Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 19

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 19

Pertemuan Pangeran Yudakara dengan orang dari Banten tiga tahun yang lalu sangat dirahasiakan. Pangeran Yudakara tidak pernah membicarakannya, bahkan kepada Perwira Goparana dan Jayasasana.

Sampai malam hari, Pragola masih memikirkan tentang hal ini. Jika Cirebon relatif lemah seperti yang dikatakan orang Banten, mengapa pihak Cirebon tetap ingin menyerbu Pakuan? Tindakan ini hanya akan merepotkan mereka saja. Berdasarkan pengetahuan yang didapat Pragola, sejak kebangkitannya, Cirebon selalu didukung oleh Demak. Hanya karena bantuan Demak, Cirebon bisa melepaskan diri dari Pakuan. Begitu pun ketika Cirebon menyerang Banten untuk membebaskan wilayah itu dari kekuasaan Pakuan, Demaklah yang memberinya kekuatan.

Namun, sekarang Demak telah menjadi lemah karena didera berbagai pertentangan dan perebutan kekuasaan, sehingga Cirebon sudah tidak bisa mengandalkan kekuatan Demak dalam urusan kemiliteran. Apakah Cirebon kini sudah memiliki kepercayaan diri untuk melakukan rencana-rencana besar? Pragola tak sanggup memikirkannya, karena dia bukanlah seorang negarawan. Hanya karena seringnya bertemu dengan kaum bangsawan, pemuda ini tahu situasi politik, tetapi tidak mengetahuinya secara mendetail.

Kata Paman Manggala, politik itu sulit diduga. Apa yang ada di permukaan belum tentu menggambarkan isi keseluruhan. Bahwa Cirebon lemah, mungkin hanya perkiraan orang saja, karena jika benar-benar negara itu tidak memiliki kepercayaan diri, tak mungkin akan melakukan rencana dalam upaya melumpuhkan Pakuan. Atau, benar-benarkan sebetulnya Cirebon lemah dan tak sanggup melakukan apa yang menjadi rencananya? Mungkinkah rencana-rencana yang dilakukan Pangeran Yudakara itu sebetulnya hanya gertak sambal belaka? Menggertak siapa? Mungkin menggertak siapa saja yang punya anggapan bahwa Cirebon sudah lemah.

Pragola menggaruk-garuk kepalanya bila memikirkan hal ini. Dia tak tahu tujuan Cirebon yang sebenarnya. Atau katakanlah, dia tak tahu jelas yang menjadi perjuangan Pangeran Yudakara. Namun, yang pasti, ini telah menyeretnya kepada hal-hal yang membuat dirinya terlibat.

Pada esok harinya, ketika Pragola menunggang kuda di sebuah jalan berbalay, berpapasan dengan sebuah rombongan. Rombongan itu terdiri dari sepuluh prajurit yang berjalan mengawal sebuah jampana. Di atasnya duduk seorang wanita usia sekitar tigapuluh tahun. Wanita itu nampak anggun dengan pakaiannya yang serba gemerlap. Rambutnya hitam berombak, terjurai begitu saja di belakang punggungnya. Kain kebayanya terbuat dari satin halus buatan negri Parasi dengan ornamen warna emas pada ujung-ujungnya.

Bila melihat rambutnya yang tergerai, Pragola hanya membayangkan seorang gadis belia, karena di Pakuan itu hanya gadis-gadis belia dan perawan yang selalu membiarkan rambutnya begitu saja diterpa hembusan angin. Namun, pemuda itu mengakui, wanita ini masih memiliki kecantikan yang amat memukau. Hidungnya kecil mancung, mulutnya mungil merah merona, dan bulu matanya lentik melengkung.

Pragola meminggirkan kudanya ketika rombongan itu lewat. Dia sadar harus memberi hormat, karena wanita itu tentu bukan dari keluarga sembarangan. Mana mungkin wanita biasa duduk di atas jampana kayu jati berukir indah? Tentu dia adalah wanita bangsawan yang kedudukannya amat penting.

"Berhenti?" kata wanita itu menyuruh berhenti kepada keempat orang pengusung jampana. Mereka berhenti tepat di mana Pragola meminggirkan kuda. "Serasa aku pernah melihat wajahmu, anak muda?" tutur wanita itu melirik kepada Pragola. Pemuda itu berdegup jantungnya, karena sorot wanita itu begitu tajam.

"Engkau tentu prajurit Pakuan. Tapi aku tak tahu engkau bertugas sebagai apa serta di bawah perwira siapa?" tanya wanita anggun ini, menatap dan tersenyum manis. "Dia adalah anak buah Raden Banyak Angga, Juragan," kata seorang pengawal. Menipis sunggingan bibir wanita itu demi mendengar penjelasan ini.

Pragola sendiri heran, mengapa wanita jelita ini menghentikan senyumannya, padahal dia ingin sedikit berlama-lama menikmati senyuman bak bunga merebak ini. "Anak buah Banyak Angga?" desis wanita itu masih menatap tajam Pragola. Merenung sejenak, kemudian senyumnya kembali muncul, membuat matahari di hati Pragola cerah kembali.

"Melihat tampangmu, serasa dunia kembali ke belasan tahun silam. Dulu pun Banyak Angga punya pembantu. Dan engkau mengingatkanku pada pembantu lama Banyak Angga?" tutur wanita itu masih senyum. "Tapi sudahlah," ujarnya, "Itu masa lalu, sesuatu yang tak mungkin terulang lagi." Wanita itu memberi tanda agar perjalannya segera dilanjutkan.

Namun, beberapa langkah kemudian, dia sudah menyuruh orang-orangnya untuk berhenti kembali. "Undanglah anak muda itu agar datang ke puriku?" ujar wanita itu. "Hari ini, Juragan?" tanya pengawal. "Anak muda, siapa namamu?" tanya pengawal. "Pragola?" "Engkau diundang ke puri Layang Kingkin. Juragan adalah pemiliknya. Dialah Nyi Mas Layang Kingkin," kata pengawal.

Pragola hanya menatap wanita itu, karena dia tidak tahu siapa dia. "Tundukan kepalamu, sebab Nyi Mas adalah ibu suri!" kata pengawal. Pragola baru terkejut. Inikah bekas permesuri almarhum Prabu Ratu Sakti? "Undanglah sore nanti. Tapi katakan padanya, tak perlu bicara pada Banyak Angga?" kata Nyi Mas Layang Kingkin.

Sesudah itu, rombongan segera berlalu. Tinggallah Pragola merenung seorang diri di atas punggung kuda. Pertemuan barusan sungguh aneh, tapi amat menarik perhatian. Aneh sekali, mengapa secara tiba-tiba wanita itu ingin mengundang dirinya? Namun, ini menimbulkan perhatian bagi dirinya. Pragola ingin sekali mengetahui apa maksud undangannya itu.

Pemuda ini pun merasa penasaran untuk datang memenuhi undangan wanita anggun itu, karena baru kali inilah ada seorang wanita menghubungi dirinya. Hingga usianya yang duapuluh ini, Pragola belum pernah mengenal wanita. Ini karena perhatiannya selama ini tersita oleh urusan-urusan yang jadi kemelut dalam hidupnya. Pragola sudah sengsara sejak kecil. Boleh dikatakan dia tak pernah mengenal ayah bundanya, karena orang tuanya meninggal di saat usianya masih kecil.

Barangkali yang bertindak sebagai orang tua adalah Ki Sudireja. Namun, orang tua ini lebih bertindak sebagai guru kedigjayaan ketimbang orang tua. Pendidikan yang diberikan Ki Sudireja bukan berupa kasih-sayang, melainkan pengaruh-pengaruh kebencian terhadap orang lain. Walau pun Ki Sudireja selalu memberi pesan agar seorang laki-laki harus bertindak ksatria, jujur, dan perwira, namun Ki Sudireja selalu mengajarkan untuk balas dendam.

Selama kecil, tak ada orang yang memanjakannya. Tidak pula oleh harta kekayaan. Kata orang, Cutak Wirajaya cukup kaya dalam memimpin kecutakannya. Tapi ketika dia meninggal, hartanya habis digunakan untuk perjuangan melawan orang-orang Pakuan. Tidak ada kehidupan remaja pada pemuda ini, karena suasana perjuangan tidak pernah memberinya kesempatan. Bercakap-cakap dengan wanita boleh dikatakan tak pernah terjadi.

Selama hidupnya, Pragola hanya ikut kesana-kemari bersama Ki Sudireja yang melakukan pengembaraan sambil main sembunyi, karena selalu dikejar orang-orang Pakuan. Itulah sebabnya, ketika datang undangan dari seorang wanita, Pragola begitu tertarik hatinya. Karena rasa ketertarikan inilah, dia akan mentaati anjuran wanita itu, yaitu datang memenuhi undangan tanpa mengabarkan peristiwa ini kepada siapa pun, termasuk Banyak Angga.

Sore hari seperti apa yang dijanjikan, Pragola pergi menuju puri Layang Kingkin. Kata orang, puri besar dengan bangunan-bangunan megah itu dulunya bernama puri Bagus Seta, karena pemiliknya adalah Bangsawan Bagus Seta. Pada peristiwa besar tigabelas tahun silam, bangsawan ini diisukan terlibat persekongkolan pemberontak. Namun, bangsawan ini lolos dari pemeriksaan, apalagi tindakan. Barangkali karena tidak terbukti, atau barangkali karena segan.

Bangsawan Bagus Seta adalah besan penguasa Pakuan ketika itu, yaitu Prabu Ratu Sakti. Pengetahuan ini didapat Pragola hanya beberapa saat sebelum pemuda itu pergi. Karena ingin tahu siapa dan apa latar belakang wanita itu, maka Pragola menyempatkan diri mengobrol dengan seorang gulang-gulang yang ada di kesatrian. Tidak semua yang menyangkut wanita itu diceritakan, karena gulang-gulang yang umurnya cukup tua itu pun tak begitu mengenal Nyi Mas Layang Kingkin secara rinci.

"Tapi sebaiknya engkau tidak terlalu dekat-dekat sana," tutur gulang-gulang yang diperkirakan berusia lima puluh tahun itu. "Mengapa, Paman?" "Entahlah, sejak peristiwa pemberontakan Kandagalante Sunda Sembawa tiga belas tahun silam, keluarga itu sedikit diasingkan kaum bangsawan lainnya. Menurut khabar yang aku terima, dulu antara para pejabat istana dengan Kangjeng Prabu Ratu Sakti pernah terjadi percekcokan karena urusan wanita yang kini mengaku sebagai ibu suri itu," kata gulang-gulang tua.

"Paman maksudkan, wanita anggun itu bukan benar-benar ibu suri?" Pragola mengerutkan dahinya. "Bukan. Nyi Mas Layang Kingkin sebetulnya hanyalah seorang selir terkasih. Walau pun usianya paling muda di antara para selir, namun kekuasaannya melebihi yang lainnya, bahkan hampir menyaingi permesuri sendiri. Apalagi setelah permesuri pun wafat mengikuti Kangjeng Prabu, Nyi Mas Layang Kingkin semakin berkuasa juga. Dia hampir-hampir bertindak sebagai ibu suri, serta pengaruhnya terhadap Sang Prabu Nilakendra hampir merasuk, kalau saja para pejabat yang lainnya tidak menghalanginya," tutur sang gulang-gulang.

"Mengapa?" "Begitu burukkah perangai Nyi Mas Layang Kingkin, sehingga pejabat lainnya perlu membatasinya?" tanya Pragola. "Entahlah. Tapi begitulah adanya?" jawab gulang-gulang lagi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment