Halo!

Kunanti Di Gerbang Pakuan - Chapter 29

Memuat...
Kunanti Di Gerbang Pakuan

Chapter 29

Setelah membuat teman jaganya tertidur, Paman Manggala segera mendekati keempat tawanan untuk memeriksa mereka. Berbagai pertanyaan diajukan dengan suara halus setengah berbisik, namun tetap bisa ditangkap oleh telinga Pragola yang cukup terlatih.

Paman Manggala mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Pragola bingung memikirkannya. Dia mendesak keempat tawanan itu agar mau mengatakan siapa yang mengutus mereka menyerang rombongan. Hal inilah yang mengejutkan Pragola, karena secara tidak langsung Paman Manggala mencurigai bahwa para penyerang ini bukanlah utusan Pangeran Yudakara.

"Ada imbalan bagi kalian bila mau mengatakannya," bisik Paman Manggala.

Namun, tidak ada satu orang pun yang mau membuka mulut. Beberapa kali Paman Manggala mendesak agar tawanan sudi berbicara, tetapi Pragola memuji keteguhan dan kesetiaan orang-orang itu. Semuanya bungkam dan tidak mau membeberkan siapa tuan mereka.

Pragola menghela napas karena sudah menduga nasib keempat orang itu. Mereka pasti akan dihabisi jika Paman Manggala bertindak kejam. Pragola merasa perlu mencegah pembunuhan tersebut karena keselamatan keempat tawanan itu sangat dia butuhkan. Untuk mencegah tindakan Paman Manggala, Pragola berniat pura-pura batuk lalu terbangun.

Namun, Pragola meleset. Paman Manggala ternyata tidak melakukan apa pun. Keempat tawanan tidak diganggu dan Paman Manggala segera kembali mendekati tempat Paman Angsajaya tertidur, lalu berpura-pura merebahkan diri.

Ketika kokok ayam pertama terdengar dari arah hutan, Paman Angsajaya terjaga lebih dulu. Dia sangat terkejut karena tertidur, padahal seharusnya dia bertugas jaga.

"Oh, maafkan saya tertidur. Mengapa rasanya mengantuk sekali semalam?" gumam Paman Angsajaya dengan sedikit malu.

Dengan pandainya, Paman Manggala seolah memaklumi keadaan tersebut. "Saya pun sebenarnya diganggu kantuk yang hebat. Memang kita semua lelah. Tanpa berkelahi pun, sebenarnya tenaga kita sudah terkuras banyak oleh perjalanan yang demikian panjang," tutur Paman Manggala.

Ucapan ini nampaknya membuat Paman Angsajaya sedikit lega karena tidak terlalu disalahkan. Kedua orang itu kemudian bergegas memeriksa keempat tawanan yang ternyata masih segar bugar.

"Setelah sarapan pagi, kita segera melanjutkan perjalanan. Namun sebelumnya, kita serahkan tawanan itu pada cutak," kata Banyak Angga.

Sarapan pagi itu berupa daging burung walik yang mudah ditangkap di hutan jati tersebut. Banyak Angga membagikan daging walik bakar kepada keempat tawanan padahal dia sendiri belum makan. Perilaku pemuda ini tak luput dari perhatian Pragola, sehingga dia terpaksa mengakui bahwa sebenarnya Banyak Angga berbudi halus dan penyayang terhadap sesama. Setelah semua orang mendapatkan bagian daging, barulah pemuda itu makan.

Perjalanan menuju Kandagalante Sagaraherang masih tersisa satu hari lagi. Sedangkan untuk mencapai wilayah kacutakan terdekat, mereka harus berjalan kaki hampir setengah hari. Agar tidak membuang waktu, mereka melakukan perjalanan cepat. Para tawanan dipacu untuk ikut berjalan cepat meskipun mereka nampak kedodoran.

Sesuai dengan perkataan Kandagalante Tanjungpura, sepanjang perjalanan Tanjungpura-Sagaraherang akan banyak hambatan karena para penjahat malang melintang di wilayah ini. Baru saja perjalanan cepat dilakukan selama sepemakan sirih, mereka sudah dihadang lagi. Ada puluhan orang berpakaian hitam-hitam, bertubuh tinggi besar, dengan wajah penuh cambang dan brewok. Belasan orang dengan pedang terhunus segera mengepung mereka berempat.

"Kalau tidak mau nyawa melayang, serahkan harta kalian!" teriak salah seorang dari mereka yang berdiri paling depan.

Ancaman ini hanya dijawab dengan dengusan pendek Paman Manggala. Sebelum belasan perampok itu melakukan gerakan, Paman Manggala sudah mendahului dengan melancarkan serangan gencar. Dia menerjang ke depan dengan cepat, sepasang jari tangannya melayangkan serangan berbentuk cakaran.

Pragola hafal betul bahwa inilah jurus Lodaya Ngangkang, sebuah terjangan yang meniru loncatan harimau. Bedanya, jika harimau langsung menyerang dengan cakar, Paman Manggala hanya menggunakan cakaran sebagai tipuan belaka, sedangkan serangan sebenarnya dilakukan melalui tendangan salto.

Tubuh Paman Manggala melambung melewati ubun-ubun lawan. Saat berada di atas, dia melakukan salto beberapa kali. Ketika posisi kaki sudah di bawah, Paman Manggala segera melepaskan tendangan beruntun. Tiga kepala lawan terhajar telak dalam satu sapuan. Tak ayal, terdengar tiga teriakan ngeri disusul tiga tubuh yang terpelanting ke sana kemari.

Teman-temannya kaget melihat gerakan ganas Paman Manggala. Kekagetan lawan menjadi kesempatan emas karena Paman Manggala segera melakukan serangan susulan berupa cakaran silang kiri dan kanan. Dua orang lawan di kiri dan dua orang di kanan berteriak ngeri ketika pipi mereka tersayat lima cakaran jari. Darah menyembur karena sayatan kuku yang sangat dalam. Tubuh keempat lawan itu limbung dan akhirnya terjerembab tanpa mampu bangun kembali.

Dalam satu gebrakan, Paman Manggala telah melumpuhkan tujuh penghadang. Sekali lagi, semua orang terkejut dengan tindak-tanduk ini. Pragola mencatat bahwa sudah dua kali pertempuran Paman Manggala bertindak kejam terhadap lawan. Pragola masih belum mengerti mengapa hal itu dilakukan. Siapa sebenarnya para penghadang ini? Apakah Paman Manggala mencurigai bahwa mereka bukan anak buah Pangeran Yudakara?

Pragola tidak sempat berpikir lama karena pihak penghadang mulai pulih dari kaget dan berubah menjadi marah saat melihat tujuh teman mereka ambruk. Belasan orang mengepung dan menyerang mereka berempat dengan membabi buta. Bahkan ada sekitar enam orang yang menyerang keempat tawanan Banyak Angga, padahal tangan mereka sedang terikat. Tentu saja dalam keadaan terikat mereka tidak mungkin melakukan perlawanan, sehingga dalam beberapa gerakan saja keempat orang itu sudah menderita luka di sana-sini.

Pragola terkejut dengan kejadian ini. Dia ingin para tawanan tetap selamat demi menyelidiki misteri di balik mereka. Rupanya, pemikiran yang sama juga ada di benak Paman Manggala. Terbukti, baik Pragola maupun Paman Manggala sama-sama meloncat mendekati keempat tawanan tersebut. Dengan gerakan yang sama cepat, keduanya seolah berlomba menjatuhkan enam penyerang tawanan.

Ketika keenam penyerang itu terjungkal oleh pukulan maut, Pragola dan Paman Manggala segera menghampiri para tawanan yang nampak payah karena luka parah. Pragola menghampiri seorang tawanan yang masih mampu bergerak, sementara Paman Manggala menghampiri tawanan lain yang dirasa masih bisa ditanyai.

"Cepat katakan, siapa yang mengutusmu datang ke sini?" teriak Paman Manggala di tengah hiruk-pikuk pertempuran.

Trang! Paman Manggala menangkis ayunan golok dengan sebuah pedang yang dipungutnya dari tanah. Golok beserta pemegangnya terlontar ke belakang.

"Lihatlah, pada akhirnya kalian pun mati oleh orang-orang yang sepertimu, yaitu yang diutus seseorang untuk membunuh kami. Kamu membuang nyawa percuma karena tuanmu tidak setia padamu. Sekarang masih ada waktu untuk menebus dosa. Cepat katakan, siapa yang mengutusmu membunuh kami?" teriak Pragola pula.

Buk! Ujung kaki pemuda itu menendang seorang penyerang yang hendak menerjang dengan hunjaman pedang. Baik Paman Manggala maupun Pragola berusaha mendapatkan jawaban sambil berkelit menangkis serangan senjata para lawan. Tangan kiri Pragola sibuk mengguncang-guncang tawanan yang tengah sekarat, sedangkan tangan kanannya membalas serangan lawan.

"Cepat katakan! Sebentar lagi kau akan mati!" teriak Pragola jengkel.

Bak! Bik! Buk! Pragola menerima beberapa pukulan tongkat rotan di punggungnya. Pemuda ini terpaksa membalikkan tubuh dan mendorongkan sepasang telapak tangannya. Terdengar angin bersiutan dan tubuh tiga penggebuknya terlontar seperti daun tertiup angin, jatuh di atas tanah berbatu sejauh empat depa.

Namun saat Pragola kembali berbalik menghampiri tawanan, dia sangat terkejut. Sebuah tombak telah tertancap tepat di perut tawanan itu. Karena penasaran, dia segera mendekatkan telinganya ke bibir tawanan tersebut. Orang itu belum mati; bibirnya masih bergerak-gerak seperti ingin mengatakan sesuatu.

"Cepat katakan! Cepat katakan!" desak Pragola tidak sabar.

"Nyi Mas... Nyi Mas Layang... Layang Kingkin..." Setelah itu, tawanan tersebut mengembuskan napas terakhir.

Telinga Pragola masih menempel di mulut tawanan yang baru saja mati, namun matanya menatap ke arah Paman Manggala. Ternyata orang tua itu pun tengah mendekatkan telinganya ke mulut tawanan lain yang juga terbaring lemah. Paman Manggala pun sedang menatap dirinya, sehingga akhirnya mereka berdua saling berpandangan cukup lama.

Pragola belum bisa memastikan apakah Paman Manggala mendapatkan berita yang sama, namun yang pasti, sedikit rahasia mulai terkuak. Ternyata ada pihak lain yang berkepentingan dalam upaya menghalangi misi perjalanan Banyak Angga.

Nyi Mas Layang Kingkin? Jantung pemuda itu berdebar kencang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment