Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 25

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 25

"Saya tak benci kepada Purbajaya. Tapi saya memang punya kesedihan yang dalam," tutur Banyak Angga. "Terkadang kita terlalu lemah. Itulah salah satu musuh dalam diri kita sendiri," tuturnya lagi. "Kelemahan saya, saya selalu percaya semua orang. Mengapa saya mesti tak percaya orang, padahal saya tak pernah membohongi mereka?" gumam Banyak Angga.

Pragola merasa disentil telinganya ketika mendengar ucapan ini. Untunglah, percakapan hari itu sampai di situ saja, sehingga perasaan tidak enak yang ada pada diri Pragola tidak terus mengganggunya.

Hanya satu malam saja rombongan beristirahat di Tanjungpura. Pagi hari seusai sarapan, mereka segera melanjutkan perjalanan.

"Hati-hatilah Raden, perjalanan menuju Sagaraherang keamanannya kurang terjamin," kata Subangwara memperingatkan.

Kata Kandagalante Subangwara, di hutan jati antara dua wilayah kandagalante itu banyak ditemukan kelompok-kelompok jahat. Mereka adalah orang-orang yang melepaskan diri dari Pakuan, namun juga tidak mau bergabung dengan kekuatan mana pun, termasuk Cirebon. Pekerjaan mereka hanyalah malang melintang di hutan-hutan jati mengganggu keamanan. Setiap ada rombongan pedagang lewat, pasti diganggu dan barangnya dirampok.

"Saya pun sudah mendengar, Paman. Menurut penyelidikan, mereka adalah sisa-sisa pengikut Kandagalante Sunda Sembawa yang melarikan diri karena pemberontakannya berhasil digagalkan. Tentu saja kami harus berhati-hati terhadap mereka sebab perampok hutan jati suka berlaku kejam kepada orang yang datang dari Pakuan," kata Banyak Angga.

Akhirnya rombongan kecil ini berangkat meninggalkan Tanjungpura dan dilepas oleh doa-doa pendeta agar perjalanan tidak mendapatkan halangan. Perjalanan menuju Sagaraherang akan memakan waktu sehari semalam bila dilakukan dengan berkuda. Namun, baik berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan, perjalanan tidak akan selancar yang diperkirakan. Ini karena perjalanan di wilayah utara harus dilakukan dengan hati-hati. Terkadang harus bersembunyi. Seperti sudah diterangkan, daerah utara adalah wilayah Cirebon yang sudah puluhan tahun menjadi musuh bagi Pajajaran.

Tujuan Banyak Angga melakukan perjalanan ke wilayah timur bukanlah untuk melakukan pertempuran di setiap perjalanannya, melainkan untuk melakukan penyelidikan perihal tertahannya belasan perwira senior Pakuan di Puncak Cakrabuana. Banyak Angga tidak berniat mencari kesulitan di tengah jalan. Tapi Pragola sebenarnya lebih mengenal daerah ini ketimbang Banyak Angga. Hanya kelompok anak muda ini yang tahu betapa berbahayanya perjalanan yang dilakukan Banyak Angga ini.

Perjalanan menuju wilayah timur yang dilakukan Banyak Angga, selain kemungkinan bakal diganggu kaum perampok, secara pasti juga akan dihadang pasukan tidak resmi dari Cirebon. Sekurang-kurangnya begitu menurut berita yang disampaikan utusan Pangeran Yudakara kepada Pragola sebelum keberangkatan bersama rombongan ini. Bukan sekadar mengganggu, sebab barangkali mereka juga akan membunuhnya.

Sudah menjadi tekad Pangeran Yudakara untuk tidak membiarkan Pakuan menjadi kuat kembali. Itulah sebabnya, berbagai siasat digunakan agar kekuatan Pakuan bisa dilumpuhkan. Pangeran Yudakara bersiasat mengundang harimau keluar sarang, dengan tujuan agar sarang itu sendiri menjadi kosong penghuni. Dalam upaya ini pulalah pasukan penghadang sengaja disebar di sepanjang perjalanan. Pangeran Yudakara tahu betul ke mana rombongan kecil ini akan melakukan perjalanan. Memang mudah diduga, perjalanan ke wilayah timur hanya akan menyusuri jalan utama.

Sejak masa perkembangan Pakuan Pajajaran, memang ada jalan yang menghubungkan wilayah barat dan timur. Yang dimaksud jalan besar adalah jalan yang bisa dilalui roda pedati atau kendaraan berkuda lainnya. Jalan besar itu menghubungkan Dayeuh Pakuan dengan Galuh di timur, melalui Cileungsi, Warunggede, Tanjungpura, Karawang, Cikao, Purwakarta, Sagaraherang, terus ke Sumedang, Tomo, Sindangkasih, Rajagaluh, Talaga, Kawali, dan berakhir di Galuh. Itulah jalan besar yang mudah dilalui. Kaum pedagang menggunakan jalan utama ini sebagai jalur ekonomi.

Namun, tentu saja bukan tanpa gangguan. Sejak dulu saat Pajajaran masih memiliki kejayaan, perampok dan pengacau keamanan kerap kali menghadang siapa pun yang lalu-lalang. Kaum pedagang dan pengelanalah yang biasanya diganggu. Sekarang, di saat Pajajaran mengalami kemerosotan, kekacauan bahkan terjadi hampir di mana-mana. Bukan saja kekacauan yang disebabkan oleh kaum penjahat biasa, melainkan juga oleh golongan yang bertindak atas kepentingan politik. Contoh yang jelas adalah rencana penghadangan yang dilakukan orang-orang Yudakara terhadap rombongan kecil yang dipimpin oleh Banyak Angga ini.

Benar seperti perkiraan Pragola, di hutan jati antara Tanjungpura dan Sagaraherang, rombongan dicegat oleh sekelompok orang. Mereka tampak beringas. Tanpa memberi peringatan atau ancaman terlebih dahulu, kelompok asing ini langsung melakukan penyerangan. Pragola bisa melihat dengan jelas bahwa serangan itu bertujuan untuk membunuh. Serangan mereka rata-rata ganas dan menggunakan gobang (pedang) tajam terhunus. Ada juga yang membawa golok, bahkan gegendir (sejenis gada) yang terbuat dari kayu jati tua.

Kaum penyerang itu berjumlah belasan orang. Rata-rata tubuh mereka tinggi besar dengan wajah bercambang. Pakaian mereka terbuat dari kain hitam kasar, berupa baju kampret dan celana sontog. Empat orang rombongan kecil ini segera dikepung rapat oleh para penghadang itu. Pragola sendiri pun termasuk orang yang menjadi sasaran penyerangan ini, demikian juga Paman Manggala. Serangan yang datang padanya terasa amat sungguh-sungguh dan tujuannya seperti mengincar nyawa.

Sambil mencoba menahan serangan yang datang bertubi-tubi dari kiri dan kanannya, Pragola meneliti lebih saksama cara bertempur dan penampilan mereka. Pemuda ini sedikit mengerutkan dahinya sebab para penyerang tidak menampilkan gerakan dengan penuh perhitungan, apalagi menggunakan strategi tempur layaknya militer. Padahal, kalau pemberitahuan Pangeran Yudakara bisa dipercaya, yang melakukan penghadangan rombongan kecil ini adalah tentara Cirebon yang menyamar sebagai kelompok penjahat.

Menurut Pangeran Yudakara, pasukan Cirebon akan mencegat Banyak Angga dan kalau mungkin membunuhnya. Bila putra Pangeran Yogascitra ini tewas sebelum menunaikan tugasnya, maka akan disusul lagi oleh utusan lainnya. Utusan kedua dan seterusnya akan selalu dihadang dan dihancurkan sehingga pada akhirnya semua kekuatan di Pakuan dilumpuhkan. Inilah siasat mengundang harimau keluar sarang seperti yang dikatakan Pangeran Yudakara tempo hari.

Benarkah rombongan penghadang ini tentara Cirebon yang tengah menyamar? Pragola hafal sekali gaya bertempur orang-orang Cirebon. Di samping ilmu berkelahi mereka yang tinggi, mereka juga menjunjung sifat-sifat ksatria. Kalau mau melakukan penyerangan, mereka selalu memberikan peringatan terlebih dahulu kepada lawan dengan cara berteriak keras. Banyak perwira Cirebon juga pantang membunuh kalau tidak perlu sekali. Mereka hanya ingin melumpuhkan dan menaklukkan lawan saja. Sebab kendati membunuh dalam peperangan dibenarkan dalam agama, namun pembunuhan itu sendiri bukanlah tujuan utama.

Tapi Pangeran Yudakara memang sudah mengatakan, bila keadaan memaksa, Banyak Angga harus dibunuh. Sekarang tampak nyata, pasukan penghadang itu bergerak bukan karena terpaksa oleh keadaan, melainkan sudah menjadi tujuan utamanya. Mereka datang memang untuk membunuh. Dan sialnya, mengapa dirinya sendiri pun sepertinya hendak dibunuh juga? Gerakan-gerakan ganas boleh saja dilakukan, tapi fungsinya sekadar untuk mengelabui Banyak Angga saja. Sekarang, kelihatannya seperti bukan pura-pura dan Pragola mesti meningkatkan kewaspadaan kalau tidak mau nyawanya melayang oleh sabetan golok atau tusukan gobang.

Pragola dikepung oleh tiga lawan. Satu menghadang di depan dan dua berada di samping kiri dan kanannya. Ketiga orang itu melakukan serangan saling susul-menyusul dengan cepat dan ganas. Lawan di depan mengayunkan golok yang ujungnya berkilat saking tajamnya. Sedangkan dari kiri dan kanannya, secara bersamaan mereka menusukkan ujung gobangnya. Satu mengarah ke lambung kiri, satunya ke rusuk kanan. Sedangkan ayunan golok dari depan mengarah lurus pada keningnya.

Pragola adalah seorang pemuda yang sejak kecil ditempa oleh berbagai kemelut dan kekerasan. Perkelahian baginya bukan sesuatu hal yang baru. Sejak bersama gurunya Ki Sudireja, Pragola banyak terlibat pertempuran, baik melawan prajurit Pajajaran maupun kaum perompak dan segala macam orang jahat yang mengganggu rakyat. Itulah sebabnya, menghadapi ancaman maut seperti yang terjadi sekarang ini, tak ada rasa gentar secuil pun. Yang ada dalam benaknya hanyalah rasa marah dan heran saja.

Pemuda itu tetap merasa bingung, mengapa orang-orang yang diduga sebagai utusan Pangeran Yudakara ini melakukan serangan ganas dan sungguh-sungguh terhadapnya? Serangan ganas dari tiga penjuru ini sulit untuk ditangkis begitu saja, apalagi Pragola tidak berbekal senjata. Maka satu-satunya jalan adalah menghindar dengan cara meloncat ke belakang.

Pemuda itu menekuk sepasang kakinya, hampir seperti hendak jongkok. Ini adalah gaya tolak menjejak bumi seperti tolakan kaki katak dalam melakukan loncatan. Bedanya, gerakan ini dilakukan sebaliknya; tidak meloncat ke depan seperti binatang itu, melainkan ke belakang. Tenaga tolakan itu amat besar, sehingga tubuh Pragola seperti terlontar ke belakang.

Tubuh pemuda itu terlontar ke atas hampir tiga depa tingginya. Di udara dia bersalto beberapa kali untuk melihat suasana di belakang dirinya dan sekaligus berjaga-jaga terhadap serangan baru. Ketika tubuhnya bersalto, pemuda itu sempat menyaksikan betapa Banyak Angga pun tengah dikepung lawan. Yang mengepungnya bahkan lebih banyak lagi jumlahnya. Dalam selintas Pragola menghitung, ada sekitar lima atau enam orang pengepung yang mencoba mengancam nyawa pemuda itu. Entah dia sanggup menahannya atau tidak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment