Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 27

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 27

Banyak Angga termenung sejenak. "Ya, pada akhirnya yang berbuat jahat akan mendapatkan hukuman. Kita serahkan kepada para penguasa setempat. Kita akan membawa mereka ke cutak, untuk diproses lebih jauh," gumam pemuda itu sesudah menghela napas beberapa kali.

Mengubur lima mayat musuh korban pertempuran kecil itu ternyata cukup menyita waktu juga. Ini menyebabkan rombongan kecil itu harus bermalam di tempat itu. Untuk kesekian kalinya Pragola terpaksa memuji perilaku dan pendirian Banyak Angga. Dengan alasan mengejar waktu, Pragola mengusulkan agar mayat-mayat berserakan itu ditinggal begitu saja, atau paling tidak ditutupi dedaunan. Namun Banyak Angga berpikir lain. Kata pemuda itu, selagi hidup bisa saja orang itu jahat, namun sesudah mati yang tersisa hanyalah jasadnya. Dan jasad orang mati, yang jahat maupun yang baik, tak ada bedanya; semua harus dirawat dan dihormati. Tentu saja pendirian Pragola pun sebetulnya begitu. Kalau pun dia tadi mengusulkan lain, itu karena ingin lebih mengenal karakter pemuda itu saja.

Pragola tahu, ada kebiasaan orang Pajajaran dalam menyempurnakan jasad si mati. Di wilayah Pajajaran yang banyak terdapat sungai besar seperti wilayah Galuh, ada istilah "nerebkeun" (melabuhkan). Jasad orang mati dibenamkan ke dasar sungai atau telaga. Tapi di wilayah pegunungan yang jauh dari sungai besar, terdapat istilah "ngurebkeun" (mengubur). Jasad orang mati ditanam ke dalam tanah.

Malam hari keempat, orang-orang itu tidur bergantian. Bila dua orang beristirahat, maka dua orang lagi bertugas menjaga (meronda). Pragola memilih menjaga bersama Paman Manggala, padahal Banyak Angga tampak sangat ingin satu kelompok dengannya. "Keahlian Paman Manggala tidak begitu tinggi, begitu pun Paman Angsajaya. Supaya kekuatan seimbang, terpaksa saya harus menyertai Paman Manggala dan sebaliknya Raden menyertai Paman Angsajaya," tutur Pragola memberikan alasan. Dan ini dapat dimengerti pemuda pejabat itu yang lantas setuju dan mendapatkan jatah tidur paling awal.

Padahal yang sesungguhnya diinginkan Pragola adalah bercakap-cakap dengan Paman Manggala perihal kecurigaan yang ada di benaknya. Di saat Banyak Angga dan Paman Angsajaya tidur pulas, Pragola mengajak Paman Manggala agak menjauh dari tempat itu. Paman Manggala memeriksa ketujuh tawanan yang terikat menjadi satu. Sesudah itu baru dia menghampiri Pragola. "Ada apa?" tanya Paman Manggala. Mereka duduk bersila saling berhadapan. "Saya heran dengan tindak-tanduk para penghadang. Benarkah mereka prajurit Cirebon? Gerakan tempur mereka kasar sekali. Mereka pun beringas dan kejam. Kepada saya mereka melakukan serangan ganas, seolah-olah mereka menginginkan saya mati?" kata lagi Pragola.

"Barangkali itu hanya perasaanmu saja, Pragola," gumam Paman Manggala. "Tidak terasa tindakan dan perlakuan mereka pada Paman?" "Memang terasa. Tapi aku anggap itu wajar sebab penyamaran mereka tak boleh diketahui." "Kita bisa mati kalau keahlian mereka berada di atas kita," tutur Pragola. "Itulah sebabnya kita dipercaya mengemban misi ini," kata Paman Manggala.

Di kegelapan malam Pragola mencoba menatap Paman Manggala, namun suasana terlalu gelap. Setiap bermalam di tengah perjalanan memang tak pernah memasang api unggun, takut diserang prajurit Cirebon. "Bisakah mereka dipercaya seperti kita dalam mengemban misi ini?" tanya Pragola. "Mereka bisa dipercaya." "Tidak akan buka rahasia bahwa sebetulnya mereka bukan perampok melainkan prajurit Cirebon yang dikendalikan Pangeran Yudakara?" tanya Pragola lagi. "Tidak akan buka rahasia!" jawab Paman Manggala yakin.

Pragola puas dengan jawaban ini. Tapi dia sendiri pun tak tahu mengapa merasa puas dengan jawaban Paman Manggala. Beberapa lama kedua orang itu menjaga. Beberapa kali Paman Manggala memeriksa tawanan seolah-olah ingin meyakinkan tawanan tidak akan melarikan diri. "Bisakah kita usahakan mereka melarikan diri?" tanya Pragola. "Tidak bisa, mereka luka parah?" bisik Paman Manggala. "Karena tadi mereka seperti berusaha membunuh saya, saya terpancing dan marah, sehingga mereka terbunuh?" keluh Pragola penuh sesal. "Itu risiko mereka. Tapi kau pun ceroboh." "Saya terlalu kasar?" "Maksudku kau ceroboh memperlihatkan keahlian aslimu," gumam Paman Manggala. Pragola mengeluh pendek. "Mungkin penyamaranmu sedikit terkuak," desis Paman Manggala. "Akan ada sedikit kesulitan karena hal ini?" sambungnya lagi penuh sesal.

Beberapa kali Paman Manggala memeriksa tawanan, sampai tiba waktunya tugas menjaga mereka selesai. Banyak Angga bangun tepat pada waktunya dia giliran menjaga. Pragola tidur nyenyak saking lelahnya. Namun serasa belum lama, dia segera terjaga saat seberkas cahaya tipis sudah tampak di langit timur. Tapi yang membuatnya terbangun bukan karena keadaan sudah terang, melainkan karena terdengar suara kaget Banyak Angga. "Ada apa?" tanya Pragola sambil mengucek-ngucek kelopak matanya. "Semua tawanan sudah tidak bernapas!" teriak Banyak Angga. "Mati?" tanya Pragola. Dia berjingkat mendekati kelompok tawanan yang tampak duduk saling bersandar satu sama lainnya. Kedudukan mereka sebetulnya masih belum berubah seperti tadi malam, yaitu duduk berhimpitan saling beradu punggung. Tak disangka ternyata pagi ini semuanya sudah tidak bernapas. Pragola memeriksa, tidak ada luka baru di tubuh mereka. "Kenapa mereka mati?" tanyanya menatap Banyak Angga. "Itulah yang ingin saya ketahui!" kata pemuda itu. "Radenlah yang menjaga. Jadi tentu Raden harus mengetahui mengapa mereka tewas," kata Pragola sedikit keras karena tidak senang tawanan itu tewas. Bukankah mereka sebetulnya bagian dari kelompoknya?

"Mereka mati karena luka-lukanya?" kata Paman Manggala yang ternyata tengah memeriksa satu per satu tawanan itu. "Mati karena luka-lukanya?" tanya Pragola mengerutkan dahi. Mereka memang menderita luka. Tapi rasanya terlalu jauh kalau harus mati secara tiba-tiba. "Luka-luka mereka biasa saja. Tak semestinya mereka mati!" kata Pragola penuh sesal. Ucapannya ini membuat Banyak Angga menatapnya. Begitu pun Paman Manggala menatapnya secara khusus. Pragola cepat sadar terhadap kekeliruannya ini. Barangkali Banyak Angga merasa heran terhadapnya. Mengapa secara tiba-tiba dia penuh perhatian terhadap keselamatan para tawanan, padahal baru kemarin dia mengusulkan agar semua "perampok" dibunuh saja. Paman Manggala yang menatapnya penuh seksama mungkin bermaksud menegur dia agar tidak menampakkan kemarahan ini. "Lihatlah ada pembengkakan di sekitar bekas luka. Aliran darah mereka mungkin terganggu oleh pembengkakan ini," gumam Paman Manggala. Paman Angsajaya ikut memeriksa. Tapi jelas dalam pandangan Pragola, prajurit ini tidak tahu apa-apa perihal kondisi tubuh. Dia hanya mengangguk-angguk saja ketika Paman Manggala memeriksa dan mengambil kesimpulan seperti ini. "Tadi malam saya teledor tidak memeriksa mereka. Kalau tidak begitu, kita bisa tahu kapan mereka tewas," gumam Banyak Angga penuh sesal. "Kami tidak menyalahkanmu, Raden. Biarlah, ini keinginan Yang Kuasa semata," tutur Paman Manggala. "Mari kita kuburkan saja cepat-cepat, jangan sampai perjalanan kita terhambat lagi," tutur Paman Manggala sambil segera mengambil pedang untuk digunakan menggali tanah. Tindakannya ini segera diikuti oleh yang lainnya, kendati tampak nyata masih ada rasa penasaran baik dari Pragola maupun Banyak Angga.

Sampai matahari agak tinggi barulah pekerjaan mengubur tujuh mayat selesai. Mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Tujuannya, dalam waktu dua hari berjalan kaki harus sudah tiba di Sagaraherang. Sagaraherang ini adalah sebuah daerah yang dipimpin oleh Pangeran Yudakara. Tiga belas tahun silam daerah ini pernah memberontak terhadap Pajajaran dan sempat mengirimkan hampir seribu pasukan untuk menyerang Pakuan. Berkat kegagahan para ksatria Pajajaran yang dibantu oleh Ksatria Ginggi, pasukan pemberontak bisa dibendung. Kandagalante Sunda Sembawa yang memimpin pemberontakan ini terbunuh dalam sebuah pertempuran yang berlangsung di tepian Telaga Rena Mahawijaya, Pakuan. Sebagian meloloskan diri, sebagian lagi kalau tidak tewas, menyerahkan diri. Kejadian itu berlangsung pada zaman pemerintahan Sang Prabu Ratu Sakti (1543-1551 M) yang terkenal kejam dan ambisius. Sekarang pada zaman Prabu Nilakendra (1551-1567 M) wilayah Sagaraherang bukan saja "tidak dihukum", penguasanya bahkan diberi kemudahan dalam upaya memperluas wilayahnya. Buktinya dalam waktu dekat wilayah ini akan diperlebar dan Pangeran Yudakara akan diangkat setingkat bupati. Prabu Nilakendra sudah bosan dengan peperangan. Maka untuk meredam berbagai pemberontakan, tekanan terhadap daerah yang dulu dianggap pembangkang diperlunak.

Buktinya, penguasa Sagaraherang kini, yaitu Pangeran Yudakara, bahkan mendapatkan kepercayaan begitu besar, padahal sudah jelas dia punya hubungan dekat dengan Kandagalante Sunda Sembawa. Menurut penilaian Pragola, ini salah besar, sebab kendati Pangeran Yudakara tidak punya niat pribadi melakukan pemberontakan, namun tetap saja pejabat ini akan melakukan tindakan yang merugikan kepentingan Pakuan. Orang-orang Pajajaran tidak pernah menyangkanya, bahwa Pangeran Yudakara adalah utusan Cirebon dalam upaya meruntuhkan Pajajaran. Selama melakukan perjalanan yang kini dilakukan dengan jalan kaki, Pragola tak habis-habisnya berpikir perihal kejadian malam itu. Rasanya ada yang ganjil yang terdapat pada diri Paman Manggala. Sudah belasan tahun Pragola kenal dengan orang tua ini. Sejak dirinya dilatih oleh Ki Guru Sudireja dan bahkan sejak mereka diminta Pangeran Yudakara untuk membantu perjuangan Cirebon, Pragola tidak pernah melihat Paman Manggala seganjil ini. Pragola mencoba menyimak kembali kejadian tadi malam. Tujuh tawanan ditemukan tewas pada pagi harinya, padahal malam hari tidak ditemui tanda-tanda tawanan akan mengalami nasib sial seperti itu. Memang benar tawanan itu rata-rata menderita luka karena perkelahian.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment