Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 23

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 23

Subuh hari, manakala kokok ayam pertama mulai berbunyi, keempat penunggang kuda telah keluar dari gerbang Pakuan.

Suara kaki kuda berjalan perlahan di jalan berbatu yang diselimuti kabut kecil. Dan semakin jauh meninggalkan pusat kota, langkah kaki kuda semakin deras menderu sebab para penunggangnya memacu binatang tunggangan itu dengan cepat.

Tak ada percakapan di sepanjang jalan. Pragola hanya merasakan dinginnya cuaca subuh sehingga tulang-tulangnya serasa ngilu.

Ada seberkas cahaya merah di ufuk timur manakala rombongan kecil ini tiba di sebuah dataran agak tinggi. Banyak Angga menghentikan kudanya. Serentak yang di belakang pun menarik tali kekang kuda.

"Ada apa, Raden?" tanya Paman Angsajaya kaget.

"Lihatlah, pemandangan alam indah nian," ujar pemuda itu menunjuk ke arah timur.

Merah membara merebak ke sela-sela mega. Cahaya itu terus merebak ke utara, menerpa punggung Gunung Salak.

"Begitu indah bumi Pajajaran ini. Kalau saja kedamaian pun ikut membantu, maka kehidupan ini begitu sempurna," ujar Banyak Angga masih menatap rona merah di ufuk timur.

Pragola dan Paman Manggala hanya saling pandang sejenak, sedangkan Paman Angsajaya mengangguk mengiyakan.

Setelah keadaan mulai terang tanah, seperti inilah Pragola bisa mengamati prajurit yang dipanggil Paman Angsajaya ini. Dia adalah seorang lelaki setengah baya. Barangkali usianya hampir sama dengan Paman Manggala. Bedanya, prajurit ini sedikit jangkung dengan janggut tipis menghiasi dagunya.

Tadi malam ketika mempersiapkan keberangkatan, Banyak Angga mengatakan bahwa Paman Angsajaya dipilih untuk mengikuti perjalanan ini karena sudah kenal dengan Ginggi.

"Dalam kurun waktu tiga belas tahun ini aku sendiri belum pernah bersua kembali dengan pemuda itu. Dulu wajahnya mirip engkau, Pragola. Tapi menurut Paman Angsajaya, Ginggi sekarang memelihara cambang bauk. Dalam enam tahun berselang ini, Paman Angsajayalah yang pernah memergok Ginggi memasuki Pakuan," tutur Banyak Angga ketika membenahi perbekalan yang harus dibawa.

"Benar, Gusti. Hampir berselang tiga tahun, dua kali berturut-turut, saya sempat bertemu Ksatria Ginggi. Tiga tahun lalu saya bertemu dia walaupun hanya selintas dan dari kejauhan saja. Tapi hamba yakin, dia adalah Ksatria Ginggi. Wajahnya bercambang seperti kehadirannya tiga tahun sebelumnya," tutur Paman Angsajaya.

Paman Angsajaya selanjutnya mengatakan bahwa pada tiga tahun lalu Ksatria Ginggi memasuki gerbang kota tepat di saat *lawang seketeng* (gerbang) akan ditutup karena senja telah jatuh. Beberapa jagabaya bahkan hampir mencegahnya masuk, kalau saja Ksatria Ginggi tidak mengatakan bahwa kehadirannya akan mengabarkan sesuatu hal penting kepada Pangeran Yogascitra.

"Tapi Ginggi tak pernah mengunjungi puri Yogascitra," gumam Banyak Angga.

Percakapan pemuda itu dengan Paman Angsajaya tadi malam membuat dada Pragola berdebar keras. Pemuda ini menduga, tentu yang disangka Paman Angsajaya sebagai Ksatria Ginggi, sebenarnya adalah dirinya.

Tiga tahun lalu, ketika pertama kali Pragola menyusup ke Pakuan, ia berpura-pura sebagai prajurit dari wilayah timur dengan menggunakan cambang di wajah. Ketika cambang itu dia lepas, Paman Manggala sempat menegurnya, kalau-kalau hal ini mengundang masalah. Namun Pragola menolak bila cambang itu mesti dia kenakan sepanjang waktu. Dia bahkan memutuskan mengembalikan parasnya seperti sedia kala saja, sebab mustahil dari sekian banyak prajurit yang keluar-masuk Pakuan dirinya bisa ditemukan. Toh, mengaku untuk bertemu dan melaporkan sesuatu kepada Pangeran Yogascitra pun hanya sekadar siasat untuk dapat memasuki gerbang saja.

Namun tak disangka, belakangan dirinya disuruh "menghadap" benar-benar karena Pangeran Yudakara pun punya siasat seperti itu. Pragola berdebar karena khawatir siasatnya ketahuan orang Pakuan. Tapi juga ada semacam rasa penasaran, mengapa Paman Angsajaya yang mengaku melihat dirinya dari kejauhan, menganggapnya sebagai Ksatria Ginggi? Ini sesuatu hal yang menarik hatinya.

Beberapa orang sudah mengatakan bahwa dirinya mirip Ksatria Ginggi. Banyak Angga langsung mempercayainya, bahkan hampir menganggapnya sebagai adik, hanya karena Pragola mirip Ginggi. Nyi Mas Banyak Inten pernah menatap lama, barangkali karena hal yang sama. Dan belakangan Nyi Mas Layang Kingkin, sang ibu suri, juga pernah berkata bahwa manakala melihat dirinya mengingatkan akan seorang pemuda yang menjadi pembantu dekat keluarga puri Yogascitra pada belasan tahun silam. Tentu yang dimaksud Nyi Mas Layang Kingkin adalah Ksatria Ginggi pula.

Namun benarkah kata orang, wajahnya mirip Ksatria Ginggi? "Persetan dengan kemiripan itu! Yang penting aku tak punya hubungan apa-apa dengan orang itu, sebab sebenarnya dia harus aku bunuh!" desisnya dalam hati.

Ya, mengapa tidak begitu? Sebab berkali-kali dia tegaskan, Ksatria Ginggilah penyebab kematian Ki Guru Sudireja. Semakin banyak yang mengatakan dirinya mirip Ksatria Ginggi, semakin benci dia kepada orang itu.

Itulah sebabnya penawaran Nyi Mas Layang Kingkin agar dia mau menggagalkan misi ini, Pragola setuju sekali. Mengapa ibu suri yang masih muda dan cantik ini tak setuju dengan misi ini, Pragola tak perlu tahu. Yang penting tujuan wanita anggun itu sejalan dengan dirinya.

Banyak Angga yang mencari Ksatria Ginggi dan Pragolalah yang kelak akan membereskan nyawa orang itu!

"Mari kita lanjutkan perjalanan!" suara Banyak Angga menyadarkan lamunan Pragola.

Pemuda ini hanya menoleh, ternyata Banyak Angga pun tengah menatap dirinya. Pragola sedikit terkesiap sebab tentu Banyak Angga sejak tadi memperhatikan dirinya yang sarat dengan lamunan.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Sekarang kuda dipacu dengan keras karena hari itu juga rombongan harus sudah tiba di wilayah Kandagalante Sagaraherang.

Ketika matahari tepat di atas kepala, rombongan baru tiba di daerah kekuasaan Kandagalante Tanjungpura. Banyak Angga ternyata kenal baik terhadap penguasa Tanjungpura, yaitu Subangwara.

Pejabat ini nampak sudah tua, barangkali usianya sekitar enam puluh tahunan. Menggunakan pakaian dan baju jenis takwa dari beludru hitam dan kepalanya mengenakan bendo citak batik hihinggulan. Ketika akan menerima kedatangan Banyak Angga, pejabat ini mesti pergi dulu ke ruangan pribadinya dan kembali lagi ke beranda sudah mengganti tutup kepalanya dari bendo citak kepada jenis iket lohen.

Pragola tersenyum tipis menyaksikan hal ini. Barangkali Kandagalante Subangwara takut kesetiaannya kepada Pakuan diragukan. Iket lohen adalah tutup kepala khas orang Pajajaran, sedangkan bendo citak adalah sejenis tutup kepala yang biasa digunakan orang Cirebon. Begitu pun pakaian baju jenis takwa, yang biasa menggunakannya adalah pejabat Cirebon.

Namun Banyak Angga tidak begitu terpengaruh oleh soal pakaian. Pragola mendapati, sebenarnya Banyak Angga tidak tersinggung dengan cara-cara berpakaian. Bendo citak dan baju takwa misalnya, datang merasuk ke Pajajaran karena pengaruh orang-orang kerajaan agama baru.

Sesudah tujuh pelabuhan penting milik Pajajaran dikuasai negara agama baru, yaitu Cirebon yang dibantu Demak (1527 Masehi), perdagangan laut otomatis dikuasai kerajaan agama baru. Perdagangan di pantai utara misalnya, praktis hanya dilakukan oleh orang-orang Cirebon bahkan Demak.

Namun kendati begitu, yang namanya dagang tetaplah dagang. Dan bagi kaum pedagang yang tujuannya mencari untung, maka urusan politik bisa ditepis.

Sebelum pusat-pusat perdagangan pantai milik Pajajaran direbut Cirebon, orang-orang Pakuan sudah terbiasa melakukan hubungan dagang dengan negara mana pun jua. Maka ketika itu mengalir berbagai jenis keperluan sehari-hari dari kedua belah pihak. Pihak Pajajaran menjual seribu jung (kapal) buah asam ke Andalas, atau sebaliknya membeli seribu ekor kuda dari Sumba dalam setiap tahunnya. Orang-orang Pakuan pun sudah terbiasa menjual kain jenis kasar kepada negeri Cina, tapi sebaliknya membeli kain sutra halus dari mereka.

Namun sesudah Cirebon menguasai perdagangan pantai, maka Pakuan sudah tak sanggup lagi melakukan hubungan dagang secara langsung. Di luar kebijakan politik pemerintah, maka perdagangan antara "dua musuh" dilakukan oleh pribadi-pribadi kaum pedagang saja. Dalam hal ini tentu si penguasa perdaganganlah yang mendiktekan segalanya, termasuk mendiktekan keinginan dalam menyebarkan perdagangan budaya. Budaya berpakaian misalnya.

Orang-orang pesisir utara hampir cenderung terpengaruh budaya orang-orang Cirebon atau bahkan Demak dalam bertindak-tanduk, termasuk dalam tradisi berpakaian. Tradisi ini sedikit demi sedikit merebak ke pedalaman, yaitu ke arah selatan, ke wilayah Pajajaran. Dalam kurun waktu hampir tiga puluh tahun sejak perpindahan kekuasaan perdagangan wilayah pantai ini, tradisi berpakaian antara pesisir utara dengan penduduk Pajajaran yang berbatasan dengan wilayah utara atau timur misalnya, sudah sulit dibedakan.

Orang-orang Pajajaran di wilayah perbatasan menggunakan jenis pakaian yang hampir sama dengan orang-orang Cirebon karena terpaksa oleh keadaan, yaitu karena jenis pakaian itu banyak dijajakan oleh pedagang Cirebon. Tapi ada juga yang bertahan karena punya pendapat sendiri.

"Bendo citak mungkin datang dari Demak melalui orang-orang Cirebon. Tapi baju takwa di Pajajaran sudah ada sejak ratusan tahun silam," ujar Paman Angsajaya di saat istirahat di Tanjungpura.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment