Chapter 18
Mereka berupaya untuk tidak melakukan kesalahan dan kerjanya menyucikan diri di tempat terpencil tanpa melirik kiri-kanan, tanpa ingin tahu apakah orang lain hidupnya benar atau tidak. Tak peduli orang lain berlaku salah, yang penting dirinya benar. Itulah sebabnya, kendati mereka hafal isi kitab Dharma Siksa, Siksa Kandang Karesian, Pasuk Tapa, Mahapawitra, Siksa Guru, Dasa Sila, Jagat Upadrawa, dan berbagai ajaran moral lainnya, kesemuanya hanya untuk santapan mereka saja.
Orang lain, rakyat misalnya, terserah mereka mau apa. Barangkali sikap ini dilakukan karena di saat-saat gencarnya penyebaran agama baru, kebijaksanaan Raja sejak turun-temurun tak pernah berubah. Mereka tidak melarang atau tidak memaksakan kehendak kepada rakyat dalam menentukan kepercayaan.
Raja Pajajaran *hanteu nyaram somah milih agama anu eudeuk dipilih pieun salajuna hirup, anu dicaram soteh palah-pilih teu puguh pilih, mimiti milih agama ieu laju milih agama itu laju bosen, milih deui!* (Raja Pajajaran tidak melarang rakyat memilih agama yang mesti dipilih untuk kelancaran hidup; yang dilarang adalah terlalu banyak memilih dan asal memilih; mula-mula memilih satu agama, kemudian memilih agama yang lain lagi, lalu sesudah bosan memilih yang baru lagi!)
Kaum pendeta membiarkan ke mana rakyat mau memilih. Yang setia kepada agama lama mempertahankan kesetiaannya tanpa diperintah. Yang tertarik kepada agama baru pun pindah agama tanpa kesulitan. Namun, karena kebebasan yang diberikan ini, banyak rakyat akhirnya bimbang dan tidak ikut ke mana-mana. Jadilah mereka orang yang frustrasi karena hidup tanpa pegangan. Hidup tak beraturan menyebabkan kesejahteraan pun tak terurus.
Ada orang yang pandai dan memanfaatkan kepandaiannya untuk diri sendiri sambil merugikan orang lain. Tanpa pegangan hidup yang benar, mereka menjadi orang serakah. Tak terkecuali kaum pedagang maupun petani. *Wong huma darpa mamangan tan igar yan tan pepelakan* (Kaum petani menjadi serakah, tidak merasa senang bila tidak bertanam sesuatu). Petani sudah mengubah sikap. Bila dulu mereka bertani hanya untuk bertahan sekadar tidak lapar atau tidak perlu meminta kepada orang lain, kini malah berupaya memperkaya diri sebesar-besarnya.
Sikap serakah ini terjadi setelah mereka melihat banyak orang menderita sengsara karena kebodohannya. *Ngajadikeun gaga sawah tikap ulah sangsara jaga rang nyieun kebon tihap malah ngundeur ka huma beet ka huma laga sakalih haman beunang urang laku sadu cocobana tihap malah hasil mulah tihap muksur pakarang ulah tihap nginjeum simbut cawet malah kasaratan hakan inum ulah kakurangan anak-ewe pituturan sugan dipajar durpala siksa* (Membuat sawah ladang agar tidak sengsara kelak; membuat kebun agar tidak terpaksa meminta ke ladang umum; ternak agar tidak membeli; perkakas agar tidak meminjam; pakaian agar tidak compang-camping; makan-minum jangan kekurangan; anak-istri beri nasihat agar tidak dikatakan buta aturan). Ini adalah ajaran moral bagian dari Siksa Kandang Karesian, filsafat orang Pajajaran yang disusun pada zaman Sri Baduga Maharaja (1462-1521 M).
Ajaran semacam ini hanya gencar dilakukan kaum pendeta di dalam kuil saja. Sedangkan rakyat yang jauh dari kuil cenderung sudah tidak menjabarkannya dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan sikap ini bukan terjadi karena orang berganti agama, melainkan karena sikap frustrasi melihat keadaan negara. Ajaran agama lama hanya teguh dilantunkan di seputar istana saja. Ini terjadi karena sikap Raja yang mencoba tetap bersetia kepada agama karuhun (nenek moyang).
Raja bahkan bertekad, kalaupun benar Pakuan diancam musuh, maka kehadiran mereka hanya akan dilayani oleh kekuatan dan keyakinan akan agama karuhun. Selama berada di Pakuan, Pragola menyimak betapa berbagai mantra dan jampi-jampi menjadi santapan sehari-hari kaum pendeta, termasuk juga Raja. Mereka rupanya percaya mantra punya kekuatan hebat dalam menangkal marabahaya.
Pragola memuji sikap Raja yang tetap mempertahankan agama lamanya. Sebab memang pada hematnya, begitulah yang namanya keyakinan. Tidaklah mudah berganti agama, kecuali tanpa keyakinan kepada agama sebelumnya. Pragola juga berpendapat, raja yang baik adalah raja yang cinta kepada keyakinannya. Namun yang Pragola tidak suka kepada penguasa Pakuan ini adalah dia tidak mempertahankan keberadaannya secara seimbang. Adalah tidak seimbang bila dalam mencoba mempertahankan negara, raja hanya bersunyi-sunyi di kuil bersama para pendeta. Memimpin negara ada di dunia nyata dan hanya bisa dikerjakan dengan kerja lahiriah, bukan seperti yang dilakukan Sang Prabu Nilakendra ini.
Namun tentu saja, ini adalah jalan pikiran Pragola secara pribadi. Sedangkan bila dia berpikir untuk kepentingan politik, sikap-sikap yang tengah berlangsung di Pakuan sangatlah menguntungkan misinya. Tentu Pangeran Yudakara gembira melihat keadaan di Pakuan ini. Barangkali karena hal-hal inilah Pangeran Yudakara, Perwira Goparana, ataupun Perwira Jayasasana tidak melakukan pergerakan secara berlebihan. Mungkin segalanya akan dibiarkan berlangsung sejauh mana suasana terjadi. Bila keadaan seperti itu terus berlarut, itu hanya berarti Pakuan kian hari kian melemah. Dan ini semakin menguntungkan bagi kelancaran misi. Barangkali penyerbuan ke Pakuan akan dilakukan sesudah keadaan di Pakuan benar-benar parah karena keropos sendiri. Begitulah yang diperkirakan Pragola. Bahkan ketika rencana melakukan perjalanan ke wilayah timur semakin berlarut-larut, Pragola tidak peduli. Berangkat atau tidak, toh tujuannya sama, yaitu melihat Pakuan menuju keruntuhan.
Rencana perjalanan ke wilayah timur beberapa kali ditangguhkan. Selain karena Raja kurang setuju, Pakuan sendiri sibuk dengan kemelutnya. Ternyata kelemahan yang terjadi di pusat pemerintahan ini menyebabkan terjadinya kekacauan yang dilakukan wilayah-wilayah di bawah Pakuan. Semakin banyak wilayah yang ingin memisahkan diri dari Pakuan. Mereka ingin berpaling dari Pakuan bukan saja karena tergoda untuk bergabung dengan kekuatan agama baru, melainkan juga karena sebal terhadap sikap lemah Raja. Mereka menganggap sudah tidak ada manfaatnya lagi berada di bawah naungan Pakuan sebab segala kepentingan dan kesejahteraan rakyat sudah tidak terpenuhi, sedangkan di lain pihak Pakuan tetap menarik seba kepada rakyat.
Sampai tahun kedua Pragola tinggal di Pakuan, orang-orang Pakuan sibuk memadamkan berbagai pemberontakan kecil yang ada di beberapa wilayah. Lucunya, karena Pragola di Pakuan bertindak sebagai "prajurit", beberapa kali dia pun ikut dikirim ke daerah pertempuran sebagai anggota pasukan di bawah pimpinan Banyak Angga. Dia ikut "berperang" sebab Pangeran Yudakara pun setuju dia "ikut". Hanya tentu saja setiap kali Pragola terlibat dalam peperangan, dia tidak pernah bertempur sungguh-sungguh. Dia tidak punya kepentingan untuk membunuh lawan, sebab pada hematnya, lawan yang dihadapi orang-orang Pakuan sebetulnya merupakan "kawan" bagi dirinya.
Menyerbu dan memerangi daerah-daerah yang ingin memisahkan diri adalah sesuatu hal yang tidak disukai Sang Prabu Nilakendra. Kata raja ini, memerangi negara-negara yang ada di Pajajaran selain menghamburkan dana dan membuat kesengsaraan kepada rakyat, juga harus memupuk rasa benci orang-orang yang ditaklukkan. Tapi bagaimana pula akalnya agar wilayah-wilayah itu tetap bergabung dengan Pakuan tanpa ada paksaan? Itulah kesulitannya. Dan kebijaksanaan Raja ini dianggap oleh kalangan pejabat istana sebagai suatu sikap yang lemah.
Selama dua tahun lebih Pragola tinggal di Pakuan, tampak terjadinya ketidakpuasan di antara pejabat. Mereka khawatir sikap Raja seperti ini hanya akan membuat negara lemah dan akhirnya menjadi bulan-bulanan lawan. Oleh sebab itulah pada tahun ketiga di mana Pragola berada di sana, para pejabat seolah bersatu dalam memiliki tekad, yaitu mempertahankan Pakuan sambil tidak terlalu melibatkan kebijakan Raja.
Kembali para pejabat mengadakan pertemuan rahasia. Tujuannya lebih mengukuhkan tujuan semula, yaitu berusaha menghimpun orang-orang pandai yang sebenarnya masih bertebaran di seantero Pajajaran. Pada umumnya mereka mendesak agar secara diam-diam Pakuan mengirimkan sepasukan perwira tangguh untuk membebaskan rekan-rekannya yang menurut "laporan" Pragola terjebak di Puncak Cakrabuana oleh pasukan Cirebon.
"Yang terjebak di sana adalah perwira-perwira tangguh. Selama mereka di sana, kita telah banyak kehilangan, membuat negara dalam keadaan lemah. Jadi, apa pun terjadi, kita harus menolong mereka. Menolong karena negara harus bertanggung jawab, tapi juga karena negara membutuhkan mereka," tutur para pejabat.
Pragola merasa bahwa sebentar lagi dia pasti akan diajak melakukan perjalanan ke wilayah timur seperti apa yang sudah dijanjikan pada tiga tahun berselang. Benar saja apa yang diperkirakan Pragola, bahwa pada akhirnya rencana melakukan perjalanan ke wilayah timur akan dilaksanakan. Banyak Angga mengabarkan bahwa Pragola harus mempersiapkan sesuatu sebab minggu depan perjalanan panjang akan dimulai.
Pada tiga hari sebelum rencana keberangkatan dilakukan, Pangeran Yudakara menghubunginya lagi. Pangeran ini mengingatkannya kembali apa yang menjadi tujuannya.
"Orang Pakuan mengajakmu karena butuh engkau sebagai pemandu di jalan. Namun sebetulnya kitalah yang mendompleng pada mereka. Mereka sebenarnya tengah membantu kita untuk mengumpulkan orang-orang yang harus kita lenyapkan," tutur Pangeran Yudakara. "Pasukan yang akan membantumu telah kusiapkan di sana," lanjutnya lagi.
Pragola tidak banyak meminta petunjuk dan pengarahan, sebab rencana seperti ini sebenarnya telah diketahui hampir tiga tahun yang lalu. Hanya saja, pemuda ini mendapati kenyataan bahwa Cirebon tetap dengan keputusannya, yaitu hendak mengambil inisiatif melumpuhkan Pakuan kendati Banten telah melarangnya. Ingin sekali Pragola bertanya perihal ini.