Chapter 17
Cutak Wirajaya, ayahanda Pragola, merasa memiliki alasan untuk menolak permintaan seba dari Pakuan karena Karatuan Talaga, di mana kacutakan itu berada, sudah lama masuk wilayah Cirebon. Akan tetapi, para petugas muhara dari Pakuan masih mencoba menarik pajak, karena Kacutakan Waringin letaknya ada di perbatasan dan lebih dekat kepada wilayah Pajajaran ketimbang ke pusat kekuasaan Cirebon atau pun ke Talaga.
Di saat-saat keuangan Pakuan makin menipis, Sang Mangabatan Ratu Sakti, penguasa Pakuan ketika itu, mencoba menarik pajak kepada wilayah-wilayah yang masih bisa diambil pajaknya. Banyaknya wilayah Pakuan berpaling ke Cirebon dan meninggalkan kewajiban membayar pajak, merupakan kerugian bagi Pakuan. Itulah sebabnya, wilayah-wilayah yang berani mati bergabung dengan Cirebon, tapi yang sebenarnya kedudukan mereka lebih dekat ke wilayah Pakuan ketimbang ke Cirebon, oleh pihak Pakuan ditekan.
Bagi yang membangkang, tak ada pilihan lain kecuali digempur oleh prajurit Pakuan. Itulah yang terjadi kepada Kacutakan Waringin. Waringin yang sebagian besar penduduknya sudah berganti memeluk agama baru yang disebarkan oleh Cirebon, diserbu Prajurit Pakuan. Banyak terjadi korban jiwa dalam pertempuran yang tak seimbang ini.
Dalam kancah pertempuran ini, Cutak Wirajaya dan istrinya berhasil menyelamatkan diri, akan tetapi putra tunggalnya yang masih bocah hilang entah ke mana. Banyak penduduk mengabarkan, anak itu ada di tengah kancah pertempuran. Dia tengah bermain di saat prajurit Pajajaran datang menyerbu. Dan ketika anak itu hendak pulang ke rumah, di tengah jalan terjebak pertempuran. Semua orang menduga anak itu kemungkinan ikut tewas.
Namun ketika diadakan pemeriksaan di bekas reruntuk pertempuran, tidak diketemukan mayat bocah laki-laki. Tapi mati atau pun tidak anak itu, yang jelas, kedua orang tuanya tidak berhasil mendapakannya kembali. Bocah itu hilang tak terbekas dan telah membuat kesedihan yang sangat. Semenjak saat itulah Cutak Wirajaya selalu sakit-sakitan, begitu pun istrinya.
Ketika istrinya mengandung anak kedua juga dalam keadaan sakit-sakitan, begitu pun di saat melahirkan seorang bayi laki-laki yang kelak bernama Pragola. Sedangkan Cutak Wirajaya meninggal satu tahun kemudian. Ayahandamu meninggal karena jiwanya tertekan. Sebagai cutak dia tak sanggup menyelamatkan rakyatnya. Belum pulih rasa penderitaannya karena serangan orang Pakuan, sudah ditimpa kemalangan lagi karena kematian istri yang tercintanya.
Puluhan tahun sejak peristiwa itu, bocah yang hilang bernama Ginggi tak pernah dipermasalahkan lagi, kecuali dendam yang berlarut-larut. Pragola misalnya, secara tidak disadarinya telah memendam dendam berat kepada orang-orang Pajajaran. Kebenciannya terhadap orang Pajajaran karena membuat penderitaan kepada keluarganya belumlah terobati. Belakangan dendam bertambah besar ketika gurunya sendiri menjadi korban pertempuran melawan prajurit Pakuan.
Semakin membara api yang ada di dada pemuda itu. Dan api tak mungkin padam sebelum dendam terbalaskan. Untunglah Paman Manggala telah mendekatkan Pragola kepada Pangeran Yudakara. Pemuda itu seperti aliran air yang mendapatkan salurannya. Paman Manggala mengabarkan bahwa untuk menuju sukses dalam melakukan perlawanan kepada orang-orang Pajajaran haruslah bergabung dengan Pangeran Yudakara, sebab pangeran calon penguasa Kabupatian Sagaraherang ini akan bekerja untuk kepentingan Cirebon dalam upaya untuk meruntuh