yang mengabarkan bahwa pangeran ini memiliki kepandaian tinggi. Seberapa jauh kepandaiannya, Pragola sendiri tidak bisa mengira-ngira. Hanya saja ketika sepasang tangan itu didorong ke depan, sepertinya ada angin deras bertiup. Ini terlihat dari ujung iket lelaki yang diserangnya nampak bergoyang dan berkibar dengan cepatnya. Melihat kenyataan ini, Pragola menduga, tenaga pukulan Pangeran Yudakara pasti besar dan mantap. Pukulan itu dilayangkan secepat kilat dan mengarah dada lawan. Pragola terkejut, ini serangan mematikan, apalagi hanya dilakukan dalam jarak yang kurang dari satu depa saja. Laki-laki asing yang duduk bersila di depannya pasti bakal celaka sebab tak akan punya kesempatan untuk berkelit. "Pangeran Yudakara ternyata bisa bertindak kejam. Dalam satu gerakan saja ingin sekaligus membunuh lawan?" pikirnya dalam hati. Namun Pragola kecele kalau dia menduga lelaki asing itu akan hancur dadanya karena serangan dahsyat itu. Jangankan terluka, kena saja tidak. Memang ajaib kalau serangan mendadak itu bisa digagalkan. Lelaki asing itu tidak beranjak dari duduknya. Namun dengan cepat dan emteng dia melempar tubuh ke belakang, seperti orang yang hendak tidur telentang tapi dengan gerakan amat cepat. Lelaki itu telentang sejajar dengan pelupuh sehingga luput dari serbuan pukulan mengarah dada. Tahu serangannya gagal, Pangeran Yudakara mencoba menarik kembali sepasang tangannya yang telanjur menyodok ke depan. Namun sebelum sempat melakukan hal itu, lelaki asing itu segera melakukan sesuatu gerakan. Sambil tubuh masih telentang dia melakukan gerakan sepasang kaki, menggunting dan mencapit kedua belah tangan Pangeran Yudakara. Kembali Pragola terkejut. Ini adalah serangan balasan yang tak kalah kejamnya. Kalau sepasang kaki lelaki asing itu "menggunting" dengan pengerahan tenaga penuh, sepasang tangan Pangeran Yudakara akan patah terpotong-potong. Rupanya pangeran itu pun menyadari akan bahaya ini. Maka sebelum lelaki asing itu mencoba mengeluarkan tenaganya, Pangeran Yudakara segera menggerakkan kakinya. Yang tadinya sudah bersila, diubahnya menjadi sodokan ke daerah berbahaya dari bagian tubuh lawan. Si lelaki asing masih tak kehilangan akal. Sebelum serangan itu menohok telak, dia segera menarik keras sepasang kakinya yang masih menjepit tangan Pangeran Yudakara. Rupanya tarikan keras itu sengaja hendak melemparkan tubuh Pangeran Yudakara. Dan usahanya ini berhasil sebab Pangeran Yudakara tak menduga sama sekali. Tubuh pangeran itu terlontar keluar bale-bale melewati atas tubuh lelaki asing tersebut. Pangeran Yudakara tidak kuasa menahan tubuhnya yang terlontar, padahal ke mana dia jatuh adalah permukaan kolam yang airnya tentu dingin menusuk tulang. Benar saja, tak lama kemudian terdengar suara cipratan air karena tertimpa tubuh pangeran itu. Suara riakan air disusul oleh dengus dan tawa mengejek lelaki asing itu yang nampak sudah berdiri bertolak pinggang di atas bale-kambang. Lelaki itu segera meloncat dari tempat itu. Namun sebelumnya masih mengeluarkan peringatan agar orang-orang Cirebon jangan sembrono melakukan tindakan bodoh. "Kau katakan kepada Susuhunan Cirebon, bahwa mereka sudah tak punya kekuatan lagi," kata lelaki itu, meloncat ke atas benteng dan pergi dari tempat itu. Tinggallah Pangeran Yudakara berdiri di atas kolam sebatas pusar. Tubuhnya nampak menggigil. Mungkin karena kedinginan, tapi bisa juga marah karena merasa terhina. Pragola tak mau menolong atau mendekati tempat itu. Dia tak ingin majikannya tahu akan kehadirannya. Oleh sebab itulah sebelum kahadirannya diketahui, Pragola segera mengundurkan diri dari tempat itu secara diam-diam. Pemuda itu harus segera kembali ke kesatrian takut kalau-kalau Pangeran Yudakara datang mengunjunginya seperti pangeran itu janjikan kepadanya. Sudah hampir subuh tapi ternyata Pangeran Yudakara belum juga muncul. Pragola berpikir, pangeran itu gagal mengunjunginya karena peristiwa semalam. Mungkin dia lebih memilih tinggal di puri untuk memendam kemarahannya, atau kekecewaannya oleh kejadian malam tadi. Kecewa? Ya, betapa tidak. Dengan amat mudahnya Pangeran Yudakara dilumpuhkan lelaki asing itu. Padahal menurut pengetahuannya, Pangeran Yudakara adalah perwira pandai. Pangeran itu kini lebih memikirkan rasa kecewanya ketimbang ingat akan janjinya untuk mengunjungi kamar Pragola. Pragola sejenak terhenyak karena mengubah jalan pikirannya. Mungkin Pangeran Yudakara bukan kecewa karena kekalahannya, melainkan oleh ucapan-ucapan lelaki asing itu yang terdengar sombong dan pongah. Orang itu berkata penuh ejekan bahwa Cirebon adalah negara lemah dan jangan sembrono mengusik Pajajaran. Yang berhak dan mampu menyerbu Pakuan hanyalah Banten. Tentu saja ini merupakan tamparan pedas kepada Pangeran Yudakara yang tengah menjalankan tugas penyelidikan dari Cirebon dalam upaya melumpuhkan Pakuan. Pragola agak mengeryitkan dahi ketika mengingat kembali ucapan lelaki asing itu. Orang itu angkuh dan sengaja merendahkan Cirebon. Padahal seingatnya, antara Cirebon dan Banten tak pernah ada percekcokan.