Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 20

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 20

"Paman, Nyi Mas Layang Kingkin belum tentu mempunyai keperluan khusus kepada saya. Barangkali dia ingin mengenal siapa saya. Namun, kendati begitu, harap Paman membantu saya untuk tidak mengabarkan hal ini kepada siapa pun. Saya tidak ingin majikan saya tahu," kata Pragola menatap gulang-gulang itu.

Yang ditatap hanya melamun, sepertinya merasa keberatan Pragola mengajukan permohonan ini.

"Saya bisa menduga, majikan saya akan tidak senang bila mendengar saya memasuki puri Layang Kingkin. Tetapi, saya hanyalah orang kecil jika dibandingkan dengan Nyi Mas Layang Kingkin. Saya di Pakuan ini hanyalah pengabdi, harus menaati siapa pun, termasuk juga kepada Nyi Mas Layang Kingkin," tutur Pragola.

Gulang-gulang masih merenung, namun pada akhirnya dia mengangguk juga.

"Baiklah. Tetapi, sekali lagi, hati-hatilah," tuturnya.

Pragola pun akhirnya memasuki puri itu. Mulanya disambut oleh pengawal yang demikian ketat menjaga kompleks puri itu. Namun belakangan, setelah ada pengawal yang mengenalnya, Pragola segera diizinkan memasuki kompleks puri.

Memasuki halaman yang luas dan asri karena di sana banyak koleksi tanaman-tanaman hias, Pragola tetap mendapatkan pengawalan. Pemuda itu tidak tahu, apakah memang begitu biasanya, bahwa Ibu Suri selalu mendapatkan pengawalan ketat setingkat raja, ataukah ini hanya keinginan Nyi Mas Layang Kingkin sendiri karena sadar dirinya kurang disukai.

Yang jelas, ketika Pragola memasuki paseban, di sana sudah terdapat Nyi Mas Layang Kingkin. Dia duduk bersimpuh dengan anggun; rambutnya yang halus hitam, tampak berombak menuruni punggungnya. Kini wanita cantik itu sudah mengenakan kebaya yang berbeda dengan yang dikenakan tadi pagi. Jenis kainnya masih sama terbuat dari satin halus, tetapi yang ini buatan negeri Cina. Warnanya kuning jingga, juga dengan ornamen dan kelim yang dihiasi warna emas di setiap sisi-sisinya. Kulit wajahnya tampak putih bersih. Bukan karena pengaruh pupur (bedak) ataupun polesan sejenisnya, namun memang karena kulit wajah itu yang putih halus. Tidak terdapat bintik setitik, sepertinya nyamuk pun segan menyapanya.

Berdegup jantung Pragola ketika tiba-tiba dia sadar bahwa Nyi Mas Layang Kingkin sebenarnya tengah tersenyum menertawakan karena dia ternganga-nganga melihat purnama di wajahnya. Pemuda itu segera menundukkan kepala dengan kulit wajah serasa merah padam saking malunya.

"Duduklah, anak muda?" desis wanita itu merdu dan menyengat jantung.

Pragola segera duduk bersila di bangsal berlantai kayu jati halus itu. Jaraknya ada sekitar tiga langkah dari Nyi Mas Layang Kingkin yang tetap menatapnya dengan senyum dikulum. Sebetulnya di sana banyak orang lain. Di luar bangsal Pragola menghitung pengawal ada sekitar enam orang dengan tameng logam di tangan kiri dan tombak di tangan kanan. Di samping itu, duduk bersimpuh di belakang Nyi Mas Layang Kingkin empat orang dayang. Para dayang itu berpakaian indah-indah dan berusia muda-muda. Wajahnya pun tampak cantik-cantik, sehingga jika Pragola disuruh memilih, dia tentu akan bingung harus memilih siapa.

Setelah Pragola duduk bersila, Nyi Mas Layang Kingkin bertepuk tiga kali. Demi mendengar aba-aba itu, baik para dayang maupun para pengawal, serentak mengundurkan diri dari paseban. Tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk tidak bisa menyimak jika yang berada di bangsal tengah melakukan percakapan.

Jantung Pragola kembali berdegup. Dia menduga, ini adalah pertemuan penting, paling tidak untuk Nyi Mas Layang Kingkin. Jika tidak begitu, mengapa orang lain harus pergi? Ini hanya menandakan bahwa obrolan mereka tidak boleh didengar oleh siapa pun.

"Sudah berapa lama engkau mengabdi kepada Banyak Angga, anak muda?" tanya Nyi Mas Layang Kingkin dengan senyum tetap tersungging.

"Hampir tiga tahun, Juragan," jawab Pragola hormat sekali sambil tidak kuasa untuk membalas pandangan.

"Hmm, sudah cukup lama, akan tetapi aku belum pernah bertemu denganmu sama sekali, anak muda?" tutur lagi Nyi Mas Layang Kingkin.

Ya, mengapa tidak pernah bertemu sama sekali? Mengapa pula Pragola tidak pernah tahu akan Nyi Mas Layang Kingkin, Ibu Suri istana? Pragola termenung sejenak. Memang tidak pernah ada yang membicarakan perihal keberadaan Ibu Suri, tidak pula Banyak Angga yang selama hampir tiga tahun menjadi majikannya.

"Saya terlalu disibukkan oleh tugas-tugas rutin, Juragan. Baru-baru ini saya pun habis pulang dari pertempuran di wilayah barat perbatasan Cisadane. Tentu saja tidak ada waktu untuk..."

"Untuk apa, anak muda?"

"Misalnya, untuk jalan-jalan ke puri ini," jawab Pragola sekenanya.

Terdengar tawa merdu keluar dari mulut mungil wanita anggun ini, membuat debar jantung Pragola kian kencang.

"Kau sangka puri ini semacam taman, ya? Sedangkan untuk masuk ke Taman Mila Kancana yang memang tempatnya untuk jalan-jalan engkau belum tentu mendapatkan izin," tutur Nyi Mas Layang Kingkin dengan suara seperti dikulum.

Pragola tersipu dibuatnya. Pernyataan tadi tentu amat menyinggung perasaan Nyi Mas Layang Kingkin jika saja wanita ini orang pemarah. Namun, tampaknya perangai wanita anggun berbulu mata lentik ini tidak seburuk yang disangka orang. Dia begitu manis budi bahasanya. Dalam keadaan marah pun tetap mengulum senyum sehingga siapa pun akan betah dimarahi olehnya.

"Saya terlalu sembrono bicara, Juragan," tutur Pragola menundukkan kepala.

"Sebutlah aku Nyi Mas saja," kata Nyi Mas Layang Kingkin dengan lembut.

Pragola menatapnya sejenak, "Saya tidak berani, Juragan."

"Kalau aku yang menyuruh, mengapa tidak berani? Sudah terbiasakah engkau membantah perintah atasan?" Nyi Mas Layang Kingkin menatap tajam.

"Sama sekali saya tidak berani."

"Masih tetap tidak mau menaati?"

"Maksud saya tidak berani membantah setiap atasan."

"Sebutlah aku Nyi Mas!"

"Baik, Nyi Mas."

"Nyi Mas Layang Kingkin!"

"Nyi Mas Layang Kingkin, Juragan!"

"Huss!!!"

"Oh, ya, Nyi Mas Layang Kingkin." Lalu terdengar tawa merdu dari mulut merah merekah itu. Begitu bebasnya tawa Nyi Mas Layang Kingkin sehingga dia tidak perlu menutupi mulutnya. Padahal setahu Pragola, setiap wanita di Pajajaran tidak berani tertawa bebas. Kalaupun ada yang tidak bisa menahan untuk tertawa, biasanya selalu menutupi mulut dengan punggung tangannya agar mulut tidak bebas dilihat orang. Namun, hati pemuda itu tidak ada keinginan untuk menegur perilaku wanita itu. Nyi Mas Layang Kingkin terlalu anggun, terlalu cantik, dan setiap tindak-tanduknya mengandung pesona. Betapa merdu tawa bebasnya, betapa renyah desah napasnya. Bibirnya itu yang merah merekah, gigi-giginya itu yang putih bak mutiara berjejer! Oh, hai, segalanya mengundang degup, membuat debar bertambah kencang!

"Hai, kerjamu menganga saja, anak muda. Bisa-bisa ada lalat memasuki lubang mulutmu!" celoteh Nyi Mas Layang Kingkin membuat Pragola tersipu.

"Engkau ini orang serius, tetapi membuat yang melihatmu merasa geli karena lucu," kata Nyi Mas Layang Kingkin.

Mereka berdua saling berpandangan sejenak. Wanita anggun itu kian menantang, namun Pragola menunduk kalah. Sejenak mereka diam, sepertinya kehabisan pembicaraan. Namun, ini merupakan kesempatan untuk berpikir, sebetulnya apa maksud undangan wanita anggun ini? Rasanya sudah cukup lama mereka saling mengobrol, namun Nyi Mas Layang Kingkin belum juga mengutarakan maksud undangannya ini. Hanya sekadar ingin bersenda-gurau kepada seorang prajurit rendahan seperti dia? Hanya akan membuat diri Nyi Mas Layang Kingkin terhina saja. Kalau barusan wanita mengajaknya bercanda, itu barangkali karena sifat-sifat Nyi Mas Layang Kingkin yang periang dan senang bergurau saja. Jadi, bukan maksudnya mengundang Pragola hanya untuk bercanda.

***

Pragola ingin sekali bertanya perihal maksud undangannya ini. Namun, dia tidak berani mengemukakannya. Dia takut menyinggung perasaan wanita itu, sepertinya Pragola tidak senang melihat Nyi Mas Layang Kingkin bercanda. Tetapi, Nyi Mas Layang Kingkin rupanya bisa menduga hal ini. Buktinya dia mulai berkata dengan sungguh-sungguh.

"Sudah aku katakan tadi pagi bahwa melihatmu tinggal di puri Yogascitra, mengingatkanku pada pembantu Banyak Angga. Kalau perjalanan waktu dikembalikan ke masa tiga belas tahun silam, tentu engkau akan heran, sebab ada seorang pemuda yang wajahnya mirip engkau. Pemuda itu berwajah bulat telur, sepasang mata berbinar bundar. Kalau melirik matanya berkilat tajam. Hanya bedanya, pemuda tiga belas tahun silam itu terkesan bodoh walaupun kadang-kadang terkesan aneh dan macam-macam," kata Nyi Mas Layang Kingkin.

"Saya bisa menduganya, tentu pemuda itu bernama Ginggi," potong Pragola dengan nada datar.

"Betul sekali. Tetapi, dari mana kau tahu?"

Pragola hanya menunduk.

"Tetapi, kepada pemuda itu aku tidak senang. Aku bahkan sedikit membencinya," gumam Nyi Mas Layang Kingkin seperti menyesal atas percakapan mengenai hal ini.

Pragola mengerutkan dahi. Semua orang di Pakuan seperti mendewakan lelaki bernama Ginggi ini jika menyimak lakon kegagahan para Ksatria Pajajaran yang biasa dilantunkan para pepantun. Merupakan hal yang aneh jika ada orang Pakuan yang tidak senang kepadanya. Nyi Mas Layang Kingkin, mengapa harus tidak menyukai Ksatria Ginggi? Bukankah pemberontakan yang dilakukan oleh Sunda Sembawa pada tiga belas tahun silam sempat digagalkan oleh ksatria itu? Bukankah tindakan-tindakan Ksatria Ginggi waktu itu telah menyelamatkan keberadaan suaminya, yaitu Sang Prabu Ratu Sakti?

"Tentu saja engkau tidak sependapat denganku sebab engkau adalah orang dari puri Yogascitra, sedangkan lelaki bernama Ginggi selalu menjadi kebanggaan mereka," tutur Nyi Mas Layang Kingkin.

Pragola sebetulnya ingin mengatakan bahwa dirinya pun tidak menyenangi orang itu. Ingin pula dia katakan bahwa dirinya sebenarnya bukan dari kelompok puri Yogascitra. Tetapi, tentu saja dia tidak berani mengabarkannya mengingat hal ini adalah rahasia bagi orang Pakuan. Sejauh apa pun Pragola menyukai wanita anggun ini, toh kenyataannya Nyi Mas Layang Kingkin adalah orang Pakuan dan tentu merupakan musuhnya pula.

"Saya hanyalah pengabdi kecil."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment