Chapter 24
Kata prajurit setengah baya ini, jenis baju takwa sudah masuk ke wilayah Kerajaan Sunda sejak lama, yaitu semenjak orang-orang Cina melakukan hubungan dagang ke wilayah Nusantara, termasuk ke wilayah Kerajaan Sunda.
Jadi, menurut Paman Angsajaya, baju takwa pertama kali digunakan oleh orang Cina.
Namun, sesudah datang ke Nusantara, mengalami berbagai perubahan sedikit-sedikit sesuai dengan selera si pemakai.
Pendapat ini dipercaya juga oleh Banyak Angga.
Itulah sebabnya dia tidak begitu banyak aturan perihal cara-cara berpakaian.
Kalaupun Kandagalante Subangwara menggunakan baju takwa karena pengaruh orang Cirebon, itu wajar saja, mengingat Tanjungpura amat dekat ke wilayah utara yang dikuasai Cirebon.
"Selamat datang di wilayah Tanjungpura ini, Raden?" kata Kandagalante Subangwara hormat sekali.
Pragola memang sudah tahu, pengaruh Pangeran Yogascitra sebagai penasihat Raja demikian besar, terutama sesudah peristiwa pemberontakan Sunda Sembawa yang gagal pada tiga belas tahun silam itu.
Jadi, tidak berlebihan bila Banyak Angga pun mendapatkan penghormatan yang sama dengan ayahnya.
"Saya bersyukur karena bisa melakukan perjalanan ke sini dengan selamat tanpa mendapatkan gangguan yang berarti di tengah perjalanan?" kata Banyak Angga duduk bersila saling berhadapan.
Kandagalante Subangwara hanya tersenyum dikulum.
Sebetulnya semua orang tahu, Tanjungpura merupakan wilayah rawan.
Daerah ini terletak di perbatasan kekuasaan orang-orang Cirebon. Puluhan tahun silam, sering terjadi bentrokan-bentrokan kecil antara pasukan Cirebon dengan pasukan Pajajaran.
Namun belakangan, kekuasaan Cirebon semakin kuat dan sebaliknya pasukan Pajajaran semakin lemah.
Hanya karena pasukan Cirebon tidak berani menyerbu langsung ke pedalaman saja menyebabkan pertempuran besar dan habis-habisan tidak pernah berlangsung.
Ucapan Banyak Angga barusan mungkin hanya sekadar sindiran untuk mengatakan betapa sulitnya melakukan perjalanan ke utara ini, sebab sesekali waktu akan bertemu musuh.
Barangkali ucapan ini pun adalah sebuah harapan.
Sebagai orang pusat, Banyak Angga punya keinginan agar wilayah yang masih berada di bawah kekuasaan Pajajaran tetap tangguh dan terjamin keamanannya.
Kalaupun tidak sanggup mengusir musuh yang ada di perbatasan, paling tidak wilayah yang ada harus dipertahankan keutuhannya.
"Tanjungpura masih tetap milik Pajajaran, Raden. Kendati Cirebon masih menguasai wilayah pesisir utara, namun kekuatannya tidaklah setangguh dahulu. Cirebon bahkan kini seperti tidak punya niat untuk melakukan peperangan dengan kita, apalagi sesudah pendukung utamanya, yaitu Kerajaan Demak, mulai melemah karena terlalu banyak percekcokan di dalam negerinya sendiri. Namun harus saya akui, keamanan di wilayah perbatasan ini memang cukup rawan. Bukan dari orang-orang Cirebon, melainkan dari kaum perampok," tutur Kandagalante.
"Di mana-mana perampok selalu saja ada?" gumam Banyak Angga.
"Kadang-kadang mereka tidak mengatasnamakan perampok tulen, melainkan berkedok politik," tutur Kandagalante Subangwara.
Banyak Angga melirik tajam.
"Yah, barangkali Raden juga sudah mengetahuinya sejak lama bahwa terjadi saling pengaruh antara Cirebon dan kita. Tentu rakyatlah yang diperebutkan. Kita mempertahankan kita agar tetap bersetia kepada Pajajaran. Tapi di lain pihak, Cirebon pun berupaya agar wilayah-wilayah yang ada di sekitar Pajajaran mau bergabung dengan mereka. Keadaan ini dimanfaatkan oleh orang-orang jahat. Bila ada wilayah yang berniat melepaskan diri dari kita, maka ada penjahat yang pura-pura jadi prajurit Pajajaran. Mereka akan mengancam melaporkannya ke Pakuan kalau tidak sanggup membayar upeti. Sebaliknya bila ada wilayah yang masih bertahan dengan kesetiaannya terhadap Pakuan, maka mereka menyamar sebagai prajurit Cirebon. Mereka menjarah harta rakyat, bahkan berani membunuh dan memperkosa kaum wanita."
"Kurang ajar!" desis Banyak Angga. "Tapi tidakkah mereka sebetulnya orang-orang Cirebon?" tanyanya.
"Kami pun pernah bercuriga seperti itu. Tapi rasa curiga ini malah menjadikan orang-orang Cirebon marah. Hampir terjadi penyerbuan karena kemarahan ini. Menurut mereka, orang Cirebon pemilik agama baru tidak akan harus melakukan tindakan bejat dan tidak berprikemanusiaan. Kalaupun mereka perang, maka bertempur di jalan agama. Begitu kata mereka," tutur Kandagalante Subangwara.
Dan ucapan pejabat ini amat melegakan perasaan Pragola yang ikut menyimak percakapan ini.
"Pernah terjadi pertempuran besar?" tanya Banyak Angga lagi.
"Setahun yang lalu terjadi pertempuran dengan kelompok yang mengaku prajurit Cirebon. Mereka ganas dan memeras rakyat. Jadi, kami tidak percaya mereka prajurit Cirebon. Tapi percaya atau tidak, yang pasti mereka harus kami lawan. Maka terjadi bentrokan senjata. Mereka sepertinya orang-orang yang pandai bertempur, prajurit Tanjungpura hampir terdesak, banyak yang luka bahkan terbunuh. Tapi di saat genting seperti itu, tiba-tiba muncul seorang ksatria. Kepandaiannya menakjubkan. Dalam beberapa saat saja satu pasukan penyerbu bisa dilumpuhkan. Ksatria itu mengalahkan musuh tanpa membunuh. Saya baru ingat, ksatria Pajajaran yang melumpuhkan musuh tanpa membunuh, tidak ada lain, kecuali pemuda sakti bernama Ginggi. Kaum juru pantun di Tanjungpura kerap kali menggambarkan perangai dan tindak-tanduk Ksatria Ginggi seperti itu?" tutur Kandagalante Subangwara.
Hati Pragola berdebar keras ketika mendengar cerita ini.
Ginggi, lelaki yang harus dia temukan ini, ternyata pernah ke tempat ini setahun yang lalu.
"Tapi begitu hebatkah kepandaian orang itu? Masa satu pasukan dia kalahkan tanpa membunuh?" Pragola membayangkan, betapa sulitnya melumpuhkan banyak musuh tanpa membunuh.
Yang pernah dia alami, mencoba membebaskan diri dari sebuah kepungan hanya bisa dilakukan dengan mencoba bertindak kejam.
Kalau tidak membunuh, sekurang-kurangnya mencederai lawan.
Mungkin orang-orang Tanjungpura melebih-lebihkannya.
Namun benar atau tidak, Pragola harus bertemu dengan lelaki itu.
Bukan untuk sekadar mencoba kedigjayaannya, melainkan untuk melawan dan mengalahkan orang itu.
Ya, lelaki bernama Ginggi itu harus dia kalahkan.
Barangkali juga harus dia bunuh sebagai balasan kematian Ki Guru Sudireja.
"Tidak ada orang yang memiliki kekuatan sempurna. Walaupun sedikit dan tidak kentara, siapa pun pasti memiliki kelemahan. Itulah peluang untuk mengalahkannya," kata Ki Guru Sudireja ketika masih hidup.
Pragola percaya akan perkataan gurunya ini, itulah sebabnya dia tidak pernah takut, termasuk menghadapi Ginggi.
Banyak Angga pun termasuk yang tertarik akan berita kehadiran Ginggi ini.
Pragola melihat wajah pemuda itu yang penuh harap.
Betapa tidak, perjalanan jauh yang tengah dilakukan ini, selain menyelidiki kebenaran perihal terkepungnya belasan perwira senior di Puncak Cakrabuana, juga tengah mencari orang-orang pandai yang di antaranya Ginggi inilah.
"Setahun yang lalu dia ada di sini?" gumam pemuda itu.
"Saya sendiri tidak sempat mencegahnya, sebab kata para prajurit, Ksatria Ginggi segera berlalu setelah menyelesaikan tugasnya," tutur Kandagalante Subangwara.
Banyak Angga hanya terpekur.
"Adakah sesuatu yang penting perihal dirinya, Raden?" tanya penguasa Tanjungpura ini.
Banyak Angga mengangguk.
Kemudian dia memaparkan maksud perjalanannya ini.
Betapa ayahnya menginginkan Pakuan dipenuhi orang-orang tangguh untuk menjaga kemungkinan penyerbuan dari musuh.
"Pajajaran selalu dirundung malang. Sejak dulu musuh gemar mengganggu. Kini, siapa yang dianggap berbahaya bagi negeri kita, Raden?" tanya Subangwara.
Banyak Angga hanya terpekur sambil memangku kedua belah tangannya di depan dada.
"Barangkali musuh akan datang dari mana-mana, termasuk dari dalam diri kita sendiri?" gumam pemuda berkumis tipis ini.
Kandagalante Subangwara menoleh sejenak.
Ditatapnya wajah pemuda itu dalam-dalam.
"Musuh yang datang dari luar bisa dilihat. Tapi musuh yang paling berbahaya adalah yang ada di dalam. Mereka sembunyi di tempat terang. Mereka berkumpul dengan kita. Saling bersua, saling menolong, barangkali juga bersahabat. Namun tentu itu semua palsu sebab merupakan bagian dari siasat dan strategi mereka?" gumam Banyak Angga setengah mengeluh.
"Seperti yang dilakukan Purbajaya belasan tahun yang silam itu, Raden?" gumam Subangwara.
Banyak Angga menunduk dan menghela napas.
Pragola pernah mendengar kisah Purbajaya ini.
Belasan tahun silam, pemuda ini datang dari wilayah Kandagalante Tanjungpura ini.
Purbajaya yang pernah menjalin kasih dengan kemenakan Kandagalante Subangwara, datang ke Pakuan dengan niat mengabdikan keahliannya sebagai puhawang (ahli lautan).
Namun, kehadiran Purbajaya ke Pakuan sebenarnya hanya sebagai upaya penyusupan saja.
Tujuan sebenarnya, dia datang atas suruhan Cirebon dalam upaya melemahkan kedudukan Sang Prabu Ratu Sakti, penguasa Pakuan ketika itu.
Purbajaya hampir saja berhasil membunuh Sang Prabu Ratu Sakti, kalau saja niat itu tidak dihalangi Ksatria Ginggi.
Pukulan telak yang dilakukan Purbajaya ke arah Sang Prabu ditangkis keras oleh Ksatria Ginggi.
Akibatnya, Purbajaya terlempar ke belakang.
Pemuda itu luka parah dan akhirnya tewas oleh tenaga pukulan membalik ke tubuhnya sendiri.
Pragola tahu, Banyak Angga tentu sedih dengan kejadian itu sebab boleh dikata Purbajaya adalah sahabatnya.
Pemuda Tanjungpura ini memang mengabdi di puri Yogascitra.
Dan selama berada di sana, ke mana-mana selalu berdua.
Barangkali pemuda ini tidak menyangka bahwa persahabatan itu palsu belaka.
Purbajaya hanya berpura-pura sebagai orang Pajajaran.
Padahal yang sebenarnya hanya akan menghancurkan Pajajaran.
Sampai di sini, Pragola agak memerah pipinya.
Bukankah dirinya pun hadir ke Pakuan ini untuk menghancurkannya? Banyak Angga benar, musuh yang paling berbahaya adalah yang sembunyi di tempat terang.