Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 21

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 21

"Tentu saja harus setia kepada seorang majikan yang telah memberinya kesejahteraan," tutur Pragola setelah merenung sejenak.

"Kalau ada orang lain yang memberi kesejahteraan jauh lebih baik dan terhormat, maukah engkau bersetia kepada orang itu?" tanya Nyi Mas Layang Kingkin tiba-tiba.

Pragola kembali merenung. Wanita cantik ini selalu menyodorkan teka-teki padanya. Tetapi ini adalah sesuatu yang menarik buatnya. Nyi Mas Layang Kingkin sudah tahu Pragola adalah "anak buah" Banyak Angga. Tapi mengapa sepertinya dia mau menarik dirinya dari sana? Ini hanya menandakan bahwa di antara keluarga Yogascitra dengan Nyi Mas Layang Kingkin ada permasalahan.

Masalah apa, Pragola tak tahu. Tapi dia ingin mengetahuinya. Itulah sebabnya, dalam waktu singkat dia memutuskan untuk menerima undangan kedua dari wanita berwajah manis ini. Dia mengangguk perlahan ketika Nyi Mas Layang Kingkin menatap seolah penuh harap.

"Tapi ingat, kali ini hanya aku seorang yang tahu akan kehadiranmu di puriku," gumam wanita itu.

Kembali Pragola mengangguk tanda mengerti apa maksud Nyi Mas Layang Kingkin. Besok malamnya, pemuda itu memenuhi janjinya untuk datang ke puri Layang Kingkin. Sudah barang tentu, kali ini dia harus datang sambil bersembunyi. Nyi Mas Layang Kingkin yang menginginkannya demikian. Inilah yang membuat Pragola tertarik untuk memenuhi undangan tersebut. Wanita itu ingin melakukan pertemuan rahasia. Tentu apa yang akan disampaikan kepadanya pun bersifat rahasia.

Tentang apa, Pragola belum tahu. Ke mana Pragola harus pergi, tentu bukan ke paseban seperti undangan kemarin sore. Paseban hanyalah tempat pertemuan terbuka, tidak baik digunakan sebagai tempat pembicaraan rahasia. Pragola harus menuju kompleks bagian belakang dari puri ini. Tempat wanita menyendiri biasanya di sebuah taman. Dan taman biasanya dibuat di kompleks bagian belakang agar bebas dari gangguan dan pandangan orang. Pragola harus mencari taman puri, sebab dia menduga Nyi Mas Layang Kingkin menunggu di sana.

Dan benar perkiraannya. Wanita cantik itu ditemukan di sebuah taman yang sunyi tetapi mempunyai panorama indah. Taman itu dipenuhi tanaman hias. Di beberapa tempat ada pohon-pohon rimbun, namun di depan pohon itu dipasang lentera dengan cahaya temaram. Beberapa lentera seperti sengaja dikecilkan apinya sehingga cahayanya hampir remang-remang. Lentera yang apinya lemah terdapat di seputar sebuah dangau kecil yang berdiri di tepi kolam.

Ada sebuah bayangan hitam di dalam dangau. Pragola tahu, itulah tubuh Nyi Mas Layang Kingkin. Wanita itu tengah duduk bersimpuh menghadap kolam. Sepertinya dia tengah merenung sebab tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Udaranya terasa dingin, apalagi ada angin semilir yang lewat di taman. Namun sungguh heran, di saat udara demikian dingin, Nyi Mas Layang Kingkin seperti memakai pakaian tipis terbuat dari kain sutra. Ini tampak dari kibaran selendang yang tertiup angin. Ketika selendang itu berkibar, tampak lekuk pinggang wanita itu, samar-samar dalam keremangan lentera.

Sunyi sekali di sana, memungkinkan Pragola untuk memasukinya tanpa khawatir diketahui orang lain. "Nyi Mas, saya datang," gumam Pragola sedikit bergetar. Bagaimana tidak begitu, sebab kendati dalam remang, mata pemuda itu sanggup memandang tubuh indah wanita itu.

Benar, Nyi Mas Layang Kingkin hanya menggunakan pakaian tipis yang ketat mencetak lekuk-lekuk tubuhnya. Kain sutra tipis yang barangkali hanya digunakan untuk tidur saja. Mengapa Nyi Mas Layang Kingkin menggunakan pakaian serba tipis padahal tahu akan kedatangan tamu pria? Atau barangkali Pragola datang terlalu lambat sehingga wanita itu memutuskan untuk tidur saja? Entahlah, Pragola tidak bisa memahaminya.

Pragola masih berdiri di luar dangau, sedangkan Nyi Mas Layang Kingkin masih duduk membelakanginya. Ada semilir angin lewat kembali di sana dan pakaian tipis itu berkibar lagi. Kali ini sang angin bahkan sanggup menerpa rambut panjang tergerai dari wanita anggun itu. Dada Pragola berdebar karena betapa indahnya pemandangan di sana. Di balik cahaya temaram, seorang wanita bertubuh molek tengah duduk melamun dengan pandangan tertuju ke permukaan kolam.

"Kau lihatlah Pragola, di kolam ada beberapa ikan berenang kian kemari?" kata Nyi Mas Layang Kingkin tanpa menoleh ke belakang.

"Saya tak bisa menyaksikannya, Nyi Mas," jawab Pragola yang masih berdiri di belakang wanita itu.

"Tentu saja, melihat dari kejauhan tak akan menghasilkan pandangan yang benar. Kalaupun bisa terlihat, hanyalah samar-samar belaka dan belum tentu menemukan sesuatu yang hakiki," tutur Nyi Mas Layang Kingkin penuh arti.

Pragola masih tertegun.

"Mari duduk di sampingku agar bisa menyaksikan isi kolam yang sebenarnya," ajak Nyi Mas Layang Kingkin.

Pragola agak ragu-ragu. Namun pada akhirnya dia berani juga memasuki dangau mungil itu. Dengan hati-hati dia duduk bersila di samping wanita itu. Harum semerbak bunga-bungaan tercium dari tubuh semampai itu, membuat dada pemuda itu kian bergetar. Pragola ikut mematung sambil memandang ke permukaan kolam. Hanya remang-remang saja. Namun benar seperti yang dikatakan Nyi Mas Layang Kingkin, di kolam ada serombongan ikan berenang ke sana kemari kendati hanya terlihat secara remang-remang.

"Coba lihatlah begitu banyak ikan berenang ke sana kemari," tutur Nyi Mas Layang Kingkin. "Tapi kau lihat pula, ada satu dua ekor ikan yang berenang memisahkan diri. Tak ada persatuan di sana. Serombongan besar berenang ke sana dan serombongan kecil berenang ke mari. Yang satu tak ada artinya bagi yang lainnya. Bila benar begitu, maka jumlah sebesar apa pun yang ada di kolam tidak memiliki makna. Ikan yang hidup terpisah dari rombongan yang lebih besar akan tetap merasa kesunyian kendati di sekelilingnya banyak ikan," kata Nyi Mas Layang Kingkin panjang lebar, namun sepertinya bicara pada dirinya sendiri.

"Apakah Anda merasa kesepian, Nyi Mas?" Pragola tidak bisa menahan diri untuk mengajukan pertanyaan seperti itu.

Nyi Mas Layang Kingkin cepat menoleh ke samping seolah kaget menerima pertanyaan pemuda itu. Dua wajah saling berhadapan dalam jarak yang tidak begitu jauh. Pragola menatap raut muka wanita itu. Betapa matangnya wajah wanita ini, matang dan dewasa. Berbeda sekali dengan gadis-gadis yang Pragola lihat di tempat lain. Kaum perawan bila berpapasan muka dengan lelaki asing tentu akan segera menunduk penuh malu, barangkali juga dengan rona merah di pipi. Namun wanita selir mendiang Prabu Ratu Sakti itu seolah begitu menantangnya ketika ditatap pemuda itu.

Barangkali benar wanita dewasa yang sudah banyak makan asam garam kehidupan akan berani melawan tatapan laki-laki, atau barangkali juga karena kedudukannya sebagai selir Raja. Mengapa tidak berani menatap orang lain? Kendati yang ditatapnya laki-laki, namun hanyalah orang rendahan belaka. Yang tidak tahu diri sebenarnya adalah dirinya sendiri. Pragola hanya sekadar prajurit biasa, mengapa berani menatap seperti itu? Mengingat kedudukannya yang rendah, Pragola segera menunduk bahkan memindahkan posisi duduknya agak menjauh.

"Mengapa kau duduk menjauh?" tanya Nyi Mas Layang Kingkin masih menatapnya.

"Saya tidak berani, Nyi Mas," ujar Pragola.

Terdengar wanita itu mengeluh pendek. "Semua orang memang menjauhiku. Mulai dari pejabat hingga prajurit sepertimu."

Pragola terkejut mendengar keluhan ini, sehingga tanpa dia sadari posisi duduknya kembali berpindah, bahkan kini lebih dekat lagi ke tubuh Nyi Mas Layang Kingkin. Wanita itu menatap sambil tersenyum manis. Ada desah napas yang menerpa wajah pemuda itu, hangat dan harum. Namun senyum tipis Nyi Mas Layang Kingkin hanya datang sejenak, sebab sesaat kemudian sudah berganti menjadi kabut kelabu.

"Aku hidup di istana tapi sebatang kara. Rasanya hanya Sang Prabu Ratu Sakti saja yang menyayangiku. Setelah itu tak ada kasih lagi yang menerpa diriku. Semuanya menjadi jauh, barangkali mereka juga tidak menyukaiku," gumamnya.

"Bukankah Anda ibu suri di sini?"

"Hmm... ibu suri. Aku hanyalah selir dari seorang raja yang kini telah tiada," gumamnya lagi.

"Kata orang, Anda amat berpengaruh di sini," kata Pragola.

"Hanya karena aku mencoba memberikan beberapa anjuran, maka orang mengatakan aku ingin menanamkan pengaruh. Lantas mereka mencoba membatasiku. Aku disuruh beristirahat, bersenang-senang, atau melakukan kesibukan apa saja yang sekiranya jauh dari kesibukan istana. Tapi aku tahu, sebenarnya mereka memisahkanku dari kegiatan negara," kata Nyi Mas Layang Kingkin.

"Wanita seanggun Anda sebaiknya bersenang-senang di puri indah, atau di Taman Mila Kancana dan tidak perlu bersusah-susah ikut memikirkan negara," sahut Pragola sekenanya saja.

"Kalau orang sudah mulai mengerti urusan kenegaraan, maka tidak bisa tidak, ia akan ikut memikirkannya," jawab Nyi Mas Layang Kingkin.

"Anda ikut memikirkan negara?"

Nyi Mas Layang Kingkin mengangguk. "Ya, apalagi bila negara dalam keadaan kacau," jawabnya.

"Dalam keadaan kacau?" Pragola pura-pura terkejut.

"Jangan berpura-pura. Kalau engkau telah dekat dengan Banyak Angga, tentu engkau pun tahu apa yang tengah mereka kerjakan!"

"Mengerjakan apa?"

"Hm! Wajah tampanmu tidak punya bakat untuk berbohong. Jangan kira aku bodoh untuk tidak mengetahui rencana-rencana puri Yogascitra!" dengus Nyi Mas Layang Kingkin, membuat wajah Pragola memerah karena malu.

"Kalau engkau mau ikut denganku, engkau tidak usah ikut melakukan perjalanan ke wilayah timur yang lusa akan kalian tempuh itu!" kata Nyi Mas Layang Kingkin.

Pragola terkejut. Dari mana wanita itu tahu, padahal rencana ke wilayah timur hanya diketahui oleh keluarga Yogascitra saja? Kalaupun ada pihak lain yang tahu, paling hanya Pangeran Yudakara. Itu pun karena dilapori oleh Pragola sendiri.

"Saya belum paham, mengapa Nyi Mas menawari saya untuk bergabung di puri ini?" kata Pragola penasaran.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment