Chapter 16
Keduanya sama-sama merupakan pusat kekuatan kehidupan agama baru, tetapi keduanya juga merupakan bekas wilayah kekuasaan Pajajaran.
Cirebon lebih dahulu melepaskan diri (1511), sedangkan Banten baru belakangan dibebaskan Demak dan Cirebon dari kekuatan penguasa agama lama pada tahun 1525.
Namun, Pragola juga mendengar kabar dari sana-sini bahwa semakin hari Banten semakin mencuat ke permukaan. Ada kecenderungan Banten lebih kuat ketimbang negara yang pertama kali membebaskannya, yaitu Demak.
Banten menjadi pusat perdagangan negara agama baru sehingga sanggup melakukan pembangunan besar-besaran, sementara Demak malah terjerumus ke dalam kancah perpecahan dan perebutan kekuasaan di antara sesamanya. Harus diakui, kini hanya Bantenlah negara yang terkuat di antara mereka.
Namun kendati demikian, Pragola berpikir tidak seharusnya orang Banten mencemooh Cirebon, sebab hal ini hanya akan mengundang perpecahan sesama negara agama baru.
Siapakah lelaki asing yang datang malam-malam ke hadapan Pangeran Yudakara itu? Benarkah dia utusan Banten dan sengaja meremehkan Cirebon? Benarkah Banten melarang Cirebon melakukan penyerbuan ke Pakuan karena menyangsikan kekuatan Cirebon? Pragola tidak sanggup menduga-duga.
Yang pasti, bila ucapan orang Banten itu dilaporkan oleh Pangeran Yudakara ke Cirebon, tentu akan mengundang perpecahan. Sampai cuaca menjadi terang tanah, Pangeran Yudakara tidak pernah muncul mengunjungi dirinya. Pragola pun akhirnya terlena dan tidur pulas sampai siang hari.
***
Baru pada esok malamnya Pangeran Yudakara mengunjungi kesatrian. Pangeran itu meminta laporan Pragola sejauh mana dia melakukan penyelidikan di sekitar puri Yogascitra. Serta-merta Pragola melaporkan apa yang dilihat dan dialaminya.
Dia mengatakan bahwa tampaknya Pangeran Yogascitra semakin bersemangat untuk mengumpulkan orang-orang pandai dalam upaya memperkuat Pakuan. Dikatakannya, betapa Pangeran Yogascitra berupaya keras hendak mencari Ksatria Ginggi.
"Ada kabar dari putrinya yang tinggal di mandala, bahwa beberapa kali lelaki bernama Ginggi itu pernah mengunjunginya, sehingga menimbulkan penafsiran kepada Pangeran Yogascitra bahwa lelaki itu mencintai putrinya," kata Pragola.
"Lanjutkan."
"Karena perkiraan ini, Pangeran Yogascitra akhirnya menyuruh putrinya untuk menerima cinta pemuda itu, dengan harapan bisa membujuk orang itu untuk mau tinggal di Pakuan," lanjut Pragola.
Pangeran Yudakara hanya mengangguk dan mendengus. Hening sejenak. Pangeran yang menjadi majikan Pragola ini tampak merenung dan mengerutkan dahi seolah-olah sedang berpikir keras.
"Kita perlu berhadapan dengan pemuda itu, tetapi tidak di Pakuan ini," gumamnya.
Giliran Pragola yang mengerutkan dahi tanda tak mengerti akan tujuan Pangeran Yudakara.
"Orang itu berbahaya. Ingat peristiwa penyerbuan Sagaraherang pada sepuluh tahun silam (1551). Kegagalan gerakan itu salah satu di antaranya karena hadangan pemuda bernama Ginggi. Jadi, kita perlu menghadapinya sebelum masuk Pakuan," kata Pangeran Yudakara.
"Bagaimana caranya, padahal kita tidak tahu di mana dia berada. Kita pun belum berjumpa dengan orang itu sehingga kita belum tahu wajahnya," kata Pragola.
"Besar kemungkinan kita bisa berjumpa, asalkan engkau selalu ikut ke mana orang-orang puri Yogascitra pergi," tutur pangeran itu.
Pragola mengetuk jidatnya sendiri karena kebodohannya. Mengapa tidak bisa mencari lelaki bernama Ginggi, bukankah Pangeran Yogascitra akan berupaya mencarinya? Dia bisa membonceng usaha mereka.
"Saya mengerti rencanamu, Pangeran," kata Pragola menyembah.
"Tugas kita adalah satu, mencoba mengganggu tujuan orang Pakuan dalam upaya memupuk kembali kekuatan mereka. Jangan biarkan orang-orang pandai berkumpul di Pakuan. Usaha kita adalah menghadang orang yang akan memperkuat Pakuan. Itulah sebabnya, tujuan awal kita, yaitu membawa dan membujuk sepasukan perwira Pakuan ke wilayah timur dengan dalih untuk menolong rekan-rekan mereka yang terjebak di Puncak Cakrabuana harus berlangsung dengan lancar," kata Pangeran Yudakara.
"Sesudah kekuatan Pakuan lemah, apa yang akan dilakukan selanjutnya, Pangeran?" tanya Pragola.
"Banyak rencana besar bila Pakuan bisa kita kuasai," gumam Pangeran Yudakara.
Matanya berbinar-binar dan sorotnya jauh ke depan. Selanjutnya Pangeran Yudakara memberikan petunjuk agar Pragola semakin dekat dengan orang-orang puri Yogascitra. Bahwa kemungkinan besar Pragola akan melakukan perjalanan panjang ke wilayah timur bersama mereka. Kendati sebelumnya tidak masuk dalam rencana, kini hal itu harus dilaksanakan dengan baik. Baik bukan untuk kepentingan Pakuan, melainkan untuk tugas-tugas dari misi yang diembankan.
"Engkau harus ikut mereka dan selesaikanlah tugasmu dengan baik," kata Pangeran Yudakara.
Pragola mengerti ucapan ini. Maksudnya tentu hanya satu, yaitu menghadang orang-orang yang diperlukan Pakuan untuk memasuki dan memperkuat dayeuh (ibu kota) tersebut. Tentu ada berbagai cara untuk mencegah mereka. Salah satu di antaranya dan merupakan pilihan terakhir adalah membunuh mereka.
"Hati-hati, orang-orang yang diundang Pakuan adalah orang-orang digdaya. Tugas yang akan engkau kerjakan ini tentu berat," tutur Pangeran Yudakara.
Sesudah memberikan beberapa petunjuk, seperti biasa Pangeran Yudakara pergi dari tempat itu secara diam-diam. Dia keluar lewat jendela dan meloncat ke atas wuwungan.
***
Namun ternyata rencana untuk melakukan perjalanan ke wilayah timur seperti yang direncanakan Raden Banyak Angga tidak bisa dilaksanakan secara cepat. Pragola mendapatkan kabar bahwa untuk melancarkan usaha itu, mereka menghadapi banyak hambatan.
Pangeran Yogascitra sebagai penasihat Raja ternyata malah mendapat teguran dari Sang Prabu Nilakendra. Entah siapa yang melaporkan, yang jelas Sang Prabu akhirnya mengetahui bahwa telah berlangsung sebuah perundingan rahasia tanpa mengikutsertakan dirinya. Namun pada prinsipnya, raja ini setuju bahwa Pajajaran harus kuat.
"Tetapi kekuatan negara yang hanya menitikberatkan pada kekuatan militer hanya melahirkan pertumpahan darah belaka. Yang merasa kuat dalam militer cenderung selalu melakukan peperangan. Karena punya kekuatan militer, kadang-kadang kita selalu ikut campur pada urusan orang lain, atau mungkin selalu punya ambisi untuk menundukkan orang lain. Jangan samakan saya dengan ayahanda Ratu Sakti ataupun dengan kakek buyut Sang Surawisesa. Saya tidak berambisi untuk menaklukkan orang lain, apalagi berupaya merebut pengaruh dan kekuasaannya," tutur Sang Prabu Nilakendra.
"Namun Paduka, negara memperkuat militer bukan berarti kita harus punya ambisi dalam melakukan peperangan. Militer pun bisa berguna dalam mempersatukan bangsa. Bangsa yang merasa aman dan terlindungi akan memiliki ketenteraman hidup. Pihak negara lain pun akan merasa segan untuk mengganggu. Barangkali juga mereka akan merasa takut karena kekuatan kita. Itulah sebabnya, saya selalu mengajukan usul-usul seperti itu," tutur Pangeran Yogascitra.
"Pembangunan kekuatan militer secara besar-besaran tentu memerlukan dana besar. Tegakah kita mengganggu kesejahteraan rakyat dengan memungut pajak-pajak tinggi hanya untuk membangun kehidupan militer? Rakyat sudah cukup berat. Sesudah tujuh pelabuhan penting milik kita dikuasai musuh, mata pencaharian rakyat hanya tertumpu kepada pertanian semata. Kalaupun ada kehidupan perdagangan, hanya terbatas di antara mereka saja, tidak seperti masa puluhan tahun silam saat Pajajaran bisa melakukan perdagangan antarnegara. Ini menyebabkan keuangan negara terbatas, begitu pun penghasilan rakyat. Jadi, betapa kejamnya kita bila memaksakan kehendak memperkuat militer yang butuh dana tinggi sambil menyengsarakan rakyat," tutur Raja.
Pertemuan antara Raja dan penasihat ini, di mata Pragola, hanya menimbulkan kesan bahwa di antara pejabat Pakuan sebenarnya sudah tidak ada persatuan lagi. Perundingan rahasia di puri Yogascitra yang belakangan diketahui Raja, membuktikan bahwa sudah tidak ada kesatuan pendapat lagi di antara mereka. Barangkali masih banyak pejabat yang sepandangan dengan Pangeran Yogascitra, tetapi yang tidak setuju dengan gagasan pangeran itu pun ternyata ada.
Kesimpulan dari semua ini hanya menerangkan bahwa Pajajaran sudah kian melemah. Inilah saatnya Pajajaran dihancurkan. Inilah saatnya Dayeuh Pakuan diserang. Namun siapakah yang harus menyerang, Cirebon ataukah Banten? Berpikir sampai di sini, Pragola sendiri bingung.
Apa yang diketahuinya malam itu, di mana ada pertikaian kecil antara Pangeran Yudakara dan lelaki asing dari wilayah Banten tersebut, hanya menandakan telah terjadi semacam persaingan di antara mereka dalam menentukan siapa yang paling mampu menundukkan Pajajaran. Pragola merasa khawatir, sebab malam itu tampaknya Pangeran Yudakara amat terpukul. Bukan saja terpukul karena dikalahkan lelaki asing tersebut, tetapi juga terpukul karena kenyataan ini: Banten memang lebih kuat dari Cirebon.
Lantas bila benar begitu kenyataannya, mau apa Pangeran Yudakara? Mengapa pula ada semacam persaingan di antara mereka, padahal setahunya, antara Banten dan Cirebon tidak pernah ada pertikaian. Kalau memang begitu, pertikaian siapakah ini?
Ingatan Pragola kembali mengulang perjalanannya dari awal hingga dia tiba di pusat Kerajaan Pajajaran ini. Perjalanannya terlalu jauh. Padahal kalau dipikirkan, sebetulnya urusannya sederhana saja, yaitu ingin berupaya membalas dendam atas kematian ayah, bunda, dan gurunya.
Kedua orang tuanya mati karena sakit-sakitan setelah kehilangan anak pertama karena peperangan. Sebelum dia dilahirkan ke dunia, orang tuanya punya anak tunggal laki-laki berusia tiga atau empat tahun. Datanglah bencana peperangan. Kacutakan Waringin diserbu prajurit Pajajaran karena menolak membayar seba (pajak tahunan).