Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 26

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 26

Tapi Pragola tak mau tahu tentang itu.

Dengan kata lain, Pragola akan membiarkan jika toh Banyak Angga harus mati sebab itulah keputusan Pangeran Yudakara, itulah keputusan politik!

Pangeran Yudakara yang mengaku berjuang untuk kepentingan Cirebon sedang mencoba melumpuhkan kekuatan Pakuan sedikit demi sedikit.

Matinya Banyak Angga atau siapa pun yang datang dan memihak Pakuan adalah kemenangan bagi Pangeran Yudakara.

Pragola turun ke atas tanah dengan mantap, tepat membelakangi pertempuran lain yang dilakukan Banyak Angga.

Baru saja tubuhnya berdiri tegak, serangan sudah menghambur dari depannya. Yang melakukan serangan adalah tiga orang tadi. Pragola harus bersiap-siap kembali menerima serangan mereka.

Namun sebelum mereka benar-benar dekat, terdengar teriakan Banyak Angga jauh di belakangnya.

"Pragola, awas di belakang!!!" teriak Banyak Angga.

Dengan gerakan amat cepat, Pragola memutar tubuhnya. Ternyata tiga penyerang tengah mengayunkan golok besar ke arah punggungnya. Pragola tak ada waktu untuk menghindar. Maka satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah mencoba mendahului melakukan penyerangan.

Ini adalah lomba kecepatan. Apakah serangan golok yang lebih dulu mencecar dirinya, ataukah sodokan sepasang kepalan tangannya yang mengarah ke kiri dan kanannya. Namun tak percuma Pragola digembleng bertahun-tahun oleh mendiang Ki Guru Sudireja.

Sejak usia dini dia telah dilatih melakukan gerakan-gerakan cepat. Mula-mula dalam waktu singkat dia harus mampu melayangkan pukulan kiri-kanan ke batang pohon pisang masing-masing seratus kali. Semakin usia latihan bertambah, maka jumlah pukulan harus semakin banyak. Yang dipukul pun bukan sekadar batang pohon pisang lagi, melainkan batang pohon enau.

Dalam usia remaja, Pragola sudah sanggup memukul hancur batang pohon kelapa sekali tohok. Ini adalah lomba kecepatan dan gerakan cepat itu dilakukannya dengan kekuatan penuh. Maka tak ayal, hasilnya adalah jeritan-jeritan kesakitan.

Ketiga orang penyerangnya terlontar keras hampir tiga depa ke belakang. Dua penyerang di kiri-kanannya mendapatkan sodokan keras dari sepasang tangan yang dilakukan secara silang, dan penyerang yang berada di tengah menerima tendangan telak di ulu hati.

Untuk sementara Pragola bebas dari penyerang. Dengan kaki terpentang lebar dia berdiri bertolak pinggang, mengawasi sibuknya Banyak Angga menghindarkan kepungan dari kiri-kanannya. Pragola juga mengawasi betapa teman-temannya yang lain tengah dikepung. Paman Manggala dikeroyok tiga orang dan Paman Angsajaya dikeroyok dua lawan.

Pragola tak perlu membantu kedua orang ini sebab dalam selintas pun dia sudah dapat menarik kesimpulan bahwa kemampuan lawan masih di bawah kepandaian kedua orang itu. Paman Manggala dengan entengnya berkelit ke sana kemari menghindarkan serbuan golok-golok lawan. Begitu pun Paman Angsajaya dengan amat indahnya menggerakkan langkah kaki dalam upaya menghindari serbuan lawan.

Paman Angsajaya sanggup bergerak indah mungkin karena dia punya gaya berkelahi yang indah, tapi mungkin juga karena sanggup mengendalikan lawan yang kemampuannya di bawahnya. Baik Paman Angsajaya maupun Paman Manggala ternyata tak mencoba untuk membunuh lawan.

Paman Manggala mungkin tak punya niat sebab dia tahu, "musuh" yang menghadang ini sebenarnya teman. Tapi Pragola patut memuji Paman Angsajaya. Sudah jelas nyawanya selalu diancam sebab lawan berniat untuk membunuhnya. Tapi prajurit Pajajaran setengah baya ini seperti tak berniat untuk membunuh.

Dia memang balik menyerang dan melakukan beberapa pukulan, namun tak ada pukulan telak yang mengancam nyawa lawan. Mungkin Paman Angsajaya ingin menangkap lawan hidup-hidup untuk kelak diteliti identitasnya, tapi mungkin juga karena orang ini punya hati yang lembut.

Seperti yang banyak didengar Pragola, rata-rata orang Pajajaran punya kelembutan hati. Mereka tak suka mengganggu orang lain tapi juga tak suka diganggu. Mereka tak suka membohongi tapi juga tak suka dibohongi.

Tapi menurut Pangeran Yudakara, sifat-sifat seperti ini adalah sesuatu yang lemah. Karena selalu jujur, maka orang Pajajaran pun selalu menganggap orang lain jujur. Sekali dipermainkan oleh tindakan akal-akalan seperti permainan politik misalnya, maka hancurlah mereka.

Pragola kembali berpaling untuk memperhatikan nasib Banyak Angga. Pemuda tampan berusia sekitar 27 tahun atau lebih ini nampak sibuk sekali dikeroyok oleh lima orang lawannya. Pragola tak sayang pada jiwa anak pejabat Pakuan ini. Kalau mati dalam pertempuran ini tak mengapa, sebab itu berarti satu bagian dari tugasnya sudah terselesaikan secara tidak langsung.

Tapi Pragola pun tak mau orang menaruh curiga padanya. Kelima orang pengeroyok itu memang masih bersikap mengepung namun sepertinya tak sanggup membunuh Banyak Angga dalam waktu cepat. Kalau kesibukan pemuda itu tidak cepat dibantu, hanya akan menimbulkan kecurigaan saja. Siapa pun tidak boleh menduga bahwa Pragola berpihak pada kaum penyerang.

Maka untuk itu, dia terpaksa harus membantu Banyak Angga untuk menyapu lawan. Ketika melihat kelima orang itu begitu bertele-tele dalam upaya membunuh Banyak Angga, Pragola hanya menganggap bahwa ini sebuah kegagalan.

Kegagalan yang satu tidak boleh disusul oleh kegagalan yang lainnya. Timbulnya rasa curiga orang-orang Pakuan karena tidak membantu Banyak Angga dalam membebaskan diri dari marabahaya hanya akan menciptakan kegagalan yang lebih parah lagi.

Maka dari itu, dia segera turun melibatkan diri. Kini Banyak Angga lepas dari kepungan bahkan dari bahaya kematian sesudah Pragola turun membantu. Bahkan dalam waktu yang cukup singkat, para pengepung sudah porak-poranda. Semuanya sudah bisa dilumpuhkan oleh Pragola sebab perhatian para penyerbu tengah tertumpu kepada Banyak Angga.

Banyak Angga sendiri terpana melihat kehebatan Pragola. Barangkali pemuda itu sebelumnya tidak pernah menduga bahwa pembantunya ini memiliki ilmu berkelahi yang demikian tinggi. Diperhatikan secara khusus seperti ini, Pragola sedikit gagap dan merasa serbasalah.

Barangkali dia terlalu memperlihatkan kebolehannya di depan umum, teristimewa di hadapan "majikan"-nya, Banyak Angga. Mungkin Banyak Angga akan merasa tersinggung sebab kegagahannya yang baru saja ditampilkan sepertinya mendudukkan pemuda itu ke tempat yang rendah.

Terlalu cepatnya Pragola menundukkan lawan hanya mencoreng harga diri Banyak Angga. Sebab pemuda anak pejabat ini, yang mendapatkan tugas berat melakukan perjalanan ke wilayah timur yang berbahaya ini, nyatanya tidak memiliki kepandaian yang berarti.

Namun perkiraan-perkiraan yang membuat dada Pragola berdebar adalah kalau saja Banyak Angga berpikir lain. Bagaimana bila pemuda ini mencurigai dirinya? Pragola diperkenalkan oleh Pangeran Yudakara ke pihak istana hanya sebagai prajurit biasa. Mungkinkah seorang prajurit biasa memiliki kepandaian begitu tinggi? Ini yang membuat Pragola khawatir.

Dengan perasaan sedikit tegang, Pragola menatap Banyak Angga yang datang mendekat untuk melakukan sesuatu yang tidak diharapkan. Ternyata Banyak Angga datang hanya untuk memeluknya.

"Adikku, ternyata kepandaianmu demikian hebat. Aku bangga padamu," tutur pemuda itu sejujurnya. Ditepuk-tepuknya punggung Pragola dengan penuh sukacita.

Lega hati Pragola. Ternyata Banyak Angga tidak berburuk sangka padanya.

"Pangeran Yudakara adalah seorang yang senang merendah. Dia tak pernah mengatakan bahwa prajurit yang menjadi bawahannya memiliki ilmu yang demikian tinggi. Apakah Pangeran Yudakara memiliki banyak prajurit sepertimu?" tanya Banyak Angga masih dengan tatapan kagum.

Pragola hanya menahan napas, tak tahu harus berkata apa.

"Kepandaian saya tidak begitu hebat. Kebetulan saja perhatian para pengeroyok hanya tertumpu padamu sehingga saya lolos dari penglihatan mereka," kata Pragola pada akhirnya.

"Jangan merendahkan diri. Kau tadi melumpuhkan tiga orang dalam satu gerakan. Seranganmu cepat dan mantap. Tak sembarang orang sanggup melakukannya," susul Banyak Angga masih dengan nada memuji.

"Ah, Raden terlalu melebih-lebihkannya. Orang yang dicekam rasa takut bila ditekan keadaan akan melakukan sesuatu kenekatan. Saya tadi takut sekali melihat tiga orang melakukan serangan sekaligus dari tiga jurusan. Saking takutnya dilukai mereka, saya mendahului menyerang mereka. Hanya sekenanya saja dan kebetulan kena," tutur Pragola, juga bicara sekenanya.

Banyak Angga hanya tersenyum dikulum. Dan Pragola tidak bisa menduga apa yang ada di balik senyuman itu.

"Radenlah yang menyelamatkan nyawa saya. Kalau saja Raden tidak memperingatkan, saya tentu sudah tewas oleh mereka," kata Pragola.

"Engkau pun berjasa. Kalau aku kau biarkan dikeroyok kelima orang itu, sudah pasti aku akan binasa. Aku akan kabarkan pada ayahanda bahwa engkau telah berjasa menyelamatkan nyawaku. Pada peringatan Kuwerabakti tahun depan, akan aku perjuangkan agar kau ikut tes keperwiraan. Engkau cukup pandai untuk dijadikan perwira," tutur Banyak Angga lagi.

Sementara itu, Paman Manggala dan Paman Angsajaya telah meringkus para penghadang. Lima orang penghadang tewas oleh Pragola, Paman Manggala, dan Paman Angsajaya. Sisanya tujuh orang luka-luka walaupun tidak sampai membahayakan jiwa mereka.

"Semuanya sudah kami cangkalak, Raden," lapor Paman Angsajaya.

"Perlukah mereka dibunuh?" tanya Pragola sedikit menguji.

"Jangan bunuh mereka!" sergah Banyak Angga.

"Mereka adalah orang jahat! Mereka perampok!" sekali lagi Pragola menguji.

Namun Banyak Angga menggelengkan kepala.

"Kejahatan mereka karena suatu sebab juga dan tidak berdiri sendiri. Semua saling berkaitan. Kejahatan hanya bisa dilenyapkan dengan mencoba menciptakan keadaan agar orang tidak berpikir menjadi penjahat," tutur Banyak Angga.

"Lalu akan kita apakan mereka kini?" tanya Pragola.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment