Chapter 28
Namun luka-lukanya tak mungkin menyebabkan kematian.
Kalau pun ada, mustahil pula ketujuh tawanan itu mati secara bersamaan.
Seperti kata Paman Manggala, memang benar ketujuh orang "perampok" itu mati karena aliran darahnya tersumbat.
Ini jelas terlihat dari pembengkakan-pembengkakan pada bagian tubuh mereka.
Mengapa aliran darah mereka tersumbat? Inilah yang mencurigakan.
Walaupun hanya selintas, Pragola bisa menduga, jalan darah ketujuh orang itu sebenarnya sudah putus, atau sengaja diputuskan.
Oleh seseorangkah? Ya!
Dan Pragola justru mencurigai Paman Manggala.
Pragola hafal betul kepandaian Paman Manggala.
Dulu pernah menyaksikan Paman Manggala melatih telunjuknya dengan keras dan tekun.
Paman Manggala gemar melatih telunjuknya dengan cara melakukan tusukan-tusukan jari ke berbagai benda.
Mula-mula hanya menusuk benda-benda lunak seperti batang pisang atau batang pepaya saja.
Namun semakin keras dan semakin tinggi tingkat latihannya, semakin keras pula benda yang menjadi bahan peraganya.
Belakangan bahkan Paman Manggala sanggup menusuk sebongkah batu tanpa batu itu menjadi hancur.
Batu bahkan hanya berlubang dengan bentuk yang rapi.
Mudah diduga, latihan kekuatan jari ini diperuntukkan bagi keperluan perkelahian.
Betapa tengkorak atau ubun-ubun lawan akan tertembus oleh jari Paman Manggala.
Namun kata Ki Guru Sudireja, kepandaian Paman Manggala bahkan sudah lebih baik lagi dari itu.
Hasil serangan jari Paman Manggala lebih halus dan lebih beradab, walaupun hasilnya tetap saja sadis, yaitu menyebabkan kematian.
Serangan jari halus kini sudah diperagakan kepada Pragola.
Ketujuh tawanan itu tewas karena urat darahnya putus oleh serangan jari Paman Manggala.
Pragola yakin akan hal itu.
Tapi yang membuat pemuda ini mengerutkan dahi adalah, mengapa Paman Manggala melakukan semua ini? Mengapa pula merahasiakannya? Pragola bingung memikirkannya.
Terjadi beberapa keanehan dalam perjalanan ini.
Mula-mula mereka mendapat serangan "komplotan perampok".
Pragola sebetulnya tidak akan kaget sebab sudah jauh hari ia diberitahu bahwa untuk mengganggu perjalanan Banyak Angga, mereka akan diserang sepasukan "perampok".
Menurut kabar yang disampaikan, "perampok" itu sebetulnya prajurit Cirebon yang ada di bawah kendali Pangeran Yudakara.
Pragola memang sudah tahu bakal ada penyerangan di tengah jalan.
Dalam serangan itu, kemungkinan orang-orang Pakuan akan dibunuh.
Namun yang membuat Pragola heran, mengapa dalam serangan itu sepertinya ia sendiri pun masuk daftar untuk dibunuh? Sebelum rasa bingung ini sempat terjawab, sudah disusul lagi dengan kebingungan yang lain.
Tujuh tawanan tewas secara mencurigakan dan Pragola curiga Paman Manggalalah pelakunya.
Mengapa ini bisa terjadi? Pragola hanya menduga, ketujuh perampok yang sebetulnya kawan sendiri itu sengaja dibunuh Paman Manggala untuk melenyapkan jejak.
Mereka perlu dilenyapkan sebab gagal mengemban tugas.
Namun ternyata mereka telah menjadi tawanan.
Banyak Angga sudah berkata bahwa tawanan akan diserahkan kepada cutak terdekat untuk segera diperiksa.
Barangkali inilah yang dipikirkan Paman Manggala sehingga memutuskan melenyapkan tawanan sebelum rahasia terbongkar.
Bisa dimaklumi tindakan ini.
Namun yang tak Pragola habis pikir, mengapa Paman Manggala merahasiakan padanya? Jelas sekali Paman Manggala pura-pura tak melakukan sesuatu di hadapannya.
Ini hanya memberikan kesan bahwa Paman Manggala tak memperbolehkan dirinya tahu.
Sementara itu, perjalanan sudah ada di ujung senja.
Ini adalah hari pertama perjalanan.
Berarti satu hari lagi perjalanan harus dilakukan untuk sampai di tujuan.
Namun ketika empat orang itu sudah siap-siap untuk istirahat, bencana datang lagi.
Untuk yang kedua kalinya mereka diserbu lagi oleh "perampok".
Maka pertempuran pun kembali terjadi.
Kali ini dilakukan di tengah hutan jati yang sudah mulai meremang karena senja mulai jatuh.
Untuk yang kesekian kalinya Pragola menjadi bingung sebab "perampok" benar-benar ingin menghabisi jiwa mereka.
Tidak saja ingin membunuh Banyak Angga dan Paman Angsajaya, tapi juga seperti ingin melenyapkan nyawa Pragola dan Paman Manggala.
Di tengah-tengah kepungan ini, selintas Pragola bisa melihat rasa heran yang sangat diperlihatkan Paman Manggala.
Melihat kebrutalan para penyerbu, Paman Manggala tampak mengerutkan kening.
Apalagi kebrutalan ini juga diarahkan kepadanya.
Para penyerbu yang jumlahnya mencapai puluhan itu memang melakukan serangan brutal dan tujuannya membabat habis keempat orang itu.
Serangan brutal ini telah memaksa Pragola untuk berlaku hati-hati.
Jangan sampai ia terkena sabetan golok atau tusukan pedang lawan.
Untuk yang kesekian kalinya pemuda ini pun merasa heran, bahwa cara berkelahi orang-orang ini tidak seperti prajurit Cirebon.
Dan di balik kebrutalan serbuan ini, Pragola sempat melihat keanehan.
Pemuda ini mendapati ada gerakan berkelahi mirip orang Pajajaran.
Prajurit Pajajaran yang memiliki kepandaian biasa-biasa saja cenderung menggunakan tenaga kasar dalam bertanding.
Terkadang bila emosinya timbul, mereka melakukan gerakan brutal.
Namun dalam kebrutalan ini selalu tampak ada kejujuran.
Mereka tidak melakukan gerakan menipu atau berbuat licik.
Dalam upaya melumpuhkan lawan, mereka berteriak terlebih dahulu sehingga sebelum yang diserang terluka, ia sudah menyadari bahwa dirinya tengah diserang.
Dan itulah yang diperlihatkan para pengepung ini.
Jauh berbeda dengan pengepung kemarin malam yang kesemuanya asing dan licik dalam pandangan Pragola.
Kalau melihat gerakan tipe berkelahi antara penyerbu kemarin dengan yang hari ini, sepertinya mereka bukan dari satu kelompok.
Dan karena ada kemiripan dengan cara berkelahi orang Pajajaran, maka Pragola menduga bahwa mereka tentu ada pertalian dengan orang Pajajaran.
Apakah mereka merupakan prajurit Pajajaran yang mulai memalingkan muka dari tuannya? Bila benar, Pragola memuji kehebatan Pangeran Yudakara yang sudah sanggup menarik orang Pajajaran untuk mengikutinya.
Yang tidak tampak bingung menghadapi gerakan pengeroyok adalah Banyak Angga dan Paman Angsajaya.
Mungkin mereka pun sudah menduga pula bahwa pengepungnya ini adalah orang Pajajaran.
Namun yang Banyak Angga yakini, tentu pengepung ini benar-benar merupakan orang jahat semata.
Seperti yang sudah dikabarkan Kandagalante Subangwara, sepanjang Tanjungpura dan Sagaraherang banyak kaum penjahat yang berupaya merampok kaum penempuh perjalanan.
Yang tak diduga dalam pertempuran ini adalah gerakan-gerakan Paman Manggala.
Menghadapi serangan-serangan brutal lawan, disambutnya dengan gerakan yang tak kalah ganasnya.
Dalam satu-dua gerakan, tiga sampai empat orang pengepungnya jatuh terpelanting dan tak mampu bangun lagi.
Paman Manggala bahkan tak kepalang tanggung dalam bergerak.
Sesudah pengepungnya habis, ia segera meloncat mendekati para pengepung Banyak Angga.
Dengan gerakan cepat, satu per satu kaum pengeroyok ia lumpuhkan.
Maka tak ayal terdengar pekik-pekik kesakitan di tempat itu.
Beberapa pengeroyok terlontar dan tubuhnya menabrak batang pohon jati.
Mereka tak sempat mengaduh ataupun menggerakkan tubuh.
Barangkali mereka sudah tewas oleh pukulan Paman Manggala sebelum tubuhnya menabrak batang pohon.
Pragola terkesiap melihat keganasan Paman Manggala.
Ia pun amat heran, mengapa Paman Manggala tak "memberi" kemenangan kepada kaum penyerbu, bahkan sebaliknya seperti berupaya memporak-porandakannya? Pragola bingung memikirkannya.
Dan karena teka-teki ini tak pernah terkuak, maka akhirnya ia pun ikut-ikutan membabat lawannya.
Hal ini ia lakukan tanpa ragu karena para pengeroyoknya selalu berusaha untuk membunuhnya.
Pragola tak bisa menahan kesabarannya.
Walaupun sejak dini sudah diberitahu bahwa para pencegat itu adalah "orang-orang sendiri", tapi karena tindakan mereka terhadapnya demikian kejam dan berniat membunuhnya, maka terpaksa ia pun menurunkan tangan kejam pula.
Apalagi ini sudah diberi contoh oleh Paman Manggala.
Pragola tak perlu mengeluarkan seluruh kepandaiannya sebab lawan pada umumnya hanyalah prajurit-prajurit biasa yang mempunyai kepandaian biasa.
Dalam beberapa gebrakan saja, tubuh para pengeroyoknya sudah berserakan, bergulingan dan mengaduh-aduh, sebagai tanda mereka kalah tanpa tewas.
"Sudah!
Sebagian tak usah dibunuh!" teriak Paman Manggala seperti memberi perintah.
Tentu saja Paman Manggala sebetulnya tak perlu berteriak begitu, sebab ketiga orang itu dalam berkelahi tidak membunuh lawannya.
Bukankah yang tega membunuh musuh hanya Paman Manggala seorang? Paman Manggala meminta kepada Banyak Angga agar tak membunuh para tawanan yang masih hidup.
Sudah barang tentu hal ini diizinkan pemuda itu sebab pada dasarnya Banyak Angga bukanlah seorang yang kejam.
"Para tawanan ini akan kita serahkan kepada cutak agar diperiksa," tutur Banyak Angga. "Kita harus menjaga tawanan dengan baik, jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi," kata Banyak Angga.
Malam harinya diadakan tugur lagi.
Kali ini Pragola tugur bersama Banyak Angga, dan Paman Manggala bergabung dengan Paman Angsajaya.
Ada empat tawanan di sini.
Dengan kata lain, sebagian besar dari "perampok" mati terbunuh.
Ini sesuatu yang disesalkan Banyak Angga yang pada dasarnya berhati lemah juga.
Pemuda ini sebetulnya hanya menginginkan perampok dilumpuhkan saja tanpa harus dibunuh.
Pragola dan Banyak Angga menerima giliran jaga paling awal, dan sebaliknya Paman Manggala beserta Paman Angsajaya istirahat.
Pada tengah malam giliran Banyak Angga dan Pragola istirahat.
Namun karena sudah curiga kepada Paman Manggala, Pragola hanya pura-pura tidur.
Yang sebenarnya terjadi, ia mencoba mengamati gerak-gerik Paman Manggala, takut peristiwa malam kemarin terulang lagi.
Benar saja, Paman Manggala membuat tindak-tanduk yang mencurigakan.
Entah dengan cara apa, Paman Manggala telah membuat Paman Angsajaya mengantuk dan akhirnya terlena di batang kayu.