Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 22

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 22

"Katamu, kau perlu mengabdi kepada orang yang memberimu kesejahteraan yang lebih, dan aku butuh pembantu. Mengapa engkau tidak tinggal saja di puriku?" tanya Nyi Mas Layang Kingkin.

"Itu artinya mengkhianati orang yang pertama memberi saya kesejahteraan," jawab Pragola.

"Engkau hanya bisa disebut pengkhianat jika pengkhianatan itu diketahui mereka. Jika mereka tidak merasakannya, maka engkau pun akan tetap menjadi seseorang yang dihargai oleh siapa saja. Lagi pula engkau harus ingat, tidak selamanya sebuah tindakan memisahkan diri atau penolakan sesuatu disebut mengkhianati. Jika engkau berpaling dari perintah-perintah Yogascitra, belum tentu sesuatu yang buruk. Bahkan mungkin sebaliknya, engkau akan berjasa mengurangi berbagai kemelut dan kekacauan," tutur Nyi Mas Layang Kingkin.

Berdebar dada pemuda ini. Semakin dalam melakukan pembicaraan dengan wanita ini, maka semakin terkuak keberadaannya. Tidak salah jika ada orang yang mengatakan bahwa wanita ini berbahaya, karena Nyi Mas Layang Kingkin pun berpikir dan bekerja untuk kepentingan politik juga.

Tapi berbahaya untuk siapa? Sudah barang tentu Pragola sendiri tidak merasakan adanya bahaya, paling tidak untuk kepentingan dirinya.

Menyimak pendapat Nyi Mas Layang Kingkin, rupanya wanita ini tidak menyukai rencana-rencana Pangeran Yogascitra. Jika benar begitu, maka antara Pragola dan Nyi Mas Layang Kingkin sebenarnya "sehaluan".

Namun untuk lebih menegaskan apa dan bagaimana keberadaan wanita ini, sebaiknya dirinya harus terus berupaya mengorek pendapat dan pendirian Nyi Mas Layang Kingkin.

"Saya belum mengerti apa yang dimaksud oleh Nyi Mas," kata Pragola mencoba mengorek tujuan-tujuan wanita itu.

"Aku tahu, Yogascitra tengah menghimpun sebuah kekuatan militer. Dia berpendapat bahwa keberadaan Pakuan bisa dikembalikan dengan kekuatan militer. Namun pejabat ini tidak ingat bahwa rencana sebaik apa pun, tanpa Raja berkenan menyetujuinya, tidak akan menghasilkan kebaikan. Sang Prabu Nilakendra bahkan tidak senang Pakuan mencari kekuatan militer," kata Nyi Mas Layang Kingkin.

"Dan, menurut Nyi Mas, bagaimana sebaiknya?"

"Aku setuju dengan pendapat Sang Prabu, Pakuan tidak perlu militer."

"Mengapa?"

"Sang Prabu Nilakendra pencinta damai. Ibarat harimau yang punya taring, maka sang harimau selalu ingin mencoba tajamnya taring dalam melakukan sesuatu. Sementara yang namanya melakukan sesuatu bagi yang memiliki senjata adalah melakukan pembunuhan. Namun, lihatlah seekor siput. Dia tidak punya senjata untuk membunuh, maka dia tidak berniat untuk melakukan pembunuhan. Asalkan dia punya pertahanan, maka keselamatan pun akan terjamin. Demikian pula yang dipikirkan Sang Prabu Nilakendra. Pertahanan yang baik bukanlah senjata, melainkan sabar dan tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Sang Prabu bahkan lebih menitikberatkan pertahanan dalam kehidupan keagamaan. Karena, menurut Raja, lebih memperdalam kehidupan keagamaan merupakan jalan menuju keselamatan," tutur Nyi Mas Layang Kingkin lagi.

Pragola termenung mendengar penjelasan wanita ini. Kini semakin jelas siapa Nyi Mas Layang Kingkin ini. Ia tentu bagian dari kelompok yang setuju dengan kebijakan Raja. Nyi Mas Layang Kingkin adalah lawan dari Pangeran Yogascitra. Kini Pragola harus tahu, apa maksud wanita ini menarik dirinya ke dalam kelompoknya.

"Apa kepentingan Anda dan apa pula keuntungan Anda jika menarik saya ke puri ini, Nyi Mas?" tanya Pragola secara langsung.

"Aku perlu memiliki mata-mata dan aku pun perlu orang yang bisa bergerak menggagalkan setiap rencana Yogascitra," jawab Nyi Mas Layang Kingkin. "Engkau cocok untuk melakukan misi ini karena engkau telah dianggap orang-orang Yogascitra," lanjut wanita ini.

"Bagaimana Anda yakin saya mampu melakukan apa yang diinginkan olehmu, Nyi Mas?"

"Jika Banyak Angga menggunakanmu, nanti dia tidak akan meragukan kemampuanmu," kata Nyi Mas Layang Kingkin tersenyum.

Pragola terdiam. Banyak Angga sebetulnya belum tahu sejauh mana kemampuan pemuda ini. Jika Pragola langsung dipercaya oleh keluarga Yogascitra, itu karena mereka tidak meragukan apa yang dikatakan Pangeran Yudakara. Pangeran itu "mengirimkan" Pragola ke puri Yogascitra dan mengatakan bahwa, selain pemuda ini memiliki cukup kepandaian, Pragola pun merupakan orang yang amat "berguna" bagi Pakuan.

Kini Nyi Mas Layang Kingkin telah mempercayainya juga hanya karena Banyak Angga seperti memerlukannya.

"Bagaimana Anda yakin bahwa saya akan memenuhi keinginanmu, Nyi Mas?" tanya Pragola selanjutnya.

Sebagai jawaban dari wanita ini hanyalah senyum manis yang membuat dada pemuda itu kembali bergetar.

"Jawabannya sudah ada di dalam hatimu sendiri, anak muda." Pragola sedikit terkejut.

Nyi Mas Layang Kingkin begitu yakin bahwa dirinya akan mau melayani permintaannya. Dari mana wanita ini mendapatkan keyakinannya, padahal pemuda ini bisa saja menolak permintaan dengan alasan ingin tetap setia hanya pada keluarga Yogascitra saja.

Pemuda itu sendiri sebetulnya sudah memastikan bahwa dirinya menerima penawaran wanita itu karena beberapa pertimbangan. Tujuan datang ke sini bukanlah ingin mengabdi kepada orang-orang Pakuan, melainkan akan melakukan penyelidikan seperti apa yang diperintahkan Pangeran Yudakara. Siapa pun yang ada di Pakuan tentu harus dia selidiki, termasuk pula Nyi Mas Layang Kingkin.

Antara informasi dan kenyataan yang ada mengenai keberadaan wanita ini benar-benar sesuai. Bahwa wanita ini hidup terasing di istana, memang diakui sendiri oleh Nyi Mas Layang Kingkin. Belakangan informasi datang, bahwa wanita ini tidak setuju dengan kebijakan-kebijakan Pangeran Yogascitra. Wanita ini akan memperalat dirinya agar menggagalkan usaha-usaha Pangeran Yogascitra dalam memperkuat militer. Pragola tentu akan sanggup, karena inilah yang menjadi misi Pangeran Yudakara. Keduanya punya misi sama, meskipun punya tujuan berbeda. Nyi Mas Layang Kingkin menolak kebijakan Pangeran Yogascitra karena sependapat dengan kebijakan Raja. Sedangkan Pangeran Yudakara mencoba menghalangi usaha Pangeran Yogascitra karena menghendaki Pakuan semakin melemah sehingga memudahkan pasukan Cirebon dalam melakukan penyerbuan ke pusat pemerintahan Pajajaran itu.

Pragola sebetulnya tidak perlu ikut bergabung dengan Nyi Mas Layang Kingkin karena sudah mengemban misi yang sudah diperintahkan oleh Pangeran Yudakara. Namun entah mengapa, ada suatu perasaan yang membuat dirinya ingin tetap berhubungan dengan janda mendiang Sang Prabu Ratu Sakti ini. Wanita cantik ini kaya, pernah menjadi orang penting, namun seperti hidup penuh kesunyian. Sunyi karena diasingkan oleh kalangan istana. Dia diasingkan hanya karena dianggap ingin mempengaruhi Raja dalam meletakkan dasar-dasar kebijakannya. Pragola kasihan dan sekaligus bersimpati. Hanya karena urusan perbedaan politik, maka wanita anggun ini diasingkan. Dia dijauhkan dari kegiatan kenegaraan. Kendati wanita ini di mana-mana dihormati, namun semuanya hanya penghormatan semu belaka.

"Lihatlah ada ikan yang berenang terpisah dari kelompok lainnya."

"Malam sudah larut. Saya harus kembali ke kesatrian, Nyi Mas." kata Pragola pada akhirnya.

Wanita itu menatap lama dengan wajah sedikit sayu, kemudian mengangguk perlahan. Dialah yang justru melangkah duluan. Namun entah mengapa, mungkin karena lantai dangau yang licin akibat kayunya halus mengilap, tubuh wanita itu terhuyung ke depan dan hendak jatuh. Pragola terkejut. Jika dibiarkan, maka tubuh Nyi Mas Layang Kingkin akan terjerembap ke permukaan kolam. Maka satu-satunya jalan agar tubuh wanita itu selamat, Pragola harus menghambur ke depan dan memeluk tubuh wanita ramping namun berisi padat itu.

Nyi Mas Layang Kingkin hanya sebentar memekik halus, kemudian memegang dan setengah memeluk tubuh pemuda itu. Sejenak mereka saling berpelukan. Namun Pragola lebih dahulu menyadarinya. Dengan serta-merta dia melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuhnya.

"Maafkan saya telah melakukan hal yang tidak senonoh," tutur Pragola dengan suara parau bergetar karena menahan debar jantungnya.

"Tidak. Engkau adalah penolong yang baik. Jika kau tidak melindungiku, tentu aku sudah tercebur ke kolam. Sudah lama aku tidak punya penolong selagi mendapatkan kesulitan," kata wanita itu pelan dengan sedikit keluh.

"Saya mohon diri, Nyi Mas." kata Pragola mundur dari tempat itu.

"Kapan engkau akan kembali lagi ke sini?" gumam Nyi Mas Layang Kingkin.

"Barangkali setelah saya kembali dari wilayah timur, Nyi Mas?" kata Pragola ragu-ragu.

"Aku menunggu keberhasilan usahamu. Dan jika kau pulang membawa sukses, maka apa pun yang engkau inginkan dariku akan kuberikan." tutur Nyi Mas Layang Kingkin tersenyum manis.

Pragola tidak berani memandang senyum itu. Dia segera berbalik dan meloncat ke atas benteng puri dengan amat cepatnya.

Kuda yang baik dan tangguh sudah disiapkan. Ada empat ekor. Karena kelihaian Pangeran Yudakara, maka Paman Manggala berhasil dipilih oleh Pangeran Yogascitra untuk ikut misi yang diemban Banyak Angga. Empat orang akan mengemban misi penyelidikan ke wilayah timur dalam upaya mencari pasukan perwira yang terperangkap di Puncak Gunung Cakrabuana. Banyak Angga bertindak sebagai pimpinan rombongan. Sedangkan yang menjadi anggota, selain Paman Manggala dan Pragola sendiri, ada seorang prajurit yang Pragola tidak kenal. Paman Manggala pun mengaku tidak mengenal prajurit ini. Dan jika Pangeran Yudakara pun tidak pernah mengenalnya secara khusus, maka sudah diduga bahwa prajurit ini benar-benar merupakan orang Pakuan. Kini yang penting disimak oleh Pragola adalah sejauh mana peranan prajurit itu di dalam rombongan kecil ini. Begitu pentingkah orang itu sehingga harus dibawa?

"Nanti aku kenalkan engkau kepada Paman Angsajaya," tutur Banyak Angga ketika Pragola mencoba menanyakannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment